
Untuk sesaat Anin dan Winda terpancang tak bergeming...loading.
Terutama Winda...dia kaget bercampur heran karena tiba-tiba ada seorang laki-laki yang tak dikenalnya...yang mempunyai garis wajah rupawan dan goos looking.
"Wa'alaikumsalam..Anda sipa yah ?" tanya Winda polos.
"Wa'alaikumsalam warohmah..." jawab Anindya sambil berdiri dari duduk bersilanya dari tadi...bersantai di kursi ruang tamunya bersama Winda.
Winda berganti melihat ke arah Anin...dengan tatapannya mengkode untuk berbagi info soal laki-laki di hadapannya saat ini.
"Kamu katanya penasaran sama orang yang dulu menolong kamu saat tersedak...ini dia orangnya.." papar Anin pada Winda.
"Ohh astaga !!" Winda menaikkan nada suaranya seraya menutup mulutnya.
"Berarti dia ini....suami kamu ??" sambungnya.
Matanya menilik Akmal dari ujung rambut hingga ujung kaki...menghasilkan penilaian 85 persen perfect.
Akmal yang saat ini mengenakan pakaian kerja dan bersepatu...tampak rapi dan maskulin.
Berbeda dengan Anindya yang saat ini hanya mengenakan setelan baju tidur model celana dengan lengan pendek...
Sedang Winda sedikit lebih rapi dan formal pakaiannya dari Anindya.
Baik Akmal maupun Anindya sama-sama kikuk...tak tahu harus ngapain sekarang ini...apalagi sedang ada Winda diantara mereka.
Untunglah Winda cukup tahu sikon.
"Baiklah,Anin...aku pamit pulang dulu yaa...selesaikan urusan dalam negeri kalian..." pamit Winda setengah berbisik pada Anindya.
"Saya permisi...oh yaa...terimakasih atas pertolongan Anda waktu itu..." basa-basi Winda pada Akmal sambil tersenyum.
"Sama-sama.." jawab Akmal singkat sambil mengulas senyum kecil.
Anidya mengantar Winda sampai di teras rumahnya.
Meninggalkan Akmal yang berdiri mematung di ruang tamu.
Setelah Winda pulang...Anindya masuk ke ruang tamu dan berhadapan dengan Akmal Sejenak mereka beradu pandang dengan pandangan yang sukar untuk diartikan.
"Jadi ? Apa yang membuat Anda datang kesini ?" tanya Anin datar.
"Aku minta maaf atas kecerobohanku yang telah meninggalkan kamu sendiri kemarin malam..." Akmal to the point.
"Itu saja ? Oke...saya maafkan..." jawab Anin singkat.
"Daan...ayo pulang.." ajak Akmal.
"Pulang kemana ? Ini rumah saya..." Anin lalu duduk di kursi ruang tamunya.
"Papa memintaku untuk menjemputmu.." Akmal bingung memilih kata.
"Nanti biar saya telfon Tuan Wirawan..." Anin berusaha sebiasa mungkin berbicara dengan Akmal.
"Ada hal penting lain juga yang akan saya bicarakan dengan Tuan Wirawan..." sambung Anin.
"Masalah apa ?" selidik Akmal.
"Masalah kita..." jawab Anin.
"Maksudnya ?" tanya Akmal lagi.
"Saya akan minta Tuan Wirawan untuk mengurus perceraian kita..." kata Anindya.
'JEDDERR...'
__ADS_1
Akmal auto terkejut mendengarnya.
Tapi dia berusaha untuk menutupinya.
Dia melihat ke arah Anindya yang terlihat begitu santai setelah mengutarakan soal perceraian mereka.
"Rafa menanyakanmu terus..." Akmal mencoba mengalihkan pembicaraan.
"Dia anak yang gampang beradaptasi...dia akan lupa pada saya dengan cepat.." kata Anin.
"Dokter Barra menemuiku pagi tadi..." Akmal mencari topik pembicaraan baru.
"Jadi dia tahu status pernikahan kita..." lanjutnya memancing respon Anindya.
"He-em..." jawab Anin pelit.
"Dia tahu segalanya..." lanjut Anin.
"Rencana perceraian juga ?" tanya Akmal.
"Kecuali itu...saya baru memikirkannya tadi malam..." jawab Anin.
" Kenapa begitu ?" Akmal memancing Anin lagi.
Sembari dia juga duduk di kursi ruang tamu...tapi berjarak lumayan jauh dari Anin.
"Kenapa ? Kenapa Anda bilang ? Anda paling tahu jawabannya kan ?" tanya balik Anindya.
FLASH BACK...
"Papa ? Kok pagi-pagi sudah disini ?" tanya Akmal saat Papanya memasuki ruangannya.
Sepeninggal Akmal menelfon Wisnu barusan.
"Ada yang ingin Papa bicarakan padamu..." tutur Papanya serius.
"Iya,Pa..siilahkan..." kata Akmal.
"Anindya tidak bersalah dalam hal pernikahan terpaksa kalian..." lalu Papanya mulai bercerita dari awal pertemuannya dengan Ayah Anindya,Pak Johan.
Papanya menceritakan kebaikan dan jasa pengorbanan Pak Johan pada keluarganya...
Papanya menceritakan janji tertundanya pada Pak Johan.
Menceritakan kalau penyebab Mbah Rasni sakit karena shock mengetahui kalau Pak Johan sudah tiada...dan itu karena menanggung kesalahan yang tidak dia perbuat.
Papanya bercerita kalau dia,Mamanya dan Mbah Rasni lah yang memaksa Anindya menikah dengan Akmal.
Dengan ancaman Mbah tidak mau operasi kalau Anin tidak mau menikah dengan Akmal.
Akmal tak bisa berkata-kata lagi...dia menyimak dengan baik dan sesekali memejamkan mata...memutar memorinya...betapa buruk dia memperlakukan Anindya selama ini.
"Papa merasa pertemuan kamu dan Anindya adalah sebagian takdir dari Tuhan..." kata Tuan Wirawan.
"Karena jika Papa menemukan Anindya dari dulu...Papa akan memenuhi janji Papa pada Ayah Anindya juga dari dulu...dan tentunya Papa tidak mengatur penikahan antara kamu dan Anindya...melainkan antara Devan dan Anindya..." penjelasan Tuan Wirawan.
'MAKJLEBBB'
Penjelasan Papanya barusan sukses membuatnya membulatkan bola matanya.
"Tapi sikon berkata lain....kalian yang dipertemukan....Sayangnya pertemuan kalian juga tidak seindah ekspektasi kami sebagai orang tua kalian..." sambung Tuan Wirawan.
"Pernikahan terpaksa ini ternyata hanya menjadi penyebab kesalah pahaman dan penderitaan yang harus diterima oleh Anindya...dan Papa sangat merasa berdosa akan hal itu..." penyesalan Tuan Wirawan.
Akmal langsung kena mental mendengarnya.
__ADS_1
Dia sudah salah paham pada Anindya selama ini.
'Astaghfirullooh...betapa jahatnya aku selama ini padanya...' batin Akmal.
"Dan untuk itu....Papa akan mengambil keputusan lain...tapi sebelumnya Papa ingin bertanya privasi padamu...dan kamu harus jawab dengan jujur...!" Tuan Wirawan bicara penuh penekanan.
"Tentang apa,Pa ?" tanya Akmal kepo.
"Apa selama ini kamu sudah pernah berhubungan suami istri dengan Anindya ?" tanya Tuan Wirawan setengah berbisik.
'KRIK KRIK'...
Akmal bingung harus menjawab apa...
"Belum,Pa..." jawab Akmal singkat padat dan jelas.
"Syukurlah kalau begitu..." respon Papanya.
"Maksud Papa ?" tanya Akmal seketika blok-on.
"Anindya tidak kehilangan miliknya yang paling berharga dalam pernikahan paksaan ini..." kata Papanya.
Akmal seketika menggaruk tengkuk kepalanya yang tidak gatal.
"Lalu maksud keputusan lain yang akan Papa ambil tadi apa ?" tanya Akmal.
"Papa akan mengurus perceraian kalian secepatnya...." kata Tuan Wirawan.
'WHATTT ??'
Akmal terperanjat mendengarnya.
"Me-ngurus perceraian ?"entah kenapa tiba-tiba Akmal merasa lemas mendengarnya.
"Iya...! Pernikahan kalian Papa anggap failed...hanya menimbulkan percekcokan dan kesengsaraan bagi Anindya...gadis yang harusnya Papa jaga dan Papa jamin masa depan juga kebahagiaannya..." tutur Tuan Wirawan.
"Dan syukurlah...ada kandidat kuat dan berkualitas siap menjadi penggantimu..." kata Tuan Wirawan sumringah.
'OH NO !!!'
Akmal menelan salivanya seketika.
"Maksud Papa ?" tanya Akmal meminta penjelasan.
"Iya...!! Seperti kata kamu tempo hari...kandidat itu rupanya sudah jatuh hati sejak lama pada sosok pribadi Anindya...Dia mengutarakan langsung niatnya pada Papa barusan...karena dia menganggap saat ini Anindya adalah tanggung jawab Papa..." kata Tuan Wirawan.
Akmal semakin galau dan kepo dibuatnya.
"Siapa dia,Pa ?" tanya Akmal lirih.
"Dokter Barra..." jawab Papanya singkat.
'OMG !!!'
' Selangkah ke depan dia rupanya...' batin Akmal.
"Padahal menurut penuturan Dokter Barra...Anin sudah cerita tentang pernikahan kalian...tujuannya untuk menghindar dari desakan Dokter Barra selama ini yang menyatakan cintanya pada Anin..." kata Papanya.
"Jadi Dokter Barra menemui Papa barusan ?" tanya Akmal lemas.
"Iya...dan mungkin inilah jalan yang terbaik untuk kebahagiaan Anindya...daripada dia makan hati dalam pernikahan ini..." kata Tuan Wirawan menjadi sindiran keras bagi Akmal.
"Dan yang lebih baik adalah kenyataan kalau Dokter Barra tidak perlu mendapat sisa kamu...karena Anin masih kau biarkan utuh..." kata Tuan Wirawan sumringah.
"Belum tentu juga Anindya setuju..." perkataan Akmal meluncur begitu saja.
__ADS_1
Seperti bentuk sebuah pengharapan dari dalam dirinya yang merasa ada ketidak relaan menyeruak mendengar keputusan Papanya itu.