
Anindya tak segera menjawab pertanyaan dari Akmal.
Dia mengalihkan pandangan dan perhatian dengan membolak-balik berkas perjanjian di tangannya.
"Bodohnya aku...!! Sudah terlihat jelas kalau kamu dalam keadaan sangatt baik sekarang..." kata Akmal.
"Bukan bodoh lagi...dungu tepatnya..." kata Anindya yang sayang hanya dia ucap di dalam hati saja.
"Maafkan aku,Anindya..." kata Akmal dengan suara parau menahan pedih.
Ingin rasanya Akmal saat ini merengkuh tubuh ramping Anindya.....meluapkan segala rasa yang selama ini dia simpan...tapi dia tahan mengingat ini tempat umum..
"Jadi ? Bagian mana yang harus saya jelaskan ulang ?" tanya Anin lagi seakan tak peduli semua perkataan Akmal.
"Kalau tidak ada....saya permisi...." kata Anin dan berdiri dari kursinya.
"Tunggu,Anin...!!" Akmal spontan meraih jemari wanita yang dulu sudah dibuatnya terluka hatinya.
'ZZRRTTZ....!!'
Sensasi aliran listrik halus kembali mereka berdua rasakan dan mimik wajah terkejut keduanya tampak jelas terlihat...tapi hanya sekejap...karena Anindya segera menarik tangannya dijauhkan dari jangkauan Akmal.
"Jaga tangan Anda ! Jangan seenaknya menyentuh saya...kita bukan muhrim..!" seru Anin dengan suara penuh menekanan.
"Maaf..aku spontan...eee...reflex tadi.." ucap Akmal lirih.
Dia merasa sekarang bukan waktu yang tepat untuk menjelaskan status pernikahan mereka pada Anindya.
"Mendingan Anda pulang dan menyerahkan berkas perjanjian ini pada Pak Devan...jangan memaksakan sesuatu yang bukan bidang Anda...hanya karena ingin melihat seseorang dari masa lalu Anda...Anda beralih profesi dari seorang dokter menjadi pengusaha..." kata Anindya masih tetap dengan posisi berdiri.
"Alhamdulillaah...perkataan kamu barusan membuatku lega...berarti kamu tidak benar-benar lupa padaku..." Akmal menatap sendu Anindya dengan sedikit menengadah dari posisi duduknya sekarang.
Anindya terhenyak....merasa tertangkap basah dengan perkataannya sendiri.
"Aku memang bodoh ! Mana mungkin Pak Devan tidak memberitahu Anda pertemuan denganku...dan soal Anda Tuan Dokter Akmal Wirawan...andai saja bisa...akan saya hapus memori saya yang ada kaitannya dengan Anda... Tuan Dokter reseh....." papar Anindya dengan menggebu-gebu penuh emosi.
__ADS_1
"Aku kangen dengan sebutan itu darimu...Syukurlah aku bisa mendengarnya lagi saat ini..." lagi dan lagi,Anindya terjebak dengan kata-katanya sendiri.
Dia memalingkan wajahnya menutupi kegugupannya.
"Tapi kamu salah soal Kak Devan...dia sudah menepati janjinya padamu...dia sama sekali tidak memberitahuku soal pertemuannya denganmu...Kak Devan terpaksa harus kembali ke Jatim karena Rafa masuk RS...." papar Akmal.
"Rafa sakit apa sampai masuk RS ?" tanya Anindya tapi hanya sebatas dalam hatinya.
"Tapi dia juga tidak ingin mempercayakan deal contract ini pada sembarang orang....terpaksa aku yang notabene keluarganya...dia suruh menggantikannya...aku pun sebenarnya menolak keras....tapi demi Rafa akhirnya aku turuti juga keinginan Kak Devan...dan pertemuanku dengan kamu di ruang kerja Pak Dirga...benar-benar kejutan besar bagiku, Anindya...." lanjut Akmal.
"Maafkan aku..." kata Akmal lagi dengan suara parau.
"Kenapa Anda minta maaf pada saya ?" tanya Anindya dengan nada cibiran.
"Aku ini memang dungu...tolol...bego...hingga mengusir kamu waktu itu...itu semua berawal dari sangkaanku yang melihatmu masuk kamar hotel berdua dengan Barra...aku pikir kalian selingkuh di belakangku...jadi aku kecewa padamu dan tanpa iba tega mengusir kamu....tapi belakangan aku mendapati kebenarannya....dari Tantenya Barra...yang datang mencari Barra ke RS waktu itu...dia memberi penjelasan padaku yang membuat aku menyesali perbuatanku mengusirmu....wanita yang aku sayangi...yang sangat aku cintai..." panjang lebar Akmal.
"Stop...!! Tidak usah dibahas lagi...tidak ada gunanya juga,kan ?? Semua sudah berlalu..." sela Anindya.
"Aku menyesal,Anin....benar-benar menyesal..." kata Akmal dengan raut wajah sendu.
"Kalau tidak ada hal penting....sebaiknya kita segera bergabung dengan yang lain...sebelum mereka menaruh curiga pada kita..." lanjutnya tegas.
Lalu dia melangkah menuju timnya...mengabaikan Akmal yang masih tetap.duduk di kursinya...memandangi kepergian wanita yang membuat hari-harinya selama 5 tahun belakangan diliputi penyesalan tak berkesudahan.
Sekarang dia sangat lega telah bertemu dengan Anindya...lega karena mendapati kalau Anindya jauh lebih baik kehidupannya ketimbang dulu...lega karena bisa mengutarakan permintaan maafnya pada Anindya...walau Akmal sadar kalau kesalahan yang dia lakukan bakal sulit termaafkan oleh Anindya.
"Aku akan berjuang mendapatkan pengampunanmu...Aein.." gumamnya lirih.
Dan makan siang bersama pun berjalan lancar...diselingi obrolan-obrolan ringan didalamnya.
Sebagai pimpinan perusahaan yang berharap deal perpanjangan kontrak dari perusahaan Devan yang diwakili Akmal saat ini....Pak Dirga selalu berusaha mendekati dan mencari topik pembicaraan dengan Akmal...Akmal meladeninya tapi netranya tetap mencuri-curi pandang pada Anindya yang agak jauh dari posisinya duduk sekarang...bersebrangan meja dan berkumpul dengan para staff wanita....yang justu mayoritas dari mereka mengelu-elukan ketampanan seorang Akmal Wirawan...kecuali Anindya.
Akmal sebenarnya juga ingin mengorek informasi dari Pak Dirga perihal Anindya...tapi ditahannya,karena dia sadar posisinya saat ini hanya sebagai wakil Kakaknya.
Dia memutuskan akan mencari tahu sendiri informasi tentang Anindya...wanita yang sejatinya masih istri sahnya.
__ADS_1
Setelah acara makan siang dan bercengkrama sejenak...tim Akmal pamit meninggalkan perusahaan Pak Dirga...semua staff khusus ikut mengantar kepergian tim Akmal di pintu utama gedung kantor,dimana mobil tim Akma terparkir...tapi Anindya tidak tampak diantara mereka.
"Kemana Anidya ? Aku tidak melihatnya..." gumam Akmal dalam hati sambil berpamitan dengan Pak Dirga dan staffnya.
Dan Akmalpun masuk ke mobil dengan perasaan kecewa.
Sementara di tempat lain,tepatnya di ruang pribadinya...Anidya sedang berdiam diri duduk di belakang meja kerjanya.....larut dengan pikirannya sendiri.
"Kenapa seperti ini Ya Alloh...hamba sudah berusaha menghapus dia dari memori hamba...tapi malah sekarang hamba harus bertemu lagi dengannya..." batinnya sambil berkaca-kaca netranya.
Semua kejadian yang berhubungan dengan pria yang notabene suami paksaannya dulu kembali berseliweran di kepalanya....hingga akhirnya Anindya hanya mampu memejamkan mata berusaha menyudahi kilas balik di kepalanya saat ini...dan kembalo menyibukkan diri dengan pekerjaan di meja kerjanya.
Tak terasa...waktu pulang tiba.
Anindya keluar dari ruangannya dan berjalan menuju area parkir...dengan sesekali bertegur sapa dengan orang-orang yang dijumpainya.
Dan sosoknya pun selalu sukses menjadi perhatian kaum adam...baik yang dia kenal ataupun tidak.
Penampilan anggun dan elegannya menjadi penyempurna anugerah wajah ayu natural yang dimilikinya.
Setelah sampai di mobilnya...dia segera masuk dan melajukannya, menuju rumahnya.
Beberapa saat kemudian dia pun sampai di depan pintu gerbang rumahnya...setelah membunyikan klakson,security keluar tampak membuka pintu gerbang untuknya.
Dan pemandangan itu juga dilihat oleh seseorang di seberang jalan agak jauh dari rumah Anindya.
Seseorang itu tak lain dan tak bukan adalah Akmal Wirawan.
"Sabaar Akmal...jangan ikuti keinginan otakmu untuk memasuki rumah itu..." batinnya meronta mencoba menghalau kehendak otaknya.
Walaupun begitu...dia sudah cukup senang karena sudah berhasil mengetahui kediaman Anindya....dia yang tadi selepas rapat singkat dengan tim yang dipimpinnya mewakili Kakaknya,memutuskan untuk kembali ke area perkantoran perusahaan Pak Dirga.
Bertanya sana-sini...mencari seseorang yang mengenal Anindya....hingga dia berhasil mengorek informasi dari seorang pegawai kafe di depan kantor,dengan memberikan sejumlah uang pada pegawai itu,Akmal berhasil mengetahui jenis,warna dan plat nomer mobil yang biasa dipakai Anindya.
"Sekarang tinggal mencari kesempatan untuk bisa bertemu denganmu lagi....secara pribadi...aku tidak akan menyia-nyiakan kesempatan yang Alloh berikan ini...untuk menebus segala kesalahanku padamu..." gumam Akmal masih tetap di belakang kemudi mobilnya.
__ADS_1