Watashi No Hanayome

Watashi No Hanayome
43


__ADS_3

Pagi hari, jam 06.40


[ Di kamar Hiroaki ]


"Sebenarnya cukup sulit, aku membuat racun hewan itu dari berbagai tanaman beracun yang ada di dunia ini. Jadi, untuk membuat penawarnya juga cukup sulit."


"Ahh.. Begitu, ya. Jadi, a-ku tidak bisa di sembuhkan."


"Tidak juga, karena semua yang aku butuhkan untuk membuat pewarnya sudah ada di kerajaanmu ini. Aku jadi tidak perlu repot-repot untuk mencari lagi."


Hiroaki diam, dan tak mengeluarkan suara. "Woy, apa kau masih hidup?" 


Dewa Sha memeriksa detak jantung Hikari. "Masih berdetak, meskipun itu sangat lemah. Aku harus melakukan sesuatu."


"Kalian, cepat pergi ke kamar Hikari segera." Dewa Sha menghubungi Rin, Emilia, Inori, Lia, Ai, Dan juga Sia. Untuk segera datang ke kamar Hikari.


-------- Beberapa menit kemudian --------


[ Di depan kamar Hikari ]


Mereka semua saat ini berada di depan pintu kamar Hikari. "Dewa, apa yang terjadi? Kenapa anda memanggil kami?" (Rin)


"Apa ada hal penting yang ingin kau sampaikan pada kami?" (Emilia)


"Sebelum itu, aku ingin kalian masuk ke dalam."


"Masuk?" (Sia)


"Memangnya ada apa di dalam dewa? Bukannya itu cuma kamar Hiroaki." (Emilia)


"Ya, itu benar. Tapi, sebaiknya kalian masuk kedalam dulu."


"B-baiklah." (Emilia) Mereka semua masuk kedalam tanpa terkecuali.


[ Di dalam kamar Hikari ]


"Hiroaki. Dia masih belum bangun." (Emilia) Dia melihat Hikari yang masih mengenakan selimut tebalnya. "Apa yang dia lakukan, padahal hari sudah pagi. Tapi dia juga masih belum bangun."


Emilia berniat untuk membuka selimut yang tengah digunakan Hiroaki. "Emilia, jangan buka selimut itu." Dewa Sha tiba-tiba melarang Emilia membuka selimut yang tengah digunakan oleh Hikari.


"Ada apa dewa?"


"Ada yang ingin aku sampaikan pada kalian."


"Apa itu?" (Rin)


"Saat ini, dia sedang dalam masa kritis. Dan jika dalam 30 menit mendatang ia tak mendapatkan ramuan yang dibutuhkan, ia bisa mati."


"A-apa!!!" (Semua)


Seketika mereka semua menghampiri Hikari yang sedang terbaring di kasurnya. "H-Hi-chan..!!"


"Papa!!"


"Hiroaki-sama!!"


"Hiroaki!"


"Hiro!!"


"Aki!!"


Mereka semua meneteskan air mata. "D-dewa, apa tidak ada cara untuk menyelamatkannya?" (Emilia)


"Ada. Tapi, aku membutuhkan beberapa bahan."


"Bahan apa itu.. Kami akan segera mencarinya."


"Kau pasti bahagia bisa memiliki keluarga yang sangat menyanyangimu." (Dewa Sha)


"Aku hanya membutuhkan kain putih."


"Baik, akan saya siapkan." (Lia) Lia pergi untuk mengambil kain putih yang diminta oleh dewa Sha.


"Aku juga butuh darah dari kalian."


"D-darah.." (Sia)


"Ada apa Sia? Apa kau tidak mau?" (dewa Sha)


Sia menyakinkan dirinya. "T-tidak apa-apa. Baiklah, jika itu bisa menyelamatkan nyawanya, aku akan melakukannya."


"Apa kalian juga?"


"Ya." (yang lainnya)


" 'Clik' Kalau begitu." Sebuah wadah kecil yang dilapisi oleh emas tiba-tiba muncul dari tangan dewa Sha. "Gunakan ini untuk menampung darah kalian. Dan juga, 'Clik' makan ini agar kalian tak merasakan sakit saat memberikan darah kalian." Dewa Sha memberikan sebuah obat. "Oh ya. Dan juga gunakan ini." Memberi pisau.


"B-baik." Mereka memakan pil itu, dan mulai mengisi wadah itu menggunakan darah mereka.


Mereka tak merasakan sakit saat melukai diri mereka menggunakan pisau yang diberikan oleh dewa Sha.


------- Beberapa saat kemudian --------


Mereka semua sudah mengisi wadah itu dan hanya tinggal Lia yang belum melakukannya karena ia masih belum kembali. "Lukannya." (Ai) Luka yang goresan yang mereka buat perlahan mulai tertutup.


"I-ini kain putihnya." (Lia) Lia kembali sambil membawa kain putuih yang dewa Sha minta.


"Terima kasih. Lia, makan dan gunakan ini."


"A-apa ini?"


"Aku hanya ingin sedikit darahmu untuk menyelamatkan Hiroaki, apa boleh?"


"U-untuk menyelamatkan, Hiroaki-sama... Baik." Lia melakukan hal yang sama seperti yang lainnya tadi lakukan.


-------- Beberapa saat kemudian ----------


Semua bahan yang dibutuhkan dewa Sha sudah terpenuhi. "Kalian boleh keluar, aku ingin mengobatinya. Oh ya, jangan buka kamar ini sampai malam nanti."


"Baik." Mereka semua keluar dari kamar Hiroaki, dan di dalam hanya ada Hiroaki dan juga dewa Sha.


"Aku tak menyangka, kalau mereka rela melukai diri mereka sendiri untuk menyelamatkanmu. Jika aku boleh  jujur padamu, aku iri denganmu. Kau pasti bahagia bisa bersama dengan mereka." Sambil berbicara dengan Hiroaki yang sekarat, dewa Sha mulai mencelupkan kain putih itu ke dalam wadah yang diisi oleh darah Rin, Emilia, Inori, Lia, Sia, dan juga Ai. Dan mulai mengusapkan kain yang sudah basah oleh darah itu ke luka yang ada di perutnya.


Tubuhnya mulai bereaksi setelah beberapa saat di olesi oleh dewa Sha. "Sepertinya ini bekerja. Kalau begitu, sisanya tergantung denganmu." Dewa Sha pergi entah kemana. 


Rin, Emilia, Inori, Lia, Sia, dan juga Ai, menunggu di depan pintu kamar Hiroaki.


-- -- --, Jam --.--


Aku membuka mata perlahan. "D-dimana aku?" Sebuah tempat yang seluruhnya berwarna putih, di situlah aku berada. "T-tempat apa ini?" Aku perlahan-lahan bangun.

__ADS_1


Dan tepat saat aku bangun, aku melihat sebuah pintu berlapis emas yang sangat besar yang ada di depanku, akupun berjalan mendekati pintu itu. Tapi, entah kenapa langkah kakiku terhenti. "Hiroaki..."


Suara itu, adalah suara yang tak asing bagiku terdengar dari arah belakangku. Dan itu adalah suara yang sangat aku rindukan selama ini. "I-ibu..." Aku dengan segera menghampirinya. "Ibu!!"


"Hiroaki..."


Aku memeluk ibu. "A-aku rindu denganmu, bu."


"Hm, ibu juga..."


--- Setelah beberapa lama berpelukan ---


Saat ini aku tengah duduk di samping ibu, dan juga aku tak tau tapi tiba-tiba saja sebuah pohon besar muncul di samping kami. "Apa yang ibu lakukan di tempat seperti ini?"


"Ibu hanya berjalan-jalan."


"B-begitu.."


"Ada apa denganmu Hiroaki?"


"Tidak apa-apa, aku hanya bahagia bisa bertemu denganmu ibu.."


"Ibu juga bahagia bisa bertemu denganmu. Oh ya, bagaimana keadaan ayahmu?"


"Aku tak tau dengan keadaan ayah. Sebenarnya bu, aku dipanggil ke dunia lain bersama dengan Rin."


"Begitu, ya." Ibu terllihat tidak terkejut aku mengatakan hal seperti itu. "Bagaimana keadaan Rin-chan?"


"Dia baik-baik saja, meskipun selalu ada masalah baru yang mendatangi kami."


"Kau pasti bahagia, karena keinginanmu terwujud."


"Keinginanku?"


"Iya, kau pernah bilang pada ibu, kalau kau berharap bisa bersama Rin-chan waktu kecil."


"A-aku tidak..." 


"Kau juga memberikan kalung yang ibu berikan padamu pada Rin-chan, kan."


"I-itu..." Yang ibu katakan memang benar, dan aku tak bisa mengelak lagi dari apa yang dikatakan oleh ibu karena semua itu benar.


"Kau sudah tumbuh besar, ya. Ibu terakhir melihatmu saat kau berusia 3 tahun, dan saat ini... Ibu bersyukur karena ibu bisa melihatmu lagi." Ibu perlahan mulai meneteskan air matanya.


"I-ibu.." Aku mencoba untuk menghapus air matanya. "Ibu harus tersenyum. Aku akan menemani ibu, jadi ibu tenang saja. (tersenyum)"


"Ibu senang mendengar hal itu, tapi... Ibu yakin kalau mereka pasti sedang menunggumu."


"Mereka?"


"Ya, beberapa gadis lain (selain Rin) yang terlihat dekat denganmu di dunia barumu."


"D-darimana ibu tahu?"


"Ibu selalu mengawasimu dari sini, jadi ibu tau apa yang sedang kau alami. Kau terlihat bahagia bila bersama dengan mereka, tapi kau selalu menyembunyikan perasaan itu. Apa yang ibu katakan itu benar?"


"I-itu..." Sejujurnya aku merasa senang bila berada di dekat mereka, tapi entah kenapa aku tak bisa mengungkapkan perasaan itu. Jadi, selama ini aku hanya menyembunyikan perasaan itu. "T-tapi, bagaimana ibu bisa mengetahuinya?"


"Itu mudah.."


"Mudah?"


"Ya, karena kau adalah anak ibu. Jadi, ibu bisa mengetahui apa yang kau sembunyikan. Bahkan meskipun kau mencoba untuk menyembunyikannya, ibu akan mengetahuinya."


"Apa kau meragukan ibumu ini?"


"T-tidak, hanya saja aku terkejut mendengar hal itu."


"Hm.. Begitu."


"Ibu mau kemana?"


"Ibu mau pergi, dan sebaiknya kau segera kembali, mereka pasti sedang mencemaskanmu"


"Pergi? Apa aku tidak bisa ikut dengan ibu.."


"Sayangnya tidak, kau masih memiliki sesuatu  yang harus kau lakukan, benarkan."


Entah kenapa aku merasa sedih mendengar hal itu. "Aku baru saja bertemu dengan ibu setelah sekian lama. Apa ibu tau, aku bahagia kalau bisa bersama ibu. Aku tak mau berpisah lagi denganmu."


"Sebenarnya ibu juga.."


"Kalau begitu..."


"Tapi itu tidak mungkin."


"K-kenapa?"


"Kau memiliki orang yang sedang menunggumu di sana." Sebuah gambar muncul dan memperlihatkan Rin, Emilia, Inori, Lia, Sia, dan Ai yang terlihat murung dan mereka semua terlihat sangat sedih. "Apa kau tega melihat mereka seperti itu."


"A-aku..." Sebenarnya aku tak tega melihat mereka seperti itu, tapi...


"Mereka adalah keluargamu'kan. Dan sudah sewarjanya kau membuat mereka bahagia."


"Keluarga, ya."


"Jika kau membuat mereka bahagia, ibu juga bahagia."


"T-tapi, apa aku bisa bertemu dengan ibu?"


"Kalau untuk itu, kau bisa memikirkannya nanti. Saat ini yang terpenting adalah kau harus kembali menemui mereka."


"Memikirkannya? Tapi.."


Tiba-tiba ibu mencium keningku. "I-ibu.."


"Selamat jalan Hiroaki, ibu senang bisa bertemu denganmu lagi."


Tubuhku perlahan mulai lenyap. "A-apa yang terjadi?"


"Sampaikan salam ibu pada Rin-chan, ya."


"Ibu!!" Ibu perlahan pergi menjauh dan aku tak bisa menggerakkan tubuhku, dan tubuhku mulai lenyap seutuhnya.


"Selamat jalan, putra kesanyangan ibu."


"Ibu!!!!"


__________________


[ Kamar ]

__ADS_1


Malam hari, jam 00.00


"Ibu!!!" Seketika aku membuka mata, dan terbangun kembali di kamarku. "A-apa itu tadi hanya mimpi. Tapi, yang tadi itu terlalu nyata untuk dikatakan sebagai sebuah mimpi."


"A-apa ini.." Saat aku mencoba untuk menggerakkan tubuhku, rasanya sangat berat. Pandanganku sedikit kabur, jadi aku tak bisa melihat dengan jelas apa yang sedang terjadi denganku.


------- Beberapa saat kemudian --------


Padanganku kembali seperti semula. "A-apa ini!!" Tepat saat pendanganku kembali normal, aku melihat Rin, Emilia, Inori, Lia, Sia, dan juga Ai, tidur mengelilingiku. "Ap..." Aku berencana untuk membangunkan mereka, tetapi karena mereka terlihat kelelahan aku membiarkannya. Dan karena hari masih malam, aku putuskan untuk tidur dan besok aku berencana untuk bertemu dengan dewa Sha, dan menanyakan tentang pertemuanku dengan ibu. "Aku rasa dewa Sha tau sesuatu tentang hal itu."


-------------------


Pagi hari, jam 06.50


"Papa?" Suara kecil Inori membuatku bangun.


"Hoaamm, ada apa Inori..?"


"Hiroaki.." (Emilia)


"Hi-chan.." (Rin)


"Hiro.." (Sia)


"Aki.." (Ai)


Mereka ber-empat tiba-tiba saja memelukku. "Aku kira aku tak akan melihatmu.."


"Hi-chan bodoh, kau membuat kami khawatir.."


"Lia? Apa yang  terjadi dengan mereka?" Karena penasaran, aku putuskan untuk bertanya pada Lia.


"H-Hiroaki-sama, syukurlah anda baik-baik saja." Lia meneteskan air matanya.


"Memangnya, apa yang terjadi?"


"Dewa bilang, kalau kemarin anda kritis dan jika anda tidak segera diobati, anda akan meninggal."


"Begitu.." Sekarang aku tau, alasan mereka bertingkah seperti ini. "Tenanglah kalian. Lihat, sekarang aku baik-baik saja. Jadi, bisa kalian lepaskan pelukan kalian." Meskipun ini terasa nyaman, tapi di saat yang sama tubuhku terasa sangat sakit, dan sepertinya luka yang ada di perutku belum sembuh total.


"B-baiklah.." Mereka melepaskan pelukannya dariku.


Dan seperti yang sudah aku rencanakan tadi, aku akan pergi menemui dewa Sha dan menanyakan tentang apa yang aku lihat. "Aku ingin pergi sebentar."


"Jangan!!" (bersamaan)


Mereka melarangku. "A-ada apa?"


"Itu.. Karena kau masih belum sembuh." (Emilia)


Yang dikatakan Emilia itu memang benar, tapi... "Ada hal penting yang harus aku lakukan sekarang." Aku harus menanyakan apa yang aku lihat itu adalah mimpi atau kenyataan, aku harus bertanya hal itu peda dewa Sha karena dia pasti tau sesuatu tentang hal ini.


"Papa.." Inori memengang tanganku dan ia kelihatan sedih.


"A-ada apa Inori?"


"Papa, jangan pergi.."


Inori yang sedih terlihat sangat imut. "Hah, baiklah." Aku tak tega melihat Inori seperti itu.


"Hiroaki, sebaiknya kau istirahat saja. Nanti malam kau masih memiliki acara khusus."


"B-baik." Aku lupa kalau nanti malam adalah upacara penobatan remisku sebagai seorang raja, dan karena itu aku putuskan untuk istirahat agar aku bisa menyelesaikan upacara nanti malam dan segera menanyakan apa yang ingin aku tanyakan pada dewa Sha.


______________


Malam hari, jam 19.45


[ Sebuah ruangan ganti  ]


Akhirnya tiba saatnnya untuk upacara penobatanku dimulai. Aku sudah cukup beristirahat dan aku rasa kondisi tubuhku sudah semakin membaik. Tapi... "Eeeh. Emilia, apa memang perlu aku memakai pakaiaan seperti ini?"


"Tentu saja, ini'kan upacara penobatanmu sebagai seorang raja. Jadi, kau harus memakai pakaian terbaik."


"B-begitu, ya... Tapi, pakaian ini." Saat ini aku sedang di dandani oleh Emilia, lagipula Emilia yang mengajukan diri untuk melakukan hal ini, jadi mereka menyerahkannya pada Emilia.


"Ada apa.. Ini terlihat cocok denganmu."


Meskipun Emilia berkata seperti itu, aku rasa ini sedikit memalukan untukku. Sebuah mahkota dengan berat hampir setengah kilo dan juga mantel berwarna merah yang tebal dan juga baju yang aku gunakan ini mirip seperti baju kekaisaran inggris. Aku rasa hal itu sudah cukup untuk membuatku malu.


"Selesai, sekarang kau bisa pergi."


"Huh, baik." Aku keluar dari ruangan ini, dan segera ke Altar yang berada di belakang istana.


----------- Beberapa saat kemudian -----------


"Jadi disini, ya." Ini adalah pertama kalinya aku datang kesini, dan aku tak tau kalau ada tempat seperti ini di belakang istanaku. "Andai saja, Rune tak memberitahuku tentang hal ini, pasti aku tak akan tau kalau ada tempat seperti ini di kerajaanku." Ya, tadi siang Rune datang kekamarku dan memberitahuku dimana tempat penobatanku dilakukan, dan Rune memberitahuku tentang tempat ini. Akupun segera masuk ke dalam.


----------- Setelah itu ----------


"Yang mulia sudah datang.. Semuanya, prajurit beri hormat." (komandan prajurit)


Di dalam tempat ini, ada banyak prajurit yang berbaris dan juga tamu undangan yang datang ke tempat ini cukup atau bisa aku katakan sangat banyak. "I-ini lebih ramai dari apa yang aku bayangkan sebelumnya." Aku hanya berfikir kalau hanya ada sekitar 100 hingga 200 orang saja yang datang, tapi kenyataannya yang datang bahkan lebih dari itu. 


Aku tak melihat Rin ataupun yang lainnya datang ke tempat ini. "Dimana mereka? Apa yang mereka lakukan di saat darurat seperti ini?" Para tamu undangan yang ada disini entah kenapa mereka melihat ke arahku, dan itu membuatku merasa sedikit tertekan. "Tenang, tenang. Fuuu..." Aku perlahan berjalan menuju ke tempat duduk yang ada di depan.


------------ Beberapa saat kemudia ----------


Akupun sampai tepat di depan tempat duduk yang terlihat seperti milik seorang raja ini. "Ehh..? Tunggu dulu.." Aku merasa ada yang aneh. "Dimana pendetanya?" Aku tak melihat pendeta, biasanya pendeta itu selalu ada saat seorang raja melakukan penobatan. Itulah yang Rune katakan padaku soal pendeta. Tapi, disini aku sama sekali tak melihat seorangpun yang terlihat seperti pendeta.


----- Beberapa menit kemudian -----


Gubbrakk. 


Pintu masuk terbuka dengan cukup keras. "Ma-maaf, aku terlambat." (Shin)


"Shin? Apa yang dia lakukan, dan terlambat? Apa maksudnya?"


"Pendeta sudah datang. Semuanya, beri hormat."


"P-Pendeta!!" Aku sama sekali tak tau kalau Shin adalah seorang pendeta.


Shin berjalan menuju ke arahku. Shin berpakaian seperti seorang pendeta, dan ia juga membawa sebuah tongkat, aku tak tau untuk apa tongkat itu mungkin cuma sebagai hiasan.


Shin berdiri tepat di depanku. "Hey, Hikari. Bisa kau sedikit membungkuk, aku ingin memulai upacara ini." 


"B-baik." Akupun mengikuti apa yang dikatakan olehnya, aku membungkuk dan karena aku tak tau harus membungkuk seperti apa aku memutuskan untuk melakukannya sama seperti ala kerajaan.


"Dengan ini, aku pendeta tertinggi memberikan gelar padamu, Hiroaki sebagai seorang raja." Shin memberiku sebuah mahkota yang lebih kecil dari apa yang aku pakai sekarang. Ia melepas mahkota yang aku pakai dan menggantinya dengan mahkota yang ia bawa. "Selamat, ya Hiroaki. Mulai saat ini kau remi menjadi seorang raja."


Dan kehidupanku sebagai seorang raja yang sebenarnya dimulai hari ini. Mungkin.

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2