Watashi No Hanayome

Watashi No Hanayome
17


__ADS_3

Aku dengan cepat maju ke arahnya, dan saat sudah berada di titik butanya. “Berakhir.”


“Yang mulia!!”


1 cm lagi sebelum pedangku menyentuhnya, dan aku terhenti karena ada yang menggangu. “Haa, untuk hari ini, seperti ini sudah cukup.” Aku sampai mengeluarkan 10% kekuatanku hanya untuk bermain-main, jika dewa Sha ada disini mungkin dia akan memarahiku.


“Ada apa?”


“Para pahlawan, mereka sedang menuju kemari.”


“A-apa!! Kalau begitu, segera siapkan pasukan. Kita akan segera membereskannya.”


“Baik.” Prajurit itu pergi.


“Maaf Hiroaki, tapi seperti yang kau dengar barusan.”


“Tidak masalah. Lagipula jika prajurit itu tidak menghentikanku mungkin saat ini sesuatu yang buruk sudah terjadi padamu.”


“Huh?”


“Lupakan saja.” Kekuatan yang besar membutuhkan imbalan, aku masih belum bisa menguasainya secara sepenuhnya. Sejujurnya aku sempat beberapa saat dikendalikan oleh kekuatan itu, dan seandainya prajurit itu tidak datang maka keadaan terburuknya seluruh benua iblis mungkin akan hancur karena seranganku barusan.


Beberapa lama setelah itu.


“Hee, ternyata persiapanmu matang juga.” Kurang dari 1 jam, para prajurit sudah berkumpul dalam keadaan siap tempur.


“Aku dan pasukan sudah bersiap-siap karena keadaan seperti ini pasti akan tiba.”


“Aku akan mengawasimu, jika kau tidak bisa mengatasi mereka. Kau bisa kembali, keselamatan pemimpin adalah yang paling penting dalam pertempuran.”


“Aku sudah tau itu.”


“Kalau begitu, baguslah. Aku akan pergi.”


“Pergi? Kemana?”


“Suatu tempat, ada yang ingin aku lakukan.”


“Urusan laki-laki?”


“Apa yang kau pikirkan?”


“T-Tidak ada.”


“Setidaknya itu bukan seperti apa yang kau pikirkan.”


“Begitu.”


“Kalau begitu, aku pergi. Jaga dirimu baik-baik.”


“Ya.” Aku pergi dari istana ini dan tujuanku adalah hutan monster.


Di hutan monster.


“Hey bangun, bangun.”


Dak


Dak


“Hey. Cepat bangun, naga hitam. Cepat bangun!!”


Saat ini aku tengah berada di sarang naga hitam dan naga hitam sedang tidur terlelap. “Cih, ini menyebalkan.” Aku memukul-mukul tubuhnya agar ia bangun.

__ADS_1


Beberapa saat kemudian


“Hey manusia rendahan. Kenapa mahluk rendahan sepertimu berani membangunkan naga agung sepertiku.” Aku sudah menduganya kalau naga ini bisa bicara, lagipula mana ada naga hitam misterius di hutan ini.


“Bla bla bla bla… Bacot. Aku ingin kau menghentikan pertikaian antara manusia dan iblis.”


“Itu mustahil.”


“Huh? Alasanya?”


“Perselisihan mereka sudah dimulai sejak ratusan atau bahkan ribuan tahun lalu.”


“Ribuan tahun? Apa kau tau penyebabnya?”


“Kerakusan, ketamakan, tidak puas dengan apa yang dimiliki dan menginginkan lebih dari itu. Apa kah kau sudah paham dengan apa yang aku katakan.”


“Ya, sangat paham.” Sifat-sifat itu memang tidak terelakkan dan pasti dimiliki oleh setiap mahluk hidup tanpa terkecuali diriku.


“Yang mereka inginkan hanyalah kekuasaan, mereka tidak sadar jika mereka adalah mahluk dengan rentan hidup yang singkat.”


“Ya ya, aku paham.” Jika seperti itu, demihuman dan elf pasti memiliki alasan yang kuat tidak ikut dalam masalah ini atau apa mungkin mereka sudah merasa puas dengan apa yang mereka miliki. Jika itu benar, mereka pasti saat ini sedan hidup tenang di benua mereka masing-masing.


“Kau adalah seorang manusia, tapi kau bukan manusia... Siapa kau?”


“Aku hanyalah orang biasa yang kebetulan lewat, anggap saja seperti itu.”


“Berani membangunkan naga agung dan mengajaknya bicara tanpa rasa takut sedikitpun. Apa orang biasa yang kebetulan lewa bisa melakukan hal itu. Dan lagi, apa kau yang sudah menendangku dari sarangku ini.”


“Ahh, begitu. Kalau begitu, aku minta maaf atas apa yang sudah aku lakukan tempo hari.”


“Jika kau mau menjadi makananku, aku akan memaafkanmu.”


“Hahahaha, leluconmu sangat lucu. Lagipula, apa kau bisa memakanku?”


“Boleh.”


Beberapa lama setelah itu.


“Wah, itu tadi hampir saja. Coba saja ada sedikit celah tadi, aku pasti bisa memakanmu.”


“Hahaha. Karena kau kalah, aku ingin meminta sesuatu padamu.”


“Kau tidak menyebutkan hal itu tadi.”


“Jika aku kalah tadi, kau akan memakanku. Dan jika aku menang, aku tidak mendapatkan apa-apa bukannya itu tidak adil.”


“Hmm, benar juga. Lalu, apa yang ingin kau lakukan?”


“Untuk saat ini, bisa hentikan pertikaian antara iblis dan manusia yang akan terjadi.”


“Hanya itu?”


“Ahh, aku juga ada sedikit pertanyaan.”


“Apa?”


“Apa ada cara agar konflik antara manusia dan iblis berakhir?”


“Aku sudah mengatakan sebelumnya, tidak ada cara untuk mengatasinya.”


“Hmm. Lalu, bagaimana ras Elf dan demihuman bisa hidup dengan tenang selama ber abad-abad tanpa pertarungan.”


“Benua mereka terpisah.”

__ADS_1


“Huh? Terpisah?”


“Benua Elf dan Demihuman terpisah oleh samudra.”


“Ahhh, jadi itu alasannya.” Alasan mereka tidak ikut adalah mungkin karena benua mereka terpisah dari benua lainnya.


“Jika benua iblis dan manusia terpisah, mungkin saja konflik itu akan berakhir.”


“Begitu.”


“Tapi itu adalah hal yang mustahil dilakukan.”


“Tidak. Terimakasih atas masukannya. Aku akan melakukannya.”


“Kau melakukannya, menarik. Kalau begitu, izinkan aku untuk mengawasimu.”


“Boleh, silahkan saja.”


“Kapan kau akan melakukannya?”


“Saat malam tiba, dan karena itu cepat hentikan pertikaian mereka. Jika tidak segera dihentikan aku mungkin tidak sengaja membunuh mereka semua. Buat mereka kembali ke kerajaannya masing-masing. Dan aku juga minta sedikit bantuan darimu.”


“Apa?”


“Saat waktunya tiba, aku ingin kau mengawasi agar tidak ada satu orangpun yang berada di jangkauanku.”


“Itu hal yang mudah, serahkan saja padaku.”


“Kalau begitu, terimakasih. Dan tolong kerja samanya.” Dengan begitu aku dan si naga agung ini bekerja sama. Hingga pada akhinya.


Malam hari.


Di ujung pesisir pantai perbatasan benua iblis dan manusia.


Waktunya sudah tiba. “Silahkan dimulai.”


“Apa kau sudah memastikan tidak ada orang yang ada di jangkauan seranganku ini?”


“Tenang saja, aku sudah memastikannya. Dalam 100km dari masing-masing perbatasan benua sudah tidak ada mahluk satupun.”


“Begitu, terimakasih.”


“Sekarang, perlihatkan kekuatanmu yang besar itu padaku. Perlihatkan semuanya.”


“Cih diam, jangan bacot. Aku tidak bisa berkonsentrasi.”


“M-Maaf.”


“Ha…” Aku memulainya. “Ryuga.” Aku menggunakan Ryuga karena ini adalah tugas yang cocok dengannya. “Penggunaan kekuatan.” Mengingat 50% kekuatanku bisa menghancurkan dunia dengan mudah. “20% maksimal.” Menggunakan kekuatan 20% dalam keadaan maksimal, aku rasa ini sudah cukup.


Ombak besar mulai terbentuk dan suasana disini berubah menjadi sangat mencekam. “Kekuatan yang sangat besar, sangat-sangat besar.”


Badai petir mulai terbentuk, dan petir mulai menyambar di seluruh tempat membuat keadaan disini begitu menakutkan. “Naga Agung, bersiaplah.” Aku mengangkat Ryuga. Dan setelah beberapa saat..


“Slash.” Aku mengayunkan secara vertikal sampai ujung Ryuga menyentuh tanah. “Naga Agung, sekarang.”


“Baiklah.” Aku langsung baik ke punggung naga agung dan naga agung langsung terbang.


Beberapa saat kemudian.


Suasananya begitu henti sampai-sampai aku bisa mendengar detak jantungku sendiri. “Tidak ada yang terjadi? Apa tidak berhasil?”


“Naga agung, pertunjukan yang sebenarnya baru akan dimulai.”

__ADS_1


__ADS_2