Tidak Tanpamu

Tidak Tanpamu
TiTan 154


__ADS_3

Keesokan harinya...


Semua orang yang ada di rumah Anin saat ini sudah berkumpul di meja makan...tapi Anin sendiri belum turun dari kamarnya di lantai atas.


Akmal sudah tampak rapi dan super tampan dengan outfit kasualnya....luka di pelipisnya ditempel plaster berwarna sama dengan warna kulit...jadi hampir tak kentara.


Dia memadu padankan blazer navy dan kaos dalaman warna putih...dengan celana chinos warna senada dengan blazer...tampak sempurna dengan sepatu sneakers warna krem.


Dia duduk di samping Rafa yang pagi ini juga sudah pulih kesehatannya...tapi masih tetap bermanja-manja dengan Omnya.


"Padahal Rafa kalau tidak ada Den Akmal...ngalemnya sama Non Anin...tapi tidak apa Den...latihan besok-besok kalau punya anak...duuhh...Den Akmal ini tipe pria idaman banget...udah ganteng,telaten sama anak kecil pula....tadinya saya berharap Den akmal bisa jadi calonnya Non Anin...ehh ternyata udah nikah..." kelakar Budhe yang hanya direspon senyuman tipis dan gelengan kepala oleh Mbah dan Akmal.


"Apaan sih Budhe ?" semua orang langsung menoleh ke sumber suara yang terdengar lumayan membahana.


Tak lain sumber suara itu adalah Anin yang sedang menuruni anak tangga.


Sedangkan Budhe jangan ditanya reaksinya...dia langsung ngacir ke dapur...takut kena amukan Anindya.


"Tante Anin...!" sapa Rafa.


"Iya,Sayang...kamu udah sembuh,kan ?" jawab sekaligus tanya Anin sambil mengacak pelan kepala Rafa.


"Udah,Tante..." jawab Rafa dengan senyum lebar.


Anin mengambil posisi duduk di sebelah Rafa...jadilah Rafa pembatas antara Akmal.


Tak dapat mengelak...Akmal terpukau dengan tampilan Anin yang dari tadi dia pandangi dalam diam.


'Tapi...ehh...tunggu tunggu...! Akmal bermonolog dalam hati sambil melihat lebih detail outfit Anindya pagi ini.


Kemeja berkancing lengan panjang warna putih tulang dimasukkan ke skirt pants warna navy...dipadu padankan dengan hijab motif warna navy juga...tampak perfect dan elegan dengan kitten heels warna krem.


'Kok kita jadi kayak couple-an ??' gumam Akmal di benaknya.


"Tante sama Om mau kemana kok bajunya couple-an ?" celetuk Rafa


"Kerja,Rafa..." jawab Akmal untuk mrngurai rasa penasaran Rafa.


Anin yang sedang mengambil roti tawar dengan olesan kacang...menelisik kebenaran itu dengan mengedarkan pandangannya ke Akmal.


Senyum tipis pria itu tertangkap oleh Anindya.


'Ihh...koq bisa sama sih ? kapan juga nih orang bawa baju ganti kesini...perasaan kemarin cuma bawa alat medis...pakek senyum-senyum pula...' gerutu Anindya dalam hati.


Selanjutnya setelah mengucap basmallah masing-masing....mereka semua sarapan dalam hening hingga suapan terakhir.


Setelah sarapan...Anin berpamitan pada Mbah dan Rafa...lalu menyandang tasnya dan menuju mobil yang sudah disiapkan oleh security seperti biasa.


"Tunggu Anin...!" teriak Akmal yang membuka pintu depan samping kemudi Anin....lalu masuk dan langsung duduk tanpa menunggu persetujuan Anin dulu.


"Eh eh eh...apaan ini ? Main masuk mobil orang...! Sopan nggak sih ?" protes Anin.


"Aku nebeng yaa....aku juga mau ke perusahaan Pak Dirga..." kata Akmal.


Dan saat ini mereka berdua eyes contact walaupun Anin dalam mode kesal....


Namun hanya sebentar,kemudian dia mengalihkan pandangannya ke depan....karena entah kenapa...Anin memang selalu tak kuasa menatap sorot tajam mata pria di sampingnya itu.....walau saat ini Anin sangat kesal.


"Ngapaiin ? Mending pulang sana...Rafa kan udah sembuh...dia pasti udah ditungguin sama Papa Mamanya....kamu juga kan pasti ditungguin istrimu...!" Anin dalam mode ketus.


Akmal hanya tersenyum tipis menanggapinya.


"Disuruh Kak Devan...mengunjungi bagian produksi...cuma sekedar pengen tau aja...mumpung masih disini..sekalian....soal Rafa,Papanya bilang nunggu Rafanya benar-benar pulih aja dulu...besok juga jadwal terakhir dia terapi,iya kan ?" Akmal beragumen.


'Istrimu ?' tanya Anin dalam benaknya saja tentunya.


"Kan bisa naik taxi online.. ?!" kata lain yang lolos keluar dari mulut Anin.


"Kelamaan...keburu siang....ayo..!" pungkas Akmal lembut disertai senyum khasnya yang membuat diabetes.


"Rrrghh..! Nyusahin aja..!" geram Anin sambil menginjak gas mobilnya.


Di perjalanan menuju kantor...suasana hening...keduanya hanyut dalam pikiran masing-masing.

__ADS_1


'Sorry,Kak...aku pakai nama kakak sebagai alasanku agar aku bisa selalu dekat dengan adik iparmu...' ujar Akmal dalam hatinya.


Hingga beberapa saat kemudian...Anin tiba-tiba menghentikan mobilnya di depan pelataran parkir kantor tujuan mereka.


"Kenapa berhenti ?" tanya Akmal heran.


"Kamu turun disini...untuk menghindari gosip....apa kata staff yang lain kalau melihat kita semobil...pakek baju couple pula..." Anin memberikan alasan.


"Tapi ini kan masih jauh dari gedung utama,Anin..." protes Akmal.


"Masih mending aku turunin disini...bukan di perempatan jalan seperti yang pernah dilakukan seseorang dulu padaku..." sindir Anin mengingatkan perlakuan Akmal padanya 4 tahun silam.


Jlebb.


Akmal tak berkutik mendapatkan sindiran telak dari Anin.


"Okey...maafkan aku..." Akmal memandang Anin sekilas lalu turun dari mobil.


Alhasil...seorang Akmal yang notabene pewaris gurita bisnis Wirawan juga seorang dokter spesialis...kali ini harus jalan kaki menuju gedung kantor perusahaan plastik milik Tuan Dirga yang jaraknya masih lumayan jauh.


Dan hal itu ternyata menjadi suguhan cuci mata dadakan bagi karyawan dan staff yang lalu lalang...terutama kaum hawa...mereka begitu terpesona dengan ketampanan seorang Akmal Wirawan.


Beberapa jam kemudian...


Anin dipanggil Pak Dirga ke ruangannya.


"Ya,Pak....?" tanya Anin sudah berada di dalam ruangan Pak Dirga.


Dan alangkah terkejutnya dia...karena mendapati Akmal ada di ruangan itu bersama Pak Dirga.


Anin memandang Akmal sekilas saja....berbeda dengan Akmal yang saat ini duduk di sofa bersama Pak Diga...terus memandang Anin...seakan tak ingin kehilangan bayangan Anin dari netranya.


"Silahkan duduk,Nona Anindya..." kata Pak Dirga.


"Terimakasih,Pak...saya disini saja..." halus tolak Anin.


"Begini....Tuan Akmal hendak meninjau bagian produksi...dan dia minta kamu menemaninya...saya harap kamu bersedia..." to the point Pak Dirga.


"Hahh ? Saya ? Kenapa harus saya,Pak ?" protes Anin.


"Ayolah,Anin...please...lagipula kalian kan sudah lama saling kenal...' kata Pak Dirga memohon...walaupun di dalam hatinya sebenarnya juga muncul pertanyaan...kenapa Tuan Akmal seolah mengincar Anindya ?


Tapi bagi Pak Dirga...demi kelancaran urusan kerjasama mega proyeknya...selain itu...toh sikap Akmal masih sopan dan tidak diluar batas kepada Anin...jadi dia ikut berusaha membujuk agar Anin bersedia menuruti permintaan Akmal.


"Sebagai gantinya...setelah kamu mengantar Tuan Akmal...kamu boleh langsung pulang...gimana ?" tawaran Pak Dirga.


Anin mendengus kesal.


Lalu berjalan kearah pintu...dan saat diambang pintu hendak keluar...dia menoleh..


"Jadi atau tidak ke bagian produksinya ? Jangan sampai saya berubah pikiran lagi,ya...!" ketus Anin mengancam.


Dengan serta merta Akmal bangkit dari sofa...membenahi blazernya,bersalaman dengan Tuan Dirga lalu bergegas mengikuti Anin menuju bagian produksi.


Tak pelak....kebersamaan Akmal dan Anin di sepanjang jalan yang mereka lalui menuju bagian produksi..... mengundang perhatian para karyawan dan staff.


Bagaimana tidak...Anindya yang notabene popularitasnya di atas rata-rata karena skill dan juga face looknya kini sedang berjalan beriringan dengan seorang pria yang ketampanannya juga high rate...dengan outfit yang cenderung couple-an pula.


Pastinya mereka bertanya-tanya apakah ada hubungan spesial diantara staff HRD dan pria asing yang bersamanya.


Anin berusaha acuh dengan pandangan dan bisik-bisik halus disekitarnya....dia memilih fokus untuk menjelaskan detail dan poin penting yang sekiranya perlu diketahui Akmal sebagai partner bisnis perusahaan Tuan Dirga.


Sementara Akmal...fokus menikmati kebersamaannya dengan Anindya...walau harus menggunakan alasan pekerjaan.


"Done....tugas saya mengantar Anda sudah selesai,Tuan Akmal...sekarang saya permisi pulang..." pamit Anin pada Akmal.


"Tunggu...tidak bisakah kita makan siang berdua...lepas dari urusan pekerjaan ?" pelas Akmal.


Anin tampak berfikir sejenak...


"Baiklah...kali ini saya terima ajakan Anda...ada yang ingin saya sampaikan pada Anda juga..." kata Anin kemudian.


Akmal tentu saja girang bukan kepalang.

__ADS_1


Setelah setengah jam perjalanan yang hening...mereka tiba di sebuah restoran.


Mereka langsung disambut oleh seorang pramusaji laki-laki....lalu Akmal membisikkan sesuatu padanya...dibalas anggukan dan senyum ramah pramusaji itu.


"Silahkan,Tuan,Nyonya..." pramusaji itu mengarahkan Akmal dan Anin menaiki tangga menuju lantai 2 restoran itu...hingga mereka sampai di rooftop restoran itu.


Suasana rooftop terlihat lengang tak ada satupun pengunjung selain mereka berdua.


"Ayo duduk..." Akmal menarik kursi untuk Anin duduki....tapi seperti pertemuan sebelumnya...Anin malah mengacuhkan Akmal dengan menarik kursi lain.


Akmal menghela napas dengan gurat senyum pasrah.


"Kenapa hanya ada kita berdua saja ?" tanya Anin dengan mode ketus.


"Kebetulan saja..." jawab Akmal terdengar lemah lembut.


Lalu mereka mulai memilih makanan dari buku menu yang diberikan oleh pramusaji.


Semilir angin menyapu wajah Akmal dan Anin...beberapa saat hening.


"Jadi ada maksud apa kamu mengajak aku makan siang kali ini ?" tanya Anin to the point.


"Nggak ada...hanya ingin menikmati makan siang bersama kamu saja..." jawab Akmal apa adanya.


"Oh ya...malah kamu tadi yang bilang... kalau ada yang ingin kamu sampaikan..." lanjut Akmal.


"Oh iya..." Anin mengeluarkan sesuatu dari dompetnya.


"Ini...4 tahun silam kamu memberikan ini padaku...itupun terpaksa karena Tuan Wirawan yang meminta...sekarang aku kembalikan padamu...isinya tetap tak berkurang sepeserpun..." Anin menyodorkan black card yang dulu pernah diberikan Akmal padanya.


"Itu hakmu...simpanlah..." kata Akmal.


"Alhamdulillaah aku tidak membutuhkannya....bahkan selama 4 tahun ini...aku masih sanggup menghasilkan uang dengan jerih payahku sendiri..." kata Anin meletakkan black card itu di meja dekat tangan Akmal.


"Iya...aku tahu betul itu..." kata Akmal dengan tatap sendunya ke Anin.


Beberapa saat hening...


"Anin...tidak bisakah kita bersama kembali ?" to the point Akmal dengan pandangan penuh harapnya ke Anin.


Anin sedikit terkejut mendengar pertanyaan Akmal....dia sekilas melihat tatapan Akmal itu....tapi berusaha mengabaikannya...bukannya apa-apa...dia takut luluh jika melihat tatapan Akmal itu.


Yahh...itulah sebab sebenarnya kenapa Anin selalu tak kuasa untuk eye contact dengan Akmal.


"Anin aku menyesali perbuatanku dimasa lalu....tapi percayalah aku melakukan itu karena saking besarnya rasa cintaku padamu...sehingga aku sangat marah saat mendapatimu bersama dokter Barra masuk ke kamar hotel....betapa bodohnya aku...karena waktu itu harusnya aku tabayyun dulu..." penyesalan Akmal.


Anin masih tak bergeming.


"Anin....berikan aku satu kesempatan untuk menebus segala kesalahanku padamu...setidaknya bila ajal tiba...aku bisa mati dengan tenang....karena selama ini aku merasa sudah berbuat dosa besar telah menelantarkan istriku yang harusnya menjadi tanggung jawabku...." pengakuan Akmal.


"Kembali ? Untuk apa ? Untuk kau sakiti lagi ? Apa kau tahu ? Perjuanganku tidak mudah untuk berada di titik ini....aku berusaha mati-matian membuktikan kalau aku mampu hidup tanpa bayang-bayangmu dan keluargamu...! Dan apa kamu bilang ? Merasa berbuat dosa besar ? Setidaknya jika kau menyesal jangan kau ulangi dosamu itu pada istrimu yang sekarang !" kata Anin lirih tapi penuh penekanan dan emosi.


"Tampaknya aku harus mengatakan kebenarannya sekarang...." kata Akmal.


"Kebenaran ? Kebenaran apa ?" Anin menuntut penjelasan.


"Anindya....dari dulu sampai sekarang...istriku hanya satu....yaitu kamu..." Akmal menggenggam tangan Anin.


Namun Anin segera menarik tangannya dari genggaman Akmal.


"Jangan mengada-ada Dokter Akmal...! Kita sudah bercerai 4 tahun silam....aku sudah menandatangani berkas perceraian yang kamu ajukan..!" nada suara Anin seketika meninggi.


"Sekarang aku tanya...apa kamu pernah menerima akte perceraian dariku selama ini ? Tidak,kan ? Itu karena aku membatalkan pengajuan perceraian kita di pengadilan setelah aku mendapat kebenaran dari Tante dokter Barra....itu artinya...kita masih sah secara agama dan negara sebagai suami istri..." penjelasan Akmal yang sukses membuat Anin shock dan speechless.


Dia memandang Akmal dengan pandangan tak percaya.


"Iya...itu benar Nyonya Wirawan...!" Akmak mencoba menegaskan kembali.


"Cihh...jangan senang dulu Tuan Dokter Reseh ! Kamu pikir kita masih bisa dikatakan suami istri sah kalau selama ini kamu tidak pernah menafkahiku lahir ataupun bathin,hah ?" Anin merasa punya cela.


"Kartu ini..." Akmal memegang black card yang ada di meja sedari tadi.


"Coba kamu cek rekening koran kartu ini....kamu akan lihat kalau selama 4 tahun belakangan ini,aku rutin setiap bulan mentrasfer sejumlah uang sebagai uang nafkahku padamu....belum termasuk uang hasil provit RS dimana kamu aku masukkan sebagai pemegang saham terbesar di rumah sakit itu...jadi aku masih memenuhi tanggung jawabku menafkahimu walau tidak sepenuhnya..." penjelasan Akmal yang semakin membuat Anin shock.

__ADS_1


"Please Anindya....love me again...aku tidak akan melepaskanmu lagi setelah kita bertemu kembali....itu janjiku pada diriku sendiri....sebisa mungkin aku ingin selalu bersamamu....sebisa mungkin aku ingin bertanggung jawab kepadamu....sebisa mungkin aku ingin melindungimu...walaupun aku tahu kamu tidak membutuhkan itu....tapi aku akan tetap melakukannya...karena kamu adalah istriku...belahan jiwaku...yang sangat aku cintai..." panjang lebar Akmal.


"Dan satu hal lagi....aku juga sudah berjanji pada Papa dan Mama...aku akan membawa menantunya kembali kepada mereka...walaupun harus nyawaku menjadi taruhannya..." tandas Akmal penuh dengan keyakinan.


__ADS_2