
'Bodohnya aku selama ini terlalu larut dalam amarah dan kebencianku padamu....seandainya bisa kuungkap...kalau semenjak mengenal dirimu...kamu sudah mulai mencuri perhatianku...sikap mandiri,tangguh dan kecerdasanmu menjadi nilai plus kepribadianmu....selain...wajah ayu naturalmu tentunya...tapi saat aku harus mendapati kenyataan kalau aku dipaksa menikahimu untuk imbalan jasamu pada RS...seketika aku sangat marah dan benci padamu....dan sekarang setelah tahu kebenaran yang diungkap Papa...aku menyesal Anin...benar-benar menyesal...tapi sayangnya hal itu tidak diizinkan Papa untuk mengungkapkannya padamu....sedangkan kamu sekarang berkeinginan mengakhiri pernikahan kita....hati dan fikiranku tidak rela,Anin...tapi....aku juga dalam dilema...karena di sisi lain juga ada Rika yang sudah mengisi hatiku sebelumnya....Entahlah...akan bermuara dimana hubungan kita...' monolog Akmal dalam hati.
Membuat senyum sumringahnya mendadak memudar dan memandang Anin dengan pandangan sendu.
'Apa ini Anindya ? Jaga hatimu agar tidak melunak menghadapi laki-laki yang notabene hanya suami terpaksamu....Ingat ! Dia hanya terpaksa menikahimu...Ingat ! Dia sudah punya Suster Rika di hatinya...Jangan sampai kamu terlena dengan sikap manisnya...agar nantinya kamu tidak terlalu kecewa jika sudah bercerai darinya...Kamu sudah memutuskan untuk menyerah berjuang menjaga status menikah terpaksa ini...jadi tetapkan hatimu...minggir dan menyingkir....adalah hal yang paling tepat...' monolog Anin dalam hati sambil menundukkan kepala tak kuasa memandang ke arah Akmal yang ada di depannya.
Anin sudah mengosongkan isi piringnya...lalu dia berdiri hendak mencuci piring-piring kotor di dapur.
Akmal hanya memandangnya dalam diam.....sambil memikirkan rencana apa lagi yang bisa dia lakukan untuk membujuk Anin pulang ke kediaman Wirawan.
"Jadi kapan kita bisa pulang ke rumah ?" tanya Akmal gamang.
"Rumah yang mana ? Inilah rumah dan dunia saya..." jawab Anin.
"Rumah Wirawan...atau kamu mau aku beli rumah untuk kita tempati berdua ?" tanya Akmal memberi pilihan untuk Anin.
"Untuk apa ? Toh pernikahan kita hanya terpaksa...tak ada masa depan di dalamnya...saya juga sudah memutuskan untuk menyerah memperjuangkannya..." kata Anin sambil sibuk mencuci piring di dapur.
Dan Anin terperanjat saat Akmal sudah tiba-tiba ada di belakangnya dan menarik bahunya agar menghadap ke arah Akmal.
Tapi sayangnya Akmal malah terkena percikan sabun dari tangan Anin yang spontan mengibas...tepat mengenai mata Akmal.
"Aduhh ! Perihh !" sambat Akmal sambil mengucek matanya.
"Astaghfirullooh..Tuan Dokter ! Bikin kaget saja,sih ! Jadi refleks mengibas tangan deh.." kata Anin yang buru-buru membilas tangannya dengan air bersih.
"Ini mataku gimana,dong ?" Akmal mengucek matanya.
"Jangan dikucek ! Sini biar saya basuh dengan air bersih..." kata Anin lalu mengambil air bersih dari wastafel...lalu dia gunakan untuk membasuh mata Akmal.
Akmal tampak pasrah menerima perlakuan Anin padanya.
Alhasil Anin dan Akmal harus megikis jarak diantara mereka.
Dengan lembut dan perlahan diusapnya mata Akmal dengan tisu yang dibasahi air bersih.
"Sudah cukup..." kata Akmal menghentikan tangan Anin.
__ADS_1
Rupanya Akmal sudah tidak merasakan perih di matanya lagi.
"Kenapa ? Kenapa menyerah ?" tanya Akmal sambil menahan tangan Anin dan memandangnya interns.
"Yaa...karena saya tidak ingin lebih dalam lagi merasa terluka...saya sadar diri...untuk apa lagi saya berjuang sendiri ? Siapalah saya...apalah status saya...tak ada artinya kan di mata Anda ?" kata Anin dengan suara parau.
"Kalau aku memintamu untuk bertahan dalam pernikahan ini bagaimana ?" tanya Akmal setengah berbisik.
Tetap dalam posisi mereka sebelumnya.
"Untuk apa ? Tak ada ikatan hati diantara kita...pernah ada dari pihak saya...tapi saya sudah memutuskannya segera..." jawab Anin.
"Ikatan hati tidak akan putus semudah itu...biar aku buktikan...." kata Akmal.
Lalu mendadak menarik tengkuk Anindya ke depan...hingga kedua bibir mereka bersentuhan secara lembut...menempel satu sama lain.
Anin spontan membelalakkan matanya mendapat perlakuan seperti itu dari Akmal.
Dengan cepat dia mendorong tubuh Akmal ke belakang...menjauhkan dari jangkauannya...
"Maaf...aku hanya ingin tahu apa yang aku dan kamu rasakan jika kita berdekatan seperti tadi ?" Akmal menggaruk tengkuknya yang seketika meremang.
"Maafkan aku terlalu egois selama ini untuk mengakui kalau rasa itu ada...seperti kata kamu tempo hari...rasa yang tak biasa saat kita bersentuhan kulit...rasa unik seakan tarik menarik di sekitar medan listrik..." kata Akmal
"Sampai sekarang rasa itu tetap ada,Anin...dan itu bukti terikatnya hatiku untukmu...bagaimana denganmu ?" tanya Akmal.
Anin seketika menepis tubuh Akmal dan keluar dari dapur tanpa berkata apa-apa.
"Sudahlah Tuan...jangan dibahas lagi...tak ada gunanya...toh mau dibawa kemana hubungan kita ? Bisaka Anda menjawabnya ? Ingat...Anda sudah ada Suster Rika..." kata Anin.
"Jangan serakah ! Saya sudah mengabaikan semua rasa.yang saya punya pada Anda...kita jalan masing-masing saja..." keputusan Anin.
Tampaknya keputusan Anin sudah bulat dan tidak bisa di ganggu gugat lagi....
Akmal tak berkutik...karena dia tak punya jawaban atas pertanyaan Anin...mau dibawa kemana hubungan mereka nantinya ? Tentu saja dia tidak bisa mengabaikan keberadaan Rika yang sudah mengisi hatinya 4 tahun belakangan ini.
Walaupun kalau boleh jujur...hubungannya dengan Rika belum ada rencana melangkah ke jenjang yang lebih serius...Akmal masih ragu sehubungan dengan tabiat yang dimiliki Rika..
__ADS_1
"Sudahlah Tuan...Anda tidak punya jawaban kan atas pertanyaan saya ? Sekarang pulanglah....saya bisa sendiri.." kata Anin lirih mencoba setegar mungkin.
"Baiklah...aku akan pulang...tapi besok...sekalian berangkat ke rumah sakit..." tampaknya Akmal menyerah.
Setelah perbincangan tadi...Akmal dan Anin saling diam...tak ada lagi percakapan diantara mereka...Anin lebih banyak berada di dalam kamar...sementara Akmal lebih sering di teras dan di ruang tamu.
Hanya sesekali masuk untuk sholat dan mengambil air minum.
Saat waktu makan malam tiba...Akmal mengetuk pintu kamar Anin.
"Anin...waktunya makan malam...kamu ingin makan apa ? Biar saya pesankan atau kamu ingin makan malam di luar bersamaku ?" tanya Akmal.
Tak ada jawaban...Akmal pun berlalu dari depan kamar Anin,kembali duduk di kursi ruang tamu sambil memainkan ponselnya.
Dan sesuatu diluar dugaan Akmal terjadi...Anin keluar dari kamar dengan memakai rok klok panjang warna navy dan berkemeja warna dusty dengan sling bagnya.
Sederhana dan simple tapi tak mengurangi aura kecantikan Anindya yang natural.
Akmal terperanjat melihat Anin di depannya.
"Kamu mau kemana ?" tanya Akmal kikuk.
"Katanya mau ngajak makan di luar...." jawab Anin.
"Oukehh..!" jawab Akmal mantap..dan dia tak ganti baju lagi..tak ingin Anin beruabah pikiran karena menunggu terlalu lama.
Akmal mengenakan celana panjang chino khakhi dan polo shirt warna hitam
Cuss mereka langsung berangkat naik mobil Akmal...
Baru kali ini Akmal merasa begitu bahagia satu mobil dengan Anindya...
'Ya Allooh...hambamu ini makhluk yang dzolim...ampuni hamba-Mu ini Yaa Robb...' kata Akmal dalam hati sambil memandang sendu perempuan yang sekarang duduk di sampingnya saat ini.
"Ya Alloh...hati ini sulit untuk berkeras menolak dia...dia...laki-laki yang berstatus suami terpaksa hamba...pikiran hamba berkata...mungkin ini adalah terakhir kali kami melewatkan waktu bersama....lindungi hamba dari kejahatan hawa nafsu hamba...berikan jalan keluar terbaik menurut Engkau,Yaa Robb...' monolog Anin dalam hati.
Sambil netranya menerawang memandang keluar jendela samping mobil Akmal.
__ADS_1