Watashi No Hanayome

Watashi No Hanayome
2


__ADS_3

"Menarik, kau hebat juga manusia." (Naga)


"Ha, ha, ha..." Nafasku terengah-engah, mulai tadi yang aku lakukan adalah menghindari serangan naga itu dan aku sama sekali tidak diberi kesempatan untuk menyerang balik. Tapi... "Ini sangat menyenangkan." Karena selama hampir 1 bulan tubuhku tidak banyak bergerak dan terasa kaku, dengan keadaan sekarang tubuhku yang terasa kaku sudah perlahan kembali normal.


Naga itu kembali menyerangku dengan mengibaskan ekornya. Aku dengan cepat menghindari serangannya.


Duaarrr


Terbentuk lubang besar akibat ekornya yang menyentuh tanah. "Jika aku terkena itu, aku pasti mati." Melihat besarnya lubang akibat kibasan ekornya, membuktikan bukan hanya sihirnya saja yang kuat, tapi juga kekuatan fisiknya luar biasa.


Pedang Shirame tidak bisa berbuat banyak jika digunakan untuk melawan naga ini. "Jika seperti itu..." Aku menaruh Shirame dan mengeluarkan pedang naga milikku.


"Meskipun kau mengganti pedangmu, itu tidak akan merubah apapun."


Aku merasa kalau aku sedang diremehkan oleh naga ini. "Kalau begitu, mari kita lihat..." Saat aku menggunakan pedang naga, kemampuan fisikku bertambah kuat dan aku juga bisa bergerak dengan cukup cepat.


"Dimana!?"


"Dibelakangmu." Aku dengan cepat berpindah ke belakang naga itu.


Tepat saat naga itu berbalik, aku menyerang bagian perutnya secara horizontal.


Sraasshhhhh


"K-Keras..." Tubuhnya begitu keras, dan bahkan pedang naga hanya bisa menggores sedikit bagian perutnya.


"Kau, melukaiku. Manusia, berani-beraninya kau melakukan hal ini pada naga suci sepertiku. Akan aku beri perhitungan kau!!"


Duaaarrr


Tanah retak akibat hentakan kakinya, dan karena itu pula aku melompat mundur menjauh darinya. "Rasakan ini manusia..." Tepat saat aku mendarat, sebuah bola api raksasa yang lebih besar daripada sebelumnya tertuju tepat ke arahku.


Srasshh


Aku kembali membelah bola api raksasa itu, dan berbeda dengan sebelumnya kekuatan bola api raksasa itu cukup besar membuatku sedikit kesulitan saat mencoba untuk membelah.


Duaaarrr


Kembali, hutan yang ada di belakangku terbakar akibat bola api raksasa yang aku belah barusan. "Hahahaha... Ini menyenangkan. Manusia, kau manusia pertama yang membuatku menjadi seperti ini. Saat ini aku sangat bersemangat."


"Waahhh, sepertinya aku dalam masalah. Tapi..." Sedikit terseyum. Saat ini aku merasa sangat senang, rasa bosan yang ada padaku seakan menghilang dan sekarang hanya ada kesenangan didalam diriku.


---------- Berjam-jam kemudian ----------


15.22


"Ha, ha, ha..." Nafasku sudah habis, dan saat ini aku tengah terkapar di tanah.


"Hebat juga kau, sampai bisa membuat naga suci sepertiku jadi seperti ini." Naga itu juga terkapar kehabisan tenaga.


"Haaa..." Menghela nafas panjang, aku mencoba untuk mengontrol pernafasanku. "Awww..." Saat menyentuh wajahku, sepertinya wajahku terkena serangan naga itu tadi. Tapi, karena terlalu senang aku jadi mengabaikan rasa sakitnya.


Aku mulai berdiri. "Apa yang akan kita lakukan selanjutnya? Kau ingin menyerahkan bunga itu, atau melanjutkan pertarungan ini hingga salah satu dari kita tumbang."


"Jawabanku tidak akan berubah, manusia sepertimu tidak layak untuk mengambil bunga ini." Naga itu juga perlahan mulai bangkit.


"Kalau begitu..." Menggunakan semua pedangku, aku berlari mendekati naga itu. Dan saat aku mendekat, naga itu tiba-tiba saja langsung mengeluarkan bola api raksasa miliknya tepat ke arahku. "S-Sial..." Tak mempunyai tenaga untuk menghindarinya, aku mencoba untuk kembali menebasnya dengan sisa tenagaku.


Swuuuttt


"Huh? Menghilang?" Bola api raksasa itu menghilang.


"Sepertinya kalian sudah puas bermain-mainnya." (???) Suara yang tak asing terdengar dari langit.


"Dewa Sha..." Dewa Sha tiba-tiba muncul.


"Haaaa... Lihat sekeliling kalian, semuanya sudah hancur jadi seperti ini."


Aku kemudian melihat sekeliling, dan benar yang dikatakan oleh dewa Sha, semuanya yang ada di sekitar kami sudah terbakar. Hutan yang ada di sekitar kami terbakar tanpa menyisakan apapun. "Kalian berdua menambah pekerjaanku saja."


"Dewa." (Naga) Melihat ke arah dewa Sha, sepertinya naga itu kenal dengan dewa Sha.


"Ken, lama tidak bertemu." Dewa Sha kembali menyapa naga itu, dan perlahan mulai turun.


"Ken?"


"Kau tidak tau, ya. Dia adalah Ken, jelmaan naga suci, salah satu mahluk terkuat yang ada di dunia ini."


"Ohh, begitu." Aku tau tadi alasan kenapa dewa Sha bilang, semoga beruntung. Karena aku akan melawan naga suci, mahluk terkuat yang ada di dunia ini.

__ADS_1


"Dewa, sebenarnya siapa manusia ini. Dia bisa mengimbangiku yang merupakan jelmaan naga suci ini."


"Ahh. Sebelum itu, sebaiknya kau berubah. Jika masih dalam wujud itu, aku merasa kalau dia akan ketakutan." Saat berkata seperti itu, entah kenapa dewa Sha melirik ke arahku.


"Baik." Ukuran naga itu mengecil dan semakin mengecil, dan setelah beberapa saat wujudnya berubah menjadi manusia dengan usia sekitar 19 tahun, lebih tua 2 tahun dariku.


"Nah. Kalau begitu, aku akan menjelaskannya. Tapi sebelum itu, suasananya kurang nyaman. Kita pindah tempat dulu." Dewa Sha menjeltikkan jarinya dan kami langsung pindah tempat. Tempat yang sangat tidak asing bagiku.


"Gua?" Gua tempat dewa Sha.


"Pertama, kita mulai dari memperkenalkan diri kalian masing-masing. Ken, perkenalkan, dia adalah Hiroaki. Dan Hiroaki, dia adalah Ken, Shirayuki Ken."


"Shirayuki Ken." Menggunakan nama belakang yang tak asing bagiku. "Dia, jangan-jangan..."


"Iya, dia adalah orang Jepang sama sepertimu." Mendengar kenyataan itu aku sedikit terkejut.


"Tunggu sebentar dewa, dia juga orang Jepang sama sepertiku?" (Ken)


"Iya, kalian memang sama-sama orang Jepang, tapi Jepang di dunia yang berbeda."


"Dunia yang berbeda?"


"Nah, untuk hal itu. Aku akan menunjukkan padamu Hiroaki, tempat dimana manusia tidak bisa mendatangi tempat itu. Bisa dikatakan kalau rahasia seluruh dunia ada di tempat itu."


"Serius?"


"Duarius. Seperti yang aku katakan sebelumnya, aku akan mengajakmu ketempat itu saat misi dariku ini selesai. Dan untuk Ken, kau pasti sudah tau tempat itu."


"Tempat itu, ya."


"Kau bisa datang ke sana sekali-kali, pasti kau sangat merindukannya. Benar'kan, meskipun tidak bisa bertemu langsung paling tidak kau bisa melihatnya."


"Tapi aku memiliki tugas yang penting disini."


"Tugasmu sudah selesai, kau sudah melaksanakan tugasmu dengan baik selama beberapa ratus tahun terakhir. Aku bangga padamu. Sekarang, kau bisa menjalani kehidupanmu dengan damai."


"Dewa, terima kasih."


"Jika kau ingin pergi, aku akan mengirimmu kembali."


"Terima kasih dewa. Tapi sebelum itu, ada yang ingin aku bicarakan dengan dia." Menunjuk ke arahku.


"Pertarungan kita belum selesai, aku harap kita bisa menyelesaikannya suatu hari nanti."


Mendengar hal itu, aku tersenyum. "Dengan senang hati, saat hari itu tiba aku pasti akan mengerahkan seluruh kemampuanku untuk menumbangkanmu." Ken terseyum mendengar kata-kataku.


"Dewa, tolong."


Menjeltikkan jarinya, Ken menghilang. "Haaa. Sampai bisa menyudutkan jelmaan naga suci, kemampuanmu sudah banyak berkembang, ya."


Aku tak tau saat ini dewa Sha sedang memujiku atau tidak, tapi aku tak bisa mengatakan apapun. "Kekuatan jelmaan naga suci itu setidaknya hampir mencapai 3% dari total kekuatanku. Aku cukup kagum kau bisa bertahan melawannya."


"T-Tiga persen." Mendengar hal itu, aku sangat terkejut. Jika menurut orang 3% itu adalah jumlah yang sangat kecil, tapi jika bisa dibandingkan dengan kekuatan seorang dewa, 3% itu bukanlah angka yang kecil. Kekuatan pedang naga milikku saja sekitar 1% dari kekuatan dewa Sha, dapat mengimbangi 3% kekuatan yang setara dengan seorang dewa, aku rasa aku memang sudah bertambah kuat.


"Dewa Sha, naga suci dan serigala suci. Selain 2 hewan suci itu, ada hewan apa lagi?" Karena sebelumnya dewa Sha pernah bilang kalau di dunia ini terdapat hewan suci yang memiliki kemampuan yang luar biasa kuat, aku jadi penasaran.


"Ada apa? Kau penasaran?"


"Begitulah."


"Selain ras naga suci dan ras serigala suci. Ada juga Golem reruntuhan, dan kristal penjaga, lalu ras raksasa suci, setelah itu kalau tidak salah... Ahh, ular berkepala tujuh. Mereka adalah ras terkuat yang ada di dunia ini, tentu saja masih ada ras suci lainnya. Tapi, aku tidak bisa menyebutkan semuanya, karena malas."


"Huh? Malas?"


"Tentu saja. Baru saja kembali, aku langsung memiliki pekerjaan. Lihat, apa yang kalian berdua lakukan." Dewa Sha menunjukkan tempat ku bertarung bersama dengan Ken tadi.


"Waa, hahaha..." Tempatnya hancur, semuanya hangus terbakar. Dan tempat yang tersisa hanyalah di sekitar area bunga Ein.


"Apa kau masih ingin mengambil bunga Ein itu?"


"Tentu saja. Itu tujuanku bertarung melawan Ken tadi."


"Kalau begitu..." Dewa Sha kembali menjeltikkan jarinya, dan beberapa bunga muncul di tangan kanannya. "Ambil ini, bunga Ein ini sudah aku pilih, jadi ini adalah kualitas yang terbaik."


Totalnya ada 5 bunga Ein yang berbeda warna. "Apa itu semua bunga Ein?" Karena yang aku lihat di kamar Ai bunganya berwarna biru, aku jadi sedikit tidak yakin.


"Tenang saja, ini semua adalah bunga yang sama seperti yang ada di kamar Ai. Kau tak perlu khawatir."


"Begitu. Ya sudah." Aku kemudian mengambil bunga yang ada di tangan dewa Sha. "Terima kasih."

__ADS_1


"Sudahlah. Kau harus segera kembali, besok kau harus berangkat."


"Iya. Eeeh, dewa Sha."


"Ada apa lagi?"


"Bisa kau antarkan aku. Menaiki naga Shura pasti akan memakan waktu yang cukup lama."


"Baik..." Menjeltikkan jarinya, seketika aku langsung berpindah tempat.


----- Hutan Utara : Kerajaan Riel -----


Aku langsung berada di hutan dekat dengan kerajaanku. "Bunga Ein ini sudah aku dapatkan." Aku cukup senang karena bisa mendapatkan sesuatu yang berharga seperti bunga ini. "Bunga yang melambangkan keabadian, ya." Aku perlahan berjalan menuju ke kerajaan sambil memikirkan kata-kata dewa Sha tadi.


-------- Beberapa menit kemudian --------


Prajurit yang menjaga gerbang terlihat terkejut melihatku. "Y-Yang mulia. Apa yang anda lakukan diluar tanpa satupun pengawal!!" (Prajurit)


"Mencari angin." Jawabanku cukup singkat, dan setelah itu aku langsung berjalan kembali menuju ke istana ku. "Haaa. Pakaianku jadi sangat kotor." Karena pertempuran melawan Ken tadi, pakaianku menjadi sangat kotor.


Menjelang malam, 18.01


Karena aku berjalan kaki, aku membutuhkan waktu yang cukup lama untuk sampai di istana. "Haaa..." Menghela nafas, aku perlahan mempercepat langkahku dan setelah beberapa menit aku sampai.


"Haaaa, akhirnya sampai juga." Karena area kerajaan ini yang cukup luas dan istana berada di tengah-tengah kerajaan, aku jadi membutuhkan waktu yang cukup lama untuk bisa sampai ke istana. "Sebaiknya aku memberikan bunga ini sebagai kejutan untuk mereka." Aku menyembunyikan bunga ini.


Setelah itu, aku langsung masuk ke istana dan saat masuk, aku langsung disambut oleh Rin, Emilia, Sia, Ai dengan senyuman. Seharusnya sih begitu, tapi... "Eeeh. Kalian semua, ada apa?" Wajah mereka terlihat sangat marah.


Perlahan, Ai mendekat ke arahku. "Eeeh... Ai, ada apa?" Ai mengangkat tangannya dan...


Plaaakkk


1 tamparan cukup keras aku rasakan di pipi kiriku dan rasanya sangat sakit, hanya dengan itu aku tau kalau saat ini aku sudah melakukan kesalahan. Itu karena Ai yang melakukan ini, ini pertama kalinya dia menamparku. "M-Maaf..." Kata-kata itu keluar dari mulutku, dan tubuhku terasa begitu berat. "A-Ai... Kau tidak apa-apa?" Air mata Ai menetes.


"Aki... Jangan membuat kami khawatir." Tiba-tiba saja Ai memelukku dan mengatakan itu.


"Kami dengar dari Inori kalau kau pergi ke sarang naga untuk mengambil bunga." (Emilia)


"Begitu.."


"Syukurlah kau tidak apa-apa." Menangis, Ai mempererat pelukannya.


"Ai sangat cemas saat mendengar kalau kau pergi mencari bunga itu. Dia bilang kalau ada naga yang sangat kuat yang menjaga bunga itu, dan manusia tidak bisa mengalahkan naga itu."


"Begitu..." Aku perlahan melepaskan pelukan Ai dan menatap matanya. "Aku baik-baik saja, kau tak perlu khawatir. Naga itu memang kuat, tapi aku yang lebih kuat." Aku mengatakan hal itu seakan itu candaan yang aku buat untuk membuat Ai lebih tenang. "Lihat, aku tidak terluka sama sekali meskipun saat ini tubuhku sangat kotor. Jadi, berhentilah menangis."


"P-Papa..."


"Ukhh..." Inori tiba-tiba saja berlari dan langsung memelukku dengan erat, dan itu membuatku hampir terjatuh.


"Papa, aku minta maaf." Dan sekarang, giliran Inori yang menangis. "Aku tidak akan meminta apa-apa lagi."


"Inori, tidak masalah. Lagipula, bisa mengabulkan permintaan dari seorang putri yang manis adalah kebahagiaan dari seorang ayah." Aku tersenyum sambil berkata seperti itu. "Jika ada sesuatu yang kau inginkan, bilang saja."


"I-Iya..." Aku mengelap air matanya menggunakan tanganku.


"Sudah, berhenti menangis. Tunggu sebentar, ada yang ingin papa berikan padamu." Aku kemudian keluar lalu mengambil semua bunga yang aku sembunyikan tadi.


"Inori, ini bunga yang kau inginkan, bukan." Aku memberinya satu bunga.


"Papa, terima kasih." Inori terseyum dan itu membuatku merasa sangat senang.


"Dan ini untuk kalian." Aku memberikan mereka masing-masing 1 bunga.


"Ini, untuk kami." (Sia)


"Iya. Karena aku akan pergi cukup lama, aku ingin memberikan sesuatu pada kalian. Bunga ini bunga yang istimewa.."


"Iya, aku tau." (Ai) Ai menggenggam erat bunga yang aku berikan padanya. "Kami akan menjaganya dengan baik."


"Terima kasih." Tepat di saat itu. "Aah. Kepalaku sakit." Aku merasa sakit di bagian kepala.


"Hi-chan... Kau tidak apa-apa?"


"Tidak apa-apa. Aku hanya sedikit kelelahan saja." Tubuhku tiba-tiba saja tidak bisa digerakkan dan aku kehilangan kesadaranku.


"Hari ini, hari yang paling bahagia di hidupku. Melihat mereka tersenyum, aku tak ingin kebahagiaan ini hilang."


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2