Tidak Tanpamu

Tidak Tanpamu
Menanti Hasil Operasi Mbah Rasni.


__ADS_3

Anindya hanya mengangguk dan tersenyum kaku merespon Barra yang penasaran.


"Acara keluarga apa,An ? Jangan-jangan kamu diam-diam nikah setelah viral sebagai penyelamat di RS ini ?" gurau Novi yang terdengar juga oleh Barra dan kedua mertuanya.


Alhasil mereka mengarahkan pandangan pada Novi.Malu sendiri gak tuh...


"Sstt !" ucap Anin.Novi menutup mulutnya sendiri dengan telapak tangan.


' Kamu tuh kalau ngomong ceplas ceplos tapi suka bener,Nov..' kata Anin dalam hati.


Setelah sekian lama menunggu....akhirnya dokter yang mengoperasi jantung Mbah Rasni keluar dari dalam ruang operasi.


Anindya berhambur menyambutnya dengan pertanyaan.


''Bagaimana keadaan Mbah saya,Dokter ?" tanya Anin.


"Operasinya sudah selesai dan terbilang lancar...tapi kita belum bisa mengetahui hasilnya...selang pernafasan belum dilepas dan kondisi pasien dalam keadaan koma..kita tunggu sampai 2 hari kedepan dulu..." penjelasan dokter.


"Kalau tidak ada kendala apa-apa...biasanya pasien akan bangun dari koma setelah 2 hari..kita lihat saja nanti.." sambungnya.


"Apa boleh saya menenani Mbah saya setelah keluar dari ruang operasi,Dokter ?" tanya Anin lagi.


"Belum boleh...pasien harus masuk ruang ICU selama selang pernafasan belum dilepas dan belum sadar.." terang Dokter lagi.


Wajah kecewa Anin tampak tergurat jelas.


Lalu dokter pun permisi meninggalkan Anin dan yang lainnya.


"Sabar ya,An.." ujar Novi.


Dia menepuk bahu sahabatnya sambil merangkulnya dari samping.


"Terimakasih Nov...juga dokter Barra...sudah meluangkan waktu kalian untuk menemani saya disini.." kata Anin lirih.


Novi dan Barra hanya mengguk pelan dengan senyum kaku di wajah mereka..karena iba dengan Anindya.


Tuan Wirawan sejenak memandang wajah Anindya yang tampak sangat frustasi karena kondisi kesehatan Mbah-nya.


' Kemana Akmal saat ini ? kenapa malah dokter Barra yang ada di sini ? ' kata Tuan Wirawan dalam hati.


' Kebangetan ...' lanjutnya geram tetap dalam hati.


Sementara di tempat lain..

__ADS_1


Akmal sedang bersama Rika di ruang kerjanya..mereka tampak sibuk dengan setumpuk map yang ada di depan mereka.


"Sudahlah,Sayang..gak usah terlalu capek gitu lah...ayo ngobrol aja santai sama aku.." ucap Rika sambil malas-malasan membuka satu map di atas meja kerja Akmal.


"Ngobrol apa-an sih ? Udah tahu kerjaan numpuk gini...baru 2 hari aku gak masuk aja, udah segini banyak pekerjaan di mejaku..ini belum lagi tugas koas-ku..." keluh Akmal sambil tetap memegang pena, entah apa yang sedang sibuk dia kerjakan.


"Buat apa kamu susah - susah mikir koas kamu...toh kamu anak dari pemilik rumah sakit ini.." kata Rika.


"Ya nggak gitu juga...walaupun aku anak pemilik rumah sakit ini...tapi aku ingin nilai yang aku dapat bukan nilai sulapan..bukan nilai rekayasa..." sanggah Akmal sambil tangannya terus membuka lembaran berkas dalam map di meja kerjanya.


"Aku ingin lulus dengan nilai dan kemampuanku yang sesungguhnya,Rika..." kata Akmal lagi kemudian sesaat memandang wajah Rika lekat.


"Untuk jati diriku..untuk kebanggaanku...untuk masa depan kita juga..." sambung Akmal masih memandang wajah kekasihnya itu.


"Kamu juga harus serius menjalani koas kamu sayang...jangan malas - malasan.." nasihat Akmal pada Rika.


"Ngapain aku susah payah..kan aku bakal jadi Ny. Akmal..pewaris RS. Bhakti Wirawan.."


jawab Rika enteng.


"By the way kamu tidur sekamar sama Anin dong,Sayang...kalian ngapain aja ? Awas aja kalau kamu sampai macam-macam sama dia..." rengek Rika manja.


"Sayang..aku tuh udah illfeel banget sama tuh perempuan...dulu aku respect karena aku kira dia itu lugu dan gigih dalam bekerja...tapi sekarang...cihh..." kata Akmal.


"Siaapp...kamu tenang aja..." jawab Akmal.


"Udah dulu yaa ngobrolnya...nanti kita lanjutin setelah aku nyelesaiin memeriksa berkas-berkas ini.." lanjutnya sambil menunjuk tumpukan map.


"Yaudah...aku keluar...kita pulang bareng,kan ?" tanya Rika manja.


"Aku usahakan,Sayang..." jawab Akmal sambil melempar senyumnya.


Lalu Rika pun keluar dari ruang kerja Akmal.


Beberapa saat kemudian..ada yang masuk lagi ke ruang kerja Akmal..tanpa mengetuk pintu..saat itu Akmal sedang menjeda pekerjaannya sejenak dengan memainkan ponselnya.


Ternyata Tuan Wirawan yang masuk.


"Papa ? Ada yang bisa Akmal bantu,Pa ?" tanya Akmal sedikit terkejut dengan kedatangan Papanya itu.


"Jadi kamu disini...asyik dengan ponselmu.." kata Papanya ysng sudah memasang wajah emosi tertahan.


"Bukan Pa..Papa salah paham.." kata Akmal mencoba meluruskan.

__ADS_1


"Salah paham apa ? Udah jelas kamu lagi asyik main ponsel.." Papanya menyela ucapannya.


"Ini tadi baru sejenak merefresh otak...lihat ponsel..." kata Akmal lagi tapi terputus lagi.


"Kamu kebangetan ya..! Kamu boleh marah sama Papa..sama Mama..sama Anin..sama Mbah Rasni...tapi lihat dulu sikon sekarang..Mbah Rasni yang udah mengasuh kamu sejak kecil sedang berjuang antara hidup dan mati...kamu disini asyik dengan ponsel kamu...gak ada empati sama sekali.." kata Tuan Wirawan dengan suara tertahan tapi penuh emosi.


"Pa...dari tadi Akmal memeriksa berkas-berkas yang nenumpuk gara-gara Akmal gak masuk dua hari kemarin...Papa lihat sendiri,kan ?" pembelaan Akmal.


"Halah...itu cuma alasan kamu aja...biar kamu gak perlu menunggu operasi Mbah Rasni,ya kan ?" sanggah Tuan Wirawan.


"Terserah Papa bilang apa...Akmal jelasin juga Papa gak akan percaya..." Akmal memilih tidak berdebat dengan Papanya.


"Masak kamu sebagai suaminya Anin gak ikut nungguin proses operasi Mbah...malah dokter Barra yang ada di sana..." protes Papanya ke Akmal.


"Itu sih Akmal gak heran...mereka darì dulu memang udah dekat," kata Akmal.


"Tapi sekarang udah beda..harusnya kamu yang mensupport Anin di saat-saat genting seperti ini..." kata Tuan Wirawan.


"Karena kamu.. " kata Tuan Wirawan terputus.


"Karena Akmal suaminya ? Gak ada yang tahu juga kan Pa perubahan status kami..." sela Akmal.


"Ya itu kan kamu yang minta...tapi di mata agama dan negara kamu harus bertanggung jawab penuh atas diri Andin...dan termasuk Mbah Rasni karena dia pengganti orang tuanya...terlebih dia juga menjaga kamu dari kamu kecil..." panjang lebar Papanya tetap dengan suara tertahan karena khawatir ada yang mendengar.


"Kamu tuh laki-laki...suka atau tidak suka..rela atau terpaksa...kamu tetap harus gentle berkelakuan selayaknya suami kepada istri..." sambung Papanya.


Akmal hanya diam di kursi kerjanya dengan tatapan tak fokus dan sesekali mengusap rambut..sesekali mengusap wajah..dengan telapak tangannya...sesekali menarik nsfas panjang...tanda dia sedang stress.


"Mendidik,menafkahi,melindungi dan mengayomi...dan ingat satu hal...dia anak yatim piatu...jangan pernah kamu mendzoliminya...!" wanti-wanti Tuan Wirawan pada Akmal.


"Apa Akmal tidak salah dengar,Pa ? Dalam hal ini Akmal-lah yang merasa terdzolimi..." pembelaan Akmal.


"Papa tuh salah menilai Anin...dia itu licik,Pa..! Jangan sampai Papa kelak menyesali keputusan Papa ini..." kata Akmal.


"Yang ada kamu yang akan menyesal...!" kata Tuan Wirawan.


"Sudah...Papa tidak ingin berdebat lagi...nanti malam ada undangan peresmian rumah sakit baru..Papa minta kamu datang bersama Anindya ke sana...!" perintah Papa Akmal.


"Mana bisa seperti itu,Pa..! Akmal sudah ada planning menghadiri undangan itu bersama Rika, Pa..!" tolak Akmal.


"Lagian apa gak aneh kalau Akmal pergi sama Anin..kan orang lain tidak ada yang tahu status kami sekarang..." alasan Akmal.


"Udah jangan banyak alasan lagi..kamu bisa gunakan status kamu dan Anin yang lain...yaitu dokter divisi poli nutrisi dan gizi dengan sekretaris medis divisi poli nutrisi dan gizi.." pungkas Papanya lalu balik badan agar tak mendengar Akmal beralasan lagi.

__ADS_1


"Undangannya jam 8 malam...jangan sampai telat..!" tambah Papanya lalu keluar dari ruang kerja Akmal.


__ADS_2