Watashi No Hanayome

Watashi No Hanayome
73


__ADS_3

'Siapa, siapa yang haru aku selamatkan?!' Para guardian yang lain sedang melindungi diri mereka sendiri, dan Koujo sibuk mengalihkan perhatian monster dewa. 'Ini pilihan yang sangat sulit.' Tapi, aku harus tetap memilih jika tidak mereka berdua akan mati.


“Maafkan aku atas keegoisanku ini.” Dengan berat hati, aku memilih untuk melindungi Sylvi yang memang seharusnya aku lindungi dari awal, dan meninggalkan Amane.


“Rasa sakit ini.” Rasa sakit, penyesalan, dan juga ketidakberdayaan.


Beberapa saat kemudian


“Ryuga.”


Settt


Sattt


Srettt. Sfx : tebasan.


“K-Kau...” Disini sudah selesai, dan aku bergegas kembali ketempat Amane untuk menyelamatkannya tapi...


“Aku, aku...” Aku sekali lagi gagal. Tidak bisa menyelamatkan Ai, kali ini aku juga gagal menyelamatkan Amane. “Aku...” Aku tak bisa melanjutkan kata-kataku. “Dia bahkan belum mengatakan hadiah perpisahan yang dia mau, tapi kenapa...”


Kotaro kembali. “Akarui, aku sudah berhasil membawanya ke hutan.”


“Begitu.”


“Akarui...”


“Shirame, Ryuga.” Kehilangan untuk yang kedua kalinya, ini membuat emosiku tak tertahankan lagi.


Hiroaki pergi menuju ke tempat monster dewa berada.


“Koujo-kun...”


“Angelia-san, kau selamat, syukurlah. Sepertinya dia menepati permintaanku.”


“Koujo-kun. Shirayuki sudah...”


“Begitu, ya. Jadi itu alasannya.”


DUARRRR


Goncangan besar terjadi, dan terdengar ledakan yang sangat besar dari arah hutan. “Koujo-kun.”


“Sebaiknya kau bantu yang lain, aku akan membantunya dulu.”


“Baik.” Mereka berpisah.


DUAARRRR


DUAARRRRR


DUAARRR


DUAARRRRR


Goncangan besar dan disusul denga suara ledakan yang begitu kuat berulang-ulang terdengar.


“Ini sangat gawat, jika dia terus melakukannya ini akan sangat berbahaya.”


“Koujo-kun...”


“K-Kau...”


--------------


Sementara itu.

__ADS_1


DUAARRR


DUARRRRR


DUAARRRR


Ledakan besar terjadi setiap pedangku mengenainya, dan semakin aku menyerangnya pertahannya ikut melemah. Hingga pada akhirnya.


Gubbraakkk


Monster dewa ini terjatuh. “Ryuga, Shirame!!” Pedangku mengeluarkan aura, pertanda kalau kekuatan yang aku gunakan sudah lebih dari 10% dan itu juga batasan yang aku miliki. “HAAAAAA!!!!!!”


Beberapa saat kemudian.


Srashhhh


Aku menusuknya dengan kedua pedangku, dan monster dewa mulai lenyap. “Selesai.”


Dugg


Dugg


Dugg


“Ghaaaa...” Tubuhku terasa sangat sakit. “S-Sepertinya, aku terlalu banyak menggunakan mana.” Setidaknya ini pernah terjadi sebelumnya, jadi aku tak perlu khawatir.


Penglihatanku mulai rabun. “Sial... A-aku...” Dan setelah itu, aku tak ingat apa yang terjadi setelahnya.


“Haa, akhirnya kau melampiaskannya juga.”


“Kau...”


“Aku adalah kau, dan kau adalah aku. Bisa dibilang, aku adalah sisi lain dari dirimu. Rasa sakit, penderitaan, kehilangan, semua hal pahit itu aku yang menanggungnya.”


“Rasanya cukup aneh mendengar diriku meminta maaf pada diri sendiri.”


“Dimana ini?”


“Alam bawah sadarmu, kehabisan banyak tenaga dan juga secara tidak sadar melepaskan kemarahan yang selama ini kau pendam.”


“Kemarahan?”


“Aku adalah kau, dan kau adalah aku. Tidak mungkin kau tidak mengetahuinya, kecuali kau ingin melupakannya.”


“Apa yang kau katakan?”


“Waktunya bangun, sampai berjumpa lagi. Atau mungkin, kau dan aku tidak akan bisa bertemu seperti ini lagi.”


“Hiroaki, Hiroaki!!” Suara yang tak asing bagiku, dan karena itu aku perlahan membuka mataku.


“A-Amane.”


“H-Hiroaki... Syukurlah, kau masih hidup.” Entah apa yang aku lihat ini, tapi sepertinya Amane selamat.


“Syukurlah, kau selamat.”


“Hiroaki.”


“Sudah berapa lama aku pingsan?”


“Beberapa menit.”


“Begitu, ya.” Ternyata lebih sebentar dari apa yang aku duga, meskipun begitu kejadian ini juga tak pernah aku duga sebelumnya. Kejadian dimana aku hampir menggunakan 15% kemampuanku.


“Wah, aku tak menyangka akan jadi seperti ini.” (???)

__ADS_1


“Sebagian besar hutan hangus hanya dalam hitungan menit.”


“Sungguh kekuatan yang luar biasa.” Entah kenapa para guardian yang awalnya menganggapku musuh, malah berkumpul disini.


“Hiroaki.” Aku perlahan mulai bangun. “Apa tubuhmu, sudah tidak apa-apa?”


“Tidak masalah, mengeluarkan hampir 15% kemampuanku memang memberikan beban yang sangat luar biasa untukku, tapi aku baik-baik saja.”


“A-Apa... 15%, kekuatan sebesar itu hanya 15%.”


Tanpa disadari, hari sudah hampir sore hari.


“Amane, aku akan pulang duluan. Sampai jumpa dirumah.”


“Eh, y-ya.”


Aku seketika berpindah kerumah Amane. “Haa, sangat melelahkan.” Setidaknya, aku berterima kasih pada dewa Sha sudah mau mengantarkanku kesini dengan cepat, jika tidak. “Ghaaaa...” Tubuhku mulai kembali terasa sakit. “Ghaaaaa!!” Seluruh tubuhku terasa seperti ditujuk oleh ratusan pedang.


Beberapa menit kemudian.


“Ha, ha, ha, ha...” Tubuhku begitu berkeringat karena menahan rasa sakit itu. Dan karena itu, aku putuskan untuk menggunakan kamar mandi untuk membersihkan diriku.


Beberapa lama kemudian.


Teras samping rumah.


“Haa, jadi itu efek sampingnya.” Efek samping karena aku menggunakan kekuatan pedangku secara berlebihan. 13% adalah batasku menggunakan kemampuan kedua pedangku, jika lebih dari itu maka kejadiaanya akan seperti tadi. “15%, ya.” Setidaknya yang tadi hampir mencapai 15%. “Sepertinya tubuhku masih sangat lemah.” Kekuatan sebesar itu, hanya ada di kedua pedangku, jika kedua pedangku tidak ada, aku tidak mungkin bisa menggunakan kekuatan sebesar itu.


“Aku, sangat lelah.” Pertarungan tadi menguras hampir seluruh tenagaku, dan mungkin membutuhkan waktu yang sedikit lama untuk membuat tubuhku pulih seperti semula.


Esoknya.


Pagi hari yang cerah.


Aku perlahan membuka mataku. “Hiroaki, kau sudah bangun.”


“Amane, ya.” Sepertinya aku ketiduran.


“Hiroaki, ini tehnya.”


“Terimakasih.” Aku tak tau, tapi sepertinya sikap Amane hari ini sedikit berbeda dari sebelumnya. “Amane, apa ada sesuatu yang sudah terjadi padamu?”


“Eh? T-tidak ada apa-apa.”


“Begitu.”


“Hiroaki, bagaimana keadaan tubuhmu?”


“Tidak ada masalah, aku baik-baik saja.”


“Begitu.”


Sudah kuduga, ada yan aneh dengannya. Ia terlihat murung, tapi karena dia bilang tidak apa-apa aku tidak bisa ikut campur. “Amane, apa PR liburan musim panasmu sudah selesai kau kerjakan?”


“Sudah.”


“Begitu. Kalau begitu, bagaimana kalau kita pergi ke taman bermain hari ini?”


“Eh? Kenapa?”


“Tidak ada, aku pikir aku butuh mengistirahatkan pikiranku. Menggunakan kekuatan sebesar itu, membuat tubuh dan pikiranku sedikit terguncang. Oleh karena itu, bagaimana kalau hari ini kita pergi ke taman bermain saja.” Semua yang aku katakana hanyalah kebohongan, tubuh dan pikiranku baik-baik saja, hanya saja mana yang ada di dalam tubuhku saja yang terkuras dan aku membutuhkan sedikit waktu untuk memulihkannya. Dan tujuanku mengajaknya ke taman bermain, hanya untuk mengalihkan suasana.


“Baiklah, aku akan segera bersiap.”


“Ya sudah, aku akan menunggumu.” Sudah kuduga, ada sesuatu yang terjadi padanya. Biasanya, ia akan senang saat aku mengajaknya, tapi hari ini berbeda. “Apa yang sebenarnya terjadi padanya.”

__ADS_1


__ADS_2