Watashi No Hanayome

Watashi No Hanayome
27


__ADS_3

Pagi hari, jam - -.- -


Aku bangun sangat pagi bahkan langit masih terlihat sangat gelap. Pagi ini, persisi seperti yang aku katakan pada mereka kemarin, aku tak diganggu oleh Lia ataupun Inori pagi ini. "Sebaiknya aku harus segera berangkat." Akupun berjalan keluar dari kamar.


"Hey.. Jangan keluar lewat pintu." (telepati dewa Sha)


"*Ada apa dewa Sha?"


"Mereka sedang menunggumu untuk keluar dari kamar."


"Mereka? Maksudmu..."


"Ya, mereka berencana mengikutimu diam-diam."


"Padahal aku sudah bilang pada mereka untuk tak mencampuri urusan ini kemarin. Tapi, mereka masih saja ingin ikut campur."


"Kau kira, kata-kata saja mampu untuk menghentikan mereka, kaupun pasti sudah tau, kalau mereka tak akan mendengar apa yang kau katakan."


"Kalau begitu, aku harus bagaimana?"


"Sebaiknya kau keluar lewat jendela saja, lagipula sekarang masih sangat pagi, dan orang-orang tak akan ada yang beraktifitas karena matahari belum terbit."


"Baiklah*." Akupun mengikuti apa yang dewa Sha katakan, aku keluar lewat jendela kamarku.


--------- Beberapa saat kemudian ---------


"*Aku akan memberikanmu arahan, agar kau dapat menyusup ke istana dengan aman."


"Baiklah dewa Sha."


"Tapi sebelum itu. Sebaiknya kau gunakan bubuk itu sekarang*."


"Baiklah." Akupun menggunakan bubuk yang di berikan dewa Sha padaku kemarin. Aku menaburkannya ke pedang naga biru setelah beberapa saat, warna pedang naga biru berubah menjadi warna hijau dan warna rambutku juga ikut berubah. "Bagaimana bisa warna rambutku ikut berubah?" Aku yakin dewa Sha melupakan hal ini. "*Dewa Sha, bisa jelaskan hal ini?"


"Mudah saja. Anggap pedang itu adalah sebagian dari jiwamu, jika pedang itu mengalami perubahan, maka kau juga akan mengalaminnya dan begitu pula sebaliknya. Baiklah, kita mulai rencana penyusupannya sekarang."


"Baik."


"Ada sesuatu yang ingin aku berikan padamu lagi."


"Apa*?"


Sebuah jubah hitam tiba-tiba ada di depanku. "*Jubah?"


"Pakai itu untuk menutupi pakaian milikmu, agar penyamaranmu sempurna."


"Baiklah*." Akupun memakai jubah itu.


Dan setelah itu, aku berangkat mengikuti arahan dari dewa Sha.


---------- Beberapa menit kemudian --------


Pagi hari, jam - -.- -


Matahari sudah mulai terbit. "Nah, sekarang kita sudah sampai di area istana Chamos."  Karena arahan dari dewa Sha, saat ini aku sudah berada di area istana atau lebih tepatnya aku berada di luar tembok istana yang terlihat sangat kokoh, dan tepat seperti apa yang dewa Sha katakan, penjagaan saat ritual pemanggilan sangat ketat, bahkan menurutku akan sangat sulit untuk bisa menyusup ke dalam istana tanpa ketahuan. Tapi, karena saat ini aku sedang di bantu oleh dewa Sha, mungkin ini akan lebih mudah.


"*Baiklah dewa Sha, apa yang harus aku lakukan setelah ini."


"Mudah saja, hancurkan saja tembok ini, dan kau bisa masuk ke dalam istana dengan mudah*."


Saran yang diberikan dewa Sha sangat tidak masuk akal. "*Woy woy woy, yang benar saja!! Jika seperti itu, bukannya aku akan ketahuan jika melakukan han itu." 


"Aku tak punya cara lain, waktumu tinggal 15 menit lagi sebelum ritual pemanggilannya sudah dimulai."


"Apa!! 15 menit lagi! Itu sangat mendadak."


"Kalau begitu, lakukan apa yang aku katakan padamu."


"Tapi, bagaimana caranya aku menghancurkan tembok yang kokoh ini?"


"Mudah, tancapkan saja pedang naga biru pada tembok itu, dan setelah itu kau berlindung ke tempat yang aman."


"Berlindung?"


"Sudah jangan banyak tanya, lakukan saja apa yang aku katakan barusan!!"


"B-baik*!"


Aku mengikuti apa yang dikatakan dewa Sha padaku, aku menancapkan pedang naga biru pada tembok kokoh ini dan setelah itu, aku pergi untuk berlindung.


-------- Beberapa saat kemudian --------


"*Tidak terjadi apa-apa. Apa tidak berhasil?"


"Tunggu beberapa detik lagi*."


Akupun menunggu.


Jduaaarr.


"Ledakan apa itu!?" (Penjaga)


Sebuah ledakan cukup besar terjadi tepat dimana aku menancapkan pedang naga biru milikku.


"*Sekarang saatnya, masuk ke istana!!"


"Baik*."


Akupun segera masuk kedalam istana dan tak lupa untuk mengambil pedang milikku. "Ada yang menyusup ke dalam istana!!" (penjaga)


"*Cih, gawat aku ketahuan." 


"Ya, mau bagaimana lagi, jika masuk ke istana dengan cara seperti itu pasti akan ketahuan."


"Bukannya kau yang bilang kalau aku harus masuk dengan cara ini!!"


"Ahahaha..."


"Sudahlah. Sekarang aku harus bagaimana*?" Para prajurit mulai berdatangan.


"*Cukup mudah, ada 2 pilihan yang bisa kau gunakan saat ini."


"2 pilihan? Pilihan apa saja itu?"


"Pertama, kau bisa membunuh prajurit itu, atau kedua, kau bisa menghindari pertempuran dengan cara segera menghentikan ritual pemanggilan itu dan segera kabur."


"Baiklah, aku akan memilih yang kedua."


"Baiklah, aku akan menuntunmu ke tempat ritual pemanggilan itu."


"Terima kasih dewa Sha*."


Aku mengikuti arahan yang diberikan dewa Sha padaku.


--------- Beberapa menit kemudian --------


"Itu penyusupnya!! Tangkap dia!!" (penjaga)


Para penjaga mulai mengepungku. "*Sekarang, aku harus bagaimana dewa Sha?"


"Masuk ke dalam istana, dan hancurkan lantai yang ada di ruang tengah istana ini."


"Tapi, kenapa aku harus melakukan hal itu?"


"Ritual pemanggilan dilakukan di ruang bawah tanah, dan menurutku itu adalah cara yang tepat untuk menghentikan ritual pemanggilan."

__ADS_1


"Tapi, bukannya nanti akan ada korb-..."


"Hey, kau ingin mati atau tidak?"


"Kenapa kau bertanya hal seperti itu. Tentu saja aku tak ingin mati"


"Kalau begitu, ikuti saja apa yang aku katakan."


"Baik*."


"Jangan biarkan penyusup itu masuk ke dalam istana!! Tangkap dia!!" (penjaga)


Aku mengikuti apa yang dewa Sha katakan. Aku masuk ke dalam istana dengan menghancurkan jendela kaca.


Craaangg. (anggap suara pecahan kaca)


"Aku harus mencari ruangan tengah istana ini terlebih dahulu." pikirku. Karena dewa Sha bilang kalau ritual pemanggilannya di lakukan di ruangan bawah tanah yang ada di ruangan tengah.


---------- Beberapa menit kemudian ---------


Saat ini aku sudah berada di ruang tengah istana ini dan juga, aku sedang dalam masalah yang cukup besar. "Jangan biarkan penyusup itu lolos!!" (penjaga) Aku dikepung oleh puluhan prajurit kerajaan.


"*Dewa Sha, apa yang harus aku lakukan saat ini?"


"Hancurkan saja lantai yang kau pijak ini, dan misi selesai."


"Tapi, bagaimana dengan orang-orang yang ada dibawah sana? Mereka semua akan terbunuh."


"Jangan khawatirkan hal itu, mereka itu pantas mendapatkannya."


"Lalu, para prajurit ini bagaimana? Bagaimana kalau mereka juga ikut terbunuh karena aku menghancurkan lantai yang mereka pijak ini?"


"Sudah, masalah itu, biar aku saja yang urus. Sebaiknya kau segera melakukannya, kalau tidak, mereka akan memanggil orang di dunia lain dan mereka akan bernasib sama seperti yang lainnya. Apa kau tega melihat hal itu? Lagipula ini adalah dunia lain, kau tak punya urusan dengan orang yang ada didunia ini, dan jika mereka berniat untuk memanggil orang dari duniamu bagaimana? Apa yang akan kau lakukan?"


"A-aku..."


"Sudahlah, kau tak punya banyak waktu. Ritual pemanggilannya akan segera selesai. Jika kau tak melakukan sesuatu, maka semua akan terlambat."


"Baiklah, akan akau lakukan seperti yang kau katakan. Ini untuk mencegah orang di duniaku dipanggil ke dunia ini*." Aku menancapkan pedangku tepat di tengah-tengah lantai ini.


"*Sekarang, cabut pedang itu dan segeralah kabur."


"Baik*."


Aku mengikuti apa yang dikatakan oleh dewa Sha, aku mencabut pedangku dan segera kabur dari tempat ini. "Jangan biarkan dia lolos!!! Kejar dia!!" (penjaga)


---------- Beberapa saat kemudian ----------


Jduuaarrr.


Sebuah ledakan cukup besar terjadi tepat di tempat aku menancapkan pedang naga biru milikku. "*Aku harap tidak ada korban."


"Mustahil, jumlah korban sekitar 50 orang termasuk 12 penyihir yang melakukan poemanggilan di bawah tanah."


"Cih, tenyata jatuhnya korban memang tidak hisa dihindari, ya*."


"Jangan biarkan penyusup itu kabur!!!" (penjaga) Para penjaga mulai mengejarku, dan aku terus berlari keluar dari istana itu melalui lubang yang aku ciptakan tadi saat ingin masuk ke dalam istana ini.


--------- Beberapa saat kemudian -------- 


"Sepertinya aku berhasil kabur dari para penjaga itu." saat ini aku sedang bersembunyi di gang-gang kecil yang ada di kerajaan ini. "Mungkin jika disini, aku akan aman."


"PERHATIAN PARA WARGA KERAJAAN CHAMOS, ADA PENYUSUP YANG MENGGANGGU JALANNYA UPACARA PEMANGGILAN, JIKA ADA YANG MELIHAT SESEORANG YANG MENGGUNAKAN PEDANG DAN MEMILIKI RAMBUT BERWARNA HIJAU TOLONG TANGKAP DIA. DAN SIAPA YANG BERHASIL MENAGKAPNYA HIDUP ATAU MATI AKAN DIBERI IMBALAN YANG SANGAT BESAR." (???)


Suara itu menggema di area kerajaan Chamos ini. "*Sebaiknya kau segera lari kedalam hutan yang ada di selatan."


"Baiklah*." Tapi aku cukup heran, kenapa aku harus pergi ke hutan selatan, bukannya area hutan bagian timur lebih dekat.


"Itu dia penyusupnya.. Tangkap dia!!" Seorang warga melihatku, dan karena itu aku memutuskan untuk mengikuti apa yang dewa Sha katakan. Aku kabur ke arah hutan selatan.


Aku berlari sekuat tenaga untuk kabur ke hutan selatan.


---------- Beberapa menit kemudian -------


[Kerajaan Chamos: Hutan bagian selatan]


Saat ini aku sudah ada di hutan selatan dan karena hutan ini cukup lebat, ini memudahkanku untuk kabur dari kejaran para warga dan prajurit. "Cari penyusupnya, jangan biarkan dia lolos!!" (???)


"Cih sial.. Mereka masih saja mengejarku." Aku memutuskan untuk masuk lebih dalam kedalam hutan ini.


--------- Beberapa saat kemudian ---------


Aku terus berlari masuk kedalam hutan ini, dan setelah beberapa saat kemudian. Aku melihat sesuatu yang menakjubkan. "Danau?" Sebuah danau yang cukup besar dan indah ada di tengah hutan ini. 


"Cepat kau lompat ke danau itu."


"Kenapa?"  Tiba-tiba dewa Sha menyuruhku untuk melompat ke danau ini.


"Sudah lakukan saja."


"Baik." Akupun melompat seperti apa yang dikatakan dewa Sha, dan sialnya. 


Jebblurr.


"Tolong!!  Aku tidak bisa berenang!! Tolong selamatkan aku!!" Aku lupan kalau ajku tak bisa berenang.


"Hey, jangan lebay. Danau ini tidak dalam."


"Hah?" Kakiku masih menyentuh ke dasar danau ini, dan ternyata danau ini hanya sedalam dadaku. "Ahahaha..."


"Sekarang, bersikaplah seperti biasa."


"Bersikap seperti biasa?" Untuk sesaat aku tak paham apa yang di ucapkan oleh dewa Sha. 


"Hey kau yang ada disana!!" (???) Seseorang melihatku.


"Cih gawat. Aku sudah ketahuan." pikirku.


"Apa kau melihat seseorang yang memakai pedang hijau dan juga memiliki rambut berwarna hijau?" (???)


"Hah?" Aku bingung dengan apa yang dikatakan oleh orang itu, dan bukannya seharusnya dia mengincar aku. 


Dan tanpa sengaja aku melihat pantulan wajahku di air danau ini. Rambut dan pedangku sudah kembali seperti semula. "Hey kau yang disana. Apa kau dengar apa yang aku katakan?!"


"M-maaf, aku tak melihatnya!"


"Kalau begitu, terima kasih informasinya. Sepertinya dia tidak ada di sini. (berbicara pada teman-temannya)"


"Kalau begitu, kita cari dia sampai ketemu!!"


"Ya!!" Mereka semua pergi meninggalkan tempat ini.


"Ha. Sepertinya aku aman sekarang." Akupun bergegas kembali kepenginapan, karena aku sudah tidak menjadi incaran orang lagi saat ini.


-------- Beberapa jam kemudian --------


Siang hari, jam - -.- -


Saat ini, aku sedang berada di kamar, dan saat memasuki kamar tadi, aku tak melihat Rin dan yang lainnya. "Hari ini, aku sungguh capek. Aku ingin istirahat hari ini." Untuk pertama kalinya aku mengalami hal seperti ini, dan itu jelas membuatku sangat kelelahan.


Hari ini adalah hari terakhirku berada di kerajaan ini. "Sebaiknya besok pagi aku harus segera pergi dari sini." Ya, karena tugas yang dewa Sha berikan padaku sudah aku selesaikan, dan aku tak punya urusan lagi dengan kerajaan ini. "Oh ya dewa Sha.."


"Ada apa?" Tidak biasanya dewa Sha langsung menjawab panggilanku.


"Bagaimana denga orang yang menjadi korban tadi?" Aku cukup penasaran, mengingat aku membunuh sekitar 50 orang tanpa sengaja saat aku menjalankan misi ini.

__ADS_1


"Tenang saja, mereka semua akan di reinkarnasikan kembali kedunia ini."


"Di reinkarnasikan kembali, maksudnya?"


"Mereka yang tewas di dunia ini akan direingkarnasikan kembali, tapi mereka tak akan memiliki ingatan tentang kehidupan sebelumnya."


"Oh begitukah."


"Dan hanya kau dan aku yang tau tentang rahasia kecil dunia ini."


"A-apa!! Apa tak ada orang lain yang tau tentang hal ini."


"Benar, ini adalah 1 rahasia kecil yang tidak diketahui oleh mahluk yang ada di dunia ini. Dan aku ingin kau merahasiakan rahasia kecil ini dari siapapun."


"Tapi, kenapa kau membertahukan hal seperti ini padaku? Sebenarnya aku sudah lama ingin menanyakan hal ini. Kenapa kau selalu memberitahuku sesuatu yang tidak orang lain tau padaku?"


"Mungkin, karena hanya kau yang selalu bertanya padaku dan kau yang cukup dekat denganku. Lagipula, jika kau melakukan sesuatu tanpa mengetahui apapun, pasti akan terjadi hal yang buruk."


"Hal yang buruk?"


"Ya, lagipula kau bisa mengubah takdir mahluk yang sudah aku tentukan."


"Mengubah takdir?" Aku cukup tak paham dengan apa yang dikatakan dewa Sha padaku. "Maksudmu, takdir hidup?"


"Ya, kau sudah mengubah 2 takdir saat kau berada di dunia ini."


"2 takdir, takdir siapa itu?"


"Pertama, mereka adalah Garden dan Leona. Mereka sudah di takdirkan untuk mati saat melawan hewan iblis V.02 tapi, dengan kedatanganmu, mereka berdua tidak jadi terbunuh."


"Hewan iblis V.02? Apa itu nama hewan iblis itu?"


"Aku cuma memanggilnya begitu, hewan iblis versi.02 karena ia bisa beregenerasi dan berbeda dengan hewan iblis lainnya."


"Oh, begitu..." Dewa Sha memberi nama hewan iblis seperti nama produk.


"Dan juga saat, kau ada di kerajaan Roman. Seharusnya, semua budak yang kau beli itu akan dibunuh oleh tuannya selang beberapa hari. Tapi, kau membeli mereka dan membebaskan mereka, dan mengubah takdir yang sudah aku tetapkan untuk mereka."


"Ehh. Apa itu buruk?" Aku takut akan terjadi hal buruk karena aku sudah mengubah takdir mereka.


"Sebenarnya tidak juga. Aku hanya perlu menulis ulang takdir mereka seperti layaknya seorang Author yang menulis ulang jalan cerita karakter utama dan kawan-kawannya karena sebuah kelalaian."


"Oh begitu.."


"Baiklah, kalau ada yang ingin kau tanyakan, tanyakan saja padaku nanti. Hari ini aku sedang cukup sibuk."


"Baik." Dewa Sha menutup telepati.


Tepat seletah dewa Sha menutup telepatinya, dan aku tertidur karena kelelahan.


--------- Beberapa jam kemudian -------


Sore hari, jam - -.- -


Tubuhku terasa sangat berat seperti ada yang menindihku, aku perlahan membuka mataku. "Inori, Lia..." Mereka berdua tidur tepat di atas tubuhku dan itu yang membuat tubuhku terasa berat, dan bukan hanya itu. Rin dan Emilia, juga tertidur tepat di samping kanan dan kiri kasurku. "Woy woy!! Apa-apaan situasi seperti ini?"


"Papa, kau sudah bangun.."


"Hiroaki, akhirnya kau sadar, aku kira sesuatu yang buruk telah terjadi padamu." 


------- Beberapa menit kemudian -------


Mereka semua bangun satu persatu dan mulai bertanya padaku. "Hi-chan!! Apa yang kau lakukan tadi pagi?! (marah)"


"Wah, Rin marah.." Dan bukan hanya Rin, Emilia juga kelihatan marah padaku. "Apa aku harus menjawab pertanyaannya? Tapi, dewa sha bilang untuk merahasiakan hal ini dari mereka. Apa yang harus aku lakukan? (panik)" 


"Hi-chan! Kenapa kau diam?!! Jawab pertanyaanku?!" Rin yang marah terlihat menakutkan.


"Ehh, a-aku.. Aku disuruh untuk datang ke tempat dewa Sha pagi-pagi sekali."


"Dewa?" (Lia & Inori) 


"Oh, aku lupa kalau mereka tidak tau tentang hal ini, ya."


"Untuk apa?!!"


"Wah. Beginilah kalau memancing kemarahan harimau yang jinak, sungguh menyeramkan." pikirku. "Un-untuk..."


"Untuk apa!!"


"Untuk memilih, letak kerajaan yang akan aku bangun. Ya, itu alasannya." Padaha aku sama sekali tidak membahas tentang kerajaan saat aku berkomunikasi dengan dewa Sha.


"Kerajaan?" (Lia, Emilia & Inori) Mereka juga tak tau tentang hal ini.


"Jadi, tentang misi yang diberikan oleh dewa itu bagaimana? (marah)"


"Eh. Kalau itu. Sepertinya, misi itu sudah diselesaikan oleh orang lain."


"Inori, Emilia, Lia. Bisa kalian meninggalkan kamar ini, ada hal penting yang ingin aku bicarakan dengannya."


"Eeh. Baiklah, kalau begitu kami akan menunggu di luar. Inori, ayo kita keluar."


"Baik, mama Emilia." Emilia da Inori keluar dari kamar.


"Kalau begitu, saya juga akan keluar." Liapun ikut keluar.


Entah kenapa Rin menyuruh yang lainnya untuk keluar, dan sepertinya ada hal penting yang ingin dia bicarakan dengan seperti apa yang dikatakannya tadi. "Rin, hal penting ap-.."


Plakk. (Rin menamparku)


"Rin, apa yang kau-..." Rin tiba-tiba memelukku. "A-ada apa?" Sikap Rin aneh, barusan ia menamparku dan sekarang tiba-tiba ia memelukku.


"Kau bodoh, aku benci, benci, benci, benci padamu. Kenapa kau melakukan hal berbahaya seperti itu sendirian." Rin menangis.


Rin sepertinya sudah tau alasan kepergianku pagi tadi adalah untuk menghentikan ritual pemanggilan yang dilakukan di kerajaan ini. "Padahal ada aku dan yang lainnya disini. Tapi, kenapa kau memilih untuk melakukannya sendirian." Dia memukul-mukul dadaku.


Meskipun pukulan Rin tak terasa sakit, entah kenapa kata-katanya membuat hatiku kesakitan. "M-maaf, aku minta maaf. Aku tak bisa melibatkan kalian dalam masalah ini, aku takut kalau terjadi sesuatu yang buruk pada kalian."


"Tapi, 'hiks' apa kau pernah memikirkan perasaanku dan yang lainnya? Jika terjadi sesuatu yang buruk padamu, apa kau tau apa yang akan aku dan yang lainnya rasakan?"


"Aku minta maaf." Tak ada yang bisa aku katakan pada Rin selain kata maaf karena aku sudah membuatnya merasa sedih. Dan aku tau, kalau kata maaf saja tidak bisa memperbaiki masalah ini.


------ Beberapa saat kemudian ------


Rin kelihatan lebih tenang sekarang, dan Rin melepaskan pelukannya. "Rin, besok pagi kita akan meninggalkan kerajaan ini. Jadi, sebaiknya kau segera beristirahat sekarang, dan suruh mereka untuk beristirahat juga. Karena, besok mungkin akan menjadi perjalanan yang cukup panjang."


"B-baiklah. Kalau begitu, aku akan memberitau mereka." Rin keluar dari kamarku.


------- Beberapa menit kemudian --------


Sore menjelang malam (petang) hari, jam - -.- -


"Sepertinya aku harus bertanya pada dewa Sha tentang pembuatan kerajaanku. Tapi, ia bilang kalau hari ini ia sibuk. Kira-kira apa yang dilakukan oleh dewa Sha saat ini, ya?" Aku cukup penasaran apa yang dilakukan oleh dewa Sha, dan menurut perkiraanku,  pekerjaanya ialah hanya menonton anime, mengingat kalau dia itu suka sekali dengan anime dan juga komik.


-------- Di sebuah tempat di benua manusia -------


"Mungkin, sepertinya disini akan cocok." (dewa Sha)


Saat ini dewa Sha sedang memilih tempat untuk membuat kerajaan milik Hikari. Sebuah hutan lebat yang memiliki aliran sungai dan jauh sekitar 5km dari tempat ini, terdapat sebuah pantai yang cukup indah dan juga kaya akan sumber daya laut yang melimpah.


"Ini adalah tempat yang bagus, di area ini juga ada sungai dan tak jauh dari tempat ini juga ada laut, dan mungkin kerajaan ini akan meningkat cukup pesat karena itu. Yap, tempat ini sangat cocok." Dewa Sha memutuskan untuk membangun kerajaan milik Hikari disini. 


Kerajaan di benua manusia cukup sedikit yang berada didekat pantai dan karena hal itu pula, perdagangan hasil laut pasti akan dirasa cukup menguntungkan, karena hanya sedikit kerajaan bisa yang menjual hasil lautnya. "Baiklah, aku akan mulai bersih-bersihnya."


Bersambung.

__ADS_1


__ADS_2