
"Rafa demam tinggi..dia harus di rawat di RS...dan dia selalu mengigau manggil 'Papa'...tapi tenang Kak...kondisinya sudah stabil saat aku tinggal pagi ini...tapi dia terus nangis nyariin kamu,Kak..." papar Akmal.
"Awalnya gimana ? Kok dia sampai demam tinggi ?" tanya Devan.
"Dia korban bullying di sekolahnya,Kak..." kata Akmal.
"Apa ??" Devan sangat sangat terkejut.
"Aku dan Kak Tania sudah konfirmasi ke pihak sekolah...ternyata Rafa di sekolah itu kuper...gak mau bergaul dengan teman-temannya...tingkat percaya dirinya rendah...jadi dia sering jadi mangsa empuk temannya yang jahil..." jelas Akmal lagi.
"Ya Allooh...kasihan anakku...ini semua hasil pola asuh Tania yang diktator dan punishment..." Devan kesal pada istrinya.
"Kalau Kak Devan sudah tahu penyebabnya...sebaiknya bicarakan berdua dengan Kak Tania..." jawab Akmal.
"Lalu apa tindak lanjut pihak sekolah menanggapi kasus Rafa ini ?" tanya Devan lagi.
"Teman-teman Rafa di skors dan dipanggil orangtua mereka...tapi demi kenyamanan Rafa...aku dan Kak Tania memutuskan untuk mengeluarkan saja Rafa dari sekolahnya..." jawab Akmal.
"Bagus !!" respon Devan cepat.
"Mama nyuruh aku nyusulin Kakak kesini...Rafa nggak seberapa mau sama yang lain,termasuk Mamanya...dia nangis panggilin kamu terus,Kak...Rafa butuh Papanya..." kata Akmal.
"Waduch....kerjaanku disini belum kelar lagi..." keluh Devan bingung.
"Ya serahin aja sama staff Kakak yang ada disini..." jawab Akmal enteng.
"Ya nggak segampang itu,Akmal...ini urusan tender kontrak besar...aku gak bisa percaya begitu aja sama orang...kalau memungkinkan bakal aku sendiri yang turun tangan..." kata Devan.
"Gini aja !!" seru Devan dapat ide...membuat Akmal ikut terperanjat.
"Astaghfirullooh !! Untung aja jantung ini produk buatan Gusti Alloh..jadi gak copot karena saking kagetnya aku..." kata Akmal.
"Kamu yang gantiin aku disini..!!" Devan dengan mata berbinar merasa dapat solusi.
"Whatt ?? Jangan bercanda dech Kak...!" kata Akmal.
"Aku serius ! Kamu satu-satunya orang yang bisa aku percaya mewakiliku mengurusi big contract ini...hari ini kami akan tanda tangan deal contract....tapi ternyata ada halangan seperti ini..." kata Devan.
"Yang benar aja dong Kak...aku ini seorang dokter...bukan pengusaha...!" protes Akmal.
"Ya tapi kamu kan juga seorang pimpinan RS...jadi nggak buta-buta amat masalah seputar kontrak kerja..." lanjut Devan.
"Enggak ah..! Di RS juga banyak yang harus aku urus,Kak..." tolak Akmal.
"Sipp !! Kita tukar tempat dan posisi aja,Okey ? Kamu ngurusin kerjaanku,aku ngurusin kerjaan kamu...gimana ?" penawaran Devan.
"Jangan ngaco deh Kak..." kata Akmal.
"Ayolah,Akmal....kalau saja ini bukan mega proyek...aku nggak akan minta kamu gantiin aku...lagian kamu juga nggak sendirian...orang kepercayaanku akan terus ndampingi kamu untuk menangani ini...sebaliknya aku di RS juga begitu...suruh orang kepercayaan kamu mendampingi aku..." rayu Devan.
Akmal bingung...harus menyetujui permintaan Kakaknya itu atau tidak...dia duduk di sofa kamar hotel dengan gelisah...sesekali dia menggaruk tengkuknya yang tidak gatal...sesekali dia geleng-geleng sendiri.
Sedang Devan masih terus merayunya sambil duduk di depannya....tatapannya jelas mengharap Akmal menyetujui permintaannya...terbayang jelas di mata dan fikirannya...Rafa yang saat ini sedang sakit dan memanggil-manggil namanya.
"Ayolah Akmal...atau aku telfon Mama aja kali ya...atau Papa sekalian...biar mereka langsung yang bicara sama kamu..." ancam Devan.
"Ancamannya gak asik...!" seru Akmal melotot ke Devan.
__ADS_1
Kalau Mamanya yang meminta...atau Papanya yang masih marah padanya hingga detik ini yang memerintah...tentu Akmal akan semakin mati kutu.
"Jadi mau doong...atau aku telfon Mama Papa niih...." lanjut Devan.
"Iya iyaaa...Isshh...!!" jawab Akmal pada akhirnya.
"Gitu doong...lagian aku jamin kamu nggak akan nyesel dengan keputusanmu mau nggantiin aku disini...jika takdir berpihak padamu..." kata Devan tak berlanjut.
Yang Devan maksud adalah soal Anindya...tapi dirinya tidak mau mengingkari janjinya pada Anindya, untuk tidak memberitahu siapapun soal keberadaan Anindya saat ini.
"Maksud Kakak ?" Akmal penasaran.
"Yaa...kalau takdir berpihak padamu...mega kontrak ini akan memberikan mega keuntungan juga padamu..." sambung Devan.
"Apaan ? Gak jelas !!" kata Akmal sewot.
"Bisa-bisanya Kakak aja...kalau nggak demi Rafa aku nggak bakal mau..." kata Akmal sewot.
"Mana aku cuma bawa 2 pakaian ganti lagi..." sambung Akmal.
"Kamu beli aja ke mall ...sekalian jalan-jalan...ntar uangnya aku ganti..." jawab Devan enteng sambil mengemasi barang-barangnya.
"Dasar..!" gerutu Akmal.
"Akmal...aku mau tanya sesuatu sama kamu..." ucap Devan.
"Apa ?" tanya Akmal sambil merebahkan tubuhnya di sofa panjang.
"Menurutmu Anindya ada dimana sekarang ?" tanya Devan.
"Entahlah,Kak...usaha pencarianku selama ini belum ada titik terang...hingga pada akhirnya aku hanya mampu berdo'a agar Alloh mempertemukan aku dengannya dalam keadaan lebih baik...sukses tidak kurang suatu apa..." kata Akmal dengan nada pasrah sambil merebah menengadah ke atas dan memejamkan mata...punggung telapak tangannya ditaruh di atas dahinya.
*
*
*
Siang harinya... Setelah mengantar Devan ke bandara...Akmal memutuskan untuk ke mall dekat lokasi hotel tempatnya menginap...tujuannya membeli beberapa stel pakaian untuk keperluan pekerjaannya menggantikan Devan.
Setelah Akmal selesai membeli beberapa pakaian..dia masuk ke toko parfum...
Akmal memasuki lorong demi lorong display mencari-cari merk parfum favoritnya.
Dan OMG !!
Anindya dengan santainya juga masuk le toko parfum yang sama dengan Akmal.
Dia memakai masker kesehatan yang menutup hidung dan mulutnya...tapi karena itu adalah toko langganannya...pegawai toko tak kesulitan mengenalinya dan menyapa ramah dirinya.
"Selamat siang,Mbak Anin....selamat berbelanja..." sapa penjaga toko.
"Siang,Mbak...terimakasih..." jawab Anindya.
Beda dengan Akmal yang masih berputar-putar mencari parfum yang dituju...Anindya langsung menuju display parfum yang biasa dia beli di toko itu.
Setelah mengambil parfum yang dimaksud..Anindya balik badan hendak menuju kasir.
__ADS_1
Tapi dia tanpa sengaja melihat sederet merk parfum pria...dan ingatannya tertuju pada seseorang...dia melambatkan langkahnya saat di depan netranya terpampang parfum itu...tangannya terulur hendak memegang kemasan parfum pria tersebut...
Tapi...tiba-tiba....
Dari arah belakangnya....ada tangan yang juga terulur hendak mengambil kemasan parfum itu...
Dan alhasil....punggung telapak tangan Anindya tersentuh bagian dalam telapak tangan seseorang itu.
'ZEZZERD...ZEZZERD...!!!'
Keduanya seketika merasakan aliran listrik halus saat kontak kulit....
Keduanya buru-buru melepas kemasan parfum hingga jatuh ke bawah.
'BRUKK..'
Dan tanpa menoleh terlebih dahulu...Anindya langsung melangkah menjauh dari seseorang itu....dia saat ini merasa takut sekaligus malu.
Dan seseorang tadi tak lain dan tak bukan adalah Akmal.
Dia memperhatikan wanita berhijab yang berlalu menjauh tadi dari belakang...tanpa sempat melihat wajahnya.
Dia tertegun...dan speechless...
"Kok bisa ?? Sensasi sengatan listrik itu muncul lagi setelah sekian lama aku tidak merasakannya..." kata Akmal dalam hati.
Lalu dia segera mengambil kemasan parfum yang jatuh tadi dan buru-buru menuju kasir.
Akmal berharap wanita tadi masih di kasir...tapi ternyata wanita itu sudah melewati pintu keluar toko.
Selesai dari meja kasir...Akmal buru-buru keluar toko dan menoleh ke kanan dan ke kiri berharap tahu kemana arah wanita tadi pergi...tapi rupanya Akmal kehilangan jejak wanita tadi...
Di sisi lain...Anindya menuruni eskalator menuju area parkir.
Tapi memorinya masih mencoba mencerna kejadian barusan...
"Setiap kali saya bersentuhan kulit dengan Anda...saya merasa seperti tersengat listrik halus...itu awal mula saya mulai mencintai Anda,Tuan Dokter...'' Anindya mengingat perkataannya pada Akmal waktu dulu.
"Walau kamu telanjang sekalipun di depanku...aku nggak bakal terpikat olehmu..!" kata-kata Akmal dulu juga ikut berseliweran di memorinya.
"*Aku mencintaimu,Anin...entah sejak kapan rasa itu muncul Anindya..."
"Makanya...punya rambut itu jangan digerai terus....hijab bisa melindungi rambutmu dari bubble gum Rafa...dan aku ingin suatu saat nanti hanya aku yang berhak melihat rambut indahmu..."
"Aku tidak akan memaksa kamu dalam meminta hakku sebagai seorang suami....aku akan menunggu kerelaanmu melakukan kewajibanmu,Aein..."
"Aein...artinya 'sayang'...."
"Pergi kamu dari hadapanku ! Aku muak dan jijik melihat wajahmu* !"
Anindya terngiang-ngiang beberapa kata-kata Akmal 5 tahun yang lalu.
Hingga membuatnya melamun dan tidak fokus saat menuju mobilnya.
'TIIN-TIIIIN...!'
Anindya hampir tertabrak mobil yang melintas...dia sangat terkejut dan jadi tersadar dari lamunannya.
__ADS_1
"Astaghfirulloohal'adziim..." gumamnya pelan.