
“Naga agung, pertunjukan yang sebenarnya baru akan dimulai.” Sambaran petir yang sangat dahsyat menyambar secara lurus dan itu membuat lubang yang begitu dalam, dan setelah itu disusul oleh gempa yang membuat retakan yang besar di lubang yang sudah terbentuk itu, dan secara perlahan badai topan raksasa mulai bermunculan dan meluluh lantahkan seluruh yang ada di area itu.
“Ini adalah yang terakhir.” Retakan yang ada di lubang itu semakin membesar dan perlahan daratan 1 dengan daratan yang lainnya mulai menjauh. “Pergeseran lempeng bumi.” Bisa dibilang kalau aku memanfaatkan hal itu untuk membuat daratan ini menjauh satu sama lain, mungkin bisa dikatakan kalau aku sedang membelah dunia.
Meskipun ini terdengar mustahil karena pada umunya lempengan bumi hanya akan bergeser jika ada sesuatu yang memicunya dan itu hanya akan membuat sebuah gempa. Baik kecil maupun besar efek gempa itu tergantung pergeseran lempeng bumi itu sendiri. Membutuhkan waktu ribuan atau bahkan jutaan tahun agar tercipta sebuah benua. Tapi, aku melakukannya.
Meskipun begitu, aku tak begitu yakin kalau akan ada bangunan yang utuh saat proses ini berlangsung. Proses yang membutuhkan waktu jutaan tahun aku bisa melakukannya hanya dalam sekejap. Setidaknya dengan begini konflik antara 2 ras itu tidak akan berlanjut karena kedua benua ini sudah terpisah.
Tapi tidak bisa dipungkiri, ini juga membuatku sedikit kelelahan. “Naga agung, bisa kau jaga tubuhku agar tidak jatuh. Aku sangat kelelahan...” Punggung naga agung berbeda dengan punggung Shura yang lebar, jika aku tertidur disini ada kemungkinan kalau aku akan jatuh. Meskipun begitu, aku tidak bisa menahannya. “Selamat tidur.” Aku perlahan mulai memejamkan mata dan kesadaranku mulai menghilang.
Pagi hari.
Aku perlahan membuka mataku. “Hey bocah ajaib, kau sudah bangun.”
“Hoaaamm, selamat pagi.” Entah berada dimana, tapi saat ini aku merasa sedikit lebih baik dari hari sebelumnya. “Dimana kita?”
“Sarang baruku.”
“Huh? Sarang baru?”
“Lihat itu.” Aku melihat apa yang ingin ditunjukkan naga agung padaku.
“Wooow.” 2 benua sudah terpisah oleh lautan dengan jarak yang cukup jauh, tapi sangat disayangkan aku tak bisa melihat hal menakjubkan itu sampai selesai. “Naga agung, apa kau melihat kejadian itu sampai selesai?”
“Kejadian yang luar biasa itu. Mana mungkin aku melewatkannya, aku bahkan tidak berkedip agar tidak ketinggalan moment menarik seperti itu dalam hidupku.”
“Begitu.” Sepertinya dia terlihat senang. “Dengan begini, setidaknya ras iblis dan manusia bisa hidup di benua mereka masing-masing. Oh ya, dimana kita berada sekarang?”
“Di gunung api yang ada di benua elf.”
“Benua Elf.” Aku tak tau kalau jarak benua Elf sedekat ini, dan aku juga tidak menyadarinya. Tapi seperti yang naga agung katakan sebelumnya. Benua ini dipisahkan oleh lautan, mungkin jaraknya dekat jika terhubung.
“Dengan begini, naga laut bisa bergerak dengan bebas sekarang.”
“Naga laut?”
“Naga laut, salah satu naga agung sepertiku. Ia yang bertugas untuk mencegah orang untuk lewat di lautan miliknya. Dan karena saat ini benua iblis dan manusia sudah terpisah dia bisa melakukan tugasnya dengan maksimal.”
“Begitu.” Jika seperti itu, wajar saja tidak ada yang berani untuk melintasi lautan ini. “Dengan begini, seluruh ras bisa hidup dengan damai.”
Perlahan tubuhku mulai menghilang. “Sepertinya waktumu untuk pergi sudah tiba.”
__ADS_1
“Benar juga.” Dewa Sha bilang hanya butuh beberapa hari atau minggu, tapi sepertinya ini sudah waktunya. “Naga agung, jika kau bertemu dengan raja iblis, sampaikan salamku padanya.”
“Tenang saja. Pasti akan aku sampaikan, lagipula kau sudah memberikan pertunjukan yang hebat untukku. Aku tidak akan pernah melupakannya.”
“Begitu, terimakasih.”
--------------
“Papa, bangun papa, bangun.”
Suara yang perlahan mulai terdengar keras, dan karena itu aku perlahan membuka mataku. “Ahhh, akhinya papa bangun juga. Ini sudah sore, ayo papa. Sebentar lagi waktunya makan malam.”
“Ahh, baik-baik.” Yang aku rasakan itu, entah kenapa itu hanya terasa seperti mimpi saja. Pertemuanku dengannya, semua pengalaman itu. Entah kenapa aku merasa kalau itu hanyalah sebuah mimpi. “Mimpi yang menakjubkan.”
Ruang makan
“Hi-chan, ada apa?”
“Ahh, tidak ada apa-apa. Oh ya, Ai berapa usia kandunganmu sekarang?”
“Huh? Sekitar 3 bulan.”
“Ngomong-ngomong soal itu... H-Hiroak...”
“Hmm, ada apa Emi?”
“Sepertinya aku juga hamil…”
“Eh? Eh!!!” Aku terkejut sekaligus merasa sangat senang. “B-Benarkah?”
“Iya, aku serius.”
“H-Hi-chan, sebenarnya aku juga sedang hamil.”
“Eh?” Entah kenapa aku merasakan sesuatu disini. “Jangan bilang...” Aku melihat ke arah Sia.
“S-Sayang, kenapa kau menatapku seperti itu.”
“Apa kau tidak akan bilang kalau kau juga ikut hamil?” Entah kenapa aku merasa di permainkan disini.
Bug
__ADS_1
Bug
Bug
Bug
“M-Maafkan aku. Tolong ampuni aku.” Setelah mereka puas memukuliku, aku disuruh duduk secara Seiza.
“Kenapa kau bisa-bisanya tidak percaya.”
“M-Maafkan aku.”
“Wah wah. Kakak, aku akan pergi dulu. Selamat tinggal.” (Rune)
“Rune, tunggu jangan tinggalkan aku!!”
“Ehem. Hiroaki, bisa katakan apa yang membuatmu tidak percaya.”
“M-Maafkan aku. Aku hanya terkejut mendengarnya. Jika aku mendengarnya 1x saja mungkin itu normal, tapi jika lebih dari itu. Siapa yang tidak heran.”
Bug
Bug
Bug
Beberapa lama setelah merekapun puas.
Taman
“Haa, aku tidak menyadarinya apa aku yang memang tidak mengerti tentang mereka.” Meskipun sudah lama bersama, aku masih belum paham betul dengan sikap mereka. Aku hanya mengetahui apa yang mereka suka dan apa yang mereka benci saja, selain itu aku tidak mengetahuinya. Masa kecil mereka, apa yang mereka lakukan selama ini sebelum bertemu denganku. Aku sama sekali tidak mengetahuinya, aku ingin mengetahuinya tapi... “Ha, ini sangat merepotkan.” Ada beberapa hal yang tidak ingin diketahui dan aku tak berhak untuk mencaritahunya tanpa izin dari mereka.
“Hiroaki, siapkan dirimu. 2 bulan lagi…”
Suara muncul di kepalaku, dan itu adalah telepati dari dewa Sha. “2 bulan? Ada apa?”
“Kau tak perlu tau, persiapkan saja dirimu sampai waktu itu tiba. Saat waktunya tiba aku akan memberitahumu.” Dewa Sha menutup telepatinya.
“Haa, memangnya ada apa dalam 2 bulan kedepan.” Meskipun dewa Sha menyuruhku untuk bersiap-siap, aku tak tau apa yang harus aku persiapkan. “Haa, sudahlah. 2 bulan lagi, ya.” Jika dijalani, 2 bulan itu bukanlah waktu yang lama. Itu waktu yang sangat-sangat singkat. “Sampai menyuruhku untuk menyiapkan diriku, pasti ini adalah sesuatu yang besar.” Setidaknya itulah yang aku pikirkan.
Waktu berjalan dengan cepat tanpa disadari, dan waktunya semakin dekat. Pertarungan Akhir…
__ADS_1