
Di Rumah Sakit Bhakti Wirawan...
Akmal sedang menghadap dokter pembimbingnya sehubungan dengan program koasnya.
Dia nampak serius menerima pengarahan dan bertukar fikiran dengan dokter pembimbingnya...sudah enam bulan Akmal melalui program koasnya...kalau semuanya lancar...dia masih harus menjalani program koasnya kurang lebih 1 tahun lagi...agar bisa menyandang gelar dr. di depan namanya.
Dan yang paling penting juga...kalau dia sudah lulus program koasnya...tidak ada lagi yang bisa menyebutnya dokter gak jelas..dokter setengah jadi...seperti seseorang yang sering memanggilnya seperti itu...yaitu Anindya.
'Kamu adalah salah satu motivasiku untuk menyelesaikan koasku ini...gara-gara sebutanmu padaku itu...' Akmal berkata dalam hati sambil diam-diam menyunggingkan senyum tipisnya.
*
*
Setelah selesai menghadap dokter pembimbingnya...Akmal kembali ke ruang kerja pribadinya.
Dia berpapasan dengan Rika...
"Eh...Rika ! Dari mana kamu ?" tanya Akmal melihat Rika menyandang tas dan map di tangannya.
"Eee...ini tadi habis dari ATM depan..." jawab Rika agak kikuk...takut Akmal menegurnya karena keluar saat jam kerja.
Karena Akmal adalah orang yang disiplin dan tidak pandang bulu....kalau ada yang berbuat salah maka dia akan menegurnya langsung...tidak perduli walaupun itu Rika kekasihnya.
"Ooh...itu map apa ?" tanya Akmal.
Dan sepertinya dia percaya alasan Rika barusan.
"Oh iyya...ini tadi Anindya yang menitipkan ke aku...suruh ngasih langsung ke kamu...katanya ini dokumen penting yang kamu tinggal di rumah...Mamamu yang menyuruhnya..." kata Rika.
Rika belum fokus ke amarahnya soal kebohongan Akmal...dia masih fokus menutupi kebohongannya sendiri pada Akmal.
"Terus...dimana Anindya sekarang ?" tanya Akmal celingukan kesana-kemari mencari keberadaan Anindya.
"Dia langsung pergi tadi....mungkin ke ruangannya..." jawab Rika.
'Rupanya Rika tidak tahu kalau Anindya dua hari terakhir ini absen...'. batin Akmal.
"Ya sudah kalau begitu...ayo kita kembali kerja..." ajak Akmal.
Diam-diam Rika memperhatikan mimik wajah Akmal...ada gurat kecewa tak bertatap muka dengan Anindya.
__ADS_1
Dia kesal melihatnya.
'Awas saja kalian berdua..! Sudah berani main-main denganku...' Rika geram dalam hati.
Lalu mereka berdua menuju ruangan kerja masing-masing.
*
*
Sesampainya di rumah...Anindya duduk di kursi ruang tamu.
Sendirian...
"Sepi..." guman Anin.
"Gak ada yang reseh..." lanjutnya lirih sambil memainkan ponselnya.
"Ahh...tapi mungkin lebih baik seperti ini...biar aky cepet move on dari dokter reseh itu.." Anin menghibur dirinya sendiri.
Anindya nyatanya memang merasa kesepian di rumahnya sendirian....karena sebelumnya dia biasa keja hingga petang hari...sedangkan sekarang ini tak ada hal penting yang bisa dia kerjakan...hanya keluar masuk kamar dan duduk di ruang tamu.
Dia memandang penunjuk waktu di ponselnya...
Tiba-tiba ada panggilan masuk ke ponselnya.
Dia menatap layar melihat siapa gerangan yang melakuksn panggilan..
"Mas Reseh..." bacanya.
Anin diam-diam menyunggingkan senyum tipis.
"Angkat nggak,yaa ?" Anin bimbang.
Dia masih membiarkan ponselnya terus membunyikan nada deringnya.
Hingga beberapa waktu membiarkan...Anin pun menerima panggilan itu...tapi sayangnya panggilan itu keburu di akhiri oleh Akmal alias 'Mas Reseh'.
Anin menunggu Akmal menelfon lagi...tapi tak kunjung ada panggilan masuk lagi.
"Ishh...gak niat banget sihh nelfonnya ?? Nelfon lagi kek...atau wa kan bisa...masak nelfon sekali doang ??" Anin menggerutu kesal.
__ADS_1
Lalu Anin pun melaksanakan sholat maghrib...sampai selesai sholat isya' pun yang dia tunggu tak juga menelfon lagi..
Akhirnya Anin memutuskan untuk tidur awal...dia membopong Pusy ke kamar untuk menemaninya tidur.
*
*
Sementara di rumah sakit...di ruang kerja Akmal..tampak Akmal yang harus lembur hari ini,masih sibuk berkutat dengan pekerjaannya.
Padahal waktu sudah menunjukkan jam 8 malam...Akmal belum menyudahi pekerjaannya...dia harus segera merampungkan kontrak kerjasama jamsostek dari sejumlah perusahaan.
Karena ini merupakan kontrak penting yang sudah ditangani sejak lama oleh RS Bhakti Wirawan...
Dan ini tahun pertama Akmal mendapat kepercayaan dari Papanya untuk menanganinya...jadi Akmal harus menyiapkan presentasi sebaik mungkin agar tidak mengecewakan Papanya dan juga klien mereka.
Jika presentasinya berhasil....program-programnya diminati...maka RS Bhakti Wirawan akan kembali jadi pemenang tender besar ini.
"Dokter...sudah malam...saya mau permisi pulang dulu..." pamit Wisnu.
"Iya Pak Wisnu..Anda duluan saja...ini tinggal sedikit lagi rampung...tapi pastikan dulu semua dokumen kontrak kita aman penyimpanannya..." kata Akmal.
"Semua sudah tersimpan dengan baik,Dokter...Anindya yang melakukannya...dia memang benar-benar bisa diandalkan..sebagai pekerja dia handal...sebagai perempuan dia T-O-P-B-G-T...idaman kaum adam pokoknya untuk pendamping hidup...!!" panjang lebar Wisnu tak sungkan pada Akmal.
Dia tidak tahu,kalau yang sekarang dia ajak bicara adalah suami dari perempuan yang dia bicarakan.
"Kenapa jadi kemana-mana sih Pak pembicaraannya..."protes Akmal tapi berusaha sebiasa mungkin..
"Maaf,Dokter...jadi curhat...saya permisi pulang dulu..." ucap Wisnu sambil menggaruk tengkuknya yang tidak gatal.
Akmal merespon dengan anggukan.
"Dasar bocil tengil ! Sukanya te-pe ( tebar pesona) ! Ditelfon juga gak diangkat !! " monolog Akmal kesal yang ditujukan pada Anindya.
Dua hari berlalu...
Akmal menahan diri untuk tidak datang menemui Anindya di rumahnya.Menelfon pun tidak...karena tempo hari tak direspon panggilan telfonnya oleh Anindya.
Ini hari ketiga...Akmal sudah punya rencana sejak tadi malam...dan dia akan melibatkan seseorang dalam rencananya kali ini.
Seperti biasa pulang kerja Akmal mengantar Rika pulang ke rumahnya dulu...tak ada yang istimewa dengan kedekatan mereka berdua...bahkan terkesan semakin hari dirasa Rika semakin hari semakin flat dan dingin saja.
__ADS_1
Setelah menurunkan Rika di depan rumahnya...Akmal bergegas pulang,membersihkab diri,sholat lalu makan...
Dan sekarang tiba saatnya Akmal untuk menjalankan rencananya..dengan bantuan seseorang yang tidak mungkin Anindya tolak kedatangannya.