
“Seorang dewa?”
“Ya, aku dulu pernah menjadi seorang dewa. Tapi, karena suatu alasan gelar dewa yang aku miliki dicabut.”
“Begitu.”
“Hiroaki, kau ingat dengan salah satu dunia tanpa dewa yang sudah hancur. Kau pernah diberitahu oleh dewa Yu, kan kalau dunia itu tidak memiliki dewa yang menjaganya.”
“Huh? Apa mungkin.”
“Ya, dunia itu adalah dunia yang seharusnya aku jaga. Tapi, lupakan itu.. saat ini aku hanya ingin melakukan sesuatu.” (Itsuki)
Ketua bangun, dan memelukku. “Eh? A-Ada apa? K-Ketua.” Beberapa saat kemudian, ia melepaskan pelukannya. “Ketua, ada apa?”
“Tidak ada apa-apa.. Oh ya, sebelum pergi. Aku ingin memperkenalkan diriku terlebih dahulu. Namaku sekarang adalah Arthur Roeland.”
“Arthur, tapi… Kenapa kau menggunakan nama Itsuki?”
“Alasannya karena, itu adalah nama yang diberikan oleh ibuku di dunia sebelumnya. Akarui Itsuki, itulah namaku didunia sebelumnya.”
“Akarui? Itu mungkinkah...” Tapi jika dingat-ingat aku sama sekali tidak ingat kalau memiliki saudara, itu bisa jadi nama yang ada didunia lain. Tapi, aku harus memastikannya. “Ketua, apa kau…”
“Haa, waktunya kembali. Aku ingin beristirahat. Sha, terimakasih atas permainan yang menyebalkannya. Lain kali, jangan mengundangku jika kau ingin melakukan hal itu lagi.”
“Hahaha…”
“Dan untukmu Hiroaki, aku cukup senang karena bisa bertemu denganmu.” Itsuki lenyap.
“K-Ketua.” Aku masih belum mendengar hal yang ingin aku dengar darinya. “Dewa Sha, apa kau mengetahui sesuatu tentangnya?”
“Tentang Arthur?”
“Iya.”
“Hmmm. Cerita ini akan sedikit panjang, jadi sebaiknya kau duduk dulu.”
“Baiklah.”
Beberapa lama setelah itu.
“Ini dimulai sejak beberapa sesaat setelah aku diangkat menjadi seorang dewa. Akarui Itsuki, ia lahir dikeluargamrmu.”
“Di keluargaku, tapi aku sama sekali tidak mengetahuinya.” Ayahku pun tidak pernah membicarakannya.
“Dia lahir dengan tubuh lemah seperti ibunya, dan ia hanya bertahan selama 5 tahun saja sebelum ia meninggal.”
“5 Tahun.”
“Ya, dan setelah 2 tahun akhirnya ibu yang mengandungnya kembali hamil.”
“Dan itu adalah aku…”
“Ya, tapi. Karena sedari awal tubuh ibumu sudah lemah saat mengandung Itsuki, dokter menyarankan agar dia tidak mengambil resiko untuk mengandungmu karena kemungkinan dia akan mati saat sudah melahirkan nanti, tapi ia masih teguh dengan tekadnya. Memendam dalam-dalam ingatan tentang anak pertamanya. Ia berusaha sekuat tenaga untuk melahirkanmu. Dan ia berhasil, dan ia juga bisa bertahan selama 3 tahun sebelum akhirnya meninggal.”
“Dewa Sha, apa yang kau katakan semuanya itu benar?”
“Ya, dia adalah kakakmu. Apa kau masih belum menyadarinya.”
“M-Menyadarinya?”
“Saat dia berada didunia itu, orang pertama yang dipedulikannya adalah dirimu. Dia mengeluarkan amarahnya hanya untukmu. Dia tidak pernah sekalipun menunjukkan hal itu, meskipun didunia tempatnya tinggal saat ini. Tapi, dia melakukannya untukmu.”
__ADS_1
“Kakakku...” Aku sama sekali tidak pernah mebayangkan hal itu, dan aku juga sama sekali tidak pernah tau kalau aku memiliki seorang kakak.
“Ryuga dan Shirame, mereka berdua sebenarnya adalah pedang khusus yang dibuat oleh kakakmu untukmu.”
“Huh? Tapi, bukannya Shirame dibuat oleh...”
“Itu hanyalah sekedar untuk pengalihan, baik Shirame dan Ryuga kedua ditempa langsung olehnya. Tapi, karena hanya Shirame yang selesai, dia memberikan sisa tugasnya padaku untuk menyelesaikan pedang sisanya sebelum gelar dewanya dihapus darinya.”
“Jadi begitu.” Jika seperti itu, wajar saja kalau aku dan juga ketua memiliki kekuatan yang sama.
“Sudahi saja pembicaraanya sampai disini, Hiroaki. Sebagai salah satu dari 10 orang yang berhasil bertahan. Apa yang kau inginkan?”
“Yang aku inginkan… Yang aku inginkan...” Aku sama sekali tidak pernah memikirkan hal ini sebelumnya, orang tanpa keinginan sepertiku. Apa yang sebenarnya aku inginkan. “Dewa Sha, ada sesuatu yang aku inginkan.”
“Huh? Apa itu, katakan saja.”
“Aku ingin…”
Malam hari.
Kerajaan Riel.
“Papa!!”
“Hiroaki, kau sudah kembali.”
“Emi, Inori, aku pulang.” Hari ini, aku ingin beristirahat. Semua yang aku alami didunia itu membuatku merasa begitu lelah.
Pagi hari.
Didunia ini hanya berlangsung selama 7 hari saja, waktu yang aku habiskan berbulan-bulan didunia itu. “Hiroaki, waktunya makan.”
Ruang makan.
“Hi-chan, ada apa?”
“Tidak ada apa-apa.” Selama didunia itu, aku hanya bisa memakan buah dan juga ikan bakar hasil tangkapan. Dan didunia itu aku sama sekali tidak pernah memakan makanan yang disediakan dimeja ini. Itu membuat sedikit perbedaan. ‘Waktunya tinggal sebentar lagi.’
Beberapa bulan setelah itu.
Pagi hari di taman.
Saat ini aku tengah duduk santai menikmati pagi yang indah ini bersama dengan Ai. “Ai, sudah berapa bulan kandunganmu?”
“Huh? Sekitar 8 bulan.”
“Begitu, berarti tinggal 1 bulan lagi, ya. Jika bisa, aku ingin menjadi orang pertama yang melihat bayi kita.”
“Mana bisa seperti itu.”
“Hahaha…”
“Nanti, saat bayi kita lahir nama apa yang akan kau berikan?”
“Nama, ya. Setidaknya aku juga harus memikirkan 3 nama untuk bayimu, Rin, dan juga Emilia.”
“Apa kau sudah menemukannya?”
“Entahlah, tapi… Aku ingin kau saja yang menamainya.”
“Eh, kenapa?”
__ADS_1
“Tidak ada alasan khusus. Aku sepertinya merasa tidak pantas untuk menamai mereka.”
“Apa yang kau katakan, mau bagaimanapun kau adalah ayah dari calon bayi kita ini.”
“(tersenyum) Aku senang mendengarnya. Tapi, jika suatu hari nanti aku melakukan sebuah kesalahan, maukah kalian memaafkanku?”
“Itu, sudah jelas.”
“Begitu, kalau begitu terimakasih.” Aku mengelus kepalanya.
“K-Kenapa tiba-tiba.”
“Tidak ada alasan khusus. Aku melakukan ini karena aku menyanyangimu.”
“B-Benarkah?”
“Ya, bukan hanya kau. Aku juga menyanyangi semuanya. Keluargaku yang sangat aku cintai ini.” Kata-kata itu adalah kata-kata terakhir yang aku ucapkan.
Beberapa hari berikutnya.
Tengah malam.
“Hari ini waktunya, ya. Baiklah.” Kedua pedangku muncul. “Shirame, aku akan kembali suatu hari nanti. Jadi, jaga tempat ini dan juga keluargaku, ya.” Aku menaruh Shirame di atas kasur tempat tidurku. “Baiklah, waktunya pergi.”
Aku menghampiri mereka semua dan memberi sebuah kecupan. “Rin, Emilia, Ai, Sia, Inori, Lia. Selamat tinggal.” Aku perlahan keluar dari istana menuju ke gerbang utama.
Beberapa lama setelah itu.
Suasana disini begitu sepi, itu mungkin karena dewa Sha sudah menyiapkan hal ini. “Hiroaki, kau sudah siap?” Suara dewa Sha terdengar di kepalaku.
“Ya, aku sudah siap.” Aku berjalan cukup jauh dari gerbang, dan setelah itu aku menancapkan Ryuga.
“Hiroaki, aku tanya sekali lagi. Apa kau yakin dengan permintaanmu ini?”
“Ya, aku sangat yakin.”
“Kalau begitu, terserah padamu saja.”
“Terimakasih dewa Sha.”
“Tidak masalah, aku hanya mengabulkan permintaanmu saja. Tapi, padahal kau masih bisa menikmati kehidupan disini selama beberapa tahun lagi.”
“Meskipun begitu, aku sangat berterimakasih atas tawaranmu.”
“Begitu, ya sudah. Aku turut berduka. Kalau begitu, akan aku mulai.”
“Ya, tolong bantuannya.”
“Tapi, suatu saat nanti kau pati akan terbangun kembali. Kau sudah tau hal itu’kan.”
“Yang akan terjadi nanti, bahas saja nanti. Sekarang adalah sekarang, nanti adalah nanti. Biarkan diriku di masa depan yang mengurusnya.”
“Begitu. Kalau begitu, bersiaplah.”
Beberapa saat kemudian.
Tubuhku perlahan-lahan mulai lenyap. “Akhinya, aku bisa beristirahat dari rasa lelah ini.” Penggunaan kekuatan 100% membuatku merasakan rasa lelah akan semua hal, baik bertarung, bertahan hidup dan hal lainnya. Dan aku meminta dewa Sha untuk menyegelku sementara waktu sampai aku pulih seperti semula, dan aku tak tau kapan waktunya, tapi yang pasti. “Semuanya, selamat tinggal. Aku menyanyangi kalian.”
Penyesalan terbesarku, aku pergi sebelum sempat melihat anakku lahir. Setidaknya itulah hal yang paling aku sesali. ‘Ini sangat menyebalkan.’ Pergi tanpa pamit pada mereka, aku juga sangat menyesalinya. Tapi, jika seperti itu aku yakin mereka akan menentangnya. ‘Haa, aku mulai mengantuk.’ Aku perlahan mulai menutup mataku, dan aku tertidur dalam jangka waktu yang lama. Tersegel dalam pedang Ryuga yang aku tancapkan disini. Semuanya, cerita dariku mungkin sudah berakhir.
The End…
__ADS_1