Watashi No Hanayome

Watashi No Hanayome
23


__ADS_3

Pagi hari, jam - -.- -


Kami baru selesai sarapan di ruang makan yang mewah, dan aku berdiri dari meja makan berniat untuk kembali ke kamarku. "Hiroaki, kau mau kemana?"


"Aku mau kembali ke kamar."


"Bukankah sebaiknya habis ini kita pergi ke guild untuk mengambil misi."


Aku sudah memiliki banyak uang, apa harus aku mengambil misi di guild lagi. "Aku rasa itu tidak perlu."


"Kenapa?"


'Karena aku sudah punya banyak uang.' Apa yang akan terjadi jika aku berkata seperti itu. "Tidak apa-apa, aku hanya malas saja." Dan aku tak menemukan jawaban yang pas untuk menjawab pertanyaan Emilia.


"Kau tidak boleh seperti itu, jika kau bermalas-malasan, tubuhmu akan kaku dan kau akan kesulitan saat bertarung nanti."


"Papa akan bertarung?"


"Iya, apa kau mau melihat papamu bertarung?" (Rin)


"Iya ma, aku mau!!. (matanya berkaca-kaca)"


Memang benar apa yang dikatakan Emilia, jika aku tak melatih tubuhku, tubuhku mungkin akan kaku dan sepertinya ini bukanlah hal yang baik, lagi pula aku juga tak memiliki kegiatan untuk saat ini atau aku memang tak memiliki kegiatan sampai upacara pemanggilan itu dimulai.


"Baiklah, aku akan ikut. Tapi, aku akan kembali ke kamar untuk mengambil pedangku dulu, dan setelah itu, aku akan menunggu kalian di pintu keluar penginapan ini."


"Baiklah.."(Emilia)


"Papa, aku ikut!!"


"Baiklah, ayo."


Aku kembali kekamar bersama Inori.


-------- Beberapa saat kemudian --------


Aku sampai di kamar, dan seperti biasa aku mengambil pedangku yang aku taruh di bawah kasur, dan aku tak lupa juga mengambil kartu yang aku taruh di bawah bantal yang aku lupa ambil saat keluar tadi.


"(melihat ke arah pedang) Apa itu senjata milik papa?"


"Oh iya, ini senjata milik papa." Entah kenapa aku terbawa suasana dan berbicara seperti aku seorang ayah.


"Wahh. (kagum) Pa, apa aku bisa dapat senjata juga?"


"Ah nanti, katakan saja itu pada mamamu."


"Baik, Papa.(tersenyum)"


"Ayo kita sekarang keluar."


Akupun keluar dari kamar menuju ke pintu keluar penginapan dan berniat menunggu Rin dan Emilia di luar penginapan.


------- Beberapa menit kemudian -------


Di luar penginapan.


Aku menunggu Rin dan Emilia yang masih berada di dalam penginapan bersama dengan Inori. "Mereka lama sekali, apa yang sedang mereka lakukan?" gumamku.


"Ada apa, pa?"


"Ah, tidak ada apa-apa."


"Maaf membuat kalian menunggu." (Emilia) Rin dan Emilia keluar dari penginapan.


"Mama!! (berlari ke arah Rin dan memeluk)"


"Ah, Inori."


"Baiklah, ayo kita berangkat."


"Baik!!" (Rin, Emilia & Inori)


Aku berjalan di belakang sedangkan Emilia yang ada di depan sebagai pemandu, lagipula ia sudah pernah ke tampat ini, dan pasti ia tau dimana letak guild yang ada di kerajaan ini.


-------- Beberapa menit kemudian -------


"Nah, kita sudah sampai."


"Mama Emilia, ini tempat apa? (bingung)"


Ini adalah pertama kalinya Inori melihat guild, wajar saja kalau ia merasa kebingungan.


"Ini adalah tempat dimana orang-orang yang kuat berada." (Emilia)


Emilia menjelaskan dengan cukup simpel, dan sangat mudah dipahami. "Hmm.. Sunggung penjelasan yang mudah dipahami. (sedikit kagum)"


"Wah, apa di dalam banyak orang yang kuat seperti papa?"


"Iya, ada banyak."


Entah sampai kapan pembicaraan mereka akan selesai. "Nah, bagaimana kalau kita masuk sekarang." Jika tidak begini, mereka akan terus-terusan berbincang di sini.


"Baik.." (Inori)


Di dalam guild.


Guild di kerajaan ini terlihat berbeda dengan semua guild yang pernah aku kunjungi sebelumnnya, atau bisa dikatakan ini adalah guild yang mewah yang aku kunjungi.


Guild ini memiliki 3 lantai dan di setiap lantainya mempunyai fungsinya masing-masing.


{ Lantai 1 berfungsi untuk mencari quest }


{ Lantai 2 berfungsi untuk mencari party/kelompok }


{ Lantai 3 berfungsi untuk tempat bersantai dan mengobrol }


"Hikari, sebaiknya kita segera mengambil quest."


"Baiklah, kau saja yang ambil questnya, aku akan duduk di sana." untuk pertama kalinya aku menyuruh seseorang.


"Baiklah."


"Mama Emilia, aku ikut."


"Baiklah, ayo Inori."


Emilia dan Inori pergi, dan sekarang aku hanya berdua bersama Rin. "Rin, apa kau tidak mau ikut dengan mereka?"


"Tidak, aku mau bersama Hi-chan saja."


"Ha, terserah kau saja.." Akupun berjalan menuju ke tempat duduk yang di sediakan oleh guild di lantai ini, dan Rin juga mengikuti di belakangku, akupun duduk dan Rin juga duduk disampingku.


Aku melihat sekeliling guild. "Guild ini terlihat cukup sepi, tak seperti guild biasanya yang selalu ramai. Apa yang terjadi?" pikirku, aku hanya melihat tak lebih dari 60 orang (baik demi-human/manusia/elf) yang ada di dalam guild ini, dan menurutku itu cukup sedikit.


Emilia dan Inori kembali. "Hikari, aku sudah dapat questnya."


"Hmmm, jadi, quest apa yang kau ambil?" Karena aku tak tau quest apa yang Emilia ambil, dan itu bisa saja quest yang berbahaya untukku, seperti membunuh naga misalnya atau sesuatu yang membahayakan lainnya, dan mungkin ini adalah salahku karena telah menyuruhnya untuk mengambilkan quest.


"(tersenyum) Ini. (menunjukkanku sebuah kertas yang berisi gambar hewan iblis)"


"Firasatku mulai tak enak." pikirku. Itu wajar saja, karena Emilia menunjukkan kertas dengan gambar hewan iblis jelas membuatku berfikiran seperti itu. "Jadi, quest apa itu?"


"Ini misi pembasmian.."


"Woy woy woy... Yang benar saja, misi pembasmian. (panik)" pikirku.


"Anu Emilia, bukannya seharusnya misi pembasmian itu misi yang dilakukan saat monster dengan jumlah yang besar menyerang, dan misi pembasmian itu 'kan biasanya dilakukan oleh banyak sekali petualang yang ikut dalam pembasmian itu." itulah yang bisa aku simpulkan dari kata-kata garden waktu itu padaku.


"Hmmm, itu memang benar, tapi untuk pembasmian ini berbeda."


"Berbeda, apa yang berbeda."


"Misi pembasmian ini di ajukan oleh salah-satu kepala desa yang ada di dekat kerajaan ini, dan ditulis di kertas ini, katanya ada sekitar 50 banteng hutan raksasa yang tiba-tiba menyerbu desanya. Oleh karena itu, ia memberikan quest ini misi pembasmian, untuk membasmi para banteng hutan raksasa yang ada di desanya."


"Oh, seperti itu."

__ADS_1


"Tapi, kenapa ia menaruh gambar hewan iblis di questnya? Bukannya seharusnya gambar seekor banteng hutan." pikirku.


"Dan jika quest ini selesai, kita akan mendapat bayaran 3 koin emas."


"Hmmm, 3 koin emas, ya."


"Berarti, 60000 koin perak atau 60 koin tembaga untuk setiap 1 banteng hutan raksasa, ya. Sepertinya lumayan." pikirku. Aku pernah melawan hewan iblis, jadi untuk banteng hutan raksasa ini aku rasa akan mudah. "Baiklah, tapi apa rank quest itu."


"Ranknya A diperingkat D."


"Sepertinya ini bagus untuk menaikkan rank petualangku, lagipula aku tak bisa bertambah kuat jika aku terus mengambil misi tingkat rendah." pikirku. Ya, lagipula rank petualangku masih di rank D dan tak ada salahnya mencoba untuk menaikkan rank milikku.


"Bagaimana Hi-chan, apa kau mau mengambil quest itu?"


"Baiklah, kita ambil quest ini saja." menurutku, ini tidak buruk juga.


"Baiklah, kalau begitu aku akan ke resepsionis untuk memgambil quest ini." (Emilia)


Emilia dan Rin pergi ke tempat resepsionis untuk mengambil quest itu. "Papa, kapan kita akan berangkat?"


"Ah, tunggu mama Emilia dan mama Rin dulu, setelah itu baru kita berangkat bersama."


"Oh begitu."


---------- Beberapa jam berjalan ---------


Pagi hari, jam - -.- -


[ Benua demi-human, kerajaan Chamos: Area timur, desa Suma]


Kami akhirnya sampai di tempat tujuan, sebuah desa kecil yang berada di area timur kerajaan Chamos. "Nampaknya, desa ini cukup sepi. Apa yang terjadi?" aku tak melihat seorangpun yang beraktifitas di desa ini, dan aku juga tak melihat satupun banteng hutan raksasa yang di sebutkan di quest tadi.


"Apa quest itu hanya tipuan, tapi untuk apa mereka melakukannya?" gumamku.


"Papa tempat ini sepi, kemana orangnya?"


"Entahlah. Emilia, apa benar ini desa yang di sebutkan di quest tadi?"


"Iya, ini benar desanya."


"Kenapa sepi sekali, desa ini terlihat seperti desa mati."


"Bagaimana kalau kita pergi ke rumah kepala desanya dulu, siapa tau disana ada orang." (Emilia)


"Baiklah kalau begitu."


Kamipun pergi mengelilingi desa itu untuk mencari seseprang untuk ditanyai mengapa desa ini menjadi seperti ini.


--------- Beberapa menit berjalan --------


Aku masih tak melihat seorangpun di desa ini. "Hiroaki, sepertinya di depan itu adalah rumah kepala desa."


Sebuah rumah yang cukup besar yang berada di ujung jalan ini. "Bagaimana kalau kita datangi saja rumah itu." (Rin)


"Kalau begitu, ayo kita ke sana." (Emilia)


Kamipun berangkat ke rumah yang diduga rumah kepala desa.


Kami sampai di depan rumah itu, dan masih seperti yang lainnya, rumah itu lihat sepi. "Permisi, apa ada orang!!" (Emilia) Emilia berteriak siapa tau ada oramg yang menjawab panggilannya.


Tak ada jawanban. "Sepertinya memang tak ada orang di desa ini."


"Sepertinya, memang begitu. Sepertinya desa ini sudah tidak di tinggali lagi." ya, karena desa ini sudah sepi dan sejauh mata memandang, aku tak melihat orang satupun.


------- Beberapa saat kemudian ------


"Hi-chan, bagaimana kalau kita pergi saja dari desa ini. Sepertinya kita tidak bisa mengambil quest itu kalau begini keadaannya."


Yang di katakan Rin itu benar, jika tak ada seorangpun disini, kita tak akan bisa mengambil misi itu. "Baiklah."


Kamipun berbalik untuk meninggalkan desa ini. Tapi, pintu rumah yang di duga adalah milik kepala desa perlahan mulai terbuka.


"Apa kalian adalah petualamg yang mengambil misi pembasmian itu? (sedikit ketakutan)" (???)


"Syukurlah. Kalau begitu, kalian bisa masuk ke dalam dulu."


"Baiklah."


Kamipun menerima tawarannya dan masuk ke dalam rumah besar itu.


------ Beberapa saat kemudian ------


Kami sedang duduk di kursi yang ada di ruangan tamu, dan aku memulai pembicaraan karena demi-human tua ini terlihat ketakutan. "Ada beberapa hal yang ingin aku tanyakan padamu pak tua. Tapi sebelum itu, aku ingin memperkenalkan diri terlebih dahulu." menurutku ini hal yang sopan, memperkenalkan diri terlebih dahulu sebelum bertanya sesuatu.


"Namaku, anda bisa panggil aku Hikari saja, dan aku adalah seorang petualang. Dan ini Emilia, petualang sama sepertiku. Dan ini Rin, dia juga seorang petualang."


"Aku Inori, anak mama, dan papa." (Inori)


"Aku Grely kepala desa di desa ini, dan aku juga yang sudah mengirim quest itu ke guild."


"Jadi benar ini adalah rumah kepala desa." pikirku.


"Aku ingin bertanya, kenapa desa ini terlihat seperti desa mati?" karena tak ada aktivitas di desa ini.


"Itu karena serangan banteng hutan raksasa beberapa minggu lalu."


"Beberapa minggu lalu? Berarti quest ini sudah cukup lama." pikirku


"Apa tak ada petualang yang mengambil quest ini sebelum kami."


"Sebelumnya memang ada beberapa petualang yang mengambil quest ini. Tapi, mereka semua tak mampu menyelesaikannya dan akhirnya menyerah, dan karena hal itu pula beberapa penduduk pindah dari desa ini ke desa terdekat untuk berlindung dari serangan banteng hutan raksasa yang bisa kapan saja menyerang kembali ke desa ini."


Dari kata-kata kepala desa ini, aku mendapatkan sedikit informasi, bahwa sepinya desa ini di kerenakan ulah banteng hutan raksasa yang sudah menyerang desa ini. Dan ada satu hal yang membuatku bertanya-tanya. "Kembali? Memangnya sudah berapa kali desa ini di serang?"


"Dalam kurun waktu 10 hari saja, desa ini sudah di serang sebanyak 4 kali oleh banteng hutan raksasa."


"Wooow.. (terkejut) Pantas saja penduduknya kabur, jika di serang sebanyak itu dalam waktu 10 hari, siapa yang tidak takut, siapapun akan takut dan lebih memilih untuk pergi pastinya." pikirku.


Melihat kenyataannya, membuatku sedikit terkejut.


Tiba-tiba tanah mulai bergetar. "A-Ada apa ini. (panik)" Tanah bergoncang dan membuatku panik.


"Tidak, mereka sudah datang.." (Grely)


"Mereka? (bingung)" (Emilia)


-------- Beberapa menit kemudian --------


Goncangan itu berhenti, dan kami memutuskan untuk keluar melihat apa yang sudah terjadi di luar.


"Woy woy, kau pasti bercanda.." Aku melihat puluhan banteng hutan yang berukuran lebih dari 10 meter sedang berada di area desa ini.


"Kalian ini adalah petualang, bisa tolong lakukan sesuatu pada semua banteng hutan raksasa itu, aku mohon." (Grely)


Meskipun ia memohon seperti itu, tapi aku tak pernah membayangkan kalau banteng hutan raksasa ini akan sebesar itu. Kalau seperti ini, pantas saja petualang yang mengambil quest ini menyerah, jika aku tau akan seperti ini, aku mungkin tak akan mau memgambil quest ini meskipun bayarannya tinggi.


"Hi-chan, bagaimana ini?"


"Hiroaki."


"Papa."


"Woy woy woy, ada apa ini? Kenapa mereka semua melihat ke arahku. Sampai Inoripun juga ikut-ikutan.." pikirku. Mereka semua melihat ke arahku, dan aku tak tau apa yang sebenarnya mereka semua inginkan dariku.


"Eeeeh.. Ada apa?"


"Kita bantu mengalahkan monster itu, Hi-chan."


"Iya." (Emilia)


"Aahhh.. Baiklah." Jika saja aku tak mengambil quest itu, pasti aku tak akan mendapatkan masalah sebesar ini. Aku kira banteng hutan raksasanya hanya setinggi 3-5 meter, tapi nyatanya berbeda dengan apa yang aku bayangkan.


Jika sudah seperti ini, aku tak punya pilihan lain, bisa saja banteng hutan itu membahayakan Rin dan yang lainnya saat kami akan pergi dari desa ini. "Hmmm, Emilia."


"Iya."

__ADS_1


"Berapa monster yang sanggup kau bunuh?"


"Aku tak tau jumlah pastinya, tapi aku rasa aku bisa membunuh lebih dari 20 monster."


"Hmmm, sepertinya lumayan. Bagaimana denganmu Rin?"


"Aku tak tau."


"Begitukah, kalau begitu Emilia. Lindungi Rin dan Inori, aku akan mengurus mereka semua."


"T-tapi..."


"Sudah, ikuti saja apa yang aku katakan, lagipula aku akan baik-baik saja."


"Baiklah. Kalau begitu, aku akan melindungi Rin dan juga Inori."


"Ya."


Akupun barjalan maju mendekati puluhan banteng hutan raksasa itu. "Haaa.. Sepertinya ini akan sedikit menyusahkan." gumamku.


Akupun berniat mengambil padang naga biru, tapi aku terhenti setelah mengingat apa yang sudah terjadi padaku sebelumnya. Dan aku putuskan untuk memggunakan Shirame. "Nah, ini saatnya untukmu beraksi Shirame."


1 banteng hutan berlari mendekat ke arahku dan aku melompat ke samping untuk berniat menggores perut banteng hutan itu.


Shaassh.


Dan kusangka, perut banteng hutan itu tergores dan seketika mati. "Lah, padahal aku hanya sedikit menggores perutnya saja."


"PAPA HEBAT!!!!"


"Ahh... Baru kali ini ada yang memuji apa yang aku lakukan." gumamku. Tapi, sepertinya banteng hutan ini cukup lemah, karena dengan 1 goresan kecil saja sudah bisa menumbangkan monster ini.


"Kalau begitu, (mengambil pedang naga biru) aku akan menggunakan ini. Lagipula jika tidak di gunakan berlebihan aku tak akan mengalami kejadian seperti waktu itu." aku menaruh pedang Shirameku dan beralih ke pedang naga biru.


Aku mulai menebas banteng hutan itu.


Dalam 1 kali tebasan, aku berhasil membunuh lebih dari 10 hewan iblis, tapi 1 tebasan itu cukup menguras tenagaku, karena aku masih belum mempunyai tenaga yang cukup untuk bisa menggunakan senjata ini dengan leluasa, dan mungkin aku hanya bisa menebas sebanyak 10 kali lagi sebelum akhirnya tenagaku habis.


2 tebasan.


3 tebasan.


4 tebasan.


5 tebasan.


6 tebasan.


7 tebasan.


"Ha ha, se-pertinnya sudah selesai" Aku berhasil membasmi semua banteng hutan raksasa itu dengan 7 tebasan, dan sebagai bayarannya, staminaku hampir habis.


"Papa!!"


"Hiroaki!!"


"Hi-chan!!"


Mereka semua berlari mendekat ke arahku. "Ahh.. A-da apa in-" kepalaku terasa pusing dadaku mulai terasa begitu sakit, dan karena rasa sakit yang begitu kuat ini akupun pingsan.


-------- Beberapa jam kemudian ---------


Siang hari, jam - -.- -


Aku mulai membuka mataku perlahan, dan sedikit rasa sakit masih terasa di bagian kepalaku. "Aw, dimana aku?" aku melihat langit-langit yang terlihat asing untukku.


"Ma, papa sudah bangun."


"Ah, Inori. Kita ada dimana sekarang?"


"Kita sedang berada di rumah kepala desa. Kau tadi tiba-tiba saja pingsan, jadi kami membawamu kesini." (Emilia)


"Begitu, apa yang terjadi setelah aku pingsan, dan bagaimana dengan monsternya?"


"Monsternya sudah berhasil dibasmi, dan sepertinya sudah tidak ada monster yang akan menyerang lagi."


"Begitukah." Jadi, bisa disimpulkan kalau quest ini sudah selesai.


"Papa, tadi itu keren. (kagum)"


"Aaahaha."


"Terima kasih sudah membasmi banteng hutan raksasa itu, aku sungguh berterima kasih padamu." (Grely)


"Ah, tidak apa-apa itu sudah menjadi tugas kami sebagai seorang petualang."


Grely melihat ke arah Rin, Emilia, dan juga Inori. Dan sepertinya aku tau dia ingin apa.


Dia ingin Rin dan yang lainnya pergi dari kamar ini, dan sepertinya ada sesuatu yang ia ingin bicarakan berdua denganku. "Rin, Emilia, Inori, bisa kalian keluar sebentar, ada yang ingin aku bicarakan dengan kepala desa ini." aku berkata seperti itu, karena kelihatannya Grely tak enak jika harus menyuruh mereka untuk keluar.


"Baiklah kalau begitu, kalau kau butuh sesuatu panggil kami, ya." (Emilia)


"Baiklah."


Mereka semua pergi dari kamar ini dan hanya tinggal aku dan Grely yang ada di sini. "Jadi, apa ada yang ingin kau katakan padaku kepala desa."


"Aku ingin mengucapkan terima kasih, karena anda sudah membasmi banteng hutan raksasa itu."


"Aku sudah mendengar hal itu darimu, tapi sepertinya, ada hal lain yang ingin kau bicarakan denganku."


"Seperti yang anda sudah tau."


"Nah, ternyata dugaanku benar. Memang ada sesuatu yang disembunyikan oleh kepala desa ini." pikirku.


"Jadi, apa yang ingin kau beritahukan padaku."


"Sebenarnya, kedatangan banteng hutan itu ke desa ini mungkin ada penyebabnya."


"Penyebabnya? Apa penyebabnya?"


"Sebelum desa ini di serang banteng hutan raksasa, desa kami adalah desa yang aman. Tapi, saat ada seseorang yang menjual budak ras Sucubus ke desa ini, mulai saat itulah banteng hutan raksasa itu mulai muncul dan menyerang desa ini."


"Oh, jadi begitu." aku sedikit paha atas apa yang sudah terjadi di desa ini. "Jadi, ras Sucubus juga ada di dunia ini, ya." pikirku. Mengingat Sucubus adalah mahluk yang suka menggoda laki-laki, jadi aku sedikit penasaran dan mungkin dia adalah sesosok gadis cantik. Itulah yang aku tau dari anime-anime yang pernah aku tonton dulu.


"Kau bisa keluar sekarang."


Seorang gadis muncul dari bayangan kepala desa itu.


"Cantik banget ***." ini adalah pertama kalinya aku melihat ras Sucubus di dunia ini dan ini lebih dari apa yang aku harapkan, ini sangat luar biasa. "Tapi." Sucubus ini memiliki cukup banyak luka yang ada ditubuhnya.


"Ini adalah Sucubus yang saya maksud tadi."


"Jadi dia. Tapi, kenapa terdapat banyak luka ditubuhnya? Apa yang sudah terjadi dengannya hingga membuatnya terluka seperti ini?" aku cukup penasaran tentang hal itu.


"Itu karena ulah warga yang mengetahui kalau penyebab datangnya banteng hutan raksasa itu, adalah ulah dari ras Sucubus ini yang datang ke desa ini."


"Jadi?"


"Saya ingin memberikan budak Sucubus ini kepada anda, dan dengan begitu desa ini akan aman seperti sediakala, anggap saja ini sebagai hadiah spesial dariku sebagai kepala desa kepada anda yang sudah menyelamatkan desa ini. Dan mungkin, jika Sucubus ini tetap ada di desa ini, banteng hutan raksasa akan kembali menyerang desa ini lagi."


"Oh, begitu rupanya. Ehh, ehhh!!?!!"


"Kalau begitu, anda sudah resmi menjadi tuan dari budak Sucubus ini. Dan mulai saat ini, succubus ini adalah milik anda."


"*-*-*-t-tunggu dulu. Apa maksudnya-."


"Ini adalah dokumen quest yang sudah tuntas, anda bisa menyerahkan dokumen ini pada resepsionis guild untuk mendapatkan imbalan quest ini. Kalau begitu, saya izin pergi untuk memberi tahukan warga yang mengungsi kalau banteng hutan yang menyerang desa sudah berhasil di basmi." tepat setelah ia berkata seperti itu, ia kemudian pergi meninggalkanku bersama Sucubus ini.


"T-tuan."


"Stop, jangan panggil aku tuan, aku bukan tuanmu." ia terlihat ketakutan dan bahkan tak berani untuk menatap mataku secara langsung.


Seketika aku mendapatkan sebuah ide. "Bagaimana kalau aku bebaskan dia dari segel budak seperti yang sudah aku lakukan sebelumnya, sepertinya ini adalah pilihan yang terbaik untukku dan juga untuk Sucubus ini." pikirku. "Baiklah, kalau begitu, aku akan mulai."


Bersambung.

__ADS_1


__ADS_2