Watashi No Hanayome

Watashi No Hanayome
14


__ADS_3

"Ingatanku?"


"Ya, aku tak tau kenapa Rin-chan meminta hal itu, tapi sepertinya, setelah aku berbicara pada dewa di duniamu, kau itu kehilangan ingatanmu. Untuk itulah aku meminta dewa di duniamu untuk mengembalikan ingatanmu kembali."


Aku cukup terkejut mendengar hal itu dari dewa ini. Tapi aku lebih terkejut mendengar kalau Rin tau jika aku kehilangan ingatan.


"Ha, (menghela nafas) baiklah untuk memepersingkat waktu, aku akan mulai." (dewa Sha)


"Ehh, mulai?"


Click. (menjeltikkan jari)


Sebuah DVD tiba tiba muncul di depanku dan kemudian dewa Sha mengeluarkan sesuatu yang menyerupai sebuah kaset lalu memasukkannya ke dalam DVD itu. "Nah sudah selesai, sekarang kita tunggu."


"Apa yang harus..."


Tiba-tiba aku berpindah sebuah tempat yang tak asing bagiku. Ya, ini adalah tempat tinggalku di bumi, jepang atau lebih tepatnya di daerah perumahan tempat aku dilahirkan dulu. "Kenapa aku bisa ada di sini?"


"Ini adalah rekaman ingatanmu sejak kau lahir hingga kau berumur 10 tahun."


Aku mendengar suara di belakangku dan suara itu adalah suara dewa Sha.


"Apa ini, ingatanku?"


"Ya. Tapi, aku hanya mengambil beberapa bagian yang paling inti dari ingatanmu saja, jika aku menunjukkan semua ingatanmu ini, maka akan banyak memakan waktu, dan juga itu akan merepotkan."


"Ehh."


Tiba-tiba seorang anak laki-laki berumur sekitar 5 tahun melewati diriku atau lebih tepatnya menembus diriku. "Ba-bagaimana bi-"


"Ingat, ini adalah ingatanmu. Jadi, kau dan aku hanya bisa melihat apa yang terjadi, dan jika terjadi sesuatu baik kau bahkan akupun tak bisa melakukan apapun, karena ini hanyalah sebuah ingatan milikmu."


Seorang laki-laki dengan tubuh yang kekar mengikuti bocah itu dan aku mengenal laki-laki itu, dia adalah ayahku Yamato. "Ayah!!" Aku mencoba memanggilnya.


"Ha, sudah kukatakan sebelumnya, ini hanyalah ingatan. Kau tak akan bisa berbuat apa-apa, yang bisa kau lakukan hanyalah melihat."


"Benar apa yang dikatakan dewa Sha, ini hanyalah ingatan, jadi aku harus tetap tenang." pikirku


---------------


"Hati-hati Hiroaki." (ayah)


-------------


"Ohh, jadi bocah itu adalah dirimu. HAHAHAHA. Lucu sekali."


"Aku penasaran, kemana ayah dan diriku akan pergi? Sebaiknya kita ikuti mereka."


"Ahh, benar juga."


---------------


Akupun mengikuti ayah dan diriku yang masih bocah.


Ayah dan Hiroaki kecil memasuki sebuah rumah yang sangat besar, dan aku juga tak tau dengan rumah itu. "Ahh.. Selamat datang." seorang wanita yang beusia kira-kira 40-an menyambut ayah dan Hikari kecil.


"Maaf tante, apa Rin ada?"


-----------


"Rin? Apa Rin yang itu?" Aku merasa heran.


------------


"Ohh, tentu saja, dia ada di dalam kau bisa bermain denganya di dalam."


"Makasih tante. (masuk ke dalam rumah)"


Akupun mengikutinya, dan saat aku masuk mengikuti Hiroaki kecil, aku melihat seorang gadis kecil berusia sama sekitar 5 tahun dengan rambut berwarna putih cerah sedang bermain rumah balok. "Rin-chan!!" ucap Hikari kecil berlari sambil menghampiri gadis itu.


-------------


"Ehhh, *-*-*-tunggu dulu, dia Rin!!!??"


"Ternyata teman masa kecil toh. Mungkin ini akan menjadi lebih menarik. Hahaha."


--------------


Aku kembali melihat aku dan Rin kecil bermain balok kayu itu. "Nee Hi-chan."


------------


Aku ingat kalau Rin pernah menyebutku Hi-chan, dengan ini aku sudah yakin kalau Rin ini adalah Rin yang aku temui saat aku dewasa.


-------------


"Ada apa? (sedang fokus menyusun balok)"


"Apa kau mau jadi pengantinku?"


---------------


"Haaaaaaaa!!!! (terkejut)"


"Wow, gadis kecil itu ternyata berani juga. hahahaha."


--------------


"Pengantin?"


"Kata ibu, kalau kita menjadi pengantin, kita bisa terus bersama, dan bisa selalu bermain bersama. Apa Hi-chan mau menjadi pengantinku."


"Kalau begitu, aku mau. (tersenyum)"


"Baik, kalau begitu aku mau bilang ke ibu dulu. (tersenyum)"


"Hm, baiklah."


Karena penasaran akupun mengikuti Rin kecil. Rin kecil pergi menemui ibunya yang sedang berada di ruang tamu dan sedang berbicara dengan ayahku dan juga di sana ada juga seorang laki-laki yang mungkin adalah ayah Rin.


"Ibu!!" (Rin kecil)


"Ada apa Rin?"


"Aku ingin menjadi pengantin Hi-chan."


"Hah. (bingung)" (ayah)


"Sepertinya ini bagus, kita bisa menjalin kerjasama dengan baik antar perguruan beladiri jika seperti ini." (ayah Rin)


"Hmmm, sepertinya boleh juga. Tapi, apa anakku akan setuju?"


"Em, Hi-chan bilang dia juga mau jadi pengantinku." (Rin kecil)


"Ehh?? Rin-chan, bisa kau panggilkan Hiroaki." (Ayah)


"Baik, paman."


Setelah itu, Rin kecil pergi.


Aku tidak mengikuti Rin kecil dan diam mendengar pembicaraan ayah beserta keluarga Rin.


"Bagaimana, tentang penawaranku itu Akarui-san."


"Hmmm, aku harus mendengar langsung dari anakku, apa dia setuju tentang hal itu atau tidak."


"Baiklah."


--------- Beberapa saat kemudian -------


"Ibu!! Aku sudah bawa Hi-chan."


Rin kecil menarik tangan Hikari kecil dan membawanya ke depan para orang tua.


"Nah Hikari, ayah ingin bertanya sesuatu padamu?"


"Apa, yah?"


"Apa benar, kau ingin menjadi pengantin bersama Rin-chan."


"(tersenyum) Iya."


"Ara, sepertinya sudah di putuskan." (ibu Rin)


"Hahahaha, sepertinya kau tidak bisa mengelak lagi, Yamato-san." (ayah Rin)


"Ha, sepertinya ini adalah pilihan anakku, mau bagaimana lagi. Hahahaha." (ayah)


-----------


"Woywoywoyowoy, apa artinya ini?"


"Hahahaha, sepertinya kau sudah di jodohkan dengan Rin. Dan itu bertujuan untuk mempererat hubungan antar perguruan beladiri diantara orang tuamu dan juga orang tua Rin."


"Apa boleh seperti ini?"


"Jika itu kemauanmu, kenapa tidak, Hi-chan,(nada mengejek) hahahahaha."


"Berisik."


"Sebaiknya kita mencari ingatan yang lebih inti lagi."


"Baiklah."


Click. (menjeltikkan jari)


Setelah itu, aku berpindah tempat ke sebuah taman bermain atau lebih tepatnya taman hiburan.


-----------


Pagi hari, jam 09.57


"Nee, Hi-chan. Apa kau mau naik itu. (menunjuk ke arah roler coaster)"


"Kayaknya itu menakutkan."


"Tenang aja, kan ada aku. (tersenyum)"


Tiba-tiba Rin menarik tangan Hikari kecil dan mereka menaiki roler coaster, bersama.


--------------


"Ohh, sepertinya ini adalah ingatan saat kau berusia 8 tahun." (dewa Sha)


"Hmm, sepertinya begitu."


-------------


Menaiki roler coaster.


"AHHHHHHH!!!!!!! TIDAAAKKKKKKK!!!! (ketakutan, menjerit histeris" (Hikari)


"AAAAAA... SERUUUU!!!! (tersenyum)" (Rin)


----------------


"Hahahaha, lihat wajahmu, saat kau masih bocah. Sangat lucu. Hahahaha.."


Entah kenapa mulai tadi dewa Sha terus tertawa.


"Ha, terserah."


--------------


Selesai naik roler coaster.


"Ha,ha,ha,ha. (mual-mual)"


"Kau tak apa-apa Hi-chan."


"Aku tid-. (muntah)"


"A-aku minta maaf Hi-chan, sudah memaksamu naik itu."


"Tidak ap-. (muntah, lagi)"


"Hi-chan!!! (panik)"


---------


"Hahaha, liat, liat kau muntah."


"Ah, sudahlah."


"Sepertinya Rin-chan cukup perhatian padamu."


"Ha??!!"


"Bisa dilihat dari tingkah lakunya, dia sangat mengkhawatirkamu."


Seperti yang dewa Sha katakan, Rin kecil terlihat sangat perhatian padaku.


---------


Setelah itu, Hikari kecil duduk di salah satu kursi yang ada di taman bermain itu.


"Hi-chan, aku mau pergi membeli minuman dulu, sebaiknya kau tunggu di sini dulu, ya. Jangan kemana-mana sebelum aku kembali, ya."


"Hah, baiklah."


Setelah itu, Rin kecil pergi membeli minuman. Dan aku lebih memilih untuk mengikuti Rin.


----------


"Hey dewa Sha."


"Ada apa bocah dunia lain?"


"Sebaiknya kita ikuti Rin kecil, aku merasakan sesuatu yang buruk akan terjadi."


"Ha.. Baiklah, lagipula ini adalah ingatanmu."


------------


Akupun berjalan mengikuti Rin kecil.


Rin kecil sampai di tempat pembelian minuman. "Sebaiknya, aku pilih minuman apa, ya. Untuk Hi-chan."


Tiba-tiba seorang laki-laki mencurigakan muncul dan menghampiri Rin kecil.


"Wah wah, ternyata ada gadis cantik sedang sendirian. Dimana orang tuamu?"


"A-aku bersama Hi-chan. (ketakutan)" Rin kecil ketakutan.


"Wah wah, sebaiknya kau ikut om saja." (om pedo)


Laki-laki itu memengang tangan Rin kecil.


"Tidak!!!!"


-----------


"Woy!!! Lepaskan dia." Aku berusaha berteriak pada orang itu dan orang itu tak medengarkanku.


"Percuma saja, aku sudah bilang, jika ini adalah ingatanmu. Baik kau maupun aku tidak bisa berbuat apa-apa disini, jadi cukup perhatikan saja."


"Tapi."


------------


"LEPASKAN RIN-CHAN SEKARANG JUGA!!!"


Hikari kecil berteriak kemudian berlari dan menendang perut laki-laki itu hingga membuatnya terpental dan melepaskan genggamannya dari Rin kecil.


"Ughh." (om pedo)


"Kau tak apa-apa Rin-chan."


"Aaaaaaah. (menangis) Hi-Hi-chan, a-aku takut."


"Beraninya kau membuat Rin-chan menangis. Rasakan ini!!!"


Hikari kecil berlari dan menendang kembali perut laki-laki itu dengan kuat, lagi.


-----------


"Woooow, ternyata kau cukup berani juga, sungguh heroik."


Entah kenapa mendengar hal itu darinya, tak membuatku merasa bangga sama sekali.

__ADS_1


----------


"Rin-chan, sekarang sudah tidak apa-apa."


"Hi-chan aku takut. (memeluk)"


"Ri-Ri-Ri-Rin-chan. (gugup)"


Penjahat itu sudah pingsan akibat dari tendangan Hiroaki kecil.


"Hi-chan, aku mohon, jangan biarkan aku sendiri lagi, aku takut."


"Hm, baiklah."


-----------


"Hmmm sepertinya bagian ini sudah selesai, kita ke bagian selanjutnya."


"T-tunggu du-"


Clik. (menjeltikkan jari)


Dan sekali lagi aku berpindah tempat, dan sekarang tempatnya adalah sebuah sekolah dasar.


"Ohh, kehidupan sekolah, ya. Kelihatanya cukup bagus."


Sepertinya dewa Sha ini menunggu sesuatu yang tidak aku sadari.


"Baiklah sekarang kita sudah masuk ke dalam ingatanmu, dan sepertinya ingatan ini menunjukkan kalau kau sudah berumur 10 tahun."


"10 tahun, berarti, mungkin aku bisa tau apa penyebab kenapa ingatanku bisa hilang."


"Hmmm, sepertinya begitu juga tidak apa-apa."


---------------


---------- Di depan gerbang sekolah dasar ---------


Pagi hari jam, 07.27


"Pagi Hi-chan."


"Ohh, pagi juga Rin-chan."


Hikari dan juga Rin kecil masuk ke area sekolah.


Mereka berada di kelas yang sama.


Ditengah perjalanan menuju ke kelas.


"Nee, Hi-chan, apa kau sudah selesai mengerjakan PR yang di berikan bu'guru?"


"Wahhh!! Gawat, aku lupa."


"Moo, (menggembungkan pipinya) mau bagaimana lagi, ini aku pinjamkan. (mengambil buku yang ada di tasnya dan memberikanya pada Hi-chan)"


"Makasih Rin-chan. (tersenyum)"


"Sama-sama. (tersenyum)"


--------------


"Ha, sepertinya di inti ingatan bagian ini tidak ada hal yang menarik. Akan aku ganti."


"Tunggu dulu dewa. Bisa kau majukan waktunya hingga jam pulang?"


"Hmmm, boleh. Tapi kenapa?"


Menurutku ada yang janggal dengan hari ini, aku merasa kenapa ingatan inti memperlihatkan ingatan tentang sekolah yang menurutku tidak begitu menarik, dan di juga inti ingatan ini di perlihatkan kalau aku sudah berusia 10 tahun atau tepatnya saat aku kehilangan ingatanku. 


"Ada yang ganjal menurutku di hari ini."


"Baiklah, jika itu maumu."


Clik. (menjeltikkan jarinya)


-----------


Sore hari, jam 04.30


Seluruh murid sekolah sudah pulang.


"Nee, Hi-chan, bisa antar aku pulang."


"Baiklah."


Rin dan Hiroaki kecil pun pulang.


------------


"Di bagian ini sepertinya tidak ada yang aneh. Aku akan lanjutkan ke bagian selanjutnya, saja."


"Tunggu dulu sebentar."


"Hmmm, Baiklah."


--------------


--------- Di tengah perjalan pulang -----------


Penyebrangan jalan. "Nee Hi-chan. Kita lewat sini saja."


"Tunggu Rin-chan."


Rin langsung pergi menyebrang jalan.


Tiiiiiitttttt tiiiiitttttt. suara bel mobil


Sebuah mobil melaju dengan cepat menuju ke arah Rin.


"Awas Rin-chan." Hiroaki kecil mendorong Rin dan menggantikan posisi Rin.


Rin kecil terdorong agak jauh dan Hiroaki kecil tertabrak oleh mobil.


Gubrakkk. (tabrakan)


"Hiiiii-chaaaan!!!! (berteriak panik)"


-----------


"Hmmm, sungguh heroik. Hahaha."


"Dewa, bisa kau singkat ke bagian selanjutnya."


"Baik."


Click. (menjeltikkan jari)


Tiba-tiba aku berpindah ke sebuah rumah sakit.


"Sepertinya ini masih di hari yang sama." (dewa Sha)


-------------


Sore hari di hari yang sama, Jam. 16.15


"Bagaimana dokter, keadaan anak saya?" (ayah)


Aku melihat ayah sedang berbicara pada seorang dokter.


"Luka yang di alami oleh anak anda cukup parah, terutama di bagian kepalanya, dan juga ada kemungkinan kalau ingatan anak anda akan menghilang."


"Apa?!!"


"Anda bisa melihat putra anda di dalam. Saya permisi dulu. (pergi)"


Ayah masuk ke dalam ruangan perawatan.


-------------


"Mungkin ini penyebabnya."


"Tapi, kenapa hanya ingatan tentang keluargaku saja, yang bisa aku ingat. Sedangkan ingatan tentang Rin, kenapa bisa hilang?"


"Ohh.. Untuk hal itu, ada alasannya kenapa hanya ingatan tentang keluargamu saja yang bisa kau ingat."


"Sebelumnya, aku sudah bertemu dengan dewa yang ada di duniamu beberapa kali."


"Beberapa kali?"


"Ya.. Saat aku meminta izin untuk membiarkanku membawamu dan Rin-chan ke duniaku. Dan juga waktu itu, setelah kalian meminta apa yang kalian inginkan padaku, aku mendengar Rin-chan ingin agar ingatanmu di kembalikan. Oleh karena itu aku langsung pergi menemui dewa di duniamu setelah kau selesai meminta permintaanmu."


"Jadi kau menemui dewa yang ada di duniaku?"


"Ya, bisa di bilang, aku menemui dewa di duniamu untuk meminta izin agar ingatanmu di kembalikan."


"Jadi dewa dari duniaku memberikan izin."


"Eiittzz, tidak semudah itu 'ferguzo'. Dia bilang seperti itu padaku, sungguh dewa yang merepotkan."


"Hah?"


"Dia meminta beberapa syarat kepadaku."


"Syarat? Syarat apa?"


"Dia, dia. (serius)"


"Hah. (serius)"


"MEMINTA 50% DARI KOLEKSI MANGA DAN ANIMEKU!!!!"


"Hah?!! (terkejut)"


"Ahh, lupakan saja hal yang aku katakan barusan."


Aku tak tau kalau dewa yang ada di dunia tempat aku berada sekarang adalah seorang dewa yang suka dengan anime dan juga manga (otaku).


-------------


"Rin-chan, Rin-chan. (mengigau)"


"Hiroaki apa kau sudah sadar." (ayah)


Kreeekkk. (pintu terbuka)


Rin dan keluarganya datang untuk melihat keadaan Hiroaki kecil.


"Hiiiii-chaaann. (menangis) A-aku minta maaf paman (hiks-hiks), kalau saja aku mengikuti ucapaan Hi-chan, Hi-chan (hiks-hiks) pasti tidak akan terluka."


"Sudahlah Rin-chan, ini sudah takdir." (ayah)


Meskipun ayaku berkata seperti itu, aku melihat ayah yang sedikit meneteskan air mata.


"Rin-chan, Rin-chan. (membuka mata)"


"Hiroaki, kau sudah sadar." (ayah)


"A-ayah.. A-aku ada di-mana a-ayah?"


"Kau ada di rumah sakit Hiroaki."


"Ha, (menghela nafas) begitu, ya. B-bagaimana keadaan R-Rin-chan, yah?"


"Dia-"


"Hi-chaaaaan. (menangis)"


Rin kecil memeluk Hiroaki kecil dengan erat.


"Nee, R-Rin-chan, bi-bisa kau berhenti se-sebentar."


"Tidakkkkk, aku tak mau melepaskan Hi-chan."


"Ah, t-tapi a-aku-. (melihat ke arah Rin-chan yang sedang menangis) Ahh, t-terserah kau saja."


-------------


"Sepertinya di bagian ini, ingatanmu masih belum hilang."


"Iya juga."


Benar yang di katakan dewa, ingatanku masih belum hilang di bagian ini. Lantas apa yang menyebabkan ingatanku menghilang.


-------------


Tiba-tiba dokter datang. "Maaf, bisa anda menunggu diluar, kami ingin melakukan pemeriksaan."


"Baiklah, dok." (ayah)


"Do-dokter, b-bisa kau berikan aku sedikit waktu lagi untuk berbicara dengannya."


"Bagaimana Pak, (melihat ke arah ayah Hikari) apa anda akan mengizinkannya."


"Ayah, a-aku mohon."


Melihat hal itu, ayah mengizinkannya.


"Baiklah. Sebaiknya kita keluar dulu."


"Baiklah." Seluruh orang yang ada di ruangan itu keluar dan hanya tersisa Rin dan juga Hikari kecil di dalam.


"Nee, Rin-chan."


"A-ada apa. (menangis)"


"A-aku i-ingin memeberikan se-suatu padamu."


"Apa?"


"Bisa ka-kau ambil kalung yang a-ada di leherku."


"Hemm, baik."


Rin kecilpun menuruti kata-katanya dan mengambil kalung yang ada dileher Hiroaki kecil.


Sebuah kalung dengan bentuk bintang.


Setelah melihat kalung itu, aku mengingat sesuatu.


-----------


"Bukannya itu kalung milik ibuku? Kenapa bisa ada padaku?"


"Sebaiknya kita fokus saja pada ini dulu."


"Baiklah."


-------------


"Ini, Hi-chan. (memberikan kalung)"


"R-Rin-chan, bisa kau pakai itu."


"T-tapi ini kan-"


"Itu hadiah untuk mu. Aku h-harap Rin-chan mau me-makainya."


"Hemm, baiklah."


Rin kecil pun memakai kalung itu.


"Ah, kau cocok memakainya."


"Hi-chaaann. (menangis)"


"T-tolong jaga kalung itu bbaik-baik, ya. Rin-chan."


"Ba-baik, akan aku jaga."


"Ha, a-aku senang mendengarnya. (memengang kepalanya)"


"Hi-chan kau kenapa? (panik)"


"AHHHHH!!!!!..... (berteriak kesakitan)"


"Hi-chaaannn!!!!"


Orang yang berada di luar, mendengar teriakan itu dan langsung masuk ke dalam.

__ADS_1


"Dokter, Hi-chan, ada apa dengan Hi-chan dokter?"


"Maaf, kalian semua bisa keluar.. Kami akan segera melakukan pemeriksaan."


"Baiklah dok." (ayah) meskipun ayah kelihatan tegar tetapi justru sebaliknya, di dalam hati ayah sangat panik.


Dokter dan juga para perawat yang berada di dalam ruangan memberikan obat penenang pada Hikari kecil.


---------------


"Sepertinya ini adalah akhir dari bagian ingatan ini, apa kau mau lanjut."


"Dewa.. Bisa kau majukan waktunya setelah dokter itu keluar dari ruangan tempat aku dirawat."


"Hmmm, baiklah."


Clik. (menjeltikkan jari)


------------


Malam hari, jam 20.23


Dokter keluar dari ruangan tempat hikari kecil dirawat. Dan sementara itu, tadi ayah sudah menyuruh Rin dan keluarganya untuk pulang karena, ayah tak ingin menrepotkan keluarga Rin.


Ayah yang melihat dokter sudah keluar dari ruangan hikari kecil dirawat, langsung menghampiri dokter itu.


"Bagaimana keadaan anak saya dok?"


"Maaf pak, sepertinya tidak ada cara lain selain operasi. Karena terdapat pendarahan yang cukup parah terjadi di bagian otak anak anda, jika tidak segera di lakukan operasi, mungkin hal ini bisa meneybabkan hal yang akan sangat berbahaya bagi nyawa putra anda."


"Baiklah dok. Lakukan apa saja asalkan anak saya bisa selamat."


"Baiklah, pak. Akan kami usahakan."


Setelah itu dokter memanggil beberapa perawat. "Tolong siapkan ruangan operasi."


"Baik." (perawat)


----------


"Sudah, sekarang kita lanjutkan saja ke bagian selanjutnya."


"Baik."


Clik. (menjeltikkan jari)


Dan kamipun berpindah ke sebuah ruangan perawatan tapi berbeda dengan yang sebelumnya.


"Hmmm, sepertinya ini hanya terlewat beberapa hari setelah kau di operasi."


-------------


Pagi hari, jam 09.35


Hiroaki kecil membuka matanya. "Di-dimana aku? (memengang kepala)"


"Kau sudah sadar Hi-chan, sukurlah."


Rin kecil menunggu Hiroaki bangun. "Si-siapa kau?"


"Aku Rin, apa kau tak ingat."


"Rin?"


Setelah itu, Rin kecil meneteskan air matanya. "Hi-chan, (menagis) ini aku Rin apa kau tak ingat padaku?"


"Ma-maaf aku tak tau kau itu siapa."


------------


"Seperti yang dokter itu katakan, ingatanmu akan hilang. Apa sekarang kau sudah puas, setelah melihat ingatanmu ini? Dan juga penyebab kenapa ingatanmu bisa hilang."


"Ha. (menghela nafas)"


"Sepertinya ini adalah akhir dari semua inti ingatanmu yang hilang. Baiklah sebaiknya kita kembali."


"Baik."


Clik. (menjeltikkan jari)


Kami berpindah tempat dan bukannya di dalam gua, aku malah berada di dalam rumah milikku atau tepatnya  saat aku tinggal bersama dengan kedua orang tuaku.


"Ahh, sepertinya ini adalah salah satu ingatan inti yang ada dalam ingatanmu."


-----------


"Hiroaki."


Suara lembut ibu yang mengusap kepala Hikari saat berumur 3 tahun.


----------


"Ingatan ini adalah ingatan saat kau berusia 3 tahun."


"Tunggu dulu, pasti ada yang salah. Yang aku tau ibuku sudah meninggal saat aku berusia 2 tahun."


"Aku tak tau soal itu, tapi yang pasti ini adalah ingatan milikmu. Dan mungkin ada yang mengubah ingatanmu soal hal ini."


"Mengubah, siapa yang bisa melakukannya."


"Tentu saja dewa yang ada di duniamu."


"Haaaaa?! (terkejut)"


"Oh ya, ada satu hal yang aku lupa beritahu padamu."


"Apa?"


"Sebenarnya, dewa dari duniamu itu mengambil ingatanmu dan menggantinya dengan membuat kau bisa hidup, atau bisa disebut juga pertukaran."


"Pertukaran."


"Ya, ingatan diganti dengan nyawa. Itulah yang dilakukan oleh dewa di duniamu."


"Kenapa kau tak bilang dari awal."


"Aku kan sudah bilang, kalau aku lupa."


"Ha."


Dengan begitu sudah jelas, alasan kenapa ingatanku tentang Rin bisa hilang dan hanya tersisa ingatan tentang keluargaku saja, ini akibat dari ulah dewa.


---------


"Ada apa ibu?"


"Ibu mau memberikan sesuatu padamu."


"Apa itu bu?"


Ibu melepaskan kalung yang dipakainya. Dan memasangkannya pada Hikari kecil. "Ini untuk Hiroaki."


"Ini untuk apa bu?"


"Nanti, jika sudah besar Hiroaki ingin bersama siapa?"


"Kalau aku sudah besar, aku ingin bersama Rin-chan."


"Ara. (tersenyum) Baiklah, jika kau sudah besar kau bisa memberikan kalung ini pada Rin-chan."


"Kenapa bu?"


"Kalau kau suka dengan Rin-chan, berikan saja kalung ini padanya."


"Suka?"


"Ah, sepertinya hal seperti ini masih terlalu awal untuk anak kita." (ayah)


Ayah tiba-tiba datang.


"Sepertinya kau benar sayang. Kata seperti itu sepertinya terlalu sulit untuk bisa di mengerti oleh anak seusia Hikari." (ayah)


"Saat besar nanti, aku mau menjadi pengantin bersama dengan Rin-chan."


"Ara, Hiroaki? Darimana kau tau kata seperti itu?"


"Ayah yang memberitauku bu. Kata ayah, kalau aku menjadi pengantin dengan Rin-chan aku bisa terus bersama Rin-chan bu."


"Sayang. (melihat ke arah ayah)"


"Ehh, huh. Hehe (tersenyum)"


Ibu melihat ke arah Hikari kecil.


"Hikari, jika kau ingin menjadi pengantin dengan Rin-chan, kau harus berjanji pada ibu, kalau kau akan melindungi Rin-chan."


"Baik bu, aku janji."


-------------


"Hahahaha, ternyata."


Setelah mendengar hal itu dari ibuku aku mulai meneteskan air mata.


"Kenapa kau menangis bocah dunia lain."


"Ti-tidak, aku hanya sudah mengingat semuanya."


"Hmm, baiklah kalau begitu, sebaiknya kita segera kembali."


Clik. (menjeltikkan jari)


Kamipun kembali ketempat semula di dalam gua. "Jadi, bagaimana, apa keputusanmu?"


"Keputusanku?"


"Ya, bukannya setelah mendapatkan ingatanmu kau ingin menyelamatkan Rin-chan dari pangeran itu?"


"Tapi, Rin sudah meninggalkanku."


"Kau itu bodoh, ya."


Aku tidak terima dikatakan seperti itu.


"Apa maksudmu."


"Apa kau tau, Rin itu sudah berkorban untukmu."


"Berkorban?"


"Apa kau tau, kalau semua bangsawan dari kerajaan Slavic itu, akan melakukan segala cara agar bisa mendapatkan apapun yang mereka inginkan, bahkan jika harus membunuh."


"Jadi, apa yang sebenarnya ingin kau katakan."


"Jadi, Rin-chan sudah berkorban untuk menyelamatkanmu, apa kau tau apa yang sudah terjadi saat kau pingsan selama 4 hari?"


"Tentu saja tidak, aku'kan tak sadarkan diri."


"Selama keu tak sadarkan diri, para prajurit dari kerajaan Slavic terus berusaha untuk membunuhmu, dan Rin menghentikan mereka dan berjanji untuk ikut bersama dengan pangeran itu asalkan mereka akan membiarkamu tetap hidup dan berjanji tak akan pernah menggangumu lagi."


"Tapi, kenapa Rin melakukan hal itu."


"Sudah jelas, karena dia tak  ingin kehilanganmu lagi."


"Jadi. (berfikir)"


"Ya, apa yang kau pikirkan itu semuanya benar. Rin selama ini tak pernah melupakanmu. Jadi setelah mendengar hal itu, apa yang akan kau pilih? Menyelamatkan atau meninggalkannya?"


Setelah mendengar hal itu dari dewa Sha, aku pun membulatkan tekatku.


"Tentu saja, aku akan menyelamatkannya, apapun yang terjadi."


"Hahaha, itulah yang aku ingin dengar darimu. Sekarang sebaiknya kau bergegas, pesta pernikahannya akan di mulai besok."


"Apa besok!!!"


"Aku 'kan sudah bilang tadi, aku hanya mengambil beberapa ingatan inti saja supaya bisa menghemat waktu."


Meskipun berkata seperti itu, aku tak menyangkan akan menghabiskan waktu 2 hari. "Baiklah aku akan segera berangkat."


"Oh ya bocah, makan ini dulu. (memberi kacang)"


"Kacang? Untuk apa?"


"Sudah kau makan saja dulu."


"Baiklah."


Akupun memakan kacang itu. "Halo, sepertinya berhasil." Aku mendengar suara di kepalaku dan suara itu adalah suara dewa Sha.


"Apa yang kau-"


"Sudah, aku hanya membuat kau bisa bertelepati denganku. Dan jika kau butuh batuan silahkan telepati saja padaku."


Sepertinya ini akan sangat berguna.


"Baik, terima kasih."


Akupun berjalan keluar ke arah gua ini.


"Woy bocah dunia lain, apa kau berniat untuk pergi ke kerajaan Slavic dengan berjalan kaki?"


"Tentu saja, di dunia ini kan tak ada kendaraan."


"Ha, jika kau berjalan kaki kau akan sampai di kerajaan Slavic dalam 2 hari."


"Apa!! 2 hari. Terus, aku harus bagaimana?"


"Tenang saja."


Clik. (menjjeltikkan jari)


Sebuah gerbang emas muncul dihadapanku. "Gerbang apa ini?"


Apa ini mirip seperti pintu kemana saja.


"Itu adalah pintu kemana saja. Kau pasti berharap begitu. Tapi sayang, itu adalah Gerbang dimensi, gerbang itu bisa mengantarmu ke tempat tujuan hanya dengan menyentuh gerbangnya."


"Ehh, benarkah."


"Benar, silahkan kau sentuh saja. Oh ya, sekarang hari sudah malam, sebaiknya saat sampai di sana kau harus segera mencari penginapan."


"Baik, Tapi aku tak punya koin."


"Ha~ ini ambil. (memberi tiga buah berlian)"


"Berlian?"


"Ya, itu adalah mata uang tertinggi dari 6 mata uang yang ada di dunia ini."


"Yang tertinggi."


"Sepertinya aku harus menjelaskan macam-macam mata uang itu dulu padamu. Ha~ (menghela bafas), pertama koin perak, kedua koin tembaga, ketiga koin emas, keempat koin silver, kelima koin platimun, dan terakhir adalah berlian. 1000 koin perak sama dengan 1 koin tembaga dan begitu juga seterusnya."


"Wooow. Berarti, berlian ini seharga 3000 koin platinum."


Dan saat ini, dewa memberiku 3 berlian yang berharga 3000 koin platinum atau 3,000,000,000,000,000 (3 Kuadriliun) koin perak.


"Ya, seperti  itulah. Sudah-sudah, sebaiknya kau segera pergi. Aku ingin melanjutkan pekerjaanku lagi."


"Baiklah."


"Wahh. Aku sekarang sudah kaya. Hehe. (tersenyum)" pikirku. Dan tanpa sadar aku tersenyum.


"Kenapa kau tersenyum? Apa yang kau pikirkan? Apa kau berfikir-."


"Tidak-tidak, aku tak berfikir apa-apa."


"Begitu. Ya, sudah, sebaiknya kau segera berangkat."


"Baiklah, aku berangkat."


"Ya."


Akupun menyentuh gerbang dan seketika aku berpindah tempat di sekitar gang yang cukup sempit. "A-apa aku sudah sampai?" aku pun keluar dari gang itu.


Dan saat aku keluar dari gang itu, aku melihat semua orang sedang berkerja dan jalan-jalan di hiasi oleh bunga seperti akan ada sebuah acara yang sangat besar yang akan diadakan. Dan aku cukup yakin kalau aku sudah sampai di kerajaan Slavic. "Sepertinya aku sudah sampai. Tunggu aku Rin, Aku pasti akan segera menyelamatkanmu."


BERSAMBUNG

__ADS_1


__ADS_2