
Seketika ruang operasi kembali sibuk karena tim code blue masuk dan melakukan CPR juga menggunakan alat defibrilator untuk memacu kerja jantung Akmal.
Sementara di luar...Anindya,Devan dan Novi juga terlihat begitu tegang dan cemas...
"Astaghfirullooh...apa lagi ini Yaa Robb..." gumam Anindya lirih dan berat.
'' Beri kekuatan pada Tuan Dokter...beri dia kesembuhan seperti sedia kala,Gusti...semua ini terjadi karena hamba...apa karena Tuan Dokter mendekati hamba...jadi dia kena musibah dari-Mu ? Setelah Ibu,Ayah,Mbah...sekarang Tuan Dokter ? Kenapa hamba merasa kalau hamba ini pembawa sial bagi orang-orang yang dekat dengan hamba ? Apa hamba sebaiknya pergi jauh dari kehidupan Tuan Dokter, agar dia tidak menanggung kesialan karena hamba ? Begini saja Yaa Robb...kita buat kesepakatan...beri kesembuhan seperti sedia kala pada Tuan Dokter dan Mbah Rasni...setelah itu...hamba akan menyingkir dari mereka....hidup menyendiri jauh dari semua...'' do'a Anindya dalam hati.
Dia begitu takut terjadi hal-hal yang tidak diinginkan pada Akmal...makanya dia sampai berdo'a seperti itu.
Anindya mendekati Devan yang sedari tadi duduk diam sambil memangku tangannya di depan antara dagu dan lututnya...dia tampak begitu resah menanti kabar baik dari dalam ruang operasi.
Bagaimana tidak...adik semata wayangnya yang dia sayangi sepenuh hati...secara tiba-tiba dinyatakan henti jantung....sedangkan saat ini Papa dan Mamanya tidak bisa datang ke RS...apa yang akan dia katakan pada mereka kalau terjadi hal-hal yang tidak diinginkan pada adiknya itu ??
Setelah menunggu lama dengan perasaan tak menentu...akhirnya tim code blue keluar dari ruang operasi...tim dokter termasuk Barra menyusul di belakangnya.
Devan langsung berhambur mendekat...di iringi Anindya di sampingnya.
"Bagaimana Adik saya,Dokter...?" tanya Devan dengan suara was-was.
__ADS_1
"Dokter Akmal masih harus dirawat intensif...karena seperti yang diketahui sebelumnya...Dokter Akmal kehilangan banyak darah dan peluru yang berhasil kita ambil tadi,hampir menembus organ dalamnya...Alhamdulillah dia sudah melewati masa kritisnya barusan..." penjelasan Dokter spesialis jantung.
"Alhamdulillaah..." ucap Anindya,Devan dan Novi hampir bersamaan.
"Syukurlah fisik Dokter Akmal kuat...dan mungkin dia juga punya motivasi bawah sadar yang kuat...terbukti saat sebelum dia dinyatakan gagal jantung, dia menyebut berulang kali nama Anindya..." sambung Dokter tersebut.
'"Terimakasih atas usaha kerasnya, Dokter..." ucap Devan.
Dokter itu mengangguk dan pamit meninggalkan mereka.
Hanya dr. Barra yang masih tinggal di depan ruang operasi menemani Anindya.
*
*
Karena posisi lukanya di punggung dia berbaring setengah duduk dan miring ke kanan...tapi masih dalam keadaan belum siuman.
Anindya menemaninya di samping ranjangnya..sedangkan Devan duduk di sofa...sambil menelfon seseorang...mungkin Papa dan Mamanya.
__ADS_1
Novi sudah permisi pulang sejak Akmal dipindah tadi.
Perawat datang...rupanya dia juga merupakan perawat di ruangan Mbah Rasni.
"Permisi...saya mau mengecek kondisi terkini Dokter Akmal..." kata perawat itu.
"Silahkan,Sus..." jawab Anindya.
Perawat melakukan pemeriksaan.
"Bagaimana kondisinya,Suster ?" tanya Anindya.
"Kondisinya sudah stabil, Mbak Anin...semoga Dokter Akmal segera siuman...saya dan para pegawai dan staff disini ikut mendo'akan kesembuhannya...karena dia Dokter dan juga pemimpin yang baik...tapi Dokter Akmal tidak mau kebaikannya itu diketahui orang lain...dia sering memberi bantuan kepada kami secara cuma-cuma...juga satu hal yang Mbak Anin perlu ketahui,Mbak Anin kan sering bertanya apa Dokter Akmal pernah menjenguk Mbah Rasni ? Saya selalu menjawab dengan jawaban tidak pernah...itu karena permintaan Dokter Akmal agar saya mengatakan seperti itu kalau Mbak Anin bertanya....padahal dia sangat rajin menjenguk Mbah Rasni,memeriksanya,menyeka dan mengajak bicara Mbah Rasni...entah karena apa dia melarang memberitahu ke Mbak Anin..." papar perawat itu.
"Jadi seperti itu...terimakasih informasinya,Suster..." kata Anindya.
Perawat itu lalu permisi keluar dari ruang Akmal dirawat.
"Saya tahu kenapa dia melarang memberitahu yang sebenarnya,Suster...agar saya semakin membencinya..." monolog Anin.
__ADS_1