
Dan begitu jam istirahat tiba...Anindya bergegas keluar dari gedung utam RS...
Dia memanggil Mbak ojol langganannya dan menuju sebuah tempat.
Dan rupanya tempat tujuannya kali ini adalah kantor bank.
Dan yang lebih mengejutkan lagi...di luar kantor bank tujuan Anindya itu...terlihat Devan yang sudah menunggu sejak tadi.
Anin turun dari sepeda motor lalu menghampiri Devan...dan masuk ke dalam kantor bank bersama.
Tapi di luar dugaan Anindya dan Devan...ada orang yang sedang membuntuti mereka dari jauh...dan mengambil foto mereka berdua dari kejauhan juga.
FLASH BACK...
"Anindya..." panggil Devan pada Anindya saat Anindya menemani Rafa belajar di ruang tengah.
"Iya Kak ?" jawab Anin.
"Ada yang ingin aku bicarakan denganmu..." katla Devan canggung.
"Soal apa ya,Kak ?" tanya Anin penasaran.
Lalu Devan duduk di sebelah Anindya.
"Aku butuh bantuan kamu..." kata Devan.
"Apa yang bisa saya bantu,Kak ? Katakan saja..." kata Anindya.
"Aku butuh kartu ATM no limited kamu,Anin..." kata Devan lirih.
"Maksud Kak Devan ?" tanya Anin belum bisa menebak arah bicara Devan.
__ADS_1
"Dengan kata lain...aku butuh uang di ATM no limited kamu..." kata Devan
"Untuk keperluan apa,Kak ? Kalau saya boleh tahu..." tanya Anin.
"Begini ceritanya Anin..." Devan mulai bercerita.
"Tiga hari lagi...akan ada audit di perusahaan kita..semua itu imbas dari laporan keuangan yang baru-baru ini dilaporkan mengalami minus..." kata Devan.
Anindya sementara ini hanya bisa menyimak penjelasan Devan.
"Dan...minusnya pendapatan perusahaan itu...aku ikut bertanggung jawab..." Devan mulai ragu untuk melanjutkan ceritanya.
"Kenapa bisa begitu ?" tanya Anin.
"Karena...selama ini aku memakai uang perusahaan tanpa pembukuan yang jelas..." kata Devan akhirnya.
Anindya tampak sedikit shock...tapi berusaha dia sembunyikan.
"Kalau boleh tahu...Kakak gunakan untuk apa ?" tanya Anin.
"Untuk memenuhi keinginan istriku Tania dan untuk suntikan dana perusahaan Papa mertuaku..." jelas Devan.
"Kenapa bisa begitu,Kak ?" telisik Anin.
"Tania sangat konsumtif orangnya...dia selalu membeli barang-barang branded yang sebenarnya tidak dia perlukan...." kata Devan.
"Dan dia juga sering diminta Papanya untuk meminta suntikan dana perusahaan padaku..." lanjutnya.
"Tolong aku Anin...aku harus mengembalikan uang perusahaan sebelum audit itu dilakukan..." sambung Devan.
"Lalu berapa banyak uang yang Kak Devan butuhkan ?" tanya Anin.
__ADS_1
"Kira-kira 1,5 milyar.." jawab Devan.
Jawaban Devan sukses membuat Anin membelalakkan mata dan mengangakan mulutnya.
"Astaghfirullooh...! Itu banyak sekali,Kak..." kata Anin.
"Aku udah ada 500 juta...kurang 1 milyar lagi..." kata Devan.
"Dan satu-satunya jalan adalah dengan menarik uang dari ATM yang diberikan Akmal pada kamu.." kata Devan.
"Tapi...gimana caranya ?" tanya Anin.
"Melakukan pengambilan uang lewat kantor bank..." jawab Devan.
"Bagaimana ? Apa kamu bersedia membantuku ?" tanya Devan lagi.
"Tapi jangan sampai orang selain kita tahu..." sambung Devan
"Tapi Kak...saya takut nanti Tuan Dokter tahu dan mengira saya yang gunakan uang itu..." kata Anin.
"Itulah resikonya Anin...tapi aku tidak tahu lagi bisa memperoleh uang dari mana lagi..." keluh Devan.
Anindya menangkap wajah putus asa pada diri Devan.
"Baiklah Kak...saya siap membantu Kakak..." jawaban Anin.
"Sungguh Anin ?" tanya Devan.
"Aku janji akan segera mengembalikannya dengan menjual aset pribadiku..." kata Devan.
FLASH BACK END.
__ADS_1