Tidak Tanpamu

Tidak Tanpamu
Sekarang Mah Beda....


__ADS_3

Dua hari berlalu...


Akmal tak mau dijaga selain Anindya istrinya.


Anindya pun dengan rela hati menunggu dan meladeni suaminya itu.


Mertuanya dan Devan datang juga sesekali..Barra juga datang untuk menjenguk...tapi yang menunggu di RS 24 jam adalah Anindya.


Anindya juga masih terus memantau perkembangan kondisi Mbah Rasni yang menurut dokter semakin hari semakin baik.


Dan hari ini adalah hari ketiga Akmal dirawat...


"Aein..." panggil Akmal pada Anin yang tampak melipat sajadah dan mukenanya sesudah sholat Shubuh.


Anin menoleh ke Akmal tanpa menjawab...p sejujurnya Anindya malu mendengar panggilan 'aein' dari Akmal untuk dirinya yang memiliki arti 'sayang'...


"Aku berencana minta pulang hari ini pada dokter...gimana menurut kamu ?" tanya Akmal.


"Kamu juga pasti capek kan nungguin aku di RS terus..." sambung Akmal sembari memandang intens istrinya itu.


Anindya mendekat ke ranjang rawat Akmal.


"Ya nanti gimana keputusan dokter aja,Tuan..." jawab Anin.


"Tapi kalau pulang...kamu ikut yaa...pulang ke rumah..." pinta Akmal pada Anindya sembari meraih jemari Anin degan tangannya.


"Saya pulang ke rumah saya sendiri,Tuan..." jawab singkat Anindya mencoba menepis tangan Akmal.


"Kalau gitu saya ikut pulang ke rumah kamu..." kata Akmal tak rela melepas genggaman tangan kekarnya di jari mungil Anindya.

__ADS_1


"Kalau dokter sudah mengizinkan pulang berarti kan sudah sembuh...jadi tugas saya sudah selesai..." jawab Anin yang terjebak dengan pandangan netranya terlanjur kr wajah Akmal yang ganteng maksimal.


'Astaghfirullooh...! Mata elangnya itu...rahang tegas itu...berpadu sempurna dengan bibir merah yang tak terkontaminasi sigaret..plus hidung blingirnya...' batin Anindya.


"Tugas kamu untuk menemaniku tak akan pernah selesai...kecuali aku mati..." Akmal berkata lirih penuh penekanan dengan lekat memandang Anindya.


"Astaghfirullooh !! Kalau ngomong jangan suka asal dehh...!!" seru Anindya sambil menutup bibir Akmal dengan telunjuknya.


"Kenapa,Aein ?" tanya Akmal lirih sambil mengikis jarak dari Anindya...dipandangnya intens wajah ayu istrinya itu...terasa begitu teduh dan membangkitkan rasa tak lumrah...naluri seorang laki-laki Akmal meronta.


"Ucapan adalah do'a..." jawab singkat Anindya dengan memutar langkah hendak menjauh dari Akmal.


Tapi gagal...Akmal menahan tangannya erat.


"Mati itu pasti...tak dapat dihindari...asal kamu tahu saja...saat aku terkena peluru dan merasa kesakitan di pangkuanmu...aku sudah siap untuk mati saat itu juga...karena dalam pikiranku aku hanya ingin menebus kedzolimanku padamu...setelah itu aku sudah lega dan pasrah..." papar Akmal.


"Waktunya sarapan...kenapa perawat belum ngantar kesini ya ?" Anindya mencoba mengalihkan pembicaraan.


"Oh ya...aku mau tanya...waktu kamu bilang : 'setidaknya pikirkan juga orang yang mencintaiku..' saat aku berada dalam kondisi setengah sadar...siapa maksud kamu orang itu ?" selidik Akmal.


"Kapan itu ?" Anindya memcoba memutar memorinya kembali.


Akmal membiarkan Anindya mwndaparkan memorinya dengan sendirinya.


"Ooh..itu..." kata Anindya sepertinya sudah ingat.


"He-emm..." Akmal mengangguk dan tersenyum tipis menunggu jawaban Anindya.


"Yaa..maksud saya...orang-orang yang mencintai Anda itu Tuan Wirawan,Nyonya Mira,Kak Devan,Rafa dan juga pasien-pasien Anda..." jawab Anindya kikuk.

__ADS_1


"Lalu ?" pancing Akmal.


"Lalu apa ?" tanya Anindya berlagak tak tahu.


"Kamu ?" tanya Akmal semakin mendekatkan wajahnya ke wajah Anin.


"Saya ? Dulu mencintai Anda...efek dari cucu dan istri yang tawadhu' ..." jawab Anindya asal.


"Sekarang ?" suara Akmal sedikit mendesah membuat efek resah Anindya yang mendengarnya.


"Sekarang mah beda..." Anindya refleks mendorong Akmal ke belakang untuk menjauhkan diri.


"Alloohu Akbar ! Auww !" teriak Akmal kesakitan karena punggung bekas luka operasinya membentur bantal di ranjang.


"Astaghfirullooh...! Maaf Tuan Dokter...saya refleks barusan..." kata Anin terlihat menyesal melihat Akmal meringis kesakitan.


Dia memeriksa punggung Akmal...takutnya lukanya berdarah atau gimana.


"Bukan itu yang sakit..." kata Akmal.


"Lalu mana ?" tanya polos Anindya.


"Ini.." Akmal menunjuk bagian dadanya.


"Kok bisa ?" tanya Anindya heran.


"Efek dari jawaban yang kamu berikan..." jawab Akmal.


"Dasar reseh ! Gak jelas blass..!" kata Anindya.

__ADS_1


"Aku mau mandi...badanku rasanya lepek banget dua hari ini cuma diseka..." kata Akmal.


" Hahh ? Mandi ?" tanya Anindya kikuk.


__ADS_2