Tidak Tanpamu

Tidak Tanpamu
Informasi Tante Monik.


__ADS_3

"Sudah malam,Mbah...ayo kita istirahat...besok Anin akan menemui Dokter Barra...mau minta bantuannya mencarikan kontrakan rumah juga universitas negeri di daerah Jakarta Barat..." kata Anindya.


Lalu Anin beranjak dari pangkuan Mbah dan menata posisi bantal untuk Mbah agar nyaman tidurnya.


"Makasih,Nduuk..." ucap Mbah.


Anin meresponnya dengan senyum tipis dan keluar kamar Mbah menuju kamarnya sendiri.


Di dalam kamar...seperti hari dan malam sebelumnya...Anin selalu teringat kenangan-kenangan saat Akmal bermalam waktu itu...walupun sebentar,tapi setiap sudut rumahnya terdapat kenangan kebersamaannya dengan Akmal...kecuali kamar Mbah Rasni yang tidak dimasuki Akmal saat ada di rumah Anin.


Bagi seorang Anindya yang masih polos dan belum pernah menjalin hubungan sebelum dengan Akmal...dua kali sakit dan kecewa karena Akmal...menyisakan kepedihan yang mendalam.


Anindya jadi sering melamun dan jarang bisa tidur nyenyak.


Obat hatinya hanya mengadu pada Sang Pemilik Hati dan tidur di pangkuan Mbahnya.


"Aku akan menghapus dan menyingkirkan segala kenangan tentangmu,dokter gak jelas..." monolog Anin dengan mata berkaca-kaca.


Di waktu bersamaan di kamar Akmal...


Seperti yang dirasakan Anindya...Akmal pun merasakan hal yang sama.


"Bahkan kamu tidak memberiku kesempatan untuk bertanya padamu...karena kamu selalu tidak hadir di sidang perceraian kita...dan kamu juga melarang keluargaku untuk mengunjungi rumahmu...itupun kau utarakan lewat dokter dan perawat yang memantau kondisi Mbah...besok adalah titik finish hubungan kita,Anin...karena besok sidang putusan perceraian kita.." Akmal bermonolog sambil melihat sofa kosong yang biasa digunakan Anin tidur.


Lalu dia memejamkan mata berusaha tidur...walaupun kenyataannya dia sulit tidur akhir-akhir ini...karena memikirkan Anindya.


*


*


"Dasar bajingan !! Brengsek ! Pengecut !" umpat Barra yang ditujukan pada Akmal..setelah mendengar cerita Anindya dari A sampai Z.


"Kamu tenang saja...jangan khawatirkan apapun, Anin....Kakakmu sudah ada disini dan akan selalu bersamamu...menjadi support system terbaik untuk kamu..." hibur Barra sambil memandang lekat perempuan muda yang sudah dia anggap adik itu...ingin rasanya dia memberi energi positif dengan memeluk Anin....tapi keinginan itu lekas ditepisnya..Anin pasti tidak mau karena dia selama ini selalu menjaga sebisa mungkin tidak bersentuhan kulit dengan yang bukan mukhrimnya.


Anindya hanya berusaha tidak menangis di depan Barra.


"Soal keinginanmu untuk pindah ke kota dan meneruskan pendidikan di sana...aku juga mendukungmu 100 persen.." lanjut Barra.


"Aku akan minta tolong beberapa teman dan kenalanku di sana..." kata Barra lagi.


"Terimakasih,Kak..." ucap Anin singkat.

__ADS_1


Beberapa minggu berlalu...


Anin mendapat kabar bahwa pengajuan program beasiswa untuk kuliahnya disetujui..


Beriringan dengan itu,rumahnya juga sudah terjual...tapi Anin minta waktu menempatinya dulu sementara dia masih mencari kontrakan di Jakarta Barat...tempat yang dituju Anin untuk kuliah dan dekat dengan lokasi makam Ayahnya.


Syukurlah semua dipermudah oleh Yang Kuasa.


"Tinggal selangkah lagi...kita akan pindah dari rumah ini,Mbah..." kata Anin sambil mengemasi barang-barang dengan bantuan Mbah yang semakin sehat...bahkan dokter dan perawat pun sudah memutuskan untuk menyudahi kunjungannya ke rumah...hanya sesekali Mbah diminta untuk datang ke faskes guna kontrol.


Belum sempat Mbah Rasni menjawab...tiba-tiba ponsel Anindya berdering tanda panggilan masuk.


Rupanya Dokter Barra...


"Assalamu'alaikum..iya Kak...ada apa ?" ucap Anindya.


"Anin...aku udah dapat rumah kontrakan buat kamu dan Mbah...temanku yang nyariin..ini aku sekarang udah ada di lokasi untuk memastikan langsung.." kata Barra.


"Ada di lokasi ? Maksudnya ? Kak Barra sekarang di Jakbar gitu ?" tanya Anin memastikan.


"Iyaa..aku di Jakbar sekarang...ini lokasinya pas banget...dekat kampus kamu nantinya...juga tidak terlalu jauh dari makam Ayah kamu...dan aku udah kirim travel untuk menjemput kalian berdua siang ini...untuk berangkat menuju kesini...gimana ? Udah siap semuanya disana ?" Barra memastikan.


"Siang ini ?" Anin seakan masih berat meninggalkan rumah dan kotanya.


"Iya Kak...semua udah beres disini...terimakasih Kakak udah bersusah payah untuk kami..." kata Anindya.


"Santaaii...demi adik semata wayangku apa sih yang enggak..yaudah...aku tutup dulu yaa...aku tunggu disini.Assalamu'alaikum.." pungkas Barra.


"Wa'alaikumsalam warohmah..." jawab Anindya.


"Kenapa,Nduuk ? Kamu isih abot ninggal omah iki opo isih abot jange pisah adoh karo Nak Akmal ? (kamu masih berat meninggalkan rumah ini atau masih berat bakal berpisah jauh dari Nak Akmal ?)" tanya Mbah.


"Mboten,Mbah.." jawab Anin singkat.


Lalu keduanya meneruskan berkemas.


Siang harinya di RS Bhakti Wirawan...


"Permisi,Mbak..." ucap seorang wanita yang berpenampilan elegan mendatangi resepsionis.


"Iya,Bu...ada yang bisa saya bantu ?" tanya resepsionis.

__ADS_1


Bersamaan dengan itu,Akmal sedang ada di situ juga sedang berbincang dengan salah satu rekannya.


"Saya mau bertemu Dokter Barra...saya Tantenya yang datang dari LN...beberapa hari ini dia tidak bisa dihubungi..jadi saya berinisiatif mencarinya di tempat kerjanya..." rupanya Tante Monik yang mencari Barra.


"Sebentar saya check dulu ya,Bu..." kata resepsionis.


Tante Monik hanya mengangguk dan tersenyum kecil.


"Begini Bu,setelah saya check ternyata Dokter Barra dari kemarin lusa mengajukan izin cuti.." jawab resepsionis.


"Astaga ! Jadi dia tidak masuk dari kemarin lusa ? Kemana tuh anak....terakhir kami ketemu di hotel...dimana saya menginap...dia mengunjungi saya kesana bersama temannya bernama Anindya..." kata Tante Monik panik.


Akmal samar mendengar pembicaraan Tante Monik dan resepsionis.


"Hotel ? Anindya ? Apa mungkin..." Akmal mulai curiga dan memutuskan mendekat ke meja resepsionis mencari kebenaran.


"Maaf,Bu...Anda mencari siapa ?" tanya Akmal sopan.


"Oh..perkenalkan,Bu...beliau Dokter Akmal...pemilik RS ini..." kata resepsionis.


"Oh ya...kebetulan sekali...kenalkan...saya Tante dari Barra..saya lost contact dengan dia sejak 3 hari yang lalu...saya baru datang lagi di Indonesia 3 hari yang lalu dari LN,mendampingi suami kerja..terakhir saya bertemu dengan Barra 1 bulan yang lalu...waktu itu saya ingin berkenalan dengan temannya Anindya...kalau tidak salah suaminya juga dokter di RS ini..." papar Tante Monik.


"Apa waktu itu Anda menginap di hotel Surya ?" Akmal memberanikan diri bertanya memastikan.


"Iya benar..." jawab Tante Monik.


"Kamar 583 ya ?" tanya Akmal lagi.


"Iya benar,kok Anda bisa tahu ?" tanya Tante Monik dengan nada heran.


"Ee...Dokter Barra yang bercerita ke saya..." alasan Akmal.


Saya mengira Dokter Barra yang menginap di sana bersama Anindya..." lanjutnya mengorek informasi dengan hati-hati.


"Oh bukan...saya yang menginap di situ sambil menunggu kedatangan suami saya...Barra mengajak saya ke rumahnya saya tidak mau...jadi dia yang mengunjungi saya di hotel...dia datang bersama Anindya...itupun saya yang memintanya...saya ingin berkenalan dengan sosok Anindya...karena sering dengar ceritanya dari Barra...kami bertiga di dalam kamar itu...kami ngobrol sebentar...lalu mereka menunaikan sholat dzuhur bergantian...lalu sudah...mereka berpamitan karena jam istirahat hampir habis..." papar Tante Monik panjang lebar...takut pemimpin RS salah paham...mengingat Anindya berstatus sudah bersuami...walaupun Tante Monik tidak mrngetahui kalau Akmal-lah suami Anindya.


'JDERRR....'


Akmal yang dari tadi mendengar dengan seksama seakan dirinya disambar petir di siang bolong.


Dunianya seketika serasa hancur lebur seiring memorinya yang berputar kembali ke 1 bulan yang lalu...dimana dia melihat Barra dan Anin masuk kamar hotel...lalu berlanjut saat dirinya memaki dan menghina Anin di depan Papanya...lalu dia mengusir istrinya itu dari rumah...lalu dia mengajukan gugatan perceraian.

__ADS_1


"Astaghfirullooh..." ucap Akmal lirih dan dalam.


"Dokter ? Anda baik-baik saja,kan ?" tanya Tante Monik.


__ADS_2