Tidak Tanpamu

Tidak Tanpamu
Tamu Untuk Menantu.


__ADS_3

Anin sudah berada di anak tangga bagian tengah dan bisa melihat siapa yang ada di ruang tamu saat ini bersama Papa mertuanya.


Alangkah terkejutnya dia...


"Dokter Barra ?" Anin seakan tak percaya dengan penglihatannya saat ini.


"Nah itu dia Anin sudah turun...kalau begitu saya tinggal dulu ya...silahkan ngobrol...biar saya panggilkan Akmal untuk menemani kalian..." kata Tuan Wirawan.


Di fikirannya terbesit rasa cemas saat ini...karena Anin yang berstatus sebagai menantunya itu didatangi laki-laki saat hari sudah menjelang malam begini.


Anin tersenyum kaku pada Papa mertuanya itu..


"Hai..." sapa Barra memecah kekakuan diantara mereka.


Anin melempar senyum tipis...


"Maaf aku mengganggu dengan bertamu malam-malam begini.." sambung Barra.


"Ada keperluan mendesak apa hingga membuat Dokter malam-malam datang kesini ?" tanya Anin sehalus mungkin.


"Yaa...gak ada..." jawab Barra terlihat bingung juga.


"Aku tadi lewat dekat sini..jadi sekalian mampir aja gitu..gak boleh ya ?" tanya Barra.


"Tentu saja boleh Dokter...saya malah senang Dokter mau berkunjung...tapi saya tadi sempat kaget juga..saya berfikir Dokter bawa kabar tentang Mbah saya..." penjelasan Anin.

__ADS_1


"Enggak kok...ee...kalau aku boleh jujur..aku cuma pengen lihat keadaan kamu di rumah Pak Wirawan..." kata Barra.


"Dan juga entah kenapa...aku merasa gak tenang aja setelah aku ngutarain perasaanku sama kamu sore tadi..." sambungnya.


"Aku takut kamu marah dan ngejauhin aku karena itu.." kata Barra dengan tatapan sendunya pada Anindya.


"Ehemm..." Akmal turun dari tangga menuju ruang tamu dimana Barra dan Anin berada.


FLASH BACK..


Saat Anindya tergesa turun ke bawah...


Akmal melihat ke bawah dari balkon dalam depan kamarnya...tepat ke ruang tamu.


Dari atas terlihat Papanya dan seorang laki-laki mengenakan sweater navy dan celana jeans warna senada...


Tak lama kemudian...


Papanya mendatanginya...


"Ada Dokter Barra ya di bawah,Pa ?" Akmal menyapa duluan Papanya.


"Iya.." jawab Tuan Wirawan singkat.


"Kamu ke bawah juga sana...temanin Barra dan Anin ngobrol..." perintah Tuan Wirawan.

__ADS_1


"Idih...ngapain Pa ?" tolak Akmal.


"Gak mau ah..! Biarin aja mereka ngobrol berdua...Akmal gak mau jadi obat nyamuk !" sambungnya.


"Kamu itu gimana ? Anindya itu istri kamu ! Masak kamu ngebiarin Anin ngobrol berdua saja sama laki-laki lain...!" Tuan Wirawan menekan suaranya.


Akmal hanya geleng-geleng dan mengernyitkan dahinya mendengar ucapan Papanya.


"Itu lagi...! Bukan Akmal yang mau dia jadi istri Akmal...!" ungkit Akmal.


"Ohh..gitu...kamu masih bersikeras aja.." kata Tuan Wirawan.


"Ok biar Papa ralat ucapan Papa...Anindya itu menantu Papa...Papa gak tenang lihat menantu Papa berduaan dengan laki-laki lain..." sambungnya.


"Dan Papa memerintahkan kamu sebagai anak yang berbakti...menemani menantu Papa dan Barra ngobrol ke bawah...gimana ?" tanya Tuan Wirawan.


"Ya Alloh...kenapa sih Papa selalu memprioritaskan Anindya ketimbang Akmal yang nyata-nyata anak kandung Papa ?" protes Akmal kesal.


"Bukan seperti itu...Papa cuma ingin kamu belajar menerima Anindya sebagai istri kamu sepenuhnya.." Papanya merangkul bahu Akmal yang setengah merajuk pada Papanya


"Ayo kamu turun...Barra itu menyimpan rasa pada Anin...Papa gak tenang ngebiarin menantu Papa ngobrol cuma berdua dengannya..." bujuk Tuan Wirawan.


Akmal menuruti kemauan Papanya untuk turun ke bawah menemui Barra dan Anin dengan ogah-ogahan.


Dia pun sempat menguping pembicaraan Anin dan Barra dengan berhenti di tengah anak tangga...

__ADS_1


Tapi sesaat kemudian dia memutuskan untuk benar-benar turun dan menghampiri Anin dan Barra berada.


__ADS_2