
Pagi hari, jam 08.23
Saat ini Sia sedang memengang tanganku dan menarikku keluar dari istana. Aku tak tau kemana Sia akan membawaku, tapi sepertinya ia berniat untuk melanjutkan apa yang sudah tertunda kemarin [ mengajakku jalan-jalan mengelilingi kerajaan ini. ]
[ Tengah kota kerajaan Gien. ]
"Sia, kita mau pergi kemana?"
"Ada sesuatu yang ingin aku tunjukkan."
"Baiklah." Akupun menurutinya, lagipula sepertinya itu adalah sesuatu yang penting.
--------- Setelah beberapa menit berjalan --------
Sia berhenti tepat di depan bagunan yang cukup besar yang berada tak jauh dari kota. "Tempat apa ini?"
"Ini adalah Guild yang ada di kerajaan ini."
"Guild? Kenapa kau membawaku kesini?" Aku tak tau alasan kenapa Sia membawaku ke guild, atau sesuatu yang penting ada di dalam guild ini.
"Ayo masuk."
"Baiklah." Aku hanya bisa menuruti kata-katanya.
[ Didalam guild. ]
Tak ada yang aneh di dalam guild ini, dan seperti biasa. Setiap guild pasti ramai dengan para petualang yang sedang mengambil quest. Tapi, aku melihat sesuatu yang sedikit aneh.
Cukup banyak petualang yang berkumpul dan melihat papan pengumuman. "Disana ada apa?"
"Hal yang ingin aku tunjukkan ada di sana. (menunujuk ke papan pengumuman)"
"Disana? Memangnya ada apa di papan pengumuman itu?"
"Ayo.. (menarik tanganku, lagi)"
Entah kenapa sepertinya memang ada sesuatu yang penting di papan pengumuman itu.
"Permisi aku mau lewat." (Sia) Para petualang yang ada disini tidak mendengar apa yang dikatakan Sia, dan karena hal itu Sia memaksa untuk masuk dengan cara berdesakan dengan para petualang lainnya. Dan parahnya, karena Sia masih menarik tanganku, aku juga ikut dalam situasi ini.
--------- Setelah beberapa menit berdesakan --------
Akhirnya kami sampai tepat didepan papan pengumuman. "Sebenarnya ada apa sih? Kenapa papan pengumuman ini ramai sekali."
"Nah, itu dia Akarui. Lihat itu."
"Ada apa dengan tulisan itu?" Karena aku masih tak tau tulisan yang ada di dunia ini, aku tak mengetahui arti dari tulisan yang ada di kertas yang di tunjuk oleh Sia.
"Kertas itu menulisakan kalau kau sudah menjadi pahlawan yang menyelamatkan kerajaan ini."
"Haaa, aku? Pahlawan? Tidak tidak tidak, pasti ada yang salah dengan ini." Tiba-tiba saja aku menjadi pahlawan di kerajaan ini, padahal aku tidak melakukan apa-apa.
"Itu benar, aku tidak bohong. Dikatakan di kertas itu, kalau kau sudah berhasil membunuh 4950 hewan iblis saat hewan iblis mennyerang kemarin."
"Haaa, aku tidak percaya. Sudahlah, aku mau keluar dari sini." Aku tak tau alasan apa yang membuatku di jadikan seorang pahlawan di kerajaan ini, tapi yang pasti, bahwa mereka tau kalau aku sudah membunuh 4950 hewan iblis yang menyerang kemarin. Dan aku cukup terkejut, karena mereka mengetahuinya. "Apa ada orang yang melihatku kemarin?" Tapi, jika dipikir-pikir lagi. Aku sama sekali tak merasakan kehadiran orang lain di hutan kemarin, dan hal ini mulai menggangguku.
"Hiro tunggu, jangan tinggalkan aku."
Aku keluar dari guild. "Aku minta maaf, aku tak tau kalau kau tak menyukai hal itu."
"Sudahlah, lupakan saja. Lagipula itu sudah terjadi." Ya, mau protes bagaimanapun aku pasti tidak akan bisa mengubah kenyataan itu.
"Hiro, aku akan menunujukkanmu tempat yang sangat menarik. Ayo! (menarik tanganku)"
Entah apa yang sedang dipikirkan oleh Sia, sepertinya ia tak tau kalau saat ini aku sedang kesal. Dan ia membawaku pergi ketempat lain lagi.
--------- Beberapa menit kemudian ---------
Aku dibawah ke sebuah bagunan yang cukup besar yang berada cukup jauh dari guild. "Tempat apa ini?"
"Hiro, ayo masuk."
"Baiklah." Akupun masuk kedalam bagunan besar itu.
[ Saat berada di dalam bangunan besar itu. ]
"Apa ini sebuah perpustakaan?!" Aku melihat banyak sekali lemari-lemari buku yang yang ada di tempat ini, dan juga ternyata di dalam bangunan ini tempatnya sangat luas.
"Iya, ini adalah perpustakaan di kerajaanku. Karena hidup ras Elf yang terbilang sangat lama, maka ras Elf membuat sebuah buku yang berguna untuk ras lain, dan tidak sedikit dari elf yang sudah berumur lebih dari 1000 tahun membuat sebuah buku tentang kisah dari legenda."
"Legenda?" Aku tak tau kalau di dunia ini juga ada seseorang yang menjadi legenda.
"Iya. Konon, dari cerita yang aku baca dari buku yang ada disini. Ada 4 pahlawan dari masing-masing ras yang dipanggil kedunia ini, dalam perang antar ras yang terjadi 500 tahun yang lalu. Ras Elf, manusia, demi-human, dan juga iblis, mereka semua secara bersamaan melakukan ritual pemanggilan dan masing-masing dari ras itu hanya memanggil 1 mahluk dunia lain saja. Dan karena 1 mahluk panggilan dianggap cacat oleh setiap ras, mereka semua di buang."
"Jadi begitu. Terus, apa yang terjadi dengan mereka?" Aku mulai tertarik dengan apa yang di ceritakan oleh Sia.
Sambil berjalan-jalan mengelilingi perpustakaan, aku mendengarkan cerita Sia.
"Mereka semua bertemu di sebuah hutan, dan karena mereka semua dibuang oleh kerajaan yang memanggil mereka, mereka semua membentuk sebuah kelompok yang akan membalaskan dendam kepada kerajaan yang sudah membuang mereka."
"Apa mereka berhasil melakukannya?"
"Iya, mereka berhasil membalaskan dendam. Dan mereka juga berhasil menghentikan perang antar ras yang sudah terjadi selama ratusan tahun."
"Begitu, ya." Aku baru tau kalau perang antar ras sudah terjadi selama ratusan tahun. "Tapi, bagaimana mereka melakukannya? Aku rasa meskipun mereka bekerja sama, tidak mungkin hanya dengan 4 orang mampu menggulingkan 4 kerajaan berbeda dan juga mampu menghentikan perang antar ras yang sudah terjadi selama ratusan tahun." Aku mengatakan itu, karena aku merasa kalau mereka memiliki kemampuan yang sangat hebat sampai bisa melakukan hal seperti itu.
"Perkataanmu memang ada benarnya. Tapi, dari buku yang aku baca, ke-4 orang yang dibuang itu masing-masing memiliki 1 senjata yang sangat kuat."
"Senjata yang sangat kuat?"
"Iya. Salah satu dari ke-4 legenda itu memengang pedang yang berwarna biru, sama seperti yang kau pegang itu. Dan ada juga yang memegang sebuah busur, dan untuk senjata 2 legenda lainnya tak ada yang tau senjata apa yang mereka gunakan untuk melakukan hal luar biasa itu."
"Pedang berwarna biru, dan busur, ya." Entah kenapa hal itu mengingatkanku dengan busur yang dimiliki oleh Emilia.
__ADS_1
"Hey, apa kau mendengar kabar, kalau raja iblis yang saat ini berkuasa saat ini sudah meninggal." (???) Suara bisik-bisik terdengar dari orang yang ada disini.
"Ternyata kabar itu benar, ya." (???)
"Iya, dan sepertinya yang menggantikan posisi sebagai raja iblis saat ini adalah putranya."
Entah apa yang sedang mereka bahas, tapi sepertinya mereka sedang membicarakan kematian raja iblis. Dan karena penasaran, aku memutuskan untuk mendengarkan pembicaraan mereka, sebentar. "Aku rasa, perang akan terjadi lagi."
"Iya, anak dari raja iblis sangat tidak menyukai kedamaian, dan ia tak seperti ayahnya yang sangat menjunjung tinggi kedamaian."
"Aku rasa juga seperti itu. Mengingat ras iblis hanya memiliki 1 raja saja, dan aku rasa hal seperti itu tidak akan bisa dihindarkan lagi." Mendengar hal itu, aku mulai sedikit khawatir.
"Tapi, setidaknya kita bisa sedikit bersantai. Karena untuk meyiapkan pasukan untuk berperang, paling tidak membutuhkan waktu sekitar 1 tahun untuk menyiapkan semua hal yang diperlukan untuk persiapan perang."
"Iya, aku rasa kita bisa sedikit lebih tenang."
"1 tahun, ya." Aku sedikit lebih tenang karena perang tidak akan terjadi dalam waktu dekat.
"Akarui, ada apa? Kenapa kau diam?"
"Ahh, tidak ada apa-apa. Bagaimana kalau kita pergi ke tempat yang lain."
"Sepertinya itu ide yang bagus. Lagipula aku sudah sering pergi kesini dan sepertinya tidak ada hal yang baru lagi di perpustakaan ini. Baiklah, ayo kita pergi sekarang."
Aku pergi mengikuti Sia yang berjalan di depanku.
-------- Setelah beberapa lama berkeliling kemudian -------
Siang hari, jam 13.43
"Pohon apa ini? Besar sekali." Aku saat ini sedang berdiri di depan pohon yang sangat besar, dan jika diukr setidaknya lebar pohon itu sekitar 50 meter dengan panjang 500 meter atau bahkan lebih dari itu. "Pintu apa itu?" Aku juga melihat sebuah pintu yang berada di bagian bawah pohon raksasa itu.
"Hiro, ayo." Sia kembali menarikku, dan memaksaku untuk masuk kedalam pintu yang ada di pohon itu.
_________________________________
"Tempat apa ini?" Saat Sia membuka pintu pohon raksasa itu, aku tiba-tiba sudah berada di atas sebuah bukit, dan aku juga melihat beberapa orang pasangan Elf ada disini.
"Tadi itu adalah pintu teleportasi, dan ini adalah tempat favoritku. Kau juga bisa melihat kerajaanku dari atas sini."
"Jadi itu pintu teleportasi, ya." Aku tak menduga kalau ada pintu seperti itu di kerajaan ini. "Padahal saat ini sudah tengah hari, tapi aku tak merasa kepanasan."
"Itu, karena ada sebuah pelindung yang menyelimuti bukit ini. Oleh karena itu, meskipun sekarang matahari sedang bersinar cerah, kita yang ada di dalam pelindung ini tidak akan merasa kepanasan."
"Begitu." Aku kembali mendapatkan sebuah informasi yang cukup penting. "Lalu, apa yang mereka semua lakukan disini?" Aku cukup penasaran, karena semakin banyak saja para pasangan Elf yang datang ketempat ini.
"Ada dari mereka yang menunggu untuk melihat matahari terbenam, dan ada juga yang kesini hanya untuk beristirahat, karena ini adalah tempat yang cocok untuk melakukan hal itu."
"Begitu." Ya, itu memang benar, udara disini cukup sejuk meskipun matahari sedang panas, dan juga pemandangan disini juga sangat bagus.
"Bagaimana kalu kita mencari tempat duduk dulu."
"Baiklah." Kamipun mencari tempat duduk.
Kamipun mendapatkan tempat duduk panjang yang kosong, dan dengan segera kami menempati tempat duduk itu.
"Akhinya dapat juga." Mulai tadi aku mencari tempat duduk yang kosong, dan karena tempat ini semakin ramai aku cukup kesulitan untuk mencarinya. Dan akhinya aku mendapatkan tempat duduk yang kosong, setelah cukup lama mencari.
-------- Selama berjam-jam hanya duduk saja --------
Sore hari, jam 17.50
Matahari mulai terbenam, dan sejak aku duduk di sini bersama dengan Sia di sampingku, aku tidak berbicara sepatah-katapun karena aku tak tau apa yang ingin aku bicarakan. Lagipula aku tak menemukan sebuah topik yang pas untuk menjadi bahan pembicaraan untuk saat seperti ini.
"Hiro, lihat itu. Indah sekali pemandangannya."
"Benar." Aku tak menyangka akan melihat pemandangan seperti ini, dan tempat ini juga semakin ramai. Dan mereka semua datang kesini hanya untuk melihat pemandangan yang indah ini.
Aku sungguh iri dengan kerajaan ini, memiliki sebuah tempat yang indah seperti ini.
Aku dan Sia menikmati menit-menit terakhir sesaat sebelum matahari terbenam sepenuhnya.
Tingggg tinggggg tingggg.
Sore menjelang malam (petang) hari, jam 18.00
Menara jam yang ada di kerajaan ini berbunyi. "Sia, ayo kita kembali ke istana." Aku rasa sudah tidak ada yang ingin di tunjukkan padaku lagi, jadi aku putusakan untuk mengajaknya kembali ke istana, lagipula matahari sudah terbenam.
"Baiklah. Ayo." Kamipun berjalan kembali ke istana. Dan semakin malam tempat ini menjadi semakin ramai.
------- Setelah melalui perjalana yang cukup jauh -------
Malam hari, jam 18.39
Aku sampai di istana dan saat ini aku sedang berada di kamar. "Mandi dulu, ah." Aku pun mandi.
-------- Setelah beberapa lama mandi --------
Akupun selesai mandi. "Hiro, makan malamnya sudah siap." (Sia)
"Baiklah, aku akan segera keluar."
"Baiklah kalau begitu, aku akan menunggumu di ruang makan."
"Baik."
Akupun segera memakai pakaianku, dan setelah itu aku keluar dan pergi ke ruang makan.
--------- Beberapa saat kemudian --------
"Hiro, kau akhirnya datang juga. Ayo kita makan bersama." (Sia) Entah kenapa aku melihat sepertinya Sia terlihat cukup bahagia hari ini.
"Baiklah." Meskipun aku masih tidak terlalu lapar, tapi karena aku menghormati raja dan juga ratu, aku terpaksa ikut makan.
__ADS_1
-------- 1 jam kemudian --------
[Di kamar.]
"Ahhh, Aku kebanyakan makan." Aku makan terlalu banyak. "Sebaiknya aku segera tidur, karena besok aku harus segera pergi ke kekerajaan Ality untuk menghentikan ritual pemanggilan." Akupun tidur.
Entah kenapa, kekenyangan ini membuatku lebih mudah untuk tidur.
________________________
Pagi hari, jam 05.44
"Hoaamm..." Aku bangun dan segera bersiap-siap.
-------- Setelah selesai bersiap-siap -----------
Tinggg tingggg tinggggg
Pagi hari, jam 06.00
Jam di menara jam berbunyi. "Hiro, apa kau sudah bangun."
"Iya, aku sudah bangun."
"Begitu, ya. Kalau begitu, sarapannya sudah siap, sebaiknya kau segera menyusul."
"Baik." Lagipula dewa Sha tidak memberitau dengan jelas kapan ritual itu akan dilaksanakan, ia hanya memberi tau kalau ritualnya akan dilaksanakan 4 hari dan ia tak memberi tau jam berapa itu. Dan lagipula, beraktifitas dengan perut kosong sama saja dengan bunuh diri.
Akupun keluar dari kamar dan langsung pergi menuju ke ruang makan.
-------- Beberapa saat kemudian ----------
Seperti biasa, di ruang makan ini aku melihat raja, ratu, dan juga kimi yang sedang makan.
"Hiro, apa kau akan pergi?" (Raja)
"Iya, ada sesuatu yang harus aku kerjakan hari ini."
"Oh, begituka.. Kalau begitu, sebelum kau pergi, sebaiknya kau isi perutmu dulu."
"Iya." Lagipula, memang itu tujuanku datang keruang makan ini.
"Hifot, apa kau akan pergi?" (Sia)
"Iya."
"Begitu, ya.."
"Ada apa Sia?" Sia telihat murung.
"Hmm, tidak ada apa-apa."
"Ya sudah."
Akupun langsung makan.
--------- Setelah selesai makan --------
"Baiklah, aku akan pergi sekarang. Sia, ayo pergi."
"Begitu, ya. Kau akan pergi sekarang... ... ... ... ... Ehhh?! Apa aku akan ikut denganmu?!"
"Tentu saja, apa raja tidak memberitahumu tentang itu."
"Tidak, ayah tidak berkata apa-apa padaku."
"Ahh... Soal itu, ya. Aku lupa untuk mengatakannya."
"Cih, sungguh orang tua yang merepotkan." Ia tak memeberitau putrinya kalau dia akan ikut bersama denganku.
"Sia, mulai saat ini kau akan berpetualang bersama dengannya." (Raja)
"Benarkah?!"
"Iya, mulai saat ini kau bebas untuk memilih jalan hidupmu sendiri."
"Terima kasih ayah. Aku sayang pada ayah."
"Ayah juga sayang padamu." Entah kenap saat ini aku seperti sedang melihat drama tentang ayah dan anak.
"Baiklah. Sia, ayo kita berangkat."
"Baik."
Dan sesaat sebelum aku ingin pergi, seorang prajurit datang ke ruangan ini. "Paduka raja. Hamba mohon maaf atas kelaancangan hamba, ada sesuatu hal penting yang ingin hamba beritahukan kepada paduka." (prajurit)
"Apa itu?"
"Hamba mendapatkan laporan dari mata-mata yang sedang mengintai di sekitar benua iblis, kalau raja iblis yang baru sudah mengerahkan 100 ribu pasukan iblis untuk menyerang kerajaan lain."
"APA!!!" (Raja) Mendengar ada 100 ribu pasukan iblis, jelas itu membuat raja terkejut.
"Dan sepertinya 100 ribu pasukan iblis itu sedang mengarah ke benua manusia."
"Apa benua manusia!!" Aku terkejut mendengar hal itu. Ya, karena ada 100 ribu pasukan iblis yang siap menyerang.
"Iya, dan saat ini mereka sudah hampir berada di salah satu kerajaan yang ada di benua manusia."
"Kerajaan apa itu." Aku sangat khawatir tentang hal ini.
"Kalau tidak salah, itu adalah kerajaan yang baru saja dibangun... Nama kerajaan itu adalah kerajaan Riel."
"Riel!!!"
__ADS_1
Bersambung.