
Beberapa hari kemudian...
Di area parkir sebuah pusat perb9elanjaan.
Tampak seorang wanita muda berhijab dan berjalan sedikit tergesa...dengan menenteng beberapa paper bag belanjaannya....dia sedikit kerepotan juga membawanya.
Tiba di depan mobil sedan miliknya...tangannya merogoh ke dalam hand bagnya...mengambil kunci mobil.
Tapi tiba-tiba...secepat kilat hand bagnya itu disambar seseorang yang datang dari arah belakangnya.
Sesudah menyambar hand bag wanita muda itu....orang tersebut alias copet secepat kilat pula berlari menjauh entah kemana.
Yang terekam jelas di otak wanita muda itu si copet memakai kaos warna merah maroon.
"Copeett....!! Toloongg..copeett..!!" teriak wanita itu.
Yang otomatis mengundang perhatian orang-orang dusekitarnya.
"Mana copetnya ?"
"Lari kemana copetnya,Mbak ?"
"Apa yang sudah diambil ?"
Pertanyaan bersahutan orang-orang yang berkerumun.
"Tas saya,Pak...orangnya lari ke arah sana...!!" kata wanita muda yang cantik itu menunjuj kemana copet tadi lari.
Bersaamaan dengan itu...dari arah yang sama...muncul pria keluar dari dalam mobilnya....berjalan santai hendak masuk ke pusat perbelanjaan....melewati kerumunan orang....dan kebetulan sekali pria bertubuh atletis dan tampan itu juga memakai t-shirt merah maroon.
"Astaga !! Itu dia Pak...copetnya !! Pakai kaos maroon..!!" seru wanita berhijab itu yakin.
"Beneran,Mbak ??" tanya seseorang.
"Iya Pak...tangkap dia...dia itu copetnya...!!" kata wanita itu histeris.
Langsung saja orang-orang tadi menahan kedua belah tangan pria yang ternyata Dokter Barra...!!
Dokter Barra ??
Ya...!! Dokter Barra yang sedang lewat santai itu secara tiba-tiba didatangi kerumunan orang yang langsung menahan kedua tangannya....dan menuduh dia sebagai copetnya ??
OMG....!?!
"Ada apa ini ?" tanya Barra bingung.
"Jangan lari kamu ! Mana tas saya ?" hardik wanita cantik berhijab tadi.
"Tas ? Tas apa ?" Barra tambah bingung.
"Tas saya yang kamu ambil tadi...dasar copet !!" semprot wanita tadi.
"Hahh ?? Copet ??" tanya Barra tak percaya dirinya saat ini dituduh sebagai copet.
"Mana ada copet ngaku..."
__ADS_1
"Udah...kita hajar saja !!"
Reaksi orang-orang disekitar Barra dan wanita tadi.
Dan mereka sudah hendak membogem mentah wajah tampan Barra.
Untunglag berhasil ditahan dan ditangkis Barra.
"Anda menuduh saya copet ? Apa buktinya ?" Barra mulai kesal.
"Kaos kamu itu !" jawab wanita tadi bersungut-sungut.
" Kaos ? Kaos begini banyak, Mbak...jangan asal nuduh !!" Barra kesal pakek banget.
Lalu mengeluarkan tanda pengensl dari dompet di saku celananya.
"Kalian bisa cek tanda pengenal saya !" seru Barra menyodorkan ID card-nya.
Salah seorang mengambil dan membacanya.
"Ternyata dia seorang dokter...dokter bedah !!" seru seseorang tadi.
"Nahh ! Masak seorang dokter nyopet ? Untuk apa ?" pembelaan diri Barra.
"Alahh...bisa saja ! Kali aja kamu punya penyakit clepto...!".wanita berhijab tadi masih keukeuh dengan tuduhannya.
"Astaga...nih cewek bener-bener ya...!! Kalau begitu ayo kita buktiin aja ke kantor polisi !!" tantang Barra.
"Nggak ! Nggak mau !! Ribet !!" tolak wanita tadi.
"Kalau nggak mau ke kantor polisi...kamu maunya kemana ? Kantor KUA ?" tanya Barra geram.
Wanita tadi semakin kesal dan mengerucutkan bibirnya.
Tiba-tiba....
"Permisi,Mbak ? Apa ini tas Mbak yang dicopet ?" tanya seseorang pada wanita cantik dan berhijab itu.
"Iya bener ! Tuhh kan...apa saya bilang...emang dia pencopetnya..!" seru wanita itu merasa dirinya benar.
"Bukan mas ini,Mbak....itu dia pencopet aslinya....kami berhasil menangkapnya tadi..." kata seseorang sambil menunjuk ke arah orang dengan kaos warna merah maroon sama...yang sudah dipegangi kedua tangannya.
"Wahh...kita salah orang,dong.. "
"Wahh...Mbaknya suka asal..."
"Hati-hati Mbak kalau nuduh orang..."
"Jangan asal nuduh sembarangan...bisa fatal akibatnya..."
Celoteh orang-orang yang berkerumun.
"Sorry,Mas ya.. " ucap beberapa orang pada Barra.
Wanita tadi hanya bisa menakupkan kedua tangannya pada orang-orang yang masih ramai menggerutu.
__ADS_1
"Maaf,Pak Dokter..." ucap wanita tadi merasa sangat malu pada Barra.
"Dasarr...! Cantik-cantik senewen..!!" kata Barra kesal sambil berlalu meninggalkan wanita tadi.
"Ihh...ya nggak gitu juga !! Situ juga udah Ngatain orang sembarangan...!" wanita itu setengah berteriak.
Tapu Barra nampak tak menghiraukannya.
*
*
Sepulang dari Jakarta...
Akmal jadi tidak fokus dalam bekerja...tapi dia masih berusaha peofesional...padahal hati dan fikirannya saat ini tertambat di Jakarta.
Bahkan Akmal tak segan untuk menaruh beberapa orang di Jakarta untuk mengikuti dan melaporkan kepadanya semua kegiatan Anindya... setelah dia tinggal pulang ke Jatim.
Dan dari orang suruhannya Akmal mendapat informasi kalau Anin membuka tempat praktek klinik psikolog bersama beberapa temannya.
Di kota-kota besar,seperti salah satunya Jakarta...tidak sedikit orang atau lembaga yang membutuhkan jasa seorang psikolog seperti Anindya...karena tingkat mobilitas yang tinggi mengakibatkan tingkat kejenuhan dan stress yang tinggi pula pada masyarakat perkotaan besar.
Tak heran klinik praktek Anindya dan temannya selalu saja ada pasien yang datang berkunjung....untuk sekedar konseling ataupun melakukan hypnoterapis.
Akmal meminta kepada Kakaknya agar jangan sampai bercerita kepada orang tua mereka tentang pertemuan mereka dengan Anindya...agar orang tuanya terutama Papanya tidak kepikiran.
Dan Devan pun sepaham dengan Akmal.
Dan hari ini Rafa diizinkan pulang...dia minta Omnya ikut pulang ke rumah juga...dan tentu saja Akmal menuruti kemauan Rafa...tapi sebelumnya Rafa diberi pengertian oleh Akmal...kalau tidak bisa menginap...dengan alasan harus menyelesaikan pekerjaan...syukurlah Rafa mau mengerti.
Padahal Akmal hanya tidak enak hai saja pada kedua orang tuanya...karena dulu pernah diusir.
Seandainya saja Akmal tahu...Papanya yang diluar bersikap dingin padanya...sebenarnya juga ingin Akmal kembali ke rumah...tapi terlalu gengsi untuk mengatakannya.
"Om pamit dulu ya,Rafa...Om janji akan sering jengukin Rafa...'' kata Akmal sambil mencuri pandang pada Papanya yang dari tadi bersikap acuh padanya...sejujurnya dia kangen dengan sikap hangat sang Papa seperti dulu.
Sedangkan Rafa...dia hanya mengangguk pelan dan masih selalu minta Devan menemaninya,dia sama sekali tidak mau ditemani Mamanya....bocah itu mungkin masih trauma berat dengan kejadian yang dia alami di sekolah.
Akmal berdiri menghampiri Mamanya yang duduk di samping Devan....diciumnya tangan wanita itu...lalu mereka saling berpelukan hangat.
Sang Mama menepuk bahu Akmal beberapa kali sebelum melepaskan pelukannya.
Kemudian Akmal beralih pada Papanya yang duduk di kursi malasnya tepat di depan tv yang dari tadi menyala.
"Pa...Akmal pamit dulu..." pamit Akmal sambil meraih lembut tangan Papanya....lalu menciumnya ta'dhim.
"Hemm..." jawab Tuan Wirawan datar tanpa memandang anak bungsunya itu.
"Akmal janji akan memperbaiki kesalahan Akmal,Pa...Akmal janji akan membawa Anin bertemu dengan Papa...kalau Alloh mengizinkan...dengan status sebagai istri Akmal.." Akmal bermonolog dalam hati.
Lalu Akmal melangkah hendak keluar rumah.
"Akmal....!" panggil Devan tiba-tiba.
"Nanti aku telfon...ada hal penting yang ingin aku bicarakan sama kamu.." sambung Devan.
__ADS_1
Akmal mengernyitkan dahinya sejenak kemudian mengangguk mengiyakan perkataan kakaknya itu...setelahnya...dia meneruskan langkahnya menuju pintu utama kediaman keluarga Wirawan.
Tapi...tanpa di ketahui Akmal...Papanya memandang kepergiannya dari belakang...lekat dan sendu tatapan Tuan Wirawan pada putra bungsunya itu...hanya Nonya Mira yang menyadari hal itu.