
Suasana hening...
Tak ada pergerakan dari Anin dan Barra.
Anindya menunggu respon dari Barra...
Sedang Barra berusaha membuat benteng pertahanan untuk dirinya sendiri...
Karena semua dirasanya berbeda 180 derajat dalam sekejap saja.
Memorinya berputar ulang...
Dia ingat saat dia mengantar piscok ke kediaman Tuan Wirawan...
Dia ingat saat mengajak Anindya janji ketemuan di kafe depan RS...
Dia ingat saat menyatakan cinta pada Anindya...
Dia ingat saat Anindya meminta menjemputnya di kantor satpol PP...
Dia ingat saat melihat Akmal bermesraan dengan Rika di depannya dan Anin...
Semua kejadian belakangan ini yang dia alami bersama Anin juga Akmal muncul satu-persatu di memorinya...
'Jadi aku mencintai perempuan yang sudah menjadi istri orang lain...' Barra berkata dalam hati.
"Pantas saja sikap Pak Wirawan kadang kurasa dingin padaku..." kata Barra lirih.
Anindya mendengarnya...dia hanya tersenyum geli.
"Lalu perasaan kamu sendiri bagaimana sekarang ?" tanya Barra.
__ADS_1
Anin langsung merubah ekspresi wajahnya.
"Perasaan dalam hal apa ?" tanya Anin balik.
"Perasaanmu pada Akmal..." kata Barra.
"Entahlah Dokter...saya sendiri masih rancu..." kata Anin.
"Kenapa begitu ?" telisik Barra.
"Kadang muncul perasaan aneh yang sulit saya sendiri memahaminya..." Anin jujur pada Barra.
"Tapi yang jelas...saya hanya ingin menjaga kesakralan pernikahan saya...walaupun hanya pernikahan paksaan...setidaknya sebagai tanggung jawab moral saya pada Gusti Alloh...juga pada Mbah saya...kalau saya tidak mempermainkan sebuah ikatan pernikahan....agar kelak tidak ada ganjalan di hati...minimal saya sudah pernah berjuang menjaga pernikahan ini....walaupun hanya sepihak dari saya pribadi..." tutur Anindya.
"Saya masih memegang teguh pesan Mbah saya...keikhlasan dan kesabaran....juga mengabaikan segala hinaan dan cacian..peribahasanya 'Gusti Alloh mboten sare'..." kata Anin.
"Entahlah Anin...aku bingung harus berkata apa sekarang...aku melihat sendiri bagaimana perlakuan Akmal padamu...acuh dan cenderung kasar..." kata Barra tetap dengan pandangannya ke depan.
"Ditambah lagi hubungannya dengan Suster Rika...suster kepala itu..." sambung Barra.
"Oke !!" seru Barra sambil berdiri dari bangku taman.
Membuat Anindya terkejut.
"Kalau memang itu jalan yang kamu pilih..." kata Barra.
Anin bingung...
"Maksud Dokter ?" tanya Anin kiku
"Selama kamu sanggup...berjuanglah ! Perjuangkan pernikahan kamu...! Jangan tanggung-tanggung...bekali dirimu dengan senjata dan pakaian perang sekalian...!" kata Barra menatap Anin.
__ADS_1
Anin hanya bisa tercengang melihat respon Barra.
"Dokter tidak membenci saya ?" tanya Anin polos.
Barra menggeleng.
Anin tersenyum sumringah.
"Dengan satu syarat mutlak..." kata Barra.
"Kamu harus bahagia..." kata Barra.
"Kalau tidak...aku akan siap ambil alih posisi Akmal..." kata Barra.
"Dokter jangan bercanda..." kata Anin tampak malu.
"Aku serius...aku akan selalu ada di belakang kamu...mendukungmu...dan siap.jadi garda terdepan juga bagimu..." kata Barra.
"Terimakasih Dokter...Anda memang laki-laki langka di dunia ini..." kata Anindya.
"Kamu harus tunjukkan ranahmu di depan Rika,Anin...harus !! agar mereka tidak melewati batas..." kata Barra.
"Tapi Dokter...mereka kan memang sudah berpacaran lama..." kata Anin.
"Hanya pacaran...kamu yang lebih berhak sekarang...kamu itu istri Akmal !" seru Barra.
"Katanya mau berjuang...ya mulai sekaranglah waktunya...jangan mau terinjak lagi...!" Barra memotivasi Anin.
Anindya hanya diam tak merespon.
' *Entahlah,Dokter...apa saya bisa mela*kukannya ?' batin Anin.
__ADS_1
"Rasanya tidak etis juga memisahkan sepasang kekasih yang saling mencintai..." gumam Anin lirih.
"Dasar kamu...! Mainnya perasaan sih...! Sulit kalau begitu..." kata Barra dengan bibirnya menyunggingkan senyuman..dia faham benar sepertinya bagaimana tabiat Anin.