
Akhirnya dengan dongkol Anin menyetrika ulang pakaian Akmal.
Setelah selesai..dia melihat jam dinding yang menunjukkan pukul 10.30 malam.
"Udah malam...semoga si Tuan Dokter reseh itu sudah tidur...biar gak ada keresehan lain lagi...aku capek banget...mau istirahat.." gumam Anin srendirian.
Lalu dia masuk kamar dengan membuka pintu perlahan...dilihatnya Akmal sudah tertidur pulas.
"Syukurlah..." gumam Anin lirih.
Lalu pelan-pelan ia menggantung pakaian Akmal di depan lemarinya.
Lalu setelahnya Anin menuju ke sofa...berniat untuk tidur.
Dan sejenak kemudian terlelap dalam tidurnya.
......................
Keesokan harinya..
Anin sedang menunggu Mbak ojol di depan rumah kediaman Wirawan.
Tiba-tiba...
' TIN-TIN...'
Bunyi klakson mobil yang menepi ke arahnya.
"Siapa ?" gumam Anin lirih.
Lalu sang pengendara mobil sedan mewah tampak membuka pintu dan bersiap turun.
__ADS_1
Tampak sepatu dari pemilik mobii itu...kemudian tampak celana panjang bahan kain warna gelap...dan sesaat kemudian terlihat wajah good lookingnya.
Ternyata seseorang yang tidak asing bagi Anindya...Dokter Barra.
"Dokter Barra ?!" Anin heran karena Barra kan biasa bawa sepeda motor sport.
"Ya ! Ini aku...kamu berharap siapa ?" tanya Dokter Barra dengan nada menggoda Anin.
Anindya tersipu malu dibuatnya.
"Belum datang Mbak ojol ?" tanya Barra.
"Belum tuh...btw tumben Dokter naik mobil ?" tanya Anin penasaran.
"Sepeda motorku lagi di servis..." jawab Barra singkat.
"Batalin aja hari ini Mbak ojolnya...kita berangkat bareng,yuk..." ajak Barra.
"Kamu keberatan ?" tanya Barra.
"Bukan begitu,Dokter...saya menghindari naik semobil dengan Tuan Dokter yang notabene mukhrim sebab pernikahan...apa pantas kalau saya menerima semobil dengan Anda yang bukan mukhrim saya ?" tanya Anindya.
"Sekali ini saja...tadi juga aku gak ngira lho ketemu kamu..." bujuk Barra.
"Ayolah Anin...please..!" kata Barra lagi.
Anindya serba salah sekarang...apa yag harus dia lakukan..
"Eemm...baiklah,Dokter...tapi ada syaratnya.." kata Anin pada akhirnya.
"Apa itu ?" tanya Barra antusias sekali.
__ADS_1
"Kaca mobil depan tolong Anda buka saja kedua sisinya....Bisa ?" tanya Anin.
" Kenapa harus seperti itu " tanya Barra.
" Menghindari fitnah, Dokter..." jawab Anin.
"Oke...siapa takut...!'walaupun krelihatan lucu juga...kayak naik angkot kacanya dibuka..." kata Barra membuat mereka terkekeh kecil bersama.
Dan akhirnya Anindya masuk...lalu Barra melajukan sedan mewahnya.
Bertepatan dengan itu...mobil Akmal keluar dari gerbang...dia sempat melihat Barra dan Anin yang baru saja pergi.
"Norak banget ! Kaca mobil dibuka segala...gitu katanya naik ojol...eh gak tahunya nunggu jemputan lain...di depan rumah lagi...sengaja mau pamer ?" gerutu Akmal sendirian.
Dan akhirnya Anin dan Barra sampai di pelataran parkir RS.
Yang pastinya jadi bahan ghibah baru di kalamgan staff dan karyawan yang melihat kebersamaan mereka.
"Saya risih banget,Dokter...banyak mata yang tertuju melihat kita berdua..." kata Anin menyadari hal itu.
"Nyantai aja,Anin...anggap aja ini tes mental kamu...lagian emang kenapa ? Gak ada yang salah kan ? Toh mereka tahunya kkta sama-sama singgle..." kata Barra.
Lalu dia turun dan membukakan pintu buat Anin.
"Astaghfirullooh Gusti...ini ujian berat buat saya menata hati ini..." gumam lirih Anindya mendapat perlakuan manis dari laki-laki yang sudah berkali-kali dia tolak cintanya itu.
"Coba kamu bayangin kalau mereka tahu bahwa aku semobil sama istrinya Dokter Akmal...anak pemilik RS ini..." kata Barra menggoda Anin.
"Dokter...!" seru Anin sambil menutup bibirnya dengan jari telunjuknya.
Kode agar Barra jangan bicara soal itu ..takut ada yang mendengar.
__ADS_1