Tidak Tanpamu

Tidak Tanpamu
Akmal Kesal.


__ADS_3

Setelah menunggu beberapa lama...


Anin dan Devan tampak keluar dari kantor bank.


Lalu Devan dan Anin berpisah arah..


Anin naik ojol sedang Devan menjinjing tas dan menaiki mobil miliknya.


Dan untunglah Anindya tiba di RS tepat waktu...


Tidak sampai terlambat kembali kerja.


Tapi tak dapat dipungkiri...Anindya terlihat cemas mengingat apa yang sudah dia lakukan bersama Devan barusan.


"Apa yang akan dilakukan Tuan Dokter kepadaku kalau tahu aku mengambil uang dengan jumlah yang tidak sedikit..." gumam Anindya sendiri.


"Anin..." panggil Wisnu.


"Ya ?" jawab Anin...tapi dia spontan terkejut.


"Astaga....! maaf kalau aku sudah mengagetkanmu..." kata Wisnu karena tahu Anin sudah terkejut.


Anin hanya tersenyum kecil.


"Nggak Pak ...ini tadi sedang melamun saja...jadi agak terkejut.." kata Anin.


"Kamu dipanggil Dokter Akmal di ruangannya..." kata Wisnu.


"Saya ? Dipanggil ? Dokter Akmal ?" tanya Anin seperti kurang percaya dengan apa yang dikatakan Wisnu.


"Iya..." jawab Wisnu.


"Dia barusan telfon dari sambungan telfon kantor...waktu kamu belum datang tadi..."


"Iya,Pak..." kata Anindya.

__ADS_1


Lalu Anindya keluar dari ruangan kantor divisi menuju ruangan Akmal.


Anindya mengetuk pintu...


"Masuk..." terdengar jawaban dari dalam.


Anindya melangkah ke dalam ruangan.


Terlihat Akmal tengah duduk di sofa..


"Anda memanggil saya,Tuan Dokter ?" tanya Anindya.


"Iya..." jawab Akmal datar.


Dia masih sibuk menyimak ponselnya.


"Ada yang bisa saya bantu ?" tanya Anin ragu.


Akmal langsung melihat ke arah Anindya dengan tatapan galaknya.


Tak ada sedikitpun tatapan hangat seperti dulu..sebelum mereka terpaksa menikah.


Anindya seketika langsung menurunkan pandangannya ke bawah.


' Kayaknya Tuan Dokter sudah tahu....' batin Anin.


"Ya ! To the point aja...kamu bisa bantu aku untuk menjelaskan ini ?" tanya Akmal ketus sembari menyodorkan selembar kertas.


Anin mengambilnya dari tangan Akmal.


Dan benar saja...


Apa yang ditakutkan Anin akhirnya terjadi.


Kertas tersebut adalah cetak notifikasi dari bank setelah terjadi penarikan uang dari saldo rekening.

__ADS_1


Anindya menarik nafas dalam...bersiap menghadapi amarah Akmal.


"Iya Tuan...saya yang barusan mengambil uang.." kata Anin.


"Hanya itu yang bisa kamu jelasin ?" Akmal menahan amarahnya.


"Tentu saja kamu yang mengambil uang...gak mungkin orang lain lah !....kan kamu yang megang kartu ÀTM-nya...!" seru Akmal galak.


"Lalu apa masalahnya ?" tanya Anin pura-pura bodoh.


"Masalahnya....kamu apain uang jumlah segitu ? Kamu bakar kah ?Atau kamu pakek buat tisu toilet ?" nada suara Akmal meninggi.


Anindya memejamkan matanya karena sadar Akmal mulai kesal padanya.


"Kenapa Anda bertanya uang itu saya apain ? Kan uang itu sudah menjadi hak saya..." kata Anin enteng.


"Hhheheh...Hak kamu ? Yang benar saja...!" kata Akmal geram atas jawaban Anin.


"Iya Tuan...Saya sudah diberi hak penuh atas kartu ATM itu oleh Papa mertua saya...suka-suka saya dong...saya mau apain isinya..." jawab Anin enteng.


Akmal semakin emosi.


"Dasar perempuan licik !" Akmal berdiri dari sofa.


"Kamu fikir uang segitu itu sedikit hah ? Katakan ! Kamu gunakan untuk apa ? Foya-foya dengan dokter bedah itu ?" tebak Akmal.


Anindya langsung terperanjat mendengarnya.


"Jangan melibatkan orang lain dalam hal ini, Tuan..." kata Anin.


"Kenapa ? Dasar perempuan serakah ! Benar kata Rika...kamu udah diberi hati masih minta jantung !" seru Akmal geram.


Anin tersayat hatinya mendengar ucapan Akmal.


"Kamu belum kenal siapa saya rupanya...saya akan ungkap keaslian kamu di hadapan Papa,keluarga dan juga polisi..." ancam Akmal.

__ADS_1


Anin menelan ludah mendengar perkataan Akmal.


__ADS_2