Tidak Tanpamu

Tidak Tanpamu
Tak Ada Yang Salah.


__ADS_3

"Cie cieee....." ledek Budhe Tini.


Nyonya Mira hanya tersenyum simpul...dia khawatir Anin sungkan dan tidak nyaman dengan situasi sekarang.


"Saya permisi,Ma..." kata Anin lirih.


"Silahkan,Anin..." jawab Nyonya Mira.


*


Di dalam kamar...


Akmal dan Anin melaksanakan sholat isya' berjama'ah.


Selesai sholat...


"Aduuhh..." keluh Akmal di tepi ranjangnya.


Anin mendengarnya lalu menghampirinya.


"Tuhh kan...dibilangin bandel...pasti kecapek-an bawa paper bag segitu banyaknya..." kata Anin.


"Bukaan...perbanku ini lho...rasanya gatal...padahal baru tadi pagi kamu ganti,kan..." kata Akmal kelihatan tak nyaman.


"Tolong kamu garuk pinggirnya,Aein...mungkin lukanya mulai kering...jadi gatal banget rasanya..." pinta Akmal sambil melepas kemejanya.


"Baiklah...coba saya lihat dulu..." kata Anin dengan telaten memeriksa luka di punggung Akmal.

__ADS_1


"Dibuka lagi perbannya ?" tanya Anin.


"Nggak usah..." jawab Akmal.


Lalu Anin mulai menggaruk kulit di sekitar bekas luka Akmal.


"Sshhh....iya tepat disitu rasa gatalnya..." kata Akmal dengan suara pelan yang mulai terdengar meresahkan bagi Anin.


Tapi Anin tak bergeming...dia terus menggaruk sesuai permintaan Akmal.


"Sudah...cukup,Sayang...udah mendingan rasanya..." kata Akmal mengulangi panggilan 'sayang' untuk kedua kalinya.


'Duuhh...kenapa hati ini rasanya girang yaa...mendengar panggilan itu tertuju untukku dari bibir Tuan Dokter..' Anin berkata dalam hati.


Lalu Akmal membalikkan tubuhnya...sehingga Anin dan Akmal sekarang dalam posisi berhadapan dan terkikis jarak begitu dekat.


Tapi yang berbeda adalah saat ini Akmal sedang telanjang dada...sehingga tampak otot kekar lengannya....otot perutnya yang keras pun terekspose jelas oleh netra Anin.


Tapi tangan Akmal dengan cepat menahan lengannya.


"Mau kemana ? Kenapa ? Aku sengaja ingin menggoda imanmu.....Kamu mulai gerah ? Atau mulai merasa gatal seperti yang aku rasakan sekarang ?" tanya Akmal setengah berbisik.


"Isshh...bener-bener dehh...kayaknya Anda perlu restock rasa malu dehh...atau jangan-jangan urat malu Anda putus saat insiden penembakan tempo hari...." kata Anin berusaha menepis tangan Akmal.


"Kenapa aku harus malu ? Toh aku seperti ini hanya pada kamu...istri sahku..." dalih Akmal.


Anindya tak berkata sepatah katapun...tapi jiwa bapernya meronta mendengar pernyataan Akmal barusan.

__ADS_1


"Gomball..." Anin berpura tak percaya,tapi dalam hatinya dia berharap bahwa pernyataan Akmal tadi benar adanya.


"Cukup Alloh saja sebagai saksinya..." kata Akmal lalu menarik tangan Anindya hingga kini dada mereka saling menempel satu sama lain.


Hidung mancung kedua insan itu juga kini saling bersinggungan...


Dan seperti menahan buncahan sesuatu....nafas keduanya saat ini terdengar saling memburu.


Bahkan Anin tak kuasa lagi membuka matanya...hingga dahinya membentuk lipatan kernyitan...seakan takut menghadapi sesuatu yang meresahkan.


Berbeda dengan Akmal...dia tampak lebih rilex dan menikmati permainan yang diciptakannya sendiri.


Jarinya menyusur nakal di wajah Anindya...dan memilih bibir sebagai pelabuhan akhir.


Sementara sebelah tangannya lagi merengkuh pinggang Anin...menahan dengan sesekali meremas lembut....agar si empunya tak sampai lepas.


"Tuan...ini salah..." lirih Anin masih dalam mata terpejam.


"Tak ada yang salah...menurut agama maupun negara..." Akmal pun berkata lirih dan serak,


"Maksud saya...Anda sudah janji tak akan meminta hak Anda sebagai suami sebelum Anda mengucap ijab qobul lagi...." Anindya mengingatkan sambil mengumpulkan kekuatan untuk membuka matanya.


"Tenang saja...aku masih ingat hal itu...." kata Akmal menurunkan jemari tangannya berpindah di dada Anindya.


'Gusti...ternyata seperti ini rasanya...' batin Anindya.


"Percaya padaku...aku berusaha keras agar tak melampaui batas...aku hanya ingin sedikit bermain pemanasan denganmu..." kata Akmal dengan suara berbisik dan berat...tanda dirinya sedang memendam gairah yang membuncah.

__ADS_1


Dia meremas lembut aset milik Anindya.


"Ssshhh...!" suara lirih Anindya diselingi nafas terengahnya.


__ADS_2