
Mata Anindya terbelalak seakan tak percaya akan apa yang didengarnya barusan.
Barra sudah tampak cemas dan salah tingkah..
"Sorry...sudah membuat kamu shock lagi...di tengah permasalahan kesehatan Mbah Rasni yang kamu hadapi..." kata Barra.
"Tapi percayalah...aku gak ada niat buruk sama sekali.." lanjutnya masih memandang Anin lekat berharap jawaban Anin sesuai harapannya
Sementara Anin masih tak bergeming...dia memandang Barra dengan resah dan tak percaya.
"Maaf,Dokter..." akhirnya Anin bicara.
"Tolong jelaskan pada saya...saya ini sedang berhalusinasi atau salah dengar atau apa ?" tanya Anin bingung.
"Soal apa ?" tanya Barra jadi ikut bingung
"Ucapanku tadi ?"
"Kalau aku jatuh cinta sama kamu ?" Barra mengulang pernyataannya lagi.
"Astaghfirullooh..! Jadi benar yang saya dengar !" Anin baru yakin.
"Iya..itu benar...kamu gak salah dengar.." Barra meyakinkan Anin.
Dia dan Anin saat ini dalam posisi saling berhadap-hadapan di kursi taman depan ruang rawat Mbah Rasni.
"Kalau saya tidak salah dengar...berarti Anda saat ini pasti sedang ngerjain saya,kan ?" tebak Anin.
"Masak aku seusil itu ?" tanya Barra balik.
"Aku serius,Anin..!" seru Barra yang tangannya refleks menggenggam tangan Anin.
Seketika Anin menarik tangannya dari genggaman tangan Barra.
"Maaf...aku refleks barusan.." ucap Barra.
__ADS_1
Barra tahu kalau Anin selama ini tidak pernah mau bersentuhan kulit dengan lawan jenisnya.
"Iya gak pa-pa,Dokter.." jawab Anin.
"Aku gak bercanda...!" seru Barra lagi.
"Tunggu,Dokter...Anda pasti salah memaknai perasaan Dokter pada saya..." kata Anin.
"Maksud kamu gimana ?" tanya Barra.
"Maksud saya..mana mungkin seorang Dokter Barra jatuh cinta pada Anindya si OG ?" kata Anin.
"Aku tidak pernah menilai seseorang berdasarkan strata sosialnya,Anin..." kata Barra datar.
"Karena kamu berbeda...kepolosanmu..ketegaranmu...kegigihanmu...dan cara kamu menyikapi saat dalam masalah...membuat aku salut dan kagum.."
"Kamu juga perempuan cerdas dan cakap..tidak hanya pintar.." penjabaran Barra.
"Terimakasih atas penilaian Dokter...walaupun itu semua terkesan berlebihan dan jauh dari pribadi saya...tapi tolong Dokter tilik kembali perasaan yang Dokter rasakan pada saya..." kata Anin sopan dan menjaga perasaan Barra.
"Biar saya bantu mengartikannya...Anda itu merasa iba,merasa kasihan pada saya...karena kemalangan yang saya alami..." kata Anin.
"Anda itu orang baik,Dokter..makanya Anda gampang bersimpati dan berempati...apalagi melihat perempuan malang seperti saya.." kata Anin.
"Aku ingin menjadi pelindungmu...menjadi pengayommu...menjadi sandaranmu,Anin..".kata Barra berusaha
membuat Anin yakin akan perasaannya.
"Ya memang seperti itu selama ini yang saya rasakan,Dokter...Anda adalah pelindung saya..penyelamat saya...sosok yang bisa saya andalkan saat saya membutuhkan bantuan..." kata Anin tetap menjaga perasaan Barra.
"Tapi saya lebih memaknai perasaan yang saya miliki kepada Anda yaitu seorang kakak laki-laki kepada adik perempuannya..." tegas Anin.
Deng deng...!!!
Barra seketika merasa lemas mendengar penjelasan Anin.
__ADS_1
"Jangan sampai Anda menyesal,Dokter...di luar sana banyak perempuan yang menunggu cinta Dokter...mereka jauh lebih baik daripada saya..." Anin berusaha membuat Barra sadar kalau dia salah.
"Nggak akan...dan akan aku buktikan kalau perasaanku padamu ini tulus dan benar adanya...bukan seperti persepsi kamu...beri aku kesempatan..." pinta Barra.
"Tapi saya lebih nyaman hubungan kita seperti ini saja,Dokter..." kata Anin.
"Kenapa ? Apa ada laki-laki lain di hati kamu ?" tanya Barra.
Deggh...!!
Anin seketika terkesiap...
' Seandainya status saya saat ini bukan seorang istri...mungkin saya akan gembira dan mempertimbangkan pernyataan cinta Dokter pada saya...tapi kenyataannya berbeda...' Anin berkata dalam hati.
"Belum ada...tapi ada satu alasan yang saat ini masih belum bisa saya katakan pada Anda..." jawab Anin datar.
"Kalau memang belum ada...izinkan aku berusaha menjadi bagian dari isi hatimu...aku akan berusaha buktikan pada kamu kalau aku benar-benar cinta pada kamu..." ucap Barra tegas.
"Jangan,Dokter..! Jangan sia-siakan waktu, tenaga dan perasaan Dokter untuk saya...percayalah !! Saya bukan orang yang pantas untuk Dokter..." seru Anin melarang Barra.
"Setidaknya katakan alasan kenapa kamu tidak pantas untukku...selain masalah strata...kalau alasanmu itu masuk akal dan benar...maka aku akan berhenti membuktikan cintaku padamu..." kata Barra.
"Tapi..." kata Anin tak berlanjut.
"Aku pulang dulu...atau kamu mau aku antar pulang ke rumah Pak Wirawan sekalian ?" selat Barra.
"Ee tidak...biar saya pulang sendiri saja..." jawab Anin.
"Baiklah...sampai bertemu lagi besok.." pamit Barra.
Anin hanya mengangguk karena tidak tahu harus berkata apa lagi.
Entah kenapa jantungnya berdetak kencang sekali saat ini.
Dan tampaknya Barra bersikukuh untuk membuktikan kebenaran dan ketulusan perasaan cintanya pada Anin.
__ADS_1
Dan setelah Barra meninggalkan Anin sendiri di kursi taman...Anin menarik nafas dalam seperti lepas dari himpitan yang berat.
"Ya Alloh Gusti..apa lagi ini ? Apa yang harus hambamu ini lakukan ?" gumam Anin sendiri.