Watashi No Hanayome

Watashi No Hanayome
10


__ADS_3

Pagi hari, jam - -.- -


Sinar matahari pagi mengenai wajahku dan sinarnya membuatku bangun dari tempat tidurku.


"Hoammm. Sepertinya aku tidur cukup nyenyak tadi malam." Ucapku sambil mengucek mataku dengan tanganku.


Aku tak merasakan hal aneh, seperti merasakan sesuatu yang lembut dan empuk di tanganku. Dan aku merasa, pagi ini adalah hari di mana aku merasakan kehidupan biasaku.


Guubbrakkk. Suara pintu terbuka dengan cukup keras.


"Hiroaki!!"


Aku melihat Rin yang kelihatan sedikit panik.


"Ada apa, Rin?" Jawabku dengan santai.


"Aku mendapat kabar, kalau seluruh pertualang harus segera berkumpul di guild sekarang juga."


"Berkumpul? Memangnya ada apa?"


"Aku juga tidak tau. Tapi, sepertinya ada sesuatu yang cukup mengkhawatikan."


"Oh, seperti itu. Hmm. Baiklah, kalau begitu aku akan segera bersiap-siap, kau tunggu saja di bawah."


"Baiklah." Rin kemudian pergi.


Dan akupun bersiap. Aku mengambil pedangku yang aku taruh di bawah tempat tidur, dan segera menghampiri Rin yang sedang menunggu di bawah.


Saat aku sudah berada di bawah.


"Ayo cepat, Hiroaki!"


"Iya."


Aku pun keluar dari penginapan ini dan berjalan menuju ke arah guild. Dan Rin seperinya juga membawa pedang yang aku berikan padanya kemarin.


Saat dalam perjalanan ke guild, aku melihat tak ada seorangpun yang beraktivitas seperti hari kemarin dan kota ini terasa sepi. "Kemana perginya orang-orang?" Gumamku.


------ Beberapa menit berjalan -------


Aku dan Rin akhirnya sampai di guild.


Aku melihat banyak sekali petualang yang berkumpul di guild, seratus atau bahkah lebih dari dua ratus  petualang yang berkumpul di guild pagi ini. "Ada apa ini?" Aku yang tak tau apa-apa kebingungan.


Karena tak tau apa-apa, aku putuskan untuk bertanya pada salah-satu petualang yang ada di guild itu. "Permisi. Sebenarnya ada apa ini?" Tanyaku pada salah satu petualang yang ikut berkumpul di guild.


Petualang itu menoleh ke arahku. "Aku juga tak tau. Tapi, aku mendengar kabar bahwa ada lebih dari 1000 hewan iblis yang berkumpul di hutan bagian selatan. Dan mungkin, kita para petualang akan di beri misi untuk membasmi para hewan iblis itu." ucapnya.


"Oh. Apaaaa!! 1000?!! (Kaget)" Aku terkejut.


"Aku juga tak tau,kabar itu benar atau tidak, jadi kau jangan terkejut dulu."


"Eh. Y-YA."


Tiba-tiba aku melihat Alice keluar dari guild sambil membawa sebuah kertas yang mirip seperti kertas misi yang ada di papan. "Baiklah, ada misi untuk semua petualang yang ada di sini, saya ke sini untuk menyampaikan misi tersebut." (Alice)


"Misi apa kira-kira?" Bisikan para petualang yang berkumpul.


"Misi untuk kalian adalah, membunuh 2000 hewan iblis yang sedang berkumpul di hutan bagian selatan."


"Busettt dah!! 2000!!" pikirku yang sedikit panik. 


"Dan imbalan untuk misi ini adalah 2 koin emas per hewan iblis yang telah kalian kalahkan. Dan saya tidak akan memaksa bagi petualang yang in tidak ikut di misi kali ini. Dan bagi kalian yang ingin ikut, kalian bisa mulai dengan berkumpul di gerbang selatan. Sekian." Setelah itu Alice masuk ke dalam guild.


"Meskipun bayarannya lumayan. Tapi, jika lawannya sebanyak ini bagaimana bisa menang." Gumamku.


"Nee.. Hiroaki."


"Ehh.. Ada apa Rin?"


"Bagaimana kalau kita ikut?" (Rin)


Rin mengatakan hal itu sambil tersenyum seakan tak tau bahaya yang ia akan hadapi nanti jika harus bertarung melawan 2000 hewan iblis.


"Maaf Rin, sepertinya aku tak bisa ikut." Jawabku sambil memalingkan wajah.


"Ya sudah!! Aku pergi sendiri saja!! (Ngambek)"


Setelah itu Rin pergi dengan perasaan kecewa ke arah gerbang selatan sendiri.


"Ehh. T-tunguu Rin!!!"


Dia tak mendengar kata-kataku dan tetap pergi.


Hari ini sikap Rin berubah, dia biasanya sangat pemalu dan kenapa sekarang dia malah seperti kelihatan seorang petarung yang tak takut akan bahaya. "Sebaiknya aku ikut dengannya, meskipun aku juga ketakutan, aku tak bisa membiarkan seorang gadis bertarung melawan hewan yang begitu menakutkan sendirian. Nanti, jika terjadi apa-apa padanya bagaimana?"


Setelah itu, akupun pergi menyusul Rin yang pergi ka arah gerbang yang ada di bagian selatan kota.


"Rin!! Tunggu!"


Dia tak mendengarkanku dan melanjutkan langkahnya.


"Rin!! Tungguu!! Aku akan ikut! Jadi, tunggu aku Rin!!"


Setelah mendengar hal itu, dia menghentikan langkahnya. Dan akupun berhasil menyusulnya.


"Benarkah?! (matanya berkaca-kaca)" (Rin)


"Iya."


"Hmp. (Memalingkan wajah) Tapi kenapa? Bukannya tadi kau tak ingin ikut? Tapi, kenapa kau sekarang kau berubah pikiran?"


"Tak ada alasan khusus. Sebelum berangkat, bagaimana kalau kita sarapan dulu?"


"Ayo." Rin kelihatan senang.


Kamipun berangkat ke tempat makan yang kemarin malam kami datangi. Dan masih dalam keadaan sama, tempat makan ini sepi pengunjung entah apa penyebabnya dan hanya ada beberapa orang yang mampir ke sini.


Kami duduk di salah-satu bangku yang kosong dan orang pelayang laki-laki yang kemarin malam menyambut kami datang menghampiri kami.


"Anda mau pesan apa, tuan."


"Aku mau pesan 2 menu spesial." Ya karena harganya cukup murah menurutku jadi aku pesan itu saja.


"Baik, tuan." pelayan itu pergi.


------- Beberapa menit kemudian -------


Pelayan itu kembali. "Maaf membuat anda menunggu, tuan. Ini pesanan anda semuanya 3 koin perak"


"Ini." Aku memberinya 3 koin perak, dan ia pun pergi.


Aku dan Rin mulai makan. Dan sama seperti saat pertama kali membelinya, rasa makanan ini sangat enak.


-------- 10 menit kemudian, mungkin -------


(Malas mendeskripsikan kajadian ini.)


Akupun selesai makan dan Rin pun selesai juga.


Aku kemudian keluar dari tempat makan itu dan Rin mengikuti di belakangku. Aku berjalan menuju ke arah gerbang selatan.


-------- Beberapa menit berjalan  dan akhirnya sampai -------


Banyak petualang yang sedang berkumpul di sana. Aku juga melihat Garden dan juga Leona sedang berada di dekat gerbang, aku menghampiri mereka.


"Hey Garden." sapaku padanya.


"Oh.. Ternyata kau bocah. Bagaimana keadaanmu?"


"Aku baik-baik saja. Kenapa kau sudah kembali? Bukannya kau bilang tak akan kembali untuk semantara waktu karena misi yang sedang kau jalani?"


"Oh soal itu... (Garden memengang kepalanya dengan tangan kanannya) Ternyata monsternya sudah mati saat aku sudah sampai di sana. Jadi, aku langsung kembali, dan saat aku berada di salah satu desa, aku mendengar tentang hewan iblis yang akan menyerang kota dari seorang pedagang, dan aku pun berbegas kembali."


"Oh.. Begitu.. Oh ya, Garden. Apa hal seperti ini sering terjadi di kerajaan ini?"


"Hmmm.... Menurutku ini yang ke dua kalinya kota ini di serang oleh hewan iblis."


"Oh..."


"Sepertinya, ada yang lupa membakar mayat hewan iblis. Makanya, para hewan itu iblis berkumpul."


"T-t-tunggu... (panik) Berarti bencana ini di sebabkan oleh mayat hewan iblis yang tak dibakar!"


"Benar, itulah penyebabnya."


Gluk. Menelan ludah.


"Jadi bencana ini di sebabkan olehku, karena tak membakar mayat hewan iblis yang mati di dalam gua kemarin." Gumamku, aku sedikit panik.


"Ada apa, bocah?"


"T-tidak ada apa-apa."


Tinggggg. satu suara bel panjang.

__ADS_1


Aku mendengar satu suara bel yang cukup panjang, setelah itu.


"Para petualang... Di sinilah tambang emas baru kalian akan di mulai, APA KALIAN SEMUA SIAP!!!" Ucap salah satu petualang, mungkin.


"SIAP!!!" Jawab seluruh petualang yang berkumpul serempak.


Dan dari kejauhan, 2000 hewan iblis mulai keluar dari hutan dan berlari menuju ke arah kota. "SERANGGG!!!" Ucap petualang yang tadi.


Semua petualang berlari ke arah kumpulan hewan iblis itu.


"Hey bocah, ingat ini baik-baik. Sebaiknya kau jaga pasanganmu, jangan sampai dia terluka sedikitpun, begitupula denganmu." (Garden)


"Baik."


"Aku pergi dulu..." Garden dan Leona pun pergi ke arah hewan iblis itu.


Selang beberapa detik, Rin menarik-narik bajuku.


"Nee... Hiroaki... Sebaiknya kita juga pergi."


"Hah.. I-iya.." Aku kemudian juga ikut pergi.


Aku tak tau kenapa ia ingin sekali melawan hewan iblis itu.  Sebenarnya aku takut, tapi jika aku tak ikut, maka dia pasti akan melawan hewan iblis itu sendiri. Jadi, paling tidak aku harus melindunginya.


Kami berangkat bersama dengan para petualang lainnya. Aku rasa kita akan aman, karena aku dan Rin berada di tengah-tengah para petualang yang kelihatan sangat kuat dan juga tangguh.


-------- (AREA PERTEMPURAN: HUTAN DALAM DI BAGIAN SELATAN KERAJAAN) --------


Siang hari, jam - -.- -


Grrrrrrr. Suara hewan.


"Itu milikku!!" (petualang 1)


"Siapa cepat dia dapat!!" (petualang 2)


Sashhh. (tebasan)


"Kalian lambat." (petualang 3)


Keadaan di hutan ini sangat kacau, banyak darah dan bangkai binatang iblis di mana-mana dan bau busuk mulai tercium akibat bau bangkai hewan iblis yang telah di bunuh, hewan iblis yang sudah dibunuh, tidak beregenerasi kembali seperti yang aku lawan bersama Garden, dan meskipun begitu aku rasa ini cukup menguntungkan karena hewan iblis ini tak bisa beregenerasi dan bisa dengan mudah di kalahkan.


Satu hewan iblis tepat berada di depanku.


"Wahhh!!! Gawattt!!! Aku belum siap!!" Aku mulai panik.


Hewan iblis itu melompat ke arahku. "Ahhhhh!!!"


Sashhhh. (tebasan)


Garden menebas hewan iblis itu.


"Hey bocah. Kau tak apa-apa." (Garden)


"Te-terima kasih garden."


"Dimana pasanganmu?"


"Rin? Dia ada di belakangku."


"Dibelakangmu? Di belakangmu tidak ada siapa-siapa, lo."


Aku melihat kebelakang dan aku tak melihat Rin. "Eh? Kemana dia pergi?!" Aku sekali lagi mulai panik.


"Sebaiknya kau cari, tempat ini sudah mulai berbahaya."


"Baik."


Garden pun pergi dan aku mulai berlari mencari Rin.


"Rin!! Kau ada dimana?! Rin! Jawab kalau kau dengar!!" (berteriak)


Tak ada jawaban. Aku putuskan untuk terus mencari.


--------- Setelah beberapa menit mencari -------


Aku melihat Rin tapi ia di kelilingi oleh 9 hewan iblis. Dan ia juga mengeluarkan pedang yang aku berikan kemarin dia tidak kelihatan takut sama sekali.


"Rin!!! Cepat kau lari dari sana!!! RIN!! CEPAT LARI!!!" Aku berteriak padanya tapi ia tak mendengarkanku.


Aku berlari mendekatinya. Tapi, satu hewan iblis menghadangku. "SIALL!! Aku harus bagaimana?"


Hewan iblis itu melompat ke arahku dan berniat mencakarku dengan cakarnya yang tajam.


Tanpa sadar hewan iblis yang aku lawan tengah berlari dengan cepat ke arahku dan menghantamku hingga aku terpental dan mengenai salah-satu pohon yang tepat berada di belakangku.


Uhukk. (batuk)


"Sialll!! Pandanganku teralihkan! Lebih baik aku harus fokus."


Aku kembali berdiri, dan hewan iblis itu kembali menyerangku. Aku menghindar dengan cara melompat ke arah kiri dari posisi hewan itu dan kemudian melompat ke arah hewan iblis itu lalu menebas perutnya dari bagian atas ke bawah dengan kuat hingga tubuh hewan iblis itu terbelah menjadi dua. 


Saat aku sudah selesai, aku segera ke tempat Rin. "TIDAKKKK!!!!" Aku berteriak.


Hewan iblis yang mengelilingi Rin, menyerang secara bersamaan. Dan aku terlambat.


...........


..........


.........


........


.......


......


.....


....


...


..


.


(TAPI BO'ONG)


Satt satttt satttt satttt (tebasan)


Di luar dugaan, Rin membantai 9 hewan iblis itu, dan hewan iblis lainnya datang menghampiri Rin. Dan ada satu hewan iblis yang ingin menyerangnya dari belakang. "Rin!! Awas dibelakangmu!!!" Teriakku padanya dari tempat yang cukup jauh. 


Rin berbalik dan menebas hewan iblis yang menyerangnya dari belakang menjadi dua bagian.


"Ternyata Rin hebat juga (kagum)." Gumamku.


Para petualang yang melihat hal itu, seketika berhenti karena kagum dengan apa yang dilakukan oleh Rin seorang diri. "Waahhh!! hebat sekali gadis itu." Para petualang kagum. Dan karena tak mau kalah, mereka yang melihat Rin berusaha lebih keras lagi.


Rin berhasil membunuh semua hewan iblis yang mendekat ke arahnya dan total semua hewan iblis itu ada 15 hewan iblis yang berhasil tumbang. Dan karena hal itu pula baju yang di pakai oleh Rin penuh dengan darah hewan iblis dan di banding dengan wanita yang pemalu, saat ini Rin lebih mirip seperti seorang yandere yang haus akan darah.


Karena sudah tak ada hewan iblis yang mendekati Rin. Akupun berjalan mendekatinya. "Kau hebat Rin." Aku memujinya.


Sashhh. (Tebasan)


Rin mencoba menebasku dengan pedangnya. Tapi aku berhasil menghindar dengan melompat kebelakang. "Apa yang kau lakukan Rin?!" Aku melihat ke arah Rin.


Warna matanya berubah seperti warna pedang yang ia gunakan sekarang (Biru). "Apa yang terjadi padamu Rin?!" (Panik)


Dia tak merespon ucapanku dan malah medekat ke arahku dengan maksud menyerang. "Apa yang terjadi dengan Rin? Dia seperti sedang di kendalikan." gumamku.


"RIN!!! SADAR RIN!!!" Aku terus berteriak padanya tapi ia masih saja tak merespon ucapanku.


Saasshhh. (Tebasan)


Rin sekali lagi menyerangku, Dan dengan sigap aku menghindar. Tepat setelah aku menghindar Rin melompat dan menyerangku dari atas. Karena tak ada pilihan lain aku menangkis serangannya dengan pedangku.


Ctiiiingggggg. (Adu pedang)


"S-sangat k-kuat." Serangan yang di lancarkan Rin padaku begitu kuat hingga membuatku kesulitan.


Dan di saat yang sama, aku menendang tangan Rin dengan tujuan agar ia melepaskan pedangnya.


Dakkk. 


Aku menahan rasa sakit yang di akibatkan olehku sendiri, karena berniat untuk membuat Rin melepaskan pedang yang di pegangnya. Dan Rin melepaskan pedangnya, tanganya juga terluka akibat tendanganku begitupula dengan tanganku. Pedang yang Rin gunakan tertancap pada salah satu batang pohon yang cukup dekat dengan tempatku berada sekarang.


Setelah pedang itu terlepas Rin terdiam.


"Kau tak apa-apa Rin? (khawatir)."


Beberappa saat kemudian, warna matanya berubah normal.


"Apa yan- 'Ahhhggg!' (Menjerit kesakitan lalu melihat ke tangannya) Apa yang terjadi dengan tanganku?!  (panik)."

__ADS_1


Dia kelihatan kebingungan.


"Nanti kita minta Leona menyembuhkan lukamu, untuk sekarang."


"Ahhhhh!!! (menjerit)"


"Ada apa Rin!!?"


"Itu (menunjuk ke arah belakangku)."


Seekor hewan iblis berada tepat di belakangku. hewan iblis itu melompat ke arahku dan sebelum itu, dengan cepat aku menebas hewan iblis itu hingga terbelah menjadi 2 bagian.


Sassshhhh. (tebasan)


Entah kenapa sekarang tubuhku terasa sedikit lebih ringan. "Sebaiknya kita harus keluar dari hutan ini. (Panik)"


"I-Iya."


Aku mengambil pedang yang tertancap di pohon yang di gunakan oleh Rin tadi, dan setelah itu, aku pergi keluar dari hutan ini.


Saat aku sedang berlari keluar dari hutan. Aku melihat Leona sedang mengobati para petualang yang terluka, karena aku juga terluka. Jadi aku pergi menghampirinya.


"Leona. Bisa kau sembuhkan lukaku? (Menunjukkan tangan yang terluka)"


"Baiklah. Cahaya penyembuh, Heal."


Luka yang ada di tanganku seketika sembuh.


"Sudah."


"Terima kasih Leona." Aku pergi berlari keluar dari hutan.


"Mau kemana kalian?!"


"Keluar dari hutan ini!" Jawabku sambil berlari.


---------- Beberapa menit berlari ------


Akhirnya kami sampai di luar hutan.


"Di sini kelihatannya aman."


"Hikari? Apa yang terjadi denganku? Bagaimana aku bisa ada di sini?"


Sepertinya dia tidak ingat apa-apa.


"Apa kau tak ingat?"


"I-Iya. Yang aku ingat, Aku sedang sarapan denganmu di rumah makan dan setelah itu aku tak ingat lagi. Sebenarnya apa yang terjadi?"


Sepertinya ada sesuatu yang membuat sikapnya tadi berubah, dan aku cukup khawatir dengan hal itu.


"Tidak ada apa-apa. (Berbohong)"


"Katakan apa yang sebenarnya terjadi!! (Memaksa)"


"Sebaiknya kau tak perlu tau, yang penting kita sudah aman sekarang."


"B-baiklah. (Menurut)"


Akupun berbaring karena sudah cukup kelelahan dan tak lama setelah itu aku ketiduran.


--------- (HUTAN LUAR DI BAGIAN SELATAN KERAJAAN MANUSIA) --------


Sore hari, jam - -.- -


Sensasi sentuhan lembut di kepalaku dan juga ada sesuatu yang cukup nyaman yang menopang kepalaku.


Aku membuka mata secara perlahan.


"Kau sudah bangun Hiroaki. (tersenyum manis)"


Rin memangku kepalaku, lagi. Aku berusaha untuk bersikap tenang. "Anu. Rin."


"Iya?" Jawabnya sambil tersenyum.


"Apa yang sedang kau lakukan?"


"Memangku kepalamu."


"Hah... (menghela nafas)."


"Ada apa?"


"Tidak ada apa-apa (Pasrah). Oh ya, apa misi pembasmiannya sudah selesai?"


"Sudah."


"Kapan?"


"Hmmm. (Berfikir) Sekitar 1 jam yang lalu."


"Jadi, para petualang yang ada dihutan ini semuanya sudah kembali."


"Iya."


"Oh begitu. Sebaiknya kita juga harus kembali, hari juga semakin sore."


"Baiklah."


Aku bangun dari posisi tidur di pangkuan Rin. Dan aku berjalan kembali ke kota dengan Rin yang mengikutiku di belakangku.


Sore menjelang malam hari (petang) jam, - -.- -


Setelah beberapa jam berjalan, akhirnya kami sampai di depan gerbang bagian selatan kerajaan. Dan seperti biasa, setiap gerbang di jaga oleh 2 orang prajurit tanpa pasangan.


Kami masuk ke kota, dan mampir ke guild untuk mengambil imbalan quest dadakan.


-------- Beberapa menit berjalan dari gerbang bagian selatan ---------


Kami sampai di depan guild. Saat kami masuk, hampir seluruh orang yang ada di guild melihat kami, entah apa yang mereka pikirkan. Yang jelas mereka tidak melihat ke arah pedang yang aku bawa ini, tapi lebih tepatnya mereka melihat ke arah Rin.


Mereka melihat Rin dengan tatapan kagum. "Apa dia orangnya." Bisik para petualang.


Dan itu membuatku sedikit tak nyaman. "Ayo Rin."


Aku memengang tangannya dan dengan segera ke meja resepsionis untuk mengambil imbalan.


"Aku ingin mengambil imbalan atas misi penyerbuan tadi."


"Baiklah. Silahkan tunjukkan kartu anda.."


Aku tak mendengar ia meminta barang bukti untuk mengambil imbalan atas misi kali ini. Jadi, aku menuruti perkataannya. Aku mengambil kartuku yang selalu aku taruh di kantong bajuku dan menunjukkan kartuku pada resepsionis itu. "Ini


"Hmmm. (Berfikir) 2 hewan iblis."


"Bagaimana di bisa tau? (Heran)" Gumamku.


"Ini bayarannya. 4 koin emas."


"T-terima kasih."


Aku mengambilnya, dan sekarang adalah giliran Rin. "I-ini punyaku. (Menunjukkan kartunya)"


"Hmmm. (Berfikir) 15 hewan iblis, ya. Ini bayarannya 30 koin emas."


"Ternyata memang dia orangnya." (Bisik-bisik) Para petualang.


Aku tak tau, apa yang dimaksud mereka tapi yang pasti, hal itu membuatku sangat tidak nyaman.


Setelah Rin mengambil bayarannya. "Ayo Rin." Aku menarik tanganya dan segera keluar dari guild.


------- Saat berada diluar guild -------


"Nee. Hiroaki."


"Ya, ada apa?"


"Bagaimana, kalau kita ke pemandian itu, lagi."


"Hmmm. Baiklah, lagi pula pakaian kita sekarang sudah sangat kotor."


"Hmm. Mungkin, setelah ini aku akan membeli baju dulu, aku tak mungkin terus-terusan memakai baju ini, dan lagipula, aku sudah punya cukup koin untuk membeli baju, dan aku mungkin akan membelikan Rin baju juga." Pikirku.


"Biar aku saja yang beli baju. (Tersenyum)" (Rin)


"???" (Hikari) (Bingung sekaligus lupa)


"Mana koinnya. (Menjulurkan tangannya padaku) Aku saja yang akan pergi bersama Leona nanti. Dia'kan sudah kembali dari misinya."


"(Tersenyum) Hehe. Huh~ (Menghela nafas) Baiklah." Aku memberinya 2 koin emasku dan hanya tersisa 2 koin emas yang ada padaku.


"Makasih. (Tersenyum manis)"


BERSAMBUNG

__ADS_1


__ADS_2