
Air matanya meleleh di sudut mata.
"Keluar dari sini ! Aku muak melihat wajah kamu !" bentak Akmal.
Lagi-lagi Anin terkesiap mendengarnya...
Anin hanya bisa menunduk...
Tak kuasa mengeluarkan sekecap kaca pun....
Dia berhambur keluar dan meneruskan langkah ke lift...
Berlanjut menyusuri koridor ruang Mbah Rasni dirawat..
Anin memakai baju steril dan membaringkan wajahnya di samping ranjang Mbah Rasni.
Berniat menumpahkan segala sesak di dadanya...di pangkuan wanita kesayangannya...
"Apa ini Mbah...kenapa Anin begitu lemah sekarang...saat orang lain yang menghardik dan berkata kasar pada Anin...Anin masih bisa menahannya...tapi ini....kenapa sakit sekali rasanya....kalau hardikan dan kata kasar itu keluar dari mulut dia..Tuan Dokter reseh..." Anin berbicara sendiri sambil sesenggukan menangis.
Untuk beberapa saat...dia belum ingin beranjak dari ruangan Mbah Rasni...
Walaupun wanita di depannya tak pernah merespon.
Tapi dia sadar kalau sekarang masih jam kerja...jadi dia memilih menyudahi kenyamanannya bersama Mbah Rasni.
Anindya kembali ke ruang divisi poli nutrisi dan gizi.
Setelah berusaha menutupi mata sembabnya dengan cuci muka terlebih dahulu dan menyapukan bedak tipis di wajahnya.
__ADS_1
"Jadi ada keperluan apa Dokter Akmal memanggil kamu,Anin ?" tanya Wisnu.
Mereka sudah berada kursi belakang meja masing-masing.
"Minta di belikan ATK,Pak...karena sudah banyak yang mau habis.." jawaban Anin.
"Oooh...aku khawatir kamu kena marah lagi..." kata Wisnu.
Anindya hanya merespon dengan menyunggingkan satu sudut bibirnya.
' Gusti...siapkan hambamu ini menghadapi segala yang akan terjadi setelah ini..." gumam lirih Anin sambil menghela nafas panjang.
Dan jam pulang pun tiba...
Anin seperti biasa...naik Mbak ojol langganannya.
Dan sesampainya di kediaman Tuan Wirawan...
Dari pandangan mereka...yang tampak paling jutek adalah Tania..
Nyonya Mira hanya memandang Anin datar...begitupun Tuan Wirawan.
' Kemana Kak Devan dan Tuan Dokter ?' Anin bertanya dalam hati.
"Lihat Pa ! Ternyata Papa selama ini memelihara anak macan di rumah ini...sekarang dia mulai menunjukkan cakarnya pada kita...!" cerocos Tania.
Tak sungkan pada Papa dan Mama mertuanya.
"Anin...Papa mau bicara padamu..." panggil Tuan Wirawan.
__ADS_1
Anin berjalan memenuhi panggilan Papa mertuanya.
"Iya,Pa..." kata Anin.
"Papa dapat cerita dari Akmal..." Tuan Wirawan tak meneruskan kata-katanya..
"Iya,Pa.." kata Anin lagi.
"Tolong ceritakan kepada kami di sin...kami ingin dengar penjelasan langsung dari kamu..." sambung Tuan Wirawan.
"Saya mengambil uang dar kartu ATM no limited Tuan Dokter sebesar 1 milyar.." kata Anin sambil menundukkan kepalanya.
"Jadi benar yang dikatakan Akmal...! Dasar kamu perempuan tak tahu diuntung..! Udah bagus kamu ditampung disini...malah bikin ulah...tak tahu diri !" damprat Tania.
"Sudah cukup Tania...jaga bicara kamu..." kata Tuan Wirawan datar.
Tania langsung sewot mendengarnya...
"Kamu butuh uang sejumlah itu untuk apa,Anin ?" tanya Tuan Wirawan.
"Untuk keperluan pribadi saya,Pa.." jawab Anin.
"Ya kepentingan pribadi lah...tapi untuk apa ?" sahut Tania geram.
Anin memandang sekilas ke Tania...
' Seandainya saja bisa kuceritakan pada Papa tentang keluh kesah Kak Devan tentang Kak Tania...' Anin berkata dalam hati.
"Uang sejumlah itu bukanlah jumlah yang sedikit,Anin...ceritakan pada Papa dengan gamblang uang itu kamu gunakan untuk apa ?" tanya Tuan Wirawan.
__ADS_1
"Kalsu kamu jujur...Papa tidak akan marah...tapi kalau kamu bohong...Papa bisa-bisa marah besar sama kamu.." lanjut Tuan Wirawan.
Anin tidak bisa berkata apa-apa...