
Pandangannya pada Anin mengandung pengharapan agar mendapat jawaban sesuai yang dia harapkan.
Anin menarik nafas dalam meresponnya.
"Memang ada.." jawab Anin.
"Siapa ?" tanya Akmal bernada selidik dengan langkah mendekati Anin sekarang berada.
"Mbah Rasni.." jawab Anin melirik Akmal sambil mengeluarkan kemeja putih dan celana bahan warna gelap dari almari ditaruh di atas ranjang.
"Ooohh..." ucap Akmal terdengar lega sambil mengulum senyum.
"Terus...Anda fikir siapa yang ingin segera saya temui cobak ?" tanya Anin balik.
"Ya kali aja ada yang lain..." kata Akmal sambil mengangkat kedua bahunya sembari melenggang ke kamar mandi.
"Tolong cepat,Tuan...nanti kita turun sarapan barengan..." pesan Anin.
"Hemm..." jawab Akmal.
Sesaat kemudian,Akmal keluar dengan hanya memakai handuk di perut lagi.
Dengan santainya dan tanpa merasa sungkan.
"O-mai-gat....!" seru Anin sambil memalingkan mukanya.
"Apa ? Kenapa ?" tanya Akmal tanpa dosa.
"Mbok yo dipikir sithik nang kamar iki ambek sopo ngunu lho...(fikir sedikit di kamar ini sekarang sama siapa,gitu lho).." ucap Anin.
Akmal baru tersadar kalau dia saat ini sedang telanjang dada di depan Anindya.
"Ohohh ini...." Akmal menahan tawanya.
"Emangnya kenapa ? Koq pakek berpaling muka segala ? Rezeki lho ini...pemandangan seperti ini pasti jarang kamu lihat di tempat lain..." kata Akmal sembari menyemprotkan minyak wangi ke tubuhnya dan memakai kemejanya...kemudian celana panjangnya juga.
"Rezeki...yang ada netra saya jadi tercemari.." Anin menggerutu tapi tetap terdengar Akmal.
Bersamaan itu juga wangi aroma parfum Akmal menyeruak ke seluruh kamar...harumnya itu begitu menggoda Anin untuk berlari...berlari memeluk si empunya pemakai parfum.
Anjn bersyukur masih bisa mengendalikan dirinya.
__ADS_1
Akmal hanya mengulum senyum sambil melepas handuk dan memasukkan kemeja ke dalam celana panjangnya.
"Sudaah..." kata Akmal singkat.
Tanda agar Anin tak perlu lagi memalingkan mukanya.
'Tumben dia tak melakukan hal absurd dan jahil....tak seperti sebelum-sebelumnya...selalu menggoda dan omes terus padaku...' dalam diam Anin sepertinya kangen dijahili dan diomesi Akmal sepeerti sebelum-sebelumnya.
'Apa ini artinya dia masih marah,ya ?" terka Anin dalam hati.
Sementata itu Akmal...
'Hemmm...tahan Akmal tahan....jangan lakukan hal yang membuat kamu semakin dijauhi dan ditolak Anin....kamu harus memasang mode sellow dalam mendekati target kali ini...' Akmal bergumam dalam hati.
Lalu Akmal memakai jas warna milo yang dibiarkan terbuka.
"I'm ready..." kata Akmal.
Membuat Anin seketika mengarahkan pandangan padanya...melihat sejenak penampilan laki-laki halalnya itu.
"Tampan.." kata Anin.
Tapi hanya dalam hati.
Anin segera mengambil tasnya juga dan mengikuti Akmal dari belakang.
Setelah sarapan bersama...
Akmal dan Anin juga Devan berpamitan pada Mama dan Papa mereka untuk berangkat kerja ke masing-masing tempat.
Akmal sepertinya sangat tak rela melepas Anin naik ojol.
Akmal menemani Anin untuk menunggu mbak ojol langganannya di depan rumah.
Sambil membicarakan kemungkinan-kemungkinan agar bisa berangkat bersama di hari-hari berikutnya.
"Tuan bisa berangkat duluan...tidak perlu menunggu saya di sini...biasanya juga saya sendiri..." sindir Anin.
"Kamu seneng banget yaa nyindir aku..." kata Akmal memajukan bibirnya.
Anindya hanya menyunggingkan senyum kecil.
__ADS_1
Sejenak kemudian ada sepeda motor dua tak menepi di depan mereka.
"Pagi Mbak...udah mulai kerja lagi ?" tanya mbak ojol.
"Kayaknya sih gitu,Mbak..." jawab Anin.
Akmal memgamati penampilannya dari atas sampai bawah...memang tak terlihat seperti perempuan.
Lalu mbak ojol melepas helmnya...baru terlihat jelas oleh Akmal kalau dia memang mbak ojol,bukan abang ojol.
'Bagus...' Akmal berkata dalam hati.
Pengamatan Akmal beralih pada sepda motor yang digunakan mbak ojol untuk mengojek istrinya...bukan motor matic memang,hanya motor dua tak.
"ini siapa,Mbak Anin ?" tanya mbak ojol mengarah pada Akmal yang dari tadi sibuk mengamatinya.
"Saya suaminya..." kata Akmal jelas.
Anin memelototinya tanda tak setuju...tapi sudah terlanjur juga.
"Ohh...pantesan kelihatan posesif banget...kalian pasangan serasi yang perempuan cantik yang laki-laki ganteng.." kata mbak ojol.
"Saya titip istri saya ya,Mbak...tolong prioritaskan istri saya untuk diantar jemput setiap harinya..." kata Akmal.
"Dari dulu juga gitu kalee..." gumam lirih Anindya.
"Siap Mas !" jawab mbak ojol.
"Minta nomer rekeningnya,Mbak.." lanjut Akmal.
"Untuk...??" Mbak ojol bertanya bingung dengan maksud Akmal.
"Selama Mbak mengantar jemput istri saya...biar saya yang bayar ongkosnya Mbak...saya bayar per bulan 3 kali lipat dan otomatis masuk ke rekening anda setiap awal bulan...gimana ?" tawaran Akmal.
"Iya Mas...terimakasih banyak...ini nomer rekening saya.." kata mbak ojol menyodorkan kartu namanya yang sudah dibubuhi nomer rekening di belakangnya.
"Dan satu lagi...saya akan membelikan Mbak sepeda motor matic...supaya istri saya lebih nyaman berkendara dibonceng sama Mbak..." kata Akmal.
Mbak ojol langsung melongo tak percaya.
"Mbak Anin...gimana nih ?" Mbak ojol minta pendapat Anin.
__ADS_1
"Terima aja Mbak...gak pa-pa...anggap aja ini semua rezeki buat mbak dan anak mbak..." kata Anin.
"Alhamdulillaah...mimpi apa saya semalam...terimakasih mas...Anda memang benar-benar ngganteng njobo njero (luar dalam )..." ucap mbak ojol.