Tidak Tanpamu

Tidak Tanpamu
Mulut Anindya 'Gatal'.


__ADS_3

Setelah Anin mengakhiri panggilan dari Dokter Barra...Anin teringat Akmal lagi...


Anin ingat namanya di kontak Akmal 'Aein'...yang dikiranya salah ketik.


Tapi Akmal bilang itu tidak salah ketik...malah Akmal menyuruhnya tanya ke 'mbah google'.


'AEIN' artinya ?' Anin mulai berselancar di google.


Sekejap saja Anin sudah dapat jawabannya...


Jawaban yang se-yogya-nya menggelitik hatinya.


"Aein artinya kekasih,sweet heart,tercinta dalam bahasa korea yang netral...non gender,bisa dipakai untuk laki-laki ataupun perempuan.." Anin membaca jawaban pencariannya di google.


Anin terkekeh kecil setelah membacanya.


"Dasar dokter reseh...gak jelas !" oloknya pada Akmal sambil cengengas-cengenges.


Lalu Anin bersiap ke rumah sakit...tak lupa dia membawa dokumen penting RS yang ditinggal Akmal di rumahnya.


*


*


Sesampainya di gedung utama RS...dia beberapa kali berpapasa dengan pegawai dan staff...Anin tak lupa menyapa mereka.


Lalu Anin naik lift menuju divisi nutrisi dan gizi...tapi kali ini dia tidak masuk ke kantor seperto biasanya,untung saja sudah masuk jam kerja,jadi para staff sudah berada di dalam...Ani tak harus bersusah payah menjawab pertanyaan mereka alasan dia tidak masuk kerja.


Dia langsung menuju ke ruangan pribadi Akmal...tapi sayangnya dia tidak bertemu dengan Akmal...entah dimana dia sekarang.

__ADS_1


Malah Anin bertemu dengan Rika...


"Kamu mencari siapa ?" tanya Rika ketus.


..padahal dia sudah tahu jawabannya.


"Saya mencari Dokter Akmal...ada hal penting yang harus saya sampaikan.." jawab Anin datar.


"Hal penting apa kalau saya boleh tahu ?" telisik Rika.


"Saya mau memberikan dokumen penting ini kepada Dokter Akmal.." Anin menjawab apa adanya.


"Sini lihat !!" Rika merebut dokumen itu dari tangan Anin.


Anin tak sempat melarangnya..dokumen itu sudah berpindah tangan ke Rika.


'Dokumen ini yang dibutuhkan Roby...' batin Rika.


Anin berfikir sejenak...dia tidak mungkin mengatakan kalau dokumen itu tertinggal saat Akmal menginap di rumahnya...


"Tuan Dokter meninggalkannya di rumah...Nyonya Mira menyuruh saya mengantarkannya kesini..." alasan Anin.


"Oke...biar saya yang memberikannya ke Akmal..." kata Rika langsung percaya...karena di pikirannya sekarang adalah bagaimana caranya bisa mengambil dokumen itu...jadi dia tidak sempat curiga dengan alasan yang diberikan Anin.


"Biar saya saja yang memberikan langsung pada Dokter Akmal...karena itu tanggung jawab saya..." tolak Anin.


"Makudmu kamu tidak percaya padaku begitu ?" Rika menaikkan nada bicaranya satu oktaf.


"Kamu lupa siapa saya ? Saya itu kekasih dokter Akmal !" seru Rika.

__ADS_1


Anin langsung terdiam mendapat penegasan dari Rika tentang hubungannya dengan Akmal.


"Kedudukan Anda masih kalah dengan status saya sebagai istri Tuan Dokter...kami sah menikah secara agama juga negara...!" tegas Anin juga.


Rika melotot hingga terkesan bola matanya hampir keluar saja...


"Kamu itu istri yang tidak dianggap oleh Akmal ! Jangan ngarep kamu !" tandas Rika.


Rika tidak tahu saja...apa yang terjadi beberapa hari terakhir antara Anindya dan Akmal.


Rasanya mulut Anindya gatal menahan untuk bercerita kebenaran yang terjadi saat dia dan Akmal melalui waktu bersama.


"Saya yang akan memberikan dokumen ini langsung ke Akmal...kamu pergi sana !" usir Rika.


Saat ini mereka berbincang di koridor ruangan Akmal...suasana disitu sedang sepi...hanya mereka berdua saja.


"Baiklah kalau Suster Rika memaksa...saya harap Anda benar-benar menyerahkan dokumen itu langsung ke Dokter Akmal...bukan ke orang lain.." Anin mewanti-wanti Rika.


"Beres...kamu tenang aja.. " kata Rika.


Anindya akhirnya meninggalkan tempat itu...


"Pucuk dicinta ulam tiba.." kata Rika sambil membolak-balik dokumen itu.


"Rob...apa yang kamu butuhkan sekarang sudah ada di tanganku..." Rika menelpon Roby.


"Aku harap kamu tidak ingkar janji pada Papaku..." kata Rika.


*

__ADS_1


*


__ADS_2