Tidak Tanpamu

Tidak Tanpamu
Pertemuan Di Bandara.


__ADS_3

Anindya menarik nafas lega begitu keluar dari aula...buru-buru dia menuju ruang kerjanya...sesekali dia menoleh ke belakang...khawatir Devan membuntuti di belakangnya.


Anindya bersyukur kekhawatirannya itu tak terjadi.


Dia buru-buru masuk ruangan dan menutup pintunya...tubuhnya dia sandarkan di daun pintu sambil setengah menengadah dan memejamkan mata.


Mengatur nafas dan menyingkronkan hati juga pikirannya..karena sampai detik ini Anindya masih shock akan pertemuan tak terduganya dengan Devan Wirawan.


"Kenapa aku tak mengira sebelumnya kalau mitra perusahaan dari Jatim itu adalah perusahaan Pak Devan.." gumam Anindya lirih.


"Itu artinya aku harus mempersiapkan hati dan diri untuk pertemuan kami selanjutnya...karena ini berkaitan dengan perusahaan...aku harus profesional...tidak mungkin menghindar..." lanjutnya.


Setelah 5 tahun dia berusaha mengubur masa lalunya...tiba-tiba saja penggalan masa lalu itu muncul di hadapannya secara tak terduga...


Lima tahun yang lalu...pengalaman hidupnya mendasari Anindya memilih jurusan psikologi untuk bisa mengatasi trauma.


Sekuat apapun Anindya... usianya masih labil saat itu..syukurlah ada Mbah Rasni yang senantiasa menjadi pelipur lara bagi Anindya...petuah dan nasihatnya selalu bisa menyejukkan hati dan fikirannya...juga belaian dan pelukan sayangnya membuat Anindya sejenak lupa derita hidupnya.


Profesi sebagai psikolog yang ditekuninya saat ini sukses menjadi self healing bagi Anindya.


*


*


*


Dua hari kemudian...


Devan masih ada di Jakarta dalam rangka perpanjangan kontrak kerja dengan perusahaan plastik milik Pak Dirga...dan saat ini dia sedang ada di sebuah SPBU untuk mengisi bahan bakar mobilnya...semua berjalan biasa saja sampai sesaat kemudian netranya menangkap pemandangan yang baginya luar biasa.


Dari tempatnya berhenti...Devan melihat seorang wanita di dalam sebuah mobil yang sedang terbuka kaca jendela depannya,sedang mengulur sejumlah uang pada petugas SPBU,posisinya tepat di sebelah kirinya,hanya berjarak puluhan meter...wajah wanita anggun itu sukses membuat Devan menyunggingkan senyuman.


Seketika dia memutar balik mobilnya...mengurungkan niatnya untuk mengisi bahan bakar...lalu Devan mengikuti mobil wanita itu...agak jauh...takut wanita itu curiga.


Sekitar 20 menitan berjalan...wanita itu membelokkan mobilnya ke sebuah rumah...Devan berhenti memastikan sampai mobil wanita itu melewati pagar dan masuk ke rumah.


"Jadi itu rumah kamu ? Aku menemukanmu Anin,aku bersyukur sekali...walaupun aku belum tahu hal apa yang akan terjadi kedepannya nanti..." gumam Devan.


Sebenarnya Devan ingin sekali masuk ke rumah yang sedang dipandanginya dari jauh sekarang...tapi keinginan itu dia tepis,karena Devan merasa saat ini bukan waktu yang tepat.


Lalu dia memutar mobilnya...menuju SPBU tadi,kemudian ke hotel tempatnya menginap.


*

__ADS_1


*


Keesokah harinya...


Agenda Devan hari ini adalah rapat dan sarapan bersama tim di restoran hotel guna mengambil keputusan bersama mengenai perpanjangan kontrak kerjasama perusahaannya bersama perusahaan Pak Dirga.


Sementara di tempat lain....Akmal sedang dalam perjalanan ke Jakarta untuk menemui Devan...karena ada hal mendesak.


Akmal berangkat pagi-pagi sekali dengan penerbangan pertama...setelah sebelumnya ke RS dulu membereskan segala sesuatu yang jadi tanggung jawabnya sebagai pimpinan RS.


Di sisi lain...Anindya juga ada di bandara Soetta pagi ini...setelah sebelumnya meminta izin datang terlambat ke kantor karena ada urusan penting hari ini.


OMG !! Akmal dan Anindya ada di tempat yang sama...!!


Akmal dan Anindya sama-sama berada di lobi bandara...tapi posisi mereka berjalan berlawanan arah di tengah-tengah hiruk pikuk dan lalu lalang banyak orang di lobi bandara.


Akmal menyeret koper kecil di tangan kanannya,sedang tangan kirinya memegang handphone dan melakukan panggilan pada seseorang.


"Hallo ?? Oh sudah sampai ? Baik,saya segera ke parkir area...tunggu sebentar.." Akmal bicara dengan sopir taxi online yang dipesannya.


Sedang netra Anindya memindai seluruh sudut lobi...mencari seseorang rupanya.


Sesaat kemudian...mimik wajahnya seketika berubah...kaget dan speechless dengan apa yang dilihatnya...dan tanpa dia sadari...sudut netranya terlihat basah karena lelehan air mata.


"Apa kabar Anindya ?" tanya pria di hadapan Anindya.


"Aku...sangat jauh lebih baik dari terakhir kali kita bertemu..." jawab Anindya.


"Tampak jelas sekali dari yang kulihat sekarang...kamu makin glow up..anggun..dan kharismatik..juga cantik..perfect dengan hijab kamu..." puji pria itu.


"Cukup pujian-pujiannya...satu hal yang aku takutkan...kamu melupakan status kita selama ini...aku ini adik kamu lho !!" seru Anindya pada pria yang ternyata Barra.


"Wkwkwk...do'ain aja aku nggak khilaf...apalagi melihat kamu sekarang semakin cantik begini..." canda Barra.


"Aku punya keyakinan penuh pada kakakku ini...btw tenang aja Kak...aku udah cariin pawang kok buat Kak Barra..." kata Anindya riang sekali.


"Pawang pawang...orang gak ada hujan gak ada angin...Yuk ngobrolnya sambil jalan..." jawab dan ajak Barra.


Dan mereka berjalan ke area parkir menuju mobil Anindya.


"Pawang cinta...buat sang ular jantan jomblo..." goda Anindya.


"Lagian...lama di luar negeri masak gak ada satupun yang nyangkut di hati ??" lanjut Anindya.

__ADS_1


"Idihh sok tahu !! Nyangkut nyangkut emang utang...nyangkut..!!" Barra menggerutu sambil berjalan beriringan dengan Anindya...sambil keduanya mengulas senyum riang.


Perpisahan mereka memang cukup lama...kurang lebih 3 tahun yang lalu..Barra memutuskan meneruskan program spesialis dokter bedahnya di LN...di samping itu dia juga sambil bekerja di rumah sakit disana.


"Tunggu..." kata Barra menghentikan langkahnya sesaat sebelum masuk mobil Anindya.


"Aku ingin bilang sesuatu sama kamu...aku bahagia,senang,bangga...melihat sosok Anindya yang sekarang...jauh lebih baik dari sosok Anindya yang dulu aku kenal...lebih periang, lebih energik,lebih percaya diri,lebih sukses,daaan....lebih cantik..." papar Barra sambil memandang lekat ke wajah Anindya.


"Semua ini juga karena dukungan seorang Kakak yang hebat sepertimu...Kak Barra adalah suppot sytemku selain Mbah Rasni..." kata Anindya berkaca-kaca.


"Kamu yang hebat,Anin...pengalaman hidupmu yang getir tidak membuatmu putus asa dan lemah..justru menjadikanmu tangguh dan mau bangkit menuju kesuksesanmu seperti sekarang..." kata Barra.


"Ahh...seandainya saja statusku bukan kakakmu...!!" goda Barra sambil masuk ke mobil Anindya.


"Isshh...! Mulai deech...becandanya...gak lucu tahu...!" Anindya megerucutkan bibirnya dan menghentakkan kakinya beberapa kali karena digoda Barra...setelah itu dia masuk ke mobilnya juga...di kursi kemudi.


Sementara itu sudut lain area parkir...Akmal masuk ke taxi yang dipesannya sejak turun dari pesawat tadi.


Tujuan Anindya ke rumah Barra...lalu lanjut ke kantor...sementara tujuan Akmal ke hotel tempat Devan menginap.


*


*


Akmal sampai di lobi hotel...lalu menelfon kakaknya,Devan.


Beberapa saat kemudian Devan tampak menjemputnya di lobi hotel....untuk kemudian mengajak Akmal menuju kamarnya.


"Koq kamu gak ngabari aku dulu kalau mau ke Jakarta juga ?" tanya Devan heran setelah di dalam kamar hotel.


"Iya...karena ada hal penting dan mendesak jadi aku kesini...." jawab Akmal.


"Aku disuruh Mama nyusulin kamu ke Jakarta...karena..." kata Akmal lagi tapi kali ini tak berlanjut.


"Karena apa ??" Devan mulai khawatir.


"Karena Rafa..." kata Akmal lagi.


"Rafa kenapa ?" tanya Devan meninggikan intonasi suaranya.


"Rafa sakit..." jawab Akmal singkat.


"Astaga !! Sakit apa dia ??" Devan tambah panik.

__ADS_1


__ADS_2