
"Astaghfirullooh !! Aaaachh...!" jerit Anindya sambil memukul berulang sekeras-kerasnya lengan kekar Akmal sesudah sadar dari loadingnya.
"Aduch..aduch !!" bukannya marah...Akmal mengaduh sambil diselingi tawa tertahannya.
"Kenapa,kurang ?" godanya.
"Dasar dokter gak jelass !! Resehh !! Curangg !! Siapa yang ngizinin Anda mencium bibir saya yang masih suci ini ??" hardik Anindya berentetan.
"Masak nyium istri sendiri harus minta izin segala ? Yang ada malah kita dapat pahala,kan ?" alasan Akmal.
"Emang cuma bibir kamu aja yang masih suci ? Bibirku juga masih perjaka,lho...!!" ujar Akmal.
"Halahh ! Preett...!" Anindya meragukan ujaran Akmal.
"Gak percaya ya udahh..." kata Akmal.
"Btw hari ini aku mau kita habiskan waktu bersama di luar...karena besok kayaknya aku udah harus masuk kerja lagi...pekerjaan sebagai pimpinan RS sudah menumpuk...di sisi lain aku juga harus menyelesaikan program koasku dalam satu bulan ini...aku gak mau gagal...supaya ngak ada yang manggil aku dokter gak jelas atau dokter setengah jadi lagi..." panjang lebar Akmal sambil meledek Anindya.
"Sesuai rencana awal...kita ke galeri untuk mengaktifkan kembali nomer kamu...lalu kita beli hp baru untuk kamu..." kata Akmal.
"Tapi aku gak punya cukup uang untuk beli hp..." kata Anin.
"Astaghfirullooh !! Kamu punya suami yang punya uang lebih dari cukup untuk membelikan kamu hp beserta counternya..." kata Akmal.
"Kenapa Anda membicarakan soal rencana Anda ingin mengulang pengucapan ijab qobul pernikahan kita di depan Tuan dan Nyonya Wirawan ?" tanya Anindya.
"Jadi itu yang menjadi beban fikiranmu dari tadi ? Maaf...aku salah...tapi bagiku itu salah satu bukti keseriusanku untuk mempertahankan hubungan pernikahan kita...tapi kayaknya aku juga udah pernah menyinggung hai itu sebelumnya ke kamu,deh..." kata Akmal.
"Dan aku sedikit kecewa atas jawabanmu untuk meminta waktu memikirkannya...berarti kamu masih ragu..." sambung Akmal masih sambil fokus mengemudi.
"Memang...karena sebelumnya niat saya sudah bulat untuk meminta Tuan Wirawan mwngurus perceraian kita..." kata Anindya.
"Ralat...!! Bukan Tuan atau Nyonya...tapi Papa dan Mama mertua....kamu manggil Barra aja dengan panggilan 'kakak'...." protes Akmal.
"Apa motivasi kamu memanggil Barra dengan sebutan 'kakak' ? Atau karena Kakak Doktermu itu kamu ragu untuk bertahan denganku dalam pernikahan kita ?" selidik Akmal.
"Kan dia umurnya lebih tua dari saya...wajar kan kalau saya panggil dia 'kakak' ? Dia tidak ada hubungannya dengan keraguan saya,Tuan Dokter..." jawab Anin.
"Jadi menurut kamu wajar kalau memanggil suami dengan sebutan Tuan Dokter ?" protes Akmal lagi.
__ADS_1
"Itu panggilan hormat saya pada majikan Mbah saya...dan atasan saya...." alasan Anin.
"Staff dan pegawai lain nggak segitunya..." kata Akmal.
"Kenapa baru sekarang ini Anda protes ? dulu-dulu kan tidak ?" tanya Anin.
"Itulah kuasa Alloh...Maha membolak balikkan hati hamba-Nya...dulu kamu belum masuk dalam hatiku...sekarang aku sudah meletakkanmu di hatiku yang paling dalam...hingga akan terasa sangat sakit kalau harus mengeluarkan dan melepaskanmu..." jawab Akmal.
"Gombal lagi...garing lagi...!!" protes Anin.
"Sama sekali bukan...itu real..." jawab Akmal dengan mimik wajah serius.
Dan tak terasa mereka sampai di depan counter hp.
*
*
Setelah kelar urusan nomer dan hp...Akmal mengajak Anin ke butik langganan Mamanya.
"Kok kesini ?" tanya Akmal sesampainya di depan butik.
"Mau apa ?" Anin mulai curiga.
"Kita cari pakaian yang cocok untukmu..." jawab Akmal.
"Halloo...Selamat siang Akmal dan Anin..." sambut Feny pemilik Butik yang langsung mengenali mereka berdua.
Akmal dan Anin merespon dengan ulasan senyum tipis di wajah mereka yang memiliki high rate.
Maklum,Feny sering diminta datang ke kediaman Wirawan untuk mengurusi style keluarga itu,baik pakaian resmi,pesta,maupun pakaian santai sehari-hari....sudah pasti Feny hafal dengan anggota keluarga Wirawan...terutama Akmal
"Gimana kabar kamu,Akmal ? Setelah insiden penenbakan yang kamu alami ?" tanya Feny.
"Alhamdulillaah baik,Tante..." jawab Akmal.
"Alhamdulillaah...tampaknya seperti itu sih...padahal Tante dengar kamu sempat kritis juga...syukurlah sekarang kamu sudah sehat kembali dan makin handshome maksimal...." puji Feny.
Akmal melirik Anin dengan senyum magnetisnya.
__ADS_1
Berbeda dengan Akmal yang santuyy...Anindya buru-buru berpaling setelah tertangkap dirinya sedang beradu pandang dengan netra tajam Akmal.
"So...ada yang bisa aku bantu untuk kalian ?" tanya Feny.
"Tolong rekomendasikan pakaian yang cocok untuk Anindya...lalu tunjukkan padaku,Tante..." kata Akmal.
"Okey...pakaian resmi,pesta atau sehari-hari ?" tanya Feny.
"Semuanya..." jawab Akmal santai lalu menarik lembut tangan Anin untuk duduk di sofa yang ada di sudut ruangan.
"Untuk apa beli pakaian ? Emangnya pakaian saya tidak layak menurut Anda ?" tanya Anindya sewot.
"Bukannya tidak layak...tapi perlu di upgrade aja..." alasan Akmal.
"Isshh...!!" Anindya tampak tak setuju pada Akmal...tapi tentu dia sembunyikan di depan Feny.
"Nahh...ini dia rekomendasi pakaian buat si ayu natural kerabat kamu ini, Akmal..." Feny mendatangi Akmal dan Anindya di sofa... sambil membawa setumpuk pakaian, diikuti dua asisten butik yang masing-masing membawa setumpuk pakaian juga.
"Silahkan pilih.....ini semua rancangan khusus butik kami, satu model satu edisi eksklusif...kalian bisa request warna lain kalau mau...atau kalau ingin brand terkenal disini juga tersedia banyak pilihan..." kata Feny antusias.
"Biar saya yang memilihkan..." Akmal mulai posesif.
"Duuh...jarang-jarang lho,Anin...Akmal mau pilih baju...biasanya untuk dirinya sendiri aja pasrah ke aku atau Mamanya...kelihatannya Akmal ini posesif banget sama kamu..." kata Feny.
Anindya hanya tersenyum kecil meresponnya.
"Yaudah saya tinggal dulu.. santai aja..." kata Feny.
Lalu Akmal mulai sibuk memilihkan pakaian untuk Anindya.
"Apa ini sesuai dengan ukuran kamu ?" tanya Akmal pada Anindya.
"Kayaknya gitu..." jawab Anin malas-malasan sambil melihat sekilas ukuran pakaian di depannya.
Akmal sibuk memilih...sesekali dia tanya pendapat Anindya...tapi hanya jawaban terserah yang berulang...keluar dari mulut Anindya.
"Nih...aku udah pilihkan untuk untuk kamu...kelamaan nunggu pendapat kamu..." kata Akmal.
"Emangnya saya mau jualan ? Kenapa segini banyaknya ? Enggak ah !! Ini over namanya..." Anindya protes melihat begitu banyaknya pakaian yang dipilih Akmal untuknya...kurang lebih setengah dari rekomendasi Feny tadi.
__ADS_1