
"Kamu mau kita makan malam dimana ?" tanya Akmal antusias sambil sesekali memandang Anin.
"Di kafe dekat toko saya bekerja dulu,boleh...?" jawab sekaligus tanya Anin.
Anin tetap dengan pandangannya ke luar jendela samping mobil Akmal.
"Kenapa harus ke kafe itu ? Kenapa tidak ke tempat lain,resto gitu ?" tanya Akmal lagi.
"Saya kangen suasana kafe itu..." jawab Anin.
"Terserah kamu aja kalau gitu..." Akmal menurut.
Tak butuh waktu lama...mereka sampai ke tempat yang dituju.
Akmal memarkir mobilnya tepat di depan kafe. Lalu dia turun dari mobil duluan...tapi di luar kebiasaannya selama.ini...dia bergegas membukakan pintu mobil untuk Anindya.
Padahal Anindya sudah hendak turun begitu saja...Anindya terkejut dan merasa aneh saja menerima perlakuan dari Akmal seperti itu.
Lalu mereka masuk beriringan menuju ke dalam kafe.Pengunjung di kafe itu selalu ramai sejak dulu....karena memang letaknya yang stategis dan menu yang beragam juga instagramable.
Akmal menghampiri pegawai kafe...entah apa yang sedang mereka bicarakan,sementara Anin menunggu di kursi pelanggan.
Tak lama kemudian...Akmal menghampiri Anin dan mengajaknya pindah ke tempat lain.
"Ayo berdiri dulu..." ajak Akmal penuh kelembutan pada Akmal.
"Kemana ?" tanya Anin bingung.
"Ikut saja..." Akmal memamerkan senyuman yang mengandung 1 kwintal gula...menyadari itu,Anin tak ingin terlalu lama memandangnya...takut dia-punya loves-meletus (plesetan : diabetes militus).
Sehingga dia segera menuruti perkataan Akmal.Ternyata pegawai kafe itu membawa ke private room dari kafe itu.
'Ternyata di kafe ini ada private room juga...baru tahu aku ! Tapi kenapa Tuan Dokter membawaku ke tempat ini ?' batin Anin heran dan bingung.
__ADS_1
"Silahkan masuk Tuan dan Nona.." ucap pegawai kafe.
Akmal hanya mengulas senyum tipis pada pegawai itu.
Sedangkan Anin masih canggung dan bingung.
Begitu masuk...kesan mewah private room itu begitu kentara...dekorasi indoornya warna coklat dan gold yang mendominasi...dipadu dengan warna putih...menjadikannya elegab dan asri.
Lampu kristal mewah terpampang di tengah dan juga sudut ruangan.
Meja dan kursi yang diperuntukkan dua orang juga tertata begitu cantik dan rapi.
Akmal menggeser kursi keluar dan mengkode lembut dengan anggukan dan kedipan ringan...mempersilahkan Anin duduk.
Anin semakin canggung menerima perlakuan Akmal yang tak biasa malam ini.
'Hati...jangan besar rasa yaa kamu...' batin Anin.
Lalu Akmal menyusul duduk...dan sesaat kemudian pegawai kafe datang membawa buku menu dan juga menyalakan lilin yang sudah ada di meja.
"Terserah Anda saja..." jawab Anin.
Anin menyerahkan urusan pesan menu pada Akmal ..karena saat ini sepertinya dia tidak bisa menentukan pilihan...otaknya seperti beku...lidahnya kelu...kaki dan tangannya juga tremor.
"Kenapa Tuan Dokter ?" tanya Anin pada Akmal.
"Hemm ?" Akmal berdehem saja.
"Kenapa di saat saya berusaha untuk mengunci hati...Anda malah berusaha membukanya dengan sikap tak biasa ?" tanya Anin.
"Jangan seperti ini, Tuan..." Anin keberatan atas sikap Akmal.
"Saya menghindari Anda agar tak ada tautan lagi antara hati kita...toh memang seharusnya demikian...karena ada hati ketiga yang juga harus Anda jaga..." kata Anin.
__ADS_1
"Aku tidak bisa menyangkal...karena memang benar seperti itu...tapi aku ingin menjadikan saat-saat terakhir kebersamaan kita menjadi kenangan indah..." kataxAkmal.
"Seandainya bisa...aku ingin memutar waktu kembali...sekarang hanya tinggal penyesalanku saja atas sikap dan kelakuanku selama ini..." sesal Akmal.
"Tak ada yang perlu disesali...ini saya kembalikan kepada Anda..." kata Anin sambil menyodorkan black card ATM milik Akmal yang tempo hari diberikan Tuan Wirawan kepadanya.
Akmal terkejut dengan keputusan Anin.
"Tidak usah...simpan saja...!" jawab Akmal serius.
"Ini bukan hak saya...isinya masih sama seperti waktu black card ini pertama kali saya terima dari Papa Anda..." lanjut Anin.
"Aku ingin kamu menyimpannya...please..." mohon Akmal.
"Saya masih bisa menghidupi diri saya sendiri...tolong diterima..." kata Anin.
Akmal tidak ingin memperpanjang perdebatan mereka.Akmal mengambilnya dan memasukkan ke saku celananya.
"Berikan ponselmu kepadaku..." pinta Akmal.
"Untuk apa ?" tamya Anin.
"Pinjam sebentar..." kata Akmal.
Anin menuruti permintaan Akmal.Dia menyodorkan ponselnya kepada Akmal.
Akmal menerimanya dan membukanya.
"Kodenya ?" tanya Akmal.
"111131112..." jawab Anin.
"Itu angka urutan huruf dari nama Anda..." kata Anin polos.
__ADS_1
"Oh, ya ?" Akmal terkejut mendengarnya.