Tidak Tanpamu

Tidak Tanpamu
Kapasitas Anda Sebagai Apa ?


__ADS_3

Tak lama kemudian...Akmal dan Rika pun tiba di pelataran parkiran.


Akmal dan Rika turun dari mobil yang mereka tumpangi.


Dan saat mereka hendak masuk ke gedung utama...mereka melintasi beberapa kerumunan staff dan karyawan.


Tanpa sengaja mereka pun mendengar sisa-sisa ghibahan tentang Dokter Barra dan Anindya.


"Dokter Barra sama Anindya semakin lengket saja ya ?" celetuk salah satu dari mereka.


"Apa mereka udah resmi jadian,ya ? Wah bakal jadi hari patah hati di RS ini kalau itu benar terjadi..." celetuk yang lain.


Akmal dan Rika tampak sewot mendengarnya...tampak dari raut wajah mereka...walaupun mereka berusaha menyembunyikannya.


"Tumben Dokter Barra bawa mobil hari ini..." celetuk kerumunan yang lain.


"Iya...kayaknya dia mau nunjukin ke Anindya kalau dia juga punya mobil mewah..." celetuk salah satu dari mereka.


"Gak nyangka Dokter Barra bisa sebucin itu..." sambung yang lain.


"Kenapa nggak ? aku rasa Anindya pantas di bucinin gitu...dia pendiam,polos,cerdas dan cantik alami...sayangnya aku udah kalah bersaing sama Dokter Barra..." celetuk yang lain lagi.


"Ya jelas dia lebih milih Dokter Barra...masak milih kamu...dokter yang udah stw...ha ha ha.." mereka tergelak bersama.


Akmal tampak bersungut-sungut mendengarnya.


"Kayaknya istri kamu udah dapat mangsa dari tebar pesonanya selama ini..." kata Rika yang sengaja ngomporin Akmal.


"Jangan bilang kalau kamu cemburu mendengarnya,Sayang...!" ancam Rika.


"Apaan sih ?" respon Akmal sambil menekan tombol lift yang akan mereka naiki.


Tiba di ruangannya...Akmal melempar tasnya sembarangan...kayaknya dia kesal banget.

__ADS_1


"Pak Wisnu...suruh Anindya ke ruangan saya sekarang..." kata Akmal lewat sambungan telefon di mejanya.


Sesaat kemudian ada suara ketukan pintu terdengar di pintu ruangannya.


"Masuk !" seru Akmal.


Anindya tampak melangkah ke dalam.


Akmal hanya meliriknya tajam dan bengis.


' Kayaknya suasana hati Tuan Dokter lagi buruk...' batin Anindya.


"Anda memanggil saya ?" tanya Anindya berusaha menetralkan rasa cemasnya di hadapan Akmal.


Namun anehnya...begitu mendengar pertanyaan Anindya saja.. amarag di hati Akmal seolah luntur.


Dia jadi bingung harus berkata apa saat ini...


Yang tadinya begitu dongkol dan marah.


Anindya mengernyitkan dahi karena bingung dengan sikap Akmal.


"Makdudku....eee...dokumen yang aku suruh review ulang tempo hari gimana kabarnya ?" Akmal akhirnya menemukan alasan setelah berfikir sedikit lama.


"Belum selesai semua Tuan Dokter...masih beberapa lagi yang dalam proses pengerjaan..." jawab Anindya.


"Kenapa belum selesai ? Makanya jangan keganjenan ! Jangan tebar pesona aja ! Pekerjaan jadi terbengkalai !" cerocos Akmal penuh kekesalan yang meluap.


Anin seketika terperanjat mendengar perkataan Akmal barusan.


"Kan baru kemarin Anda memberikan pekerjaan itu pada saya...dan mungkin bisa diingat berapa banyak dokumen yang Anda suruh review ulang..." pembelaan Anindya.


"Halahh...banyak alasan kamu !" sela Akmal.

__ADS_1


"Anda bisa menilai sendiri apakah saya hanya beralasan atau fakta sesungguhnya..." kata Anin datar.


"Kamu tuh kebanyakan tebar pesona sama laki-laki di RS ini ! Itu faktanya...!" seru Akmal.


"Maaf...tebar pesona seperti apa yang Anda maksud ? saya tidak mengerti maksud Anda ?" tanya Anin memberanikan diri vokal di depan Akmal.


"Buktinya...kamu berangkat bareng sama Dokter Barra naik mobilnya...daru depan rumahku lagi...!" protes Akmal.


"Ada yang salah dengan hal itu ?" tanya Anin dengan nada slow.


Akmal berdiri dari kursi kerjanya."


"Ya jelas salah lah..! Kamu tuh dijemput Dokter Barra di depan rumah keluarga Wirawan...apa kata orang-orang yang melihatnya ?" tanya Akmal balik.


"Memangnya mereka akan berkata apa ?" kejar Anin.


"Yaa...mereka akan berkata negatif melihat kamu dijemput laki-laki asing..padahal kamu kan statusnya sudah bersuami !" Akmal pe-de mengatakannya.


"Sebentar...Anda menegur saya seperti ini dalam kapasitas Anda sebagai siapa ?"' tanya Anin.


"Profesional atasan dan bawahan,atau....sebagai suami dan istri ?" sambung pertanyaannya.


"Biar saya ingatkan...mungkin Tuan Dokter kelupaan...bahwa tidak ada yang mengetahui status kita sebagai suami istri...tenang saja..!" kata Anindya.


' MAK JLEB '


Akmal seketika salting mendengar penuturan Anindya.


"Atau jangan-jangan Anda merasa cemburu melihat saya dijemput Dokter Barra...begitu ?" pancing Anin.


Akmal seketika langsung mendekati Anin.


"Apa ? Hahh....mana ada seperti itu..kamu jangan ge-er..." kata Akmal sambil mendorong Anindya dan mengunci tubuhnya di tembok.

__ADS_1


Tapi perbuatannya itu justru membuatnya merasakan sensasi aneh...tubuhnya seperti tersengat aliran listrik.


Akmal diam sejenak mencerna hal itu...sambil memandang wajah Anindya yang ada tepat dihadapannya sekarang.


__ADS_2