Tidak Tanpamu

Tidak Tanpamu
TiTan 150


__ADS_3

Sesuai titah Anindya...keesokan harinya Raffa ditemani Papa dan Omnya datang ke klinik Anindya untuk melakukan terapi yang pertama kalinya.


Di pertemuan pertama...Raffa yang memang dari dulu sudah dekat dengan Anindya...tampak nyaman dan rilex menjalani terapi...seperti obrolan dan tanya jawab biasa...tapi dilakukan oleh ahli yang kompeten di bidangnya.


Devan dan Akmal hanya menjadi pendamping juga pengamat saja..


Mereka lebih fokus mengamati Anindya...tanpa saling mengungkapkan,Devan dan Akmal sepakat kalau Anindya sekarang menjelma menjadi wanita yang elegan penampilannya,kompeten dan ahli du bidang yang digekutinya...mempunyai magnet yang begitu kuat untuk menarik perhatian kaum adam.


"Seandainya dulu aku bisa mengendalikan emosi dan tidak langsung percaya dengan yang tampak oleh netraku...." batin Akmal tak lepas memandang Anin.


"Rafa...untuk hari ini cukup dulu yaa kita ngobrolnya...pesan Tante, Rafa harus jadi anak yang ceria seperti dulu...juga jadi anak pemberani...Rafa harus lebih sering cerita ke Papa dan Mama tentang semua suka dan duka Rafa...harus lebih sering ngobrol sama mereka.." nasehat Anindya sambil memegang kedu tangan Rafa yang ada di hadapannya.


"Papa dan Mama sering sibuk dan gak ada waktu buat Rafa,Tante...Om yang sering ngajak ngobrol juga jalan - jalan malah jarang datang ke rumah sekarang..." curhat Rafa.


Akmal dan Devan yang mendengar hal itu menarik nafas dalam...hampir bersamaan.


Akmal memandang iba pada Rafa...sedang Devan melangkahkan kakinya maju mengacak lembut rambut anak semata wayangnya itu.


"Papa janji mulai sekarang akan sering ngajak ngobrol juga jalan - jalan kamu,Sayang..." kata Devan.


Sedangkan Anindya malah larut dengan pemikirannya sendiri...


"Jarang datang ke rumah ? Itu artinya Tuan Dokter sudah tidak tinggal di kediaman Wirawan lagi ? Apa karena dia sudah menikah dan memilih untuk hidup bersama keluarga barunya ? Ahh...masa bodo'...ngapain juga aku kepo..." batin Anin bermonolog.


"Ayo kita keluar Rafa...Tante Anin harus memeriksa pasiennya yang lain...tuhh udah bayak yang menunggu di luar..." kata Devan sambil merangkul pundak sang putra semata wayangnya.


"Emang gak boleh yaa kalau Rafa disini nungguin Tante Anin memeriksa pasien ?" tanya Rafa penuh harap sambil menengadahkan kepalanya ke arah Papanya.


"Jangan doong...pasien Tante Anin nanti terganggu...minggu depan kita kesini lagi..." Akmal yang sedari tadi melihat dari sofa,akhirnya ikut berdiri menghampiri Rafa.


Sambil sesekali mencuri pandang wanita berhijab di hadapannya saat ini.


"Sama siapa ? Sama Om Akmal atau sama Papa ?" tanya Rafa tanpa melepas genggaman tangannya ke Anin.


"Papa usahain selalu ngantar kamu...Om Akmal kan sibuk di rumah sakit..." kata Devan.


"Rafa maunya diantar Om aja....biar bisa jalan-jalan disini sama Tante Anin sekalian,kayak dulu..." pinta Rafa.


Akmal dan Anin saling berpandangan kikuk...Devan apalagi...dia bingung harus berbuat apa.


"Iyaa....apapun keinginan Rafa,Om akan berusaha penuhi...asal Rafa janji...Rafa harus mau sekolah lagi...walaupun homeschooling untuk sementara...gimana,deal ?" negosiasi Akmal pada Rafa.


"Deall..!!" Rafa menjawab dengan antusias.


Anindya tak berkomentar...dia hanya mengelus rambut Rafa...tapi dalam hati,Anin mengutuk perkataan Akmal yang main setuju aja permintaan Rafa...padahal itu menyangkut pribadi orang lain.


"Dasar Dokter reseh ! Main deal deal aja...emangnya aku mau jalan bareng sama situ.." batin Anindya sambil melirik sinis Akmal.


Sedangkan Akmal malah mengulas senyum manisnya yang membuat kaum hawa kesengsem...kecuali Anin yang udah terlanjur eneg sama Akmal tentunya.


Tapi apa mau dikata...untuk saat ini yang terpenting adalah Rafa.


Dan setelah negosiasi parasitisme bagi Anindya...akhirnya Rafa bersedia diajak pulang.


Dan minggu pun berganti minggu hingga berganti bulan...Rafa menjalani terapi seperti instruksi dan sesuai jadwal Anindya...ditemani oleh Papanya...sebenarnya Rafa menuntut janji Omnya untuk menemani terapi...tapi setelah di beri pengertian oleh Papanya kalau Omnya mempunyai pekerjaan penting yang tidak bisa ditinggal...Rafa akhirnya bisa memaklumi.Alhamdulillaah di bulan ketiga,Rafa sudah menunjukkan perubahan yang cukup signifikan.


Kepribadian Rafa sudah kembali ke mode lama yaitu periang...apalagi selama menjalani terapi, Papanya mengajaknya jalan-jalan ke wahana bermain di Jakarta.


Sesekali Anin juga mengajaknya jalan berdua ke mall...sementara Papanya menunggu di kediaman Anin bersama Mbah Rasni.

__ADS_1


Devan juga sudah beberapa kali bertemu dengan Barra.


Oh ya...ngomong-ngomong soal Barra,ada big news tentang Barra dan Ayang...dua kepribadian mereka yang bertolak belakang,yang satu frezer yang satu over extrovert....seiring berjalannya waktu ternyata bisa ngeblend apik dan menbuahkan hubungan yang spesial diantara keduanya..


Yahh...Ayang akhirnya bisa membuat Barra mabuk kepayang...dan Barra membuat Ayang terbakar bara dalam api asmara.


Tentu saja hal ini membuat Anindya bahagia sekaligus lega karena Barra bisa menemukan soulmatenya.


*


*


*


Di RS Bhakti Wirawan...


Akmal tampak berkutat dengan pekerjaannya di ruangannya...tampak beberapa staffnya keluar masuk guna sekedar memberi laporan atau minta tanda tangan darinya.


Ya...beberapa bulan ini adalah saat-saat yang menegangkan bagi Akmal...karena RS akan menjalani audit dari Dinkes...bersamaan dengan itu,ada investor yang menawarkan kerjasama dengan RS.


"Dokter Akmal...ini berkas - berkas yang perlu anda periksa ulang...ini semua berkaitan dengan investor RS kita..." kata Sisyl sekretaris pribadi Akmal.


Wanita yang paling besar beresiko terkena diabetes dan serangan jantung di RS Bhakti Wirawan...karena dia yang paling sering melihat senyum muwwanis juga wajah Akmal yang notabene punya ketampanan akut.


"Baik..taruh di meja saja...nanti akan saya teliiti lagi..." jawab Akmal sambil sekilas memandang ke arah Sisyi dengan melempar seulas senyum khasnya yang membuat jantung jedag jedug.


Karena sebagai atasan...Akmal memang terkenal care dan sopan tapi tetap tegas pada para staffnya...tapi hanya membatasi hubungan yang sifatnya profesional,tidak lebih.


Sisyl juga yang jadi saksi kegagalan upaya sejumlah wanita yang berusaha mendekati Akmal.


Akmal seolah membentengi dirinya untuk menjalin hubungan yang bersifat pribadi dengan para wanita yang menaksirnya.


"Ini bukan RS saya,Sisyl...selama ini saya hanya mendapat amanat untuk mengelolanya...saham saya hanya sebagian kecil di RS ini.." terang Akmal.


"Dulu saya memegang saham terbesar...tapi karena kesalahan fatal saya...saham itu dialihkan oleh Papa ke orang lain...dan saya berharap orang itu sebentar lagi akan mau hadir di tengah - tengah kita...hadir dalam lehidupan saya seperti dulu..." lanjut Akmal.


"Kalau boleh tahu siapa orang itu,Dokter ?" tanya Sisyl penasaran.


"Orang yang spesial bagi keluarga kami..." jawab singkat Akmal.


"Bagi Anda juga ?" Sisyl mulai kepo.


"Sangat spesial bagi saya..." jawab Akmal.


"Wahh...saya jadi penisirin,Dokter...siapa orang yang sangat spesial di hati Anda juga keluarga Anda..." kata Sisyl.


Lagi - lagi Akmal memamerkan seulas senyumnya.


Jantung...jangan banyak tingkah kamu yaa....batin Sisyl karena debar jantungnya kembali jedag jedug menyaksikan senyum atasannya itu.


"Oh ya....sekalian atur jadwal saya untuk satu bulab kedepan...karena saya berniat keluar kota bulan depan ini....usahakan semua urusan beres bulan ini...termasuk berkas - berkas yang harus saya tanda tangani.." titah Akmal.


"Baik,Dokter...saya permisi kalau begitu..." pamit Sisyl yang dijawab anggukan dan senyum tipis Akmal ( untung aja hanya tipis ).


*


*


*

__ADS_1


Di Jakarta...


Anindya masih berkutat dengan kesibukannya sebagai kepala divisi HRD di perusahaan Tuan Dirga juga sebagai psikolog di kliniknya.


Akhir - akhir ini dia disibukkan dengan aktivitasnya di perusahaan...


"Mbak Anin...dipanggil Pak Dirga keruangannya segera..." kata asisten Anindya.


"Oke" jawab Anin lalu bergegas ke ruang Pak Dirga.


"Permisi,Pak..." ucap Anin sambil mengetuk bingkai pintu ruangan atasannya itu.


"Masuk,Anin..." jawab Pak Dirga.


"Begini...sesuai yang saya janjikan...karena kamu sudah berhasil mengantar perusahaan ini dapat deal mega proyek...kamu akan saya angkat menjadi staff tetap di perusahaan ini...silahkan tanda tangani berkas-berkasnya...dan juga mobil mewah keluaran terbaru juga akan segera saya antar ke rumah kamu...tulis juga alamat lengkap kamu di berkas itu,Nona Anindya..." to the point Pak Dirga.


"Begini Pak...soal mobil itu...sebenarnya saya tidak terlalu butuh,mobil yang saya pakai sekarang saja sudah cukup...selain itu rumah saya tidak cukup luas untuk menampung 2 mobil di garasi..." kata Anin.


"Jadi maksud kamu..." Pak Dirga belum ngeh keinginan Anin.


"Kalau Anda berkenan...untuk bonus mobilnya...gumana kalaudiganti cash aja Pak ? Bsa saya pakai untuk keperluan lain..." kata Anin malu- malu.


"Seperti itu....okehh..." Pak Dirga ternyata menyetujui.


"Saya senang kamu mau terus terang mengutarakan keinginan kamu, Anin...disamping cerdas kamu juga berani speak up...bagus...jujur saya sebenarnya ingin mempersunting kamu..." lanjut Pak Dirga yang sukses membuat Anin melongo tak percaya...sekaligus ingin nimpuk kepala atasannya itu.


Wajah Anin berubah ke mode dingin dan jutek.


"Anda kadang kidding,Pak..." kata Anin dengan senyum yang dipaksakan.


"Serius ! Kalau saja Pak Devan tidak bilang kalau kamu sudah punya tunangan di daerah asalmu Jawa Timur sana...saya akan mempersunting kamu untuk jadi menantu saya..." sambung Pak Dirga.


Astaghfirullooh...dosa lho kamu Anin...udah suudzon duluan...kirain mau dipersunting jadi istri ke sekian...batin Anin sambil nyengir sendiri.


"Emang Pak Devan bicara seperti itu ?" tanya Anin meminta penjelasan.


"Iya...dia bilang kenal baik dengan tunangan kamu..emang benar ?" tanya Pak Dirga balik.


"I- iya,Pak..." jawaban pungkas Anin daripada nanti melebar kali memanjang kemana-mana.


Lagian Pak Devan juga ngapain kasih informasi aku udah punya tunangan segala...tapi lebih baik sihh...daripada kasih info ke Pak Dirga aku ini janda dari adiknya...batin Anindya.


Dua hari kemudian...


"Rafa mau nginep aja di rumah Tante Anin,Pa...Rafa kangen tidur dikelonin Mbah Rasni....Papa pulang aja duluan..." rengek Rafa setelah sesi terapi selesai.


"Gak bisa gitu dong,Rafa...nanti Yang Ti juga Yang Kung nanyain gimana ?" bujuk Devan.


"Biar Rafa yang telfon mereka...handphone Papa sini..." kata Rafa.


"Jangan doong...kamu nanti ganggu Tante Anin..." kata Devan kemudian,masih berusaha melarang Rafa.


"Boleh ya Tante Anin...Rafa kangen sama Mbah Rasni...Rafa janji gak akan minta jalan-jalan atau gangguin Tante Anin...Rafa akan diam di rumah sama Mbah Rasni..." rengek Rafa.


"Gak papa Pak Devan...biarin Rafa tetap disini....Anda bisa pulang duluan..." akhirnya Anin mengizinkan karena tidak tega melihat Rafa yang merengek terus.


"Tapi Papa minggu-minggu ini sibuk,Rafa....gak bisa jemput kamu..." kata Devan.


"Tanya Om Akmal,Pa...bisa gak jemput Rafa....atau kalau tidak bisa,Tante Anin sama Mbah Rasni aja yang anterin Rafa pulang...sekalian ketemu sama Yang Uti sama Yang Kung...pasti seru kumpul lagi kayak dulu..." seloroh Rafa yang polos.

__ADS_1


Waduchh...!! Anin dan Devan saling berpandangan.


__ADS_2