Watashi No Hanayome

Watashi No Hanayome
12


__ADS_3

"Benar. (Merentangkan kedua tanganya) Aku adalah dewa di dunia ini." (Sakusha/Sha)


Sebenarnya aku tak percaya apa yang telah ia katakan.


"Ini cukup mengganggu." (sakusha/Sha)


Clik. (menjeltikkan jarinya)


Seketika semua yang aku lihat tadi menghilang. "Jadiii.." (Sakusha/Sha)


Ia fokus melihat ke arah pedangku yang berwarna biru yang aku temukan waktu itu.


"Hahaha."


Aku tak tau kenapa ia tertawa, tapi sepertinya ada yang salah dengan hal ini.


"(berhenti tertawa) Ahh. Maaf-maaf. Aku hanya mengingat saat kau hampir di tebas oleh Rin, bagian itu sangat lucu."


"Eh? Menebas? (bingung) Apa aku pernah menebas Hiroaki?! (panik)" (Rin)


"Hmmm. Sebenarnnya semua itu bukan salahmu, hanya saja itu adalah salahnya (menunjuk ke arahku)." (Sakusha/Sha)


"Eh? Aku?"


"Tentu saja, kau 'kan yang memberikannya pedang buatanku itu padanya, dan karena dia datang dari dunia lain pedang itu menjadi sangat agresif. Lagi pula, di dunia ini jarang sekali ada wanita yang bisa menggunakan pedang, dan hal pasti itu akan jadi masalah baru buatmu di kemudian hari."


"Masalah?"


"Ahhh. Sudahlah, jika aku jelaskan, pasti akan banyak pertanyaan yang kau akan tanyakan padamu."


Sepertinya dia tau kalau aku memang banyak sekali bertanya, terutama pada Garden.


"Hehe~ (tertawa kecil)"


Setelah itu.


"Jadi. Apa yang kalian inginkan?" (Sakusha/Sha)


"Apa yang kami inginkan?" (Rin)


"Hmmm. (memengang dagu) Apa tak ada yang kalian inginkan?"


"Tunggu dulu. Apa ini serius?" (Hikari)


"Sudah jelas. Karena aku yang sudah memanggil kalian ke dunia ini. Jadi, kalian bisa meminta apa yang kalian inginkan."


"Kalau begitu, Apa kami bisa kembali ke dunia kami?" Hal itulah yang terucap dari mulutku.


"Hmmm. (berfikir) Kalau untuk hal itu, aku tidak bisa."


"Ehh?!! Kau bilang akan mengabulkan apa yang kami inginkan."


"Tentu saja, tapi tidak untuk hal ini."


"Kenapa?"


"Karena, jika aku mengembalikan kalian ke dunia kalian yang semula, kalian pasti akan mati."


"Mati? Bagaimana bisa?"


"Karena di gudang tempat kalian bersembunyi itu sudah di pasangi bom dan jika aku mengembalikan kalian maka kalian akan berada di posisi itu, dan meskipun kalian bisa selamat, ingatan kalian tentang dunia ini akan lenyap dan kalian juga tak akan mengetahui bahwa, gudang tempat kalian bersembunyi itu sudah terdapat bom. Jadi, bagaimana? Apa kalian masih berniat ingin kembali ke dunia kalian yang semula?"


"Ternyata memang tidak bisa, ya."


Aku hanya bisa pasrah setelah mendengar hal itu.


"Lagi pula aku sudah meminta izin dari dewa kalian untuk memindahkan kalian ke dunia ini."


"Meminta izin?"


"Baiklah, aku hanya akan menjelaskannya sedikit."


"Um. Baiklah."


"Kau tau'kan kalau orang yang di panggil dari dunia lain ke dunia ini itu menggunakan sihir?"


"Tentu saja, aku sudah di beri tau oleh Garden tentang hal itu."


"Sebenarnya, mereka yang di panggil ke dunia ini tidak meminta izin pada dewa yang ada di dunia lain, atau dalam artian mereka tak tau cara untuk meminta izin pada dewa yang ada di dunia lain. Jadi, mereka hanya memanggil dan terus memanggil mahluk atau manusia dari dunia lain. Dan karena hal itu juga aku diberikan pesan oleh dewa di dunia lain untuk segera menghentikan pemanggilan ilegal itu. Dan aku sudah menghentikan 1 kerajaan besar untuk berhenti memanggil mahluk dari dunia lain, tapi tidak untuk 3 kerajaan besar lainnya."


"1 kerajaan besar itu maksudnya-."


"Ya betul. Kerajaan manusia, kau pasti pernah dengar tentang raja pertama yang pernah bertemu dengan dewa."


"Y-ya."


"Sebenarnya, dulu yang yang paling banyak memanggil mahluk dari dunia lain itu adalah kerajaan manusia sendiri. Dan juga, dulu ras manusia juga yang sudah mengembangkan sihir pemanggilan dan akhirnya dengan cepat menyebar ke seluruh dunia ini."


"Ohh, begitu. (sedikit paham)"


"Dan setelah itu, mereka yang berhasil di panggil ke dunia ini akan di hapus ingatannya tentang dunianya tempat ia berasal dan di ganti dengan sebuah ingatan palsu tentang dunia ini."


"Kau barusan bilang berhasil. Apa ada juga pemanggilan yang gagal?"


"Ahhh. Sudah kuduga kau akan menanyakan hal itu. Ha~ (menghela nafas). Baiklah akan aku jelaskannya juga. Jika pemanggilan berhasil, maka mahluk yang di panggil itu akan datang ke dunia ini secara berpasangan. Dan jika pemanggilannya gagal, maka hanya satu mahluk saja yang akan terpanggil. Apa kau tau tentang penjaga gerbang yang ada di kerajaan manusia?"


"Tentu saja. Garden juga sudah menjelaskan hal itu padaku."


"Itu adalah contoh dari mahluk panggilan yang gagal, tapi setiap kerajaan menutupi hal itu, karena jika para penduduk asli dunia ini tau akan kebenaran itu, maka, pasti kerajaan tersebut akan mengalami sebuah kericuhan yang tak akan pernah terbayangkan oleh para petinggi kerajaan itu sendiri. Dan apa kau tau tentang Garden dan Leona."


"Tu-tunggu dulu, jangan bilang kalau mereka."


"Yap, itu benar sekali. Mereka adalah salah satu mahluk panggilan yang berhasil di panggil dari dunia lain ke dunia ini tanpa meminta izin dari dewa yang ada di dunia lain (ke isekai ilegal)"


"Tapi, bagaimana mereka yang berasal dari dunia lain bisa memiliki kekuatan sihir?"

__ADS_1


"Apa kau lupa. Dunia ini adalah dunia sihir. Jika ada mahluk dari dunia lain datang ke dunia ini, maka mereka secara otomatis mereka akan langsung mendapatkan kekuatan sihir. Tapi, hanya sedikit laki-laki yang bisa menggunakan sihir di dunia ini, dan lebih banyak wanita yang bisa menguasai sihir karena biasanya wanita itu sangat rajin dalam mempelajari sesuatu sedangkan laki-laki tidak. Para laki-laki yang ada di dunia ini hanya ingin mendapatkan kekuatan secara instan dan tak mau berusaha, lagipula laki-laki di dunia ini lebih suka bertarung. Oleh karena itu juga, aku menanamkan sebuah peraturan mutlak di dalam ingatan seluruh ras yang ada di dunia ini. 'Jika salah satu pasangan kalian terluka, maka pasangan yang lainnya akan mengalami hal itu juga' itulah peraturannya. Sudah cukup ceritaku, aku sudah lelah. Jika ada satu hal yang membuatmu penasaran tanyakan saja padaku, tapi nanti."


setelah mendengar hal itu, aku jadi tau kenapa Rin selalu membawa sebuah keranjang saat aku membutuhkannya, karena ia sudah belajar sihir dan juga ia sudah bisa menciptakan sesuatu dari sihirnya itu.


"Baiklah."


"Dan. Apa kau sudah memutuskan apa yang akan kalian minta dariku."


"Anu. Aku ingin meminta sesuatu." (Rin)


Rin mendekat ke arah dewa. "Apa yang kau inginkan wahai gadis cantik (nada lembut)."


Rin tersenyum. "Sebelumnya. Aku ingin."


"Ahhh. Baiklah aku paham. (nada lembut) Hikari, bisa kau menjauh sedikit (suara nadanya tiba-tiba berubah)."


Entah kenapa ia terlihat lebih lemah lembut terhadap seorang gadis dan bersikap berbalik denganku. "Eh, ah. Baiklah."


Aku menuruti kata-katanya, dan sedikit menjauh.


"Hmmm, baiklah."


Secara tiba-tiba sebuah dinding sihir besar memisahkanku dan Rin. "Nahh. Sekarang kau bisa meminta apa yang kau inginkan Rin-san." (Sakusha/Sha)


Aku bisa mendengar ucapan dewa, tapi tidak dengan ucapan Rin.


-------- Beberapa menit kemudian --------


Dinding sihir itu hilang, dan aku juga melihat wajah Rin yang terlihat bahagia.


"Baiklah, sekarang giliranmu."


Dan lagi-lagi, dinding sihir yang besar memisahkanku dari Rin.


"Baiklah apa yang kau inginkan dariku."


"Apa kau bisa menghapus peraturan yang kau buat itu?"


"Tentu saja, tidak bisa!!! Jika aku hapus peraturan itu, maka banyak orang yang akan bertarung kemudian saling membunuh, lagi."


"Begitu kah."


"Jika kau memang menginginkan hal itu, aku bisa menghilangkan peraturan itu dari dirimu dan juga Rin, tapi tak bisa di pungkiri tanda yang kalian milikipun akan hilang, sebenarnya tidak sih, hanya saja tanda yang ada padamu tidak akan bisa dilihat saja. Dan itu akan membuat kaliah terlihat bukan seperti seorang pasangan lagi. Dan hal seperti perpisahan antar pasangan sudah biasa terjadi di dunia ini, jadi kau tak perlu khawatir. Lagi pula, aku hanya menghapus peraturan dan juga menyamarkan tanda yang kalian miliki. Tapi tenang saja, meskipun begitu... Kalian tetap seorang pasangan. Tapi tanpa sebuah peraturan mutlak"


"Baiklah, kalau begitu."


"Tapi, ingat hal ini. Jika ada sesuatu kejadian yang tak tarduga menimpamu. Maka, kau datang saja kesini, dan mungkin jika kau bilang bahwa Rin masih pasanganmu pada orang yang melihat kalian, mereka tidak akan percaya, karena tanda yang menghubungkan kalian telah menghilang."


"Baiklah." Aku langsung menyetujuinya tanpa pikir panjang. Karena aku pikir ini adalah yang terbaik, lagi pula aku tak mau jika Rin harus megalami hal yang sama denganku, seperti terluka atau hal lainnya yang membuat dirinya menderita.


"Baiklah, 'Clik' (menjeltikkan jari) Sudah."


"Eh? Sudah? Semudah itu kah?"


"Tentu saja. Kalau kau tak percaya, lihat saja ini. (memberi sebuah cermin)"


Entah datang dari mana cermin itu aku tak tau, tapi yang pasti saat aku melihat ke arah cermin itu. Tanda yang ada di pipi kananku sudah hilang.


"Hilang?"


"Bagaimana? Apa ada yang kau inginkan lagi?"


"Eh? Apa boleh?"


"Tentu saja."


Aku pun meminta sesuatu yang cukup keren, menurutku.


"Apa aku bisa mendapatkan kekuatan overpower."


"Hmmmm. Kalau untuk itu, aku tidak bisa melakukannya."


"Kenapa lagi?"


"Apa kau pernah dengar, kalau Garden itu mendapatkan kekuatannya karena ia berlatih cukup keras."


"I-iya. (mengangguk)"


"Jika kau ingin kekuatan maka kau harus berlatih dan terus berlatih, agar kau menjadi lebih kuat. Jika kau mendapatkan kekuatan secara instan, tubuhmu yang sekarang mungkin saja tidak akan sanggup menahan kekuatan yang besar itu. Oleh karena itu, berlatihlah dan kuatlah."


"Ha~ Baiklah." Ternyata mendapat kekuatan besar memang tidak mudah.


"Baiklah, jika sudah tidak ada lagi yang kalian inginkan. Sebaiknya kau segera kembali ke kota. Dan ingat, jangan pernah kau beritahu apa yang kau dengar dariku pada orang lain, atau kalau tidak. (nada mengancam dengan senyuman)"


Aku merasa takut akan ancamannya. "B-baik."


Setelah itu, dinding sihir yang memisahkanku dengan Rin menghilang, dan Rin menghampiriku dia kelihatan sangat panik.


"Hiroaki, apa yang terjadi? Tandanya hilang?!"


Sepertinya dia tidak mendengar apa yang aku ataupun dewa bicarakan, akupun mulai menjelaskannya.


-------- Setelah menjelaskan ---------


Entah kenapa dia terlihat sedih setelah mendengar penjelasanku.


"Ada apa Rin? Kau terlihat sedih?"


"T-tidak apa-apa. (berusaha tersenyum)"


"Ha~. (menghela nafas) Dasar tidak peka." (Sakusha/Sha)


"??"


"Ahhh, sudahlah. (berbaik dan berjalan menjauh) Sebaiknya kalian segera kembali ke kota, lagi pula sekarang aku akan menemui dewa yang ada di dunia lain. Jika kalian ingin menemuiku, datang saja besok ke sini. Da~ (sedikit melambaikan tanganya)" (Sakusha/Sha) Setelah itu, dewa Sha menghilang.

__ADS_1


"Ayo Rin, kita segera kembali."


"Baiklah."


Aku keluar dari gua itu dan tak lupa membawa keranjang yang berisi tanduk rusa untuk quest kali ini.


--------- GERBANG BAGIAN UTARA KERAJAAN MANUSIA -------


Setelah memakan waktu hampir 2 jam berjalan, akhirnya kami sampai di kota. Aku memasuki gerbang kota dan dua penjaga gerbang yang menjaga gerbang bagian utara melihatiku.


"Sepertinya pertengkaran antar pasangan." (penjaga 1)


"Mungkin." (penjaga 2)


Penjaga itu berbisik-bisik, dan yang pasti yang mereka bicarakan itu adalah aku. Rin berada agak jauh di belakngku.


Para penjaga itu juga melihat Rin. "Ternyata benar, pertengkaran antar pasangan." (penjaga 1)


Aku memilih menghiraukan mereka, karena aku sudah tau yang di katakan oleh dewa Sha itu benar. Dan lagi pula, dewa Sha hanya mengilangkan peraturan mutlak dan juga menyamarkan tanda yang ada di pipiku, dan bukan berarti aku bukan pasangan Rin. Aku langsung berjalan menuju ke guild untuk menyerahkan barang quest sekaligus mengambil imbalannya.


------------ Beberapa menit berjalan ke arah guild ----------


Aku pun sampai di guild, dan aku segera masuk ke dalam guild, untuk kali ini tak ada orang yang melihatku dan itu cukup membuatku tenang.


Aku berjalan ke arah resepsionis. "Ini barang dari quest ini. (memberikannya keranjang yang aku pegang)"


"Baiklah, tunggu sebentar. (pergi)"


Setelah beberapa saat resepsionis itu kembali.


"Ini bayaran anda, 1 koin emas dan 5 koin perak. (di taruh di atas meja)"


Akhirnya aku tau jumlah 1 koin emas itu adalah 100 koin perak. dan untuk 30 koin emas Rin yang hilang, berarti 3000 koin perak, sungguh jumlah yang besar.


Aku pun mengambil koin itu. Tidak seperti biasanya, Rin tidak mengikutiku masuk ke dalam guild.


"Apa yang terjadi dengan Rin?" pikirku. untuk sekarang Rin takkan bisa membaca pikiranku lagi.


Aku pun berjalan keluar dari guild, dan melihat Rin yang sedang duduk di salah satu kursi kayu penjang yang berada di luar guild, dan juga aku melihat Rin tengah di kelilingi oleh para petualang laki-laki.


Aku langsung menghampiri Rin. "Ayo Rin, kita pergi." lalu menarik tanggannya dan segera pergi menuju ke penginapan.


"T-tunggu."


Aku berhenti berjalan. "Kenapa?"


"Kau memengang tangaku terlalu erat, rasanya sakit."


Aku tak tau akan hal itu. "Ehh, m-maaf."


"Hmp. (ngambek) Ya sudah."


Sifat Rin lagi-lagi berubah. Aku pun mengabaikannya dan dengan segera berjalan menuju ke penginapan.


------ Sebelum sampai di penginapan --------


Sebuah kereta kuda mewah dan para pengawal dengan jumlah yang cukup banyak menghentikan jalan kami. Kemudian, seorang laki-laki yang berpakaian seperti atau memang seorang bangsawan keluar dari kereta kuda itu.


"I-i-itu, itu." (penduduk 1)


"Itu adalah pangeran." (penduduk 2) Semua orang (kecuali Hikari dan Rin) yang melihatnya menunduk sembari memberi hormat.


"Aku adalah pangeran pertama dari kerajaan Slavic yang berada di bagian selatan benua ini, namaku adalah Magnus Ariobel Slavic. (nada sombong)"


Kemudian dia melihat ke arah Rin dan mendekat ke arahnya. "Ternyata benar yang dikabarkan para petualang itu, gadis yang bisa menggunakan pedang ini memang sangat cantik."


Untuk sesaat aku paham apa yang sudah di katakan dewa padaku, kalau kau akan mendapatkan masalah jika seorang wanita bisa menggunakan sebuah pedang.


"Gadis sepertimu, adalah orang yang cocok untuk menjadi istriku."


"Eh? Eeeeeehhhhhhhh!!!!!!" Aku terkejut mendengar pengakuan pangeran ini.


"T-tapi aku sudah-" (Rin)


Sebelum Rin menyelesaikan kata-katanya, pangeran itu melihat ke arahku. "Ohh, ternyata dia orangnya (nada sombong). (melihat ke arahku) Aku tak bisa menemukan tandanya, lebih baik aku mencoba sesuatu."


Dakkkkk.. (pukulan)


"Aggghhhh."


Pangeran itu memukul perutku dan aku terkapar karena kesakitan. Kemudian kembali melihat ke arah Rin, dan seperti yang dewa katakan, peraturan mutlak sudah di hapus dariku dan juga Rin. Dan untuk saat ini, jika aku atau Rin merasakan sesuatu yang menyakitkan, maka hanya 1 orang yang akan merasakan hal itu.


"Hah, ternyata tidak terjadi apa-apa padamu." (Magnus)


"Hikari!!! (mendekat ke arahku) Apa yang kau lakukan pada Hikari?!" (Rin)


"Aku hanya mencoba sesuatu, apa benar kalian itu pasangan atau tidak. Dan jika sudah seperti ini, aku sudah tidak punya alasan lagi untuk tidak membawamu ke kerajaan, untuk dijadikan pengantinku."


"Aku tidak mau."


"Oh, seperti itu. Ingat hal ini baik-baik. Aku akan melakukan segala cara agar kau bisa menjadi milikku."


Pangeran itu masuk ke dalam kereta kudanya dan pergi menjauh.


"Hiroaki! Apa kau tidak apa-apa."


Pukulan pangeran itu sangat kuat, atau bahkan melebihi kekuatan milik garden.


Aku berusaha berdiri. "Ahhhh." Rasa sakit menyerang saat aku berusaha untuk berdiri.


"Hiroaki!! (panik sekaligus khawatir) Tunggu, aku akan mencari bantuan dulu, kau diam disini jangan bergerak. (pergi) Aku akan segera kembali, bertahanlah Hikari."


Aku cukup senang ada orang yang khawatir padaku, aku pun bertahan selama beberapa saat dan saat Rin hilang dari pandanganku aku pingsan.


Bersambung.

__ADS_1


__ADS_2