Tidak Tanpamu

Tidak Tanpamu
Akmal Hampa dan Resah.


__ADS_3

"Apapun keputusanmu...aku akan mendukungmu..." kata Barra menatap Anindya dengan lekat.


"Ayo kita makan dulu...sambil menikmati suasana pergantian tahun malam ini..." ajak Barra menyodorkan sepiring makanan pesanannya yang baru datang pada Anindya.


"Tahun baru dengan keputusan baru..." sambung Barra mengulas senyum pada perempuan muda di depannya.


Anindya membalas senyuman itu dan mulai menyuap makanan ke mulutnya.


Dan sesaat kemudian terdengar suara rentetan petasan dan kembang api...menggema di udara suaranya dan tampak di langit warna-warninya...terlihat jelas dari kaca restoran tempat mereka berada saat ini...


Semua itu menandakan pergantian tahun dari 2017 memasuki awal tahun 2018.


' Semoga di awal tahun ini semuanya diberi kemudahan oleh Gusti Alloh...dan yang paling penting semoga Mbah segera siuman dan sembuh seperti sedia kala...' doa Anindya dalam diam.


"Apa saya keluar saja dari pekerjaan ini,Dokter ?" tanya Anin tiba-tiba pada Barra.


"Kenapa kamu punya fikiran seperti itu ?" tanya Barra.


"Entahlah...hati saya masih kalut dan bingung..." jawab Anindya.


"Tidak perlu mengorbankan pekerjaan kamu...itu semua untuk masa depan kamu kelak...kalau perlu..kamu terusin pendidikan kamu sambil kerja..." saran Barra.


"Saya juga belum tahu respon Tuan dan Nyonya Wirawan dengan keputusan saya keluar dari kediaman mereka.." kata Barra.


"Sudahlah....jangan membebani fikiran kamu terlalu banyak..." nasihat Barra.


Dan mereka melanjutkan menyantap makanan mereka...setelah selesai, Barra mengantar Anin ke rumahnya yang dulu.


Anindya tampak sumringah saat sudah ada di depan rumah...sepertinya dia sangat lega ada di rumahnya lagi.


Binar matanya tampak jelas oleh Barra.


Dan Anindya sudah disambut oleh Pusy yang digendong oleh tetangganya....seorang laki-laki paruh baya yang dipercaya dan di upahi olehnya untuk merawat kebersihan rumahnya dan juga merawat Pusy.


Anindya sudah menghubunginya di jalan tadi sebelum dia dan Barra sampai.


"Pusy...!" seru Anin mengambil Pusy dari gendongan tetangganya.


Tetangganya juga menyerahkan kunci rumah padanya.


"Terimakasih..." ucap Anindya.


"Sama-sama..." jawab tetangga Anindya.


Lalu Anindya membuka pintu rumahnya...dan kembali duduk di kursi teras bersama Barra.


"Kamu yakin mau tinggal disini lagi ?" tanya Barra memastikan keputusan Anindya.


Anindya mengangguk pasti sambil mengulas senyum tipisnya.


"Sendirian ??" tanya Barra lagi.


"Lebih baik sendiri daripada banyak orang tapi merasa sendiri,Dokter..." kata Anindya seperti mrngilas balik saat harus sekamar dengan Akmal.

__ADS_1


"Baiklah kalau kamu lebih nyaman begini..." kata Barra.


"Ya sudah...saya permisi pulang dulu...tapi ada baiknya kamu mengabari Pak Wirawan atau istrinya...kalau kamu sekarang ada di sini...biar mereka tidak khawatir...karena bagaimanapun kamu selama ini jadi tanggung jawab mereka..." pamit dan saran Barra.


"Iya,Dokter...terimakasih sudah mau saya repoti malam ini...dan terimakasih sarannya..." kata Anindya.


"Sudah....emang gak ada hobi lain selain hobi bilang terimakasih-mu,ya ?" ledek Barra.


Lalu Barra berdiri dan menuju sepeda motor sport miliknya...untuk kemudian memakai helm dan melajukannya meninggalkan pelataran rumah Anindya.


Kemudian Anindya masuk rumah dan menutup pintunya dari dalam.


"Pussy...aku kembali ! Aku kangen banget sama kamu...seandainya sekarang Mbah bersama kita..." kata Anin sambil masuk ke kamarnya lagi.


Tampak sama...tak ada perubahan...juga terjaga kebersihannya.


Pussy pun kelihatan sangat kangen pada Anindya...terbukti dia menempel terus dan terlihat nyaman di pelukan Anindya.


Lalu Anindya teringat saran Barra tadi...mengabari Tuan dan Nyonya Wirawan.


Dia mengambil ponselnya dan mengirim pesan pada Tuan Wirawan...mengabari kalau sekarang dia berada di rumahya yang dulu...tak lupa dia juga menceritakan dengan singkat penyebabnya kenapa...


Dan akhirnya dia tertidur karena kelelahan....


Sementara di tempat Akmal meninggalkan Anindya tadi...


Akmal kembali untuk menyusul Anindya...seperti rencana dia tadi...


Dia turun dari mobil dan mencari keberadaan Anindya di sekitar tempat itu...yang masih terlihat ramai saat ini.


"Kemana lagi aku harus mencari bocil tengil itu sekarang ?" gumam Akmal sendirian.


"Aku gak punya nomer telefonnya lagi...sial !!" runtuknya sendiri dan kembali ke mobilnya...mendendarainya pelan-pelan mengitari tempat dia meninggalkan Anindya sendirian tadi.


"Apa mungkin dia sudah pulang ke rumah duluan,ya ?" terka Akmal.


"Oh iya...mungkin juga begitu..." gumam Akmal sendirian.


Lalu dia memeruskan mengemudi hingga sampai di rumahnya...


Satelah masuk...suasana rumah sepi karena memang sudah larut malam.


Dia bergegas menuju kamarnya...berharap Anindya sudah berada di dalam.


Dibukanya pintu kamar tergesa...pandangannya tertuju ke sofa tempat Anindya biasa tidur...kosong !!


Tentu saja Akmal mulai panik...dicarinya sosok perempuan muda itu di kamar mandi...tidak ada juga.


" Kemana perginya bocil licik itu ? Kok gak ada di kamar ?" tanya Akmal pada dirinya sendiri.


Lalu dia kembali turun ke bawah...mencoba mencari Anindya di kamar Mbah Rasni dulu...kosong juga.


Dia mengambil ponsel dan melakukan panggilan ke perawat di ruangan Mbah Rasni.

__ADS_1


"Hallo ? Apa Anindya ada di situ sekarang ?" tanya Akmal.


"Tidak,Dokter..." suara perawat menjawab.


"Oke..terimakasih.." Akmal memungkasi panggilannya.


Dia semakin panik saat ini...


Berfikir kemana lagi harus mencari dan siapa lagi yang bisa dia hubungi....


Papanya !!


Dia bergegas ke kamar orang tuanya...diketuk pelan pintu kamarnya.Takut mereka kaget..


"Pa....Ma...tolong bangun sebentar..." panggil Akmal.


Beberapa kali dia melngulangi panggilannya.


Dan sesaat kemudian lampu kamar Papa dan Mamanya menyala...tanda mereka terbangun oleh panggilan Akmal.


"Ada apa,Akmal ? Jam berapa sekarang kamu bangunin kita ?" tanya Mamanya di depan pintu kamar dan terlihat kaget dan masih ngantuk.


"Papa mana,Ma ?" tanya Akmal gusar.


Akmal masuk dan menghampiri Papanya yang juga terbangun tapi masih di ranjang tidurnya.


"Pa...! Maaf sudah ganggu malam-malam..." kata Akmal.


"Emang ada alasan penting apa ?" tanya Papanya tampak masih ngantuk sangat.


Lalu Akmal menceritakan alasannya membangunkan Papa dan Mamanya.


Tentu saja mereka ikut panik dan keluar kamar menuju ruang keluarga.


Setelah itu Tuan Wirawan melihat ponselnya...dan mendapat jawaban kenapa dan dimana Anindya saat ini berada.


Rasa kantuknya seketika hilang dan berganti amarah pada Akmal.


"Kamu tuh keterlaluan,Akmal !! Bisa-bisanya kamu melakukan semua ini !!" bentak Tuan Wirawan penuh emosi.


"Kamu itu suamia macam apa ? Laki-laki macam apa ?" lanjutnya.


"Sekesal-kesalnya kamu sama Anindya...dia itu tetap seorang perempuan yang berstatus istri kamu !!" seru Tuan Wirawan keras.


Akmal hanya terdiam...Nyonya Mira juga tampak marah pada Akmal dalam diam.


"Pokoknya Papa gak mau tahu...besok kamu harus bawa Anindya pulang ke rumah ini lagi ! Titik !" tegas Papanya dan masuk ke kamarnya lagi disusul Mamanya.


Akmal berjalan menaiki tangga...dia sedikit tenang sudah tahu keberadaan Anindya sekarang.


Tapi di relung hatinya dia merasa ada yang mengganjal...apalagi setiap dia memandang ke arah sofa yang kosong...rasanya hampa dan ada rasa resah kehilangan.


"Seharusnya aku kan senang dia sudah tidak ada di kamar ini lagi..." gumamnya sendirian.

__ADS_1


"Tapi kenapa hatiku berkata lain ?" sambungnya.


Alhasil malam ini Akmal lalui dengan gelisah dan tak bisa tertidur hingga pagi harinya.


__ADS_2