Tidak Tanpamu

Tidak Tanpamu
Rafa Jadi Senjata.


__ADS_3

Akm6al sampai di depan rumah Anindya...sambil menenteng dua buah paper bag hasil belanjanya di swalayan saat perjalanan menuju ke rumah Anindya.


Selama dia menempuh pendidikan di luar negeri...dia memang terbiasa belanja kebutuhan rumah sendiri.


Dan sekarang ini Akmal berinisiatif membelikan keperluan rumah untuk Anin...takutnya Anin kehabisan uang...karena kartu ATM yang diberikan Papanya untuk Anin sudah dikembalikan pada Akmal.


Akmal mengetuk pintu...sudah beberapa kali tapi belum ada respon dari pemilik rumah.


"Apa dia sedang keluar, ya ?" gumam Akmal.


'TOK TOK TOK..'


Akmal mencoba mengetuk pintu lagi...


Dan akhirnya ada pergerakan dari dalam rumah...tampak Anin melihat siapa yang datang lewat kaca jendela.


Setelahnya Anin membuka pintu rumahnya.


"Tuan Dokter...! Ngapain Anda disini ?" tanya Anin seolah keberatan akan kehadiran Akmal di rumahnya.


"Jangan ge-er dulu...aku kesini disuruh Mama untuk nganterin kebutuhan rumah juga dapur buat kamu 'menantunya' katanya..." alasan Akmal.


Anin masih berdiri di tengah pintu.


"Ooh..." jawabnya seperti menyiratkan rasa kecewa juga sedikit malu.


"Emang kamu pikir aku yang pengen kesini ?" Akmal mencoba menggoda Anin.


Mimik wajah Anindya seketika berubah...kesal pakek bangett.


"Ya udah...bilang ke Nyonya Mira saya berterimakasih atas kirimannya...cepat pulang gih sana !" usir Anindya sembari mengambil dua paper bag dari tangan Akmal.


"Daan...aku juga kesini ngantar seseorang yang katanya kangen sama kamu..." kata Akmal lagi.


"Siapa ?" tanya Anin penasaran karena tidak ada siapa-siapa yang datang selain Akmal.

__ADS_1


Lalu Akmal menuju mobilnya yang terparkir.


Sejenak dia kembali sambil menggendong seseorang....yang tak lain adalah Rafa.


"Rafa ?!?" Anin terperangah melihat Rafa yang sudah tertidur pulas sedang dalsm gendongan Akmal.


"Awass ! Berat nih !!" Akmal melewati Anin yang ada di depan pintu dan masuk ke dalam rumah tanpa menunggu persetujuan Anindya terlebih dahulu.


Anindya masih speechless dan bingung dengan suasana yang terjadi sekarang.


"Tapi...itu..Rafa..." Anin terbata-bata.


Akmal menidurkan Rafa di kamar Mbah Rasni ...bukan di kamar Anin.


Setelah menidurkan Rafa...Akmal keluar dari kamar Mbah Rasni.


"Kenapa ? Kamu mau usir aku sama Rafa ?" tanya Akmal enteng.


Anin masih mode silent dan loading.


"Kamu udah makan ?" tanya Akmal selanjutnya.


"Ini aku belikan nasi goreng...dimakan dulu..." lanjut Akmal.


Sementara Anin masih betah berdiri di depan kursi meja makan...masih bengong.


"Apa Rafa tidak apa-apa tidur di sini ? Mama Papanya gimana ?" akhirnya Anin bersuara.


"Kamu kan tahu Rafa sama Mama Papanya gimana ? Gak seberapa kemantil..." jawab Akmal sambil membuka sterofom berisi nasi goreng.


Dalam hati Akmal sangat lega bisa berada satu atap bersama perempuan yang notabene adalah istrinya itu...betapa dua hari ini dia terus kepikiran ke Anin...disamping dia juga harus memikirkan pekerjaannya yang menumpuk.


Akmal menepuk-nepuk kursi meja makan...mengkode Anin untuk duduk disitu...Anin pun menurutinya.


Akmal menyodorkan nasi goreng yang sudah dia pindah ke piring..dan Anin pun mulai menyuap ke mulutnya nasi goreng itu.

__ADS_1


Dipandangnya lekat wajah istrinya yang bersahaja dan sederhana di sampingnya itu...wajah yang begitu ingin dia lihat dua hari terakhir...rasa-rasanya setengah mati dia menahan hasrat untuk sekedar berjumpa dengan pemilik wajah itu.


'Astaghfirullooh...aku begitu merasa menelantarkan kamu disini sendirian,Anindya...maafkan aku...' batin Akmal melihat Anin menyuap nasgornya.


'Ya Alloh...kenapa kehadiran Tuan Dokter ini membawa aura perlindungan dan kedamaian di hati hamba ?' kata Anin dalam hati.


"Sudah...perut saya sudah full rasanya..." kata Anin yang memang sebelumnya sudah makan malam.


Lalu Akmal menarik piring dari depan Anin...lalu memakan nasgor sisa Anin barusan.


"Jangan dimakan,Tuan ! Itu kan sisa saya..." seru Anin panik.


"Nggak pa-pa..daripada mubadzir,kan..." jawab Akmal enteng.


"Anda belum makan malam ?" tanya Anin kemudian.


"Belum..." jawab Akmal singkat.


"Astaga ! Kenapa gak bilang ?!?" Anin menaikkan nada suaranya satu oktaf.


"Kan kamu gak tanya..." Akmal terus menyuap nasgor ke mulutnya.


"Lha kenapa beli cuma satu tadi ? Kalau tadi saya habisin gimana ?" tanya Anin.


"Tuh ada banyak bahan makanan yang bisa kumasak,kan...emang aku niatnya tadi masak buat makan malam disini..." kata Akmal.


"Tapi aku khawatir kamu belum makan malam...keburu lapar...jadi beli nasgor juga untuk kamu...eh gak dihabisin..." kata Akmal.


"Saya tadi sudah makan malam...biar saya belikan di perempatan jalan dekat sini..." Anin gopoh.


"Nggal usah...rasanya beda.." jawab Akmal.


"Ya jelas beda lah...ini nasgor resto...di perempatan nasgor gerobak dorong..." kata Anin.


"Bukan itu...soalnya ini nasgor sisa dari kamu yang kurindu.." goda Akmal pada Anin.

__ADS_1


"Isshh...! Gombal...!" Anin marah menutupi bapernya.


__ADS_2