Tidak Tanpamu

Tidak Tanpamu
Desiran Aneh .


__ADS_3

Anindya tak berkata-kata lagi setelah mendapat penolakan dari Akmal.


Sedangkan Akmal meneruskan untuk mandi..


Setelah itu dia rebahan di ranjang empuknya sambil bermain ponsel.


Pandangannya sesekali menuju Anin yang ada di sofa yang tidur dengan posisi memunggunginya.


Mungkin reaksi obat yang tadi dia minum..Anin jadi mengantuk dan tidur.


"Mbah...Mbah..." gumam Anin dalam tidurnya.


Akmal memasang telinganya karena belum yakin barusan mendengar suara.


"Mbah..." gumamnya lagi.


Akmal baru yakin sumber suara yang dia dengar itu dari Anin.


"Dia mengigau kayaknya.." Akmal berkata sendiri.


"Jangan tinggalin Anin,Mbah.." suara Anin semakin tinggi frekuensinya.


Akmal sampai turun dari ranjangnya dan memegang dahi Anin.


Tapi seketika itu tangannya di sambar dan digenggam Anin erat sekali.


Akmal terperanjat dibuatnya.


"Anin ikut Mbah saja..." ucap Anin sambil menggenggam tangan Akmal dan sudut matanya berair.

__ADS_1


Akmal belum bisa melepaskan tangannya yang digenggam Anin.


Dan tiba-tiba tubuh Anin berbalik ke arahnya...sampai hampir jatuh dari sofa.


Akmal dengan refleks menahan tubuh Anin dengan tubuhnya.


Sehingga posisi Akmal sekarang jongkok di sisi sofa tempat Akmal tidur.


Wajah mereka berhadap-hadapan dari jarak dekat.


Akmal memandang lekat perempuan muda dihadapannya itu..


Srrr...


Desiran aneh muncul secara tiba-tiba di tubuhnya.


Akmal tak tahu penyebabnya...dia terpaku sejenak merasakannya.


"Jangan tinggalin Anin sama Tuan Dokter reseh,Mbah.." gumam Anin masih mengigau.


Akmal terperanjat lagi mendengar kata-kata Anin...


"Dasar...! Dalam tidurpun dia masih ngatain aku....ngeselin banget !" ucap Akmal.


Lalu Akmal segera menarik tangannya dari genggaman Anindya.


"Lagian siapa suruh punya ide gila kayak kamu... menikah tanpa unsur suka..." gumam Akmal lagi.


Dan Akmal pun kembali ke ranjangnya.

__ADS_1


Sesaat kemudian ada yang mengetuk pintu kamarnya...dan ternyata Budhe Tini.


"Saya mau ngantar makan malam buat Mbak Anin, Mas Akmal..." kata Budhe Tini setelah Akmal membukakan pintu kamarnya.


"Taruh aja di meja Budhe...Anin barusan minum obat...jadi dia ngantuk lalu tertidur pulas.." kata Akmal.


"Ouw gitu..Mas Akmal sendiri kenapa belum makan juga ?" tanya Bidhe Tini.


"Males ah Budhe...nanti dapat siraman rohani lagi dari Papa..." jawab Akmal.


"Ini tadi saya ambilkan sekalian buat Mas Akmal...kalau Mas Akmal lapar, bisa makan sekalian sama Mbak Anin.


"Oh iya Budhe...terimakasih..." jawab Akmal.


Budhe Tini melangkah ke dalam kamar hendak meletakkan makanan di meja sofa.


Pandangannya tertuju pada Anin yang tidur di sofa...


"Kasihan Mbak Anin harus tidur di sofa,Mas Akmal..." kata Budhe Tini.


"Budhe gak kasihan sama aku harus berbagi kamar sama orang asing ?" protes Akmal.


"Tapi kan kalian biar bagaimanapun sudah jadi suami istri, Mas Akmal...dulu pernikahan Budhe sama suami Budhe juga tanpa saling kenal dan tanpa saling cinta...tapi sekarang anak Budhe 4..." nasihat Budhe Tini.


" Mbak Anin itu gadis yang baik, Mas Akmal...Tuan tidak mungkin menjerumuskan anaknya dengan menikahi gadis yang salah..." lanjut Budhe Tini.


"Ya sudah...Budhe permisi dulu...nanti kalau butuh apa-apa..bisa panggil Budhe.." pamit Budhe Tini.


Akmal hanya mengangguk meresponnya.

__ADS_1


"Kenapa sih semua orang mbelain kamu ? Emang kamu pakai sihir atau pelet ya buat pengaruhin orang-orang itu ?" kata Akmal sendiri sambil mengarahkan pandangannya ke arah Anin.


"Awas aja..! Urusan kita belum kelar, Anin.." sambung Akmal lagi.


__ADS_2