Tidak Tanpamu

Tidak Tanpamu
Hanya Status Saja.


__ADS_3

"Kamu dari mana aja Akmal ?" tanya Mama ketika melihat Akmal masuk ke ruang tamu.


"Dari kafe Ma..." jawab Akmal singkat.


"Anin ada di kamar kamu sekarang...perlakukan dia dengan baik.." Papanya mewanti-wanti.


"Akmal mau tidur di kamar tamu aja kalau gitu.." ucap Akmal lagi.


"Mana boleh seperti itu.. kamu tetap tidur di kamar kamu juga...kalian sudah suami istri yang sah dimata agama dan negara..." papar Papanya.


"Hanya status Pa...hati kami tidak ada ikatan satu sama lain...dulu Akmal salut sama gadis itu karena kegigihannya..tapi sekarang Akmal membencinya...benci banget malah...karena dia perempuan licik.." jawab Akmal masih tetap berdiri di depan tangga..sementara kedua orang tuanya duduk di sofa ruang tamu.


"Lagian Akmal heran sama kalian berdua...kena guna-guna atau gimana sih ? Kok bisa-bisanya kalian nurut sama bocil tengil itu..." sambung Akmal.


"Kalau ngomong jangan ngawur,Akmal..!" seru Papanya.


"Sana ke kamar dan tanya Anin..barangkali dia lapar...dia belum makan apa-apa sejak acara akad nikah tadi.." sambung Papanya.


Sementara Mamanya hanya memperhatikan saja suami dan putranya berdebat.'Kasihan kamu,Nak..harus ikut menanggung janji tertunda Papamu..' kata Mamanya dalam hati.


Akmal hanya diam tak merespon kata-kata Papanya.Lalu menaiki anak tangga menuju kamarnya.


Dipegangnya gagang pintu kamarnya..tempat favoritnya untuk melepas penat setelah seharian beraktivitas di luar itu mendadak seperti kamar hantu baginya...begitu gamang kakinya melangkah masuk.


'Astaga...hidupku berubah menyebalkan seperti ini dalam hitungan minggu..' runtuk Akmal dalam hatinya.


'Ceklek...' suara pintu terbuka.


Masih di depan daun pintu...Akmal melihat sosok yang sangat membuat dia emosi dan penuh benci jika melihatnya...


' Dasar perempuan licik..' Akmal mendengus dan menggerutu dalam hati.


Dia melihat Anindya ada di sofa sebelah ranjang tidurnya...tampak kaget dan bingung saat Akmal masuk kamar.


Dan yang sempat tertangkap oleh mata Akmal...Anindya terlihat mengusap air matanya di sudut mata dan pipinya.


' Dasar munafik..aku gak akan bersimpati dengan air matamu lagi...' gumam Akmal dalam hati.


"Apa ? belum puas kamu membuat masalah dalam hidupku,hah ?" kata Akmal nyolot sambil melihat ke arah Anindya.


Anindya hanya mematung canggung .


"Apaan ini ada di atas tempat tidurku !" seru Akmal saat melihat tas milik Anindya.


Anindya langsung berdiri mengambil tas itu dan diletakkannya di samping sofa.


"Tas isi bajuku...aku belum tahu harus diletakkan di mana baju-bajuku.." kata Anin ragu dan lirih.

__ADS_1


"Gak ada tempat di kamar ini untuk bajumu.." jawab Akmal kasar.


"Jangan berani-berani menaruh barang-barangmu di lemariku !" sambungnya tetap kasar.


Lalu Akmal mengambil baju ganti dan berlalu ke kamar mandi.


Sesaat kemudian Akmal keluar lalu naik ke ranjang tidurnya bersiap untuk tidur...tak memperdulikan Anindya yang masih mematung dan kelihatan bingung.


"Lalu aku tidur dimana ?" tanya Anin pada Akmal yang sudah tidur memunggunginya.


"Terserah ! di taman atau di pos satpam sana kan bisa..." jawabnya asal.


Anindya tak kuasa menahan tetesan air di sudut matanya.


Begitu kasar dan kejam ucapan Akmal padanya.


Lalu Anin berbaring di sofa dengan berbantalkan tangannya.


Sampai akhirnya dia benar-benar tertidur karena capek menangis diam-diam dari tadi sebelum Akmal datang.


Keesokan harinya...dia bangun untuk melaksanakan sholat shubuh.Akmal masih tidur..Anib tidak berani gaduh atau membangunkannya.


Di akhir sholat dia berdo'a untuk Mbah Rasni yang hari ini dijadwalkan akan menjalani operasi baypass jantung.


' Ya Robb...ampuni dosa-dosa hambamu ini..berikan kekuatan dan ketabahan dalam menghadapi segala persoalan ini...tuntun hamba menuju solusi terbaik dari-Mu...Engkau Maha Tahu atas segala sesuatu,hamba melakukan semua ini demi Mbah hamba,Ya Robb..satu-satunya orang yang hamba miliki di dunia ini...beri kesembuhan padanya seperti sedia kala...kabulkan doa hamba..Aamiin..' Anindya berdoa dalam hati.


Dia memasukkan mukenanya kembali ke dalam tas.


Dia berpapasan dengan Budhe Tini.


"Selamat pagi Mbak Anin.." sapa Budhe Tini.


"Pagi,Budhe..Mbah dimana ya ?" tanya Anin.


"Ada di kamarnya..mari saya antar.." kata Budhe Tini.


"Atau Mbak Anin mau sarapan dulu..kan dari kemarin belum makan.." tawar Budhe Tini.


"Nanti aja Budhe...sama-sama Mbah sekalian..." kata Anin.


"Baiklah kalau gitu...mari Mbak.." kata Budhe sambil mendahului langkah Anin menunjukkan kamar Mbah Rasni.


Lalu mereka tiba di sebuah kamar dekat dapur bersih...sebuah kamar sederhana tapi bersih dan nyaman...dilengkapi lemari pakaian dan juga tv di dalamnya.


Mbah Rasni tampak duduk di tepi ranjang tempat tidurnya...sudah berpakaian rapi dan berkerudung.


Tanpa ba-bi-bu Anin langsung berhambur memeluk Mbahnya itu...seperti udah berpisah lama sekali.

__ADS_1


Mbah Rasni pun faham apa yang telah dialami cucunya pasti bukan hal yang gampang dan menyenangkan.


Dia pun tak ingin semakin membuat sedih cucunya dengan bertanya macam-macam.


"Udah sarapan Nduuk ?" tanya Mbah Rasni.


"Belum.." jawab Anin singkat sambil tetap memeluk Mbahnya dan berusaha kuat,tidak sampai menangis di depan Mbahnya.


"Ya ini kamar Mbah dulu,Nduuk...semenjak Mbah berhenti,kamar ini ditempati oleh Tini.


"Mbah.." ucap Anin


"Ada apa,Nduuk.." balas Mbah.


"Ani pengen pulang ke rumah kita aja..." kata Anin.


"Mana bisa seperti itu...kamu udah menikah sekarang,Nduk.." kata Mbah lembut sambil mengelus kepala Anin.


' Pernikahan macam apa ini,Mbah...' batin Anin.


"Kamu marah ya Nduk sama Mbah ? Karena memaksa kamu buru-buru menikah sama Nak Akmal ?" tanya Mbah.


"Mboten marah Mbah..tapi gak habis fikir aja.." jawab Anin.


"Suatu saat nanti kamu akan tahu kebenaran sesungguhnya,Nduuk.." kata Mbah.


"Kebenaran apa Mbah ?" tanya Anin.


"Sudah gak usah dibahas...suamimu udah bangun ?" Mbah Rasni mengalihkan pembicaraan.


Hah ? suami ?


Anin ternganga mendengar sebutan yang masih asing di telinganya itu.


"Ee...belum Mbah.." jawab Anin terbata.


"Bangunkan dia Nduuk...sholat shubuh...nanti Mbah ingin bicara berdua saja dengannya..." suruh Mbah pada cucunya itu.


"Mana berani Anin mbangunin Mbah..." jawab Anin polos.


"Lagian Anin ingin disini saja sama Mbah...sebelum kita berangkat ke rumah sakit nanti..." lanjut Anin.


"Ya sudah kalau kamu maunya seperti itu..." kata Mbah.


" Pussy gimana ya Mbah kabarnya ?" tanya Anin teringat kucing kesayangannya.


" Insyaalloh aman...kan kamu titipkan ke tetangga kita yang juga pecinta kucing..." kata Mbah mencoba membuat Anin tak khawatir tentang Pussy.

__ADS_1


"Seandainya Ayah ada disini ya Mbah...kita gak cuman berdua ngelewatin saat-saat sulit begini...ada sosok laki-laki buat njagain kita...membuat kita lebih aman dan nyaman...tiba-tiba Anin jadi kangen sama Ayah,Mbah.." kata-kata melow Anin.


Membuat Mbah Rasni seketika terasa tertusuk dadanya mendengarnya..


__ADS_2