Tidak Tanpamu

Tidak Tanpamu
Penyesalan Selalu Belakangan.


__ADS_3

"Dokter Akmal...?!?" panggil resepsionis juga.


"Aku minta nomer emergency Dokter Barra....berikan juga ke Tante dari Dokter Barra ini..." titah Akmal.


"Baik,Dokter....akan saya kirim ke nomer Anda segera.." kata resepsionis.


"Saya permisi dulu ya,Bu...".pamitnya kemudian.


"Silahkan...dan terimakasih,Dokter..." kata Tante Monik.


Akmal merespon dengan senyum tipisnya...dia tergesa menuju tempat parkir dan bergegas menaiki mobilnya dengan tujuan rumah Mbah Rasni.


Sesampainya di depan rumah Mbah Rasni...


Akmal segera memarkir mobilnya dan memasuki halaman rumah Mbah Rasni.


"TOK TOK TOK... "


"Assalamu'alaikum..." ucap Akmal.


Tak sabar mendengar jawaban dari dalam rumah itu.


"Anin....Mbah...!" panggil Akmal cepat.


Sampai diulangnya beberapa kali...dia juga berusaha membuka pintu dengan menyentuh gagangnya...ternyata dalam keadaan terkunci.


Hingga ada salah satu tetangga Mbah Rasni yang menghampiri..


"Tidak ada orang di rumah ini,Den..." kata seorang laki-laki paruh baya.


"Kemana,Pak ?" tanya Akmal gusar.


Rupanya laki-laki itu tidak mengenali Akmal.


"Mereka sudah pindah ke kota...rumah ini sudah dijual..." papar laki-laki itu.


"Apa ??" Akmal.sangat terperanjat mendengarnya.


"Dijual ?" Akmal mengulangi kata itu seakan tak percaya.


"Iya,Den...mereka pindah ke kota...karena Mbak Anin pengen melanjutkan sekolahnya..." tambah laki-laki itu.


"Kapan mereka pindahnya,Pak ?" tanya Akmal lagi.


"Baru berangkat beberapa jam yang lalu...naik mobil travel.." kata laki-laki itu.


"Saya permisi,Den..." pamit tetangga itu...dijawab anggukan pelan Akmal.


Akmal langsung lemas dan terduduk di kursi teras rumah Mbah Rasni.

__ADS_1


Dia mengambil ponsel dari sakunya...mencoba menghubungi nomer Anindya...tapi rupanya tidak bisa,karena Anin sudah memblokir nomer Akmal.


Kemudian Akmal menghubungi nomer emergency dokter Barra..


Langsung diangkat oleh Barra.


Karena Barra mengira ada keadaan darurat di RS...sehingga Akmal menelfonnya.


"Hallo..Assalamu'alaikum...ya ada apa Dokter Akmal ?" tanya Barra dengan dingin.


"Dokter Barra...apakah dokter tahu dimana Anindya dan Mbah Rasni sekarang berada ?" Akmal to the point.


"Aku kira ada kasus darurat di RS..." jawab Barra.


"Saya ke rumah mereka tapi kata tetangga mereka sudah menjual rumah mereka dan pindah ke kota..." kata Akmal.


"Untuk apa kamu tanya Anindya dan Mbah Rasni lagi ?" sindir Barra.


"Belum cukup kamu menyakiti hati Anindya hingga menggugat cerai dia ?" to the point Barra.


"Jadi kamu sudah tahu semuanya..." kata Akmal lemas.


"Tega-teganya kamu melakukan itu pada Anindya...sekarang aku mau tanya...apa alasan kamu menggugat cerai dia,hah ? Kurang apa dia dimata kamu ?" tanya Barra mulai emosi.


"Di dalam gugatan tertulis dia berselingkuh...maksud kamu apa ?" sambung Barra berapi-api.


"Kalau saja Anindya mengizinkan...aku pasti sudah menemui kamu dan membuat perhitungan denganmu..." terus Barra.


"Aku minta maaf juga padamu,Dokter Barra...karena sudah mengira kamu dan Anindya selingkuh di kamar hotel...aku membuntuti kalian waktu itu...melihat kalian berdua masuk hotel...aku sangat geram dan memaki,menghina bahkan mengusir Anindya....tapi barusan aku bertemu tantemu...dan mendapatkan semua kebenarannya...maafkan aku...aku terlalu posesif sehingga cemburu buta..." kata Akmal panjang lebar.


"Dasar kamu memang bodoh ! Sudah menyia-nyiakan intan berlian seperti Anindya..." kata Barra di seberang ponsel.


"Walaupun aku tahu dimana Anindya berada...aku tidak akan memberitahumu...sudah cukup kesempatan yang kamu peroleh untuk memiliki Anindya...sekarang serahkan tanggung jawab menjaga Anindya padaku...dan semoga aku beruntung bisa memilikinya..." kata Barra.


'Seandainya bisa...dan seandainya Anindya mau menerimaku...' batin Barra.


"Jangan pernah mencari Anindya lagi...dia juga berhak bahagia...lagian sudah tidak ada hubungan lagi diantara kalian berdua..." kata Barra tajam.


"Tidak...kami masih berstatus suami istri...pengadilan menolak gugatanku karena tidak cukup alat bukti dan juga saksi...!Tuutt..tuutt..tuutt...! Hallo ? Hallo ? Dokter Barra ?!?" rupanya sambungan ponsel terputus secara sepihak dari Barra.


Akmal melihat ponselnya...lalu berusaha menghubungi lagi ke nomer emergency Barra beberapa kali...tapi ternyata nomer tersebut sudah tidak aktif.


Dan pupus sudah harapan Akmal untuk bisa bertemu jugs memohon maaf pada Anindya.


Sementara di lain tempat...


Anindya dan Mbah Rasni sedang ada di depan makam Ayah Johan.


Mereka tampak khidmat dan larut dalam perasaan yang bercampur aduk...sambil melantunkan ayat Al-Qur'an ditujukan untuk kirim do'a pada almarhum...sesekali mereka tampak mengusap buliran bening yang jatuh di pipi mereka.

__ADS_1


Setelah rampung berdo'a...Mbah Rasni mengelus batu nisan anak semata wayangnya itu..


"Le...saiki ibuk lan anak wedokmu wes cedak panggonane karo kowe...iki anakmu wes perawan...(Nak..sekarang ibu dan anak perempuanmu sudah tjnggal dekat kamu...ini anak kamu sudah gadis...)" kata Mbah Rasni dengan mata sembab dan suara serak menahan tangis.


"Ayah...kami akan sering kesini mengunjungi Ayah...Ayah...Anin sayang Ayah...Anin kangen sama Ayah...Anin pengen dipeluk Ayah..." Anin terguguk di depan pusara Ayahnya.


"Ayah...maafkan Anin tidak bisa menjadi anak yang berbakti pada orang tua...Anin pindah kesini lebih dekat dengan makam Ayah...tapi jadi jauh dari makam Ibu...tapi Anin yakin do'a kalian berdua selalu mengalir buat anakmu ini...mau kita dekat ataupun jauh....Anin janji akan menjadi anak yang bisa mengangkat harkat derajat dan martabat kalian...fiddiini waddunya wal aakhiroh...Aamiin Allohumma Aamiin..." pungkas Anin dan mengecup batu nisan Ayahnya dengan penuh kasih sayang.


Lalu mereka berdua beranjak dari area makam...menuju rumah kontrakan dimana Barra sudah menunggu mereka.


Sesampainya di kontrakan...


Anin yang dengan telaten selalu menggandeng dan memapah langkah Mbah Rasni....melangkah memasuki halaman rumah kontrakan itu.


Tampak Barra menanti mereka di teras rumah yang tampak asri dan bersih...walaupun tak seberapa besar.


"Selamat datang di rumah baru kalian....selamat datang di Jakarta..." ucap Barra antusias.


"Terimakasih,Nak..." ucap Mbah Rasni sambil memegang pundak Barra.


"Terimakasih,Kak..." ucap Anin juga tampak terharu melihat Barra.


"Sudaahh...jangan ada air mata lagi...kita mulai hidup baru di kota ini..." ucap Barra.


"Kita ? Maksudnya,Kakak juga ?" Anin meminta penjelasan.


"Iya...nggak mungkinlah aku ninggalin kalian berdua di kota besar ini..tenang aja...aku nggak akan satu rumah dengan kalian juga,kok...." kata Barra santai.


"Tapi,Kak....bagaimana dengan rumah Kakak di sana ? Lalu pekerjaan Kakak ?" Anin mggak habis fikir.


"Itu semua bisa diatur....rumah aman...soal pekerjaan,aku akan resign dari RS Bhakti Wirawan dan mencari pekerjaan di sini..." kata Barra penuh keyakinan.


Anin menatap Barra dengan pandangan sendu dan terharu...begitu besar pengorbanan Barra untuknya dan Mbahnya.


"Hanya Alloh yang bisa membalas semua kebaikan Kakak..." ucap Anin.


"Pastinya...berharap kamu yang ngebalas perasaanku dulu juga kamu tolak berkali-kali...apalagi berharap sekarang,udah impossible banget..." gurau Barra.


"Isshh,Kakak...jangan bikin aku malu, doong..!" kata Anin tersipu.


Barra dan Mbah dibuat tertawa renyah karenanya.


Waktu cepat berlalu...hari berganti hari...bulan berganti bulan...tahun berganti tahun...


*


*


*

__ADS_1


5 Tahun Kemudian (2022)......


__ADS_2