
"Wa'alaikumsalam..silahkan duduk Anin..." kata Tuan Wirawan menyilahkan Anin duduk di sofa.
"Papa bilang ingin berbicara sesuatu yang penting pada saya..." kata Anin sembari duduk.
"Iya...sebenarnya Papa ingin menunggu Mbah Rasni saja yang mengatakannya padamu,tapi Papa selalu diliputi perasaan bersalah setiap kali memikirkannya..." kata Tuan Wirawan.
"Tentang apa itu,Pa ?" Anin mulai penasaran.
"Ini tentang ayah kandungmu...Johan.." kata Tuan Wirawan.
Lalu dia mulai menceritakan secara detail dari A sampai Z tentang ayah kandung Anindya hingga sangkut pautnya dengan perjodohan Anin dan Akmal.
Satu yang membuat Anin syok...mendapati kenyataan kalau ayahnya sudah tiada sejak lama.
"Maafkan Papa,Anin...Papa sudah berusaha mencari kamu dan Mbah Rasni sebelum ini semua...tapi hasilnya nihil.." kata Tuan Wirawan menunggu reaksi dari Anindya yang dari tadi hanya diam seribu bahasa...cuma mendengar dengan seksama cerita darinya.
"Jadi Ayah saya sudah tiada sejak lama,Tuan ?" tanya lirih Anindya menahan bulir bening keluar dari sudut netranya.
"Iya,Nak..." Tuan Wirawan menyentuh bahu Anindya.
"Kenapa Anda tidak memberitahu saya sebelum ini,Tuan ?" tanya Anin lirih dan serak.
" Mbah kamu yang melarangnya...beliau bilang,tidak ingin kamu beranggapan kalau pernikahan kamu dan Akmal sebab urusan balas budi dan penebusan kesalahan..." papar Tuan Wirawan.
"Tuan Dokter mengetahui semua ini ?" tanya Anin lirih dengan pandangan kosong.
"Iya....aku tahu semuanya baru-baru ini...Papa menceritakannya padaku setelah kejadian aku meninggalkanmu pada saat malam pergantian malam tahun baru..." Akmal tiba-tiba masuk ruang kerja papanya.
Tentu saja dengan pandangan sinis dan dingin pada Anindya.
"Jadi semua ini hanya karena Anda ingin menebus kesalahan Anda pada Ayah saya ? Perjodohan,kebaikan Anda selama ini juga hanya karena rasa bersalah Anda,kan ?" kata Anin.
__ADS_1
"Tidak,Nak...tidak seperti itu..." jawab Tuan Wirawan.
"Tentu saja...kalau tidak...mana mungkin Anda yang notabene pengusaha sukses dan pemilik rumah sakit,mau mendapat menantu cucu dari pembantunya..." kata Anin berkaca-kaca.
"Kenapa Tuan ? Kenapa Anda melakukan semua ini ? Anda tidak berfikir bagaimana perasaan saya ? Seharusnya semua ini Anda utarakan sejak awal...agar saya tidak under etimated,agar saya tidak merasa minder...dan saya tidak perlu menjadi bulan-bulanan anak Tuan...!" Anin bicara dengan suara serak menahan tangis dan penuh penekanan.
"Terlebih lagi saya harus mendapati hancurnya harapan saya untuk bertatap muka dengan sosok Ayah yang saya rindukan selama ini..." lanjut Anin.
"Maafkan Papa,Nak...ini semua memang kesalahan Papa...tapi perlu kamu ketahui,Mbah Rasni juga melarang Papa untuk menceritakan semua ini pada kamu...." kata Tuan Wirawan penuh penyesalan.
"Apa sih mau kamu Anin ? Jangan hanya menyalahkan Papaku...beliau sudah berusaha menebus kesalahannya pada Ayahmu dengan segala upayanya...termasuk perjodohan dan menanggung biaya pengobatan Mbah...kamu harusnya sadar diri...kami semua sudah berbaik hati dan mengasihani kamu..." hardik Akmal kejam...buntut kekesalannya mendapati Anin dan Barra di hotel tadi.
"Mengasihani ? Saya tidak butuh belas kasihan dari siapapun,Tuan Dokter..." kata Anin terperanjat mendengar perkataan Akmal padanya barusan.
"Akmal !! Apa yang kamu katakan ?" bentak Tuan Wirawan.
"Halahh...! Jangan sok kamu !" lanjut Akmal.
Anin dan juga Tuan Wirawan tak habis fikir dengan statement Akmal.
"Iya ! Jangan sok alim ! Sok suci ! Sok jual mahal...!" lanjut Akmal penuh penekanan dan kebencian.
"Akmal ! Cukup ! Makin ngaco aja bicaramu !" sergah Tuan Wirawan...tapi rupanya tak diindahkan oleh Akmal.
"Kamu fikir kamu siapa ? Kamu harus sadar diri...ngaca agar kamu tak jumawa..." Akmal terus mengolok-olok Anindya.
Hatinya hancur mendapati perempuan halal yang sudah sangat dicintainya berkhianat di belakangnya...padahal dia ingin memperbaiki kesalahannya selama ini...dan dia ingin memenangkan hati dan juga raga istrinya dengan perlahan dan tanpa paksaan.
Tapi nyatanya Anin malah memberikan hati dan raganya pada Barra.
Itulah yang jadi anggapan dan sangkaannya pada Anindya saat ini.
__ADS_1
Hingga amarah Akmal tumpah ruah juga tega berkata kasar dan mengoloknya seperti saat ini.
Sedangkan Anindya...tentu saja dia bingung,setan jenis apa yang tengah merasuki si Tuan Dokter saat ini...hingga dia meracau kasar dan kejam tak jelas...padahal sebelumnya sikap Akmal begitu lembut dan sayang padanya.
"Aku sudah muak dengan kelakuanmu !" seru Akmal penuh emosi.
"Kelakuan apa ?" Anin benar-benar tak mengerti.
Dia memandang Akmal dengan penuh tanda tanya.
"Tanyakan pada dirimu sendiri...tak pantas rasanya dibahas...!" seru Akmal dengan emosi tinggi dengan menatap Anin tajam.
"Aku ingin menyudahi semua ini,Pa..." lanjut Akmal dengan yakinnya....sambil ganti menoleh pada Papanya.
"Ngomong apa kamu,Akmal ! Kamu jangan bercanda...!" kata Tuan Wirawan.
"Akmal serius,Pa !" kata Akmal penuh amarah.
"Apa ini,Tuan ? Harusnya saya disini yang marah...kenapa jadi Anda? Pakek ngomong ngelantur ngalor ngidul nggak jelas...." kata Anin.
"Sudah jangan banyak omong lagi kamu ! Kemasi barangmu dan pergi dari sini !" Akmal berkata tanpa sanggup lagi menatap netra Anin.
"Akmal !!" seru Tuan Wirawan.
"Luar biasa ! Anda sendiri yang membujuk saya untuk kembali. .sekarang Anda yang mengusir saya pergi...seperti permainan saja ! Sebentar suka sebentar marah,kadang benci kadang bucin setengah mati..." kata Anin.
"Aku memang hanya menganggapmu mainan,tak lebih...ketika aku merasa bosan kau akan kutinggalkan...dan lupakan kebucinanku...itu hanya akting.." Akmal berkata tanpa memandang Anindya.
"Apa ?? Tega sekali Anda,Tuan !" Anin menatap Akmal dengan berurai bulir- bulir bening dipipinya.
Lalu berhambur keluar pintu dan menaiki anak tangga dengan tergesa.
__ADS_1
"Akmal ! Bisa jelaskan ke Papa ? Apa maksudnya ini ?" tanya Tuan Wirawan.
"Akmal hanya menuruti keinginannya selama ini,Pa..." jawab Akmal lirih dan sendu.