
Pagi hari, jam 07.20
Aku dan Ai sedang duduk di luar gua, dan karena rumah milik Ai terbakar, dia terpaksa ikut denganku. "Aki, kita mau pergi kemana?"
"Aku ingin mencari buah kebangkitan."
"Buah kebangkitan?"
"Iya. Konon buah itu ada di hutan ini dan aku berniat untuk mencarinya. Aku ingin menghidupkan kedua keluargaku yang dibunuh oleh ras iblis. Oh ya Ai, apa kau tau sesuatu tentang buah itu? Kau'kan sudah lama tinggal disini."
"Tidak, ini pertama kalinya aku mendengar kalau ada buah seperti itu di hutan ini. Oh ya Aki, ada yang ingin aku tanyakan padamu."
"Apa?"
"Barusan kau menyebut ras iblis, apa kau membenci mereka..."
"Iya. Aku sangat membenci ras iblis, mereka sudah melukai dan bahkan sampai membunuh keluargaku yang sangat berharga. Aku tak akan memaafkan mereka..."
"Begitu, ya."
Ai terlihat murung, aku tak tau kenapa tapi sepertinya ia memiliki sebuah masalah. "Ada apa Ai?"
"T-tidak ada apa-apa. Sebaiknya kita segera mencari buah yang sedang kau cari itu, bukankah setiap menit itu berharga."
"Baiklah.." Meskipun Ai terlihat seperti mengalihkan pembicaraan, tapi seperti yang ia bilang 'setiap menit itu berharga'.
Dengan begitu, akupun melanjutkan perjalanan bersama dengan Ai untuk mencari bunga kebangkitan itu.
Groaaarr.
Tepat sebelum aku melangkah, aku mendengar suara raungan yang tak asing bagiku dari atas. Akupun memutuskan untuk melihat, dan memastikan hal itu.
Grooaaarr.
"Alfa.." Dan benar saja, naga Alfa datang ke hutan ini. Tapi tidak seperti biasanya, Shin tidak ikut bersamanya.
Naga Alfa mendarat tepat di depan kami.
Grrooaarr.
"Huh?" Aku tak tau apa yang dikatakan olehnya, tapi sepertinya ia ingin mengatakan sesuatu, dan karena aku sama sekali tidak paham dengan bahasa naga, aku tak tau apa yang ingin naga Alfa sampaikan padaku. Aku tak tau kenapa, tapi sepertinya Ai tidak terkejut setelah melihat naga Alfa. "Ai, apa kau paham apa yang dikatakan olehnya?"
"Tidak.. Aku tak mengerti dengan bahasa naga."
"Begitu, ya..." Aku melihat naga Alfa, entah kenapa setelah melihatnya ia sepertinya ingin aku naik ke punggungnya. "Apa kau ingin aku naik ke punggungmu?"
Grrooaaarr.
Aku mengartikan jawaban itu sebagai jawaban 'Iya'. "Kalau begitu..." Akupun segera naik ke punggung naga Alfa. "Ai, ayo cepat naik."
"A-aku naik ke ke punggung naga!!"
Seperti yang kuduga dari reaksinya, ia terlihat ketakutan dan ternyata ia hanya berpura-pura berani. "Tenang saja, saat kau sudah berada di atas sini kau akan baik-baik saja." Aku mengatakan itu untuk membuatnya sedikit lebih tenang.
"A-aku sudah pernah membayangkan hal sepeti ini akan terjadi. Tapi, aku tak menyangka kalau hal seperti ini akan lebih menakutkan dari apa yang aku bayangkan." Bergumam.
"Apa yang kau katakan? Aku tidak mendengar suaramu."
"T-tidak, bukan apa-apa."
"Kalau begitu, ayo cepat naik."
"B-baiklah."
--------- Beberapa saat kemudian ---------
Ai sampai di atas punggung naga Alfa, dan tepat saat Ai sampai di atas.
Grooarrr.
Naga Alfa seketika terbang. "A-Aki!!!" Ai memelukku dengan sangat erat dan ia juga menutup matanya.
Aku tak tau kenapa Ai memelukku, tapi sepertinya ia takut dengan ketinggian. "Ai, kau bisa buka matamu sekarang."
"T-tidak, a-aku takut ketinggian."
"Coba buka sebentar matamu."
"T-tidak!!"
Sepertinya Ai sangat takut dengan ketinggian, tapi jika dalam kondisi seperti ini aku cukup kesulitan untuk bergerak. "Jika kau tak membuka matamu, kau akan melewatkan pemandangan yang indah ini." Aku menggunakan kata-kata itu untuk memancingnya melepaskan pelukannya dariku.
"B-baik.." Ai perlahan-lahan membuka matanya.
"Coba lihat itu.." Karena matahari yang sedang terbit, membuat area hutan iblis dibawahku menjadi berkabut, dan itu membuat sebuah pemandangan yang cukup indah jika dilihat dari atas sini.
"Wahh... Indah sekali."
"Benar'kan.." Tanpa sadar, Ai melepaskan pelukannya dariku.
Sepertinya ia sudah tidak takut lagi dengan ketinggian, dan aku cukup penasaran kemana Alfa akan membawaku pergi. Dan aku hanya bisa menyimpulkan kalau aku akan dibawa ke tempat dewa Sha oleh naga Alfa.
----------- Berjam-jam kemudian ------------
Siang hari, jam 13.30
Ai tertidur, dan aku rasa perjalanan ini akan cukup panjang. "Alfa, apa kita hampir sampai?"
Grooaaarrr.
Aku tak mengerti ucapannya, dan aku salah karena sudah bertanya pada seekor naga. "Haaa..."
Karena menurutku perjalanan ini akan memakan waktu yang cukup lama, aku putuskan untuk berbaring. "Jika benar naga Alfa datang untuk menjemputku karena ulah dewa Sha. Tapi kenapa? Padahal aku belum menemukan buah itu, atau apa mungkin dewa Sha sudah tau caranya untuk membangkitkan Rin dan Emilia kembali." Aku tak tau itu benar atau tidak, tapi jika itu benar aku sangat berterima kasih padanya.
Karena tak banyak hal yang bisa aku lakukan di atas naga Alfa, aku putuskan untuk tidur lagipula istirahat itu penting.
---------- Berjam-jam kemudian ---------
Sore hari, jam 16.50
"A-ada apa ini?" Aku kesulitan untuk bernafas, dan juga tubuhku tidak bisa digerakkan seperti tubuhku sedang di cengkram oleh sesuatu dengan sangat kuat.
Dan karena hal itu, aku kemudian mencoba untuk membuka mataku. "Ada apa ini!!!"
"J-jangan lari, Piii!!!" (Ai) Ai sedang mengigau dan menjadikanku sebagai guling selain itu ia juga mencengkramku dengan sangat kuat dan membuatku kesulitan untuk lepas darinya.
"A-Ai.. Bangun!!" Aku mencoba untuk membangunkannya.
"Piii... Jangan lari..." Cengkramannya malah tambah kuat.
"A-A-Ai... B-bangun.." Ai tiba-tiba mengendurkan cengramannya. "Ha, ha. Akhinya kau bangun juga.." Tapi ternyata aku salah, Ai masih belum bangun. Tapi, dengan begini aku bisa sedikit bernafas dengan lega meskipun ia masih belum melepaskanku.
Dan tak lama kemudian aku kembali tertidur.
------------- Berjam-jam kemudian ----------
Malam hari, jam 19.30
[Benua manusia: Hutan bagian timur]
"Aki, bangun Aki... Bangun!!"
Aku mendengar suara Ai yang memanggilku untuk bangun. Akupun membuka mataku. "Hoaammm... Adwa apa Ai?"
__ADS_1
"Sepertinya kita sudah sampai.. Lihat, naga ini berhenti bergerak."
Naga Alfa berhenti tepat di depan sebuah gua. "Gua?" 'Ya, lagi-lagi gua.'
"Sepertinya ada sesuatu di dalam sana."
"Sepertinya begitu.." Sebenarnya aku sudah tau kalau pasti di dalam gua itu ada dewa Sha.
"Bagaimana kalau kita coba masuk."
"Iya.."
Kamipun masuk kedalam gua itu.
----------- Setelah cukup lama berjalan di dalam kegelapan gua -------------
"Aki, lihat itu.. Ada cahaya di bagian dalam gua ini."
"Ahh, iya.."
"Ayo kita periksa."
"Y-ya."
Ai bergegas menuju ke sumber cahaya itu, dan aku mengikutinya di belakang.
----------- Beberapa saat kemudian ----------
"T-tempat apa ini?" (Ai) Tempat ini persis seperti tempat milik dewa Sha.
"Yo.. Kalian sudah sampai." (???)
Dan dugaanku benar, aku mendengar suara dewa Sha. "S-siapa itu?!" Ai terlihat ketakutan, itu wajar karena dewa Sha hanya berbicara dan tak menampakkan dirinya.
"Dewa, sudah cukup main-mainnya. Kenapa kau memanggilku kemari?"
Dewa Sha menampakkan dirinya. "A-apa dia menggunakan sihir khusus?" (Ai) Ai terkejut karena ini adalah pertama kalinya Ai melihat cara dewa Sha menampakkan dirinya.
"Namamu Ai, bukan?"
"I-iya."
Dewa Sha mendekat ke arah Ai, dan ia menatap wajahnya. "A-apa yang kau lihat?!" Dilihat oleh dewa Sha, Ai terlihat ketakutan.
"Ternyata kau sangat mirip dengannya."
"Mirip? Mirip dengan siapa dewa Sha?"
"Tidak, lupakan saja. Oh ya, bukannya kau ingin tau alasan kenapa aku memanggilmu."
"Iya. Kenapa kau memanggilku?"
"Aku memanggilmu karena kau sudah berhasil mendapatkannya."
"Mendapatkannya, apa maksudmu?"
"Tujuanku menyuruhmu untuk pergi kehutan iblis adalah untuk mencari, dia. Dia bisa membangkitkan orang yang sudah mati."
"Ai... Tapi, bukannya di sana hanya ada buah yang bisa membangkitakan orang yang sudah mati."
"Buah? Aku tak ingat pernah mengatakan kalau ada buah yang bisa membangkitkan orang yang mati."
"Cih... Sekali lagi aku sudah di permainan olehnya.."
"Tapi, kenapa harus Ai?"
"Coba kau tanyakan padanya."
"Tidak, aku tidak memiliki sihir yang seperti itu."
"Kau dengar itu dewa Sha, Ai tak memiliki sihir semacam itu.."
"Jadi, sepertinya kau tidak tau semua sihir khusus yang dimiliki oleh Ai."
Yang dikatakan dewa Sha benar, aku tak tentang sihir khusus milik Ai, dan aku hanya mengetahui satu saja sihir khusus miliknya. "Di.. Ehem.. Maksudku, Ai memiliki 5 sihir khusus. Pertama, pembuatan. Kedua, keabadian. Ketiga, penghilang. Keempat, melihat masa depan. Dan yang terakhir adalah membangkitkan."
"Melihat masa depan, keabadian, dan membangkitkan..?" Aku tak tau kalau Ai memiliki sihir yang menurutku sangat curang itu.
"Iya, sebelumnya. Apa kau tau kalau Ai adalah ras iblis yang kau benci."
"A-apa!! Ai adalah ras iblis!!" Aku terkejut setelah mendengar kalau Ai adalah ras iblis langsung dari dewa Sha.
"H-hey Ai, apa yang dikatakan olehnya itu benar?" Ai hanya menunduk, dan ia tak menjawap pertanyaanku. "Jika seperti itu.." Aku mengambil pedangku dan berniat menghunuskan pedangku padanya.
"Hiroaki.. Hentikan." Seketika tubuhku tidak bisa di gerakkan. "Apa kau lupa, kau sudah berjanji untuk menuruti apa yang dia inginkan, bukan."
"T-tapi, dia adalah ras iblis yang aku benci."
"Meskipun begitu, apa kau tau kenapa Ai memiliki wujud yang sama seperti manusia."
"Aku tidak tau, dan aku tidak peduli."
"Huh.. Dasar keras kepala. Dinginkan kepalamu." Tiba-tiba aku dihujani oleh air dingin dengan jumlah yang banyak, dan itu membuatku menggigil. Setelah itu, tubuhku kembali bisa di gerak'kan.
"Apa kepalamu sudah dingin?"
"I-I-I-Iya.." Aku menggigil karena hari yang sudah semakin malam dan udara yang sudah semakin dingin, ditambah lagi barusan aku diguyur oleh air dingin. "M-mungkin ak-aku akan jatuh sakit."
"Ha.... Ai bisa kau berikat jaket yang kau pakai padanya."
"T-tapi, Aku tidak-...."
"'Clik' Sudah.."
"H-hebat.. Bajuku kembali." Akibat ulah dewa Sha, baju Ai yang tadinya robek dan hancur kembali seperti semula. "Ini Aki.."
"T-terima kasih.." Aku mengambil jaketku kembali, dan segera memakainya.
"Kalian berdua, ayo ikut denganku. Dan di perjalanan, aku akan menceritakan sedikit mengenai Ai. Agar kau paham kenapa kau tak boleh menyakiti Ai."
"I-iya."
Aku dan Ai mengikuti dewa Sha masuk lebih dalam ke gua ini.
----------- Di tengah perjalanan ------------
"Ai, sudah hidup lebih dari 500 tahun yang lalu."
"500 tahun yang lalu?!" Aku tak tau kalau Ai sudah hidup selama itu.
"Iya. Dan saat perang antar ras terjadi, banyak pihak dari ras iblis yang menggunakan kekuatan sihir khusus Ai untuk memenangkan pertempuran antar ras itu. Dan akibat itu, setelah perang antar ras berakhir. Ai pergi meninggalkan kerajaan iblis, dan memilih untuk berkelana."
"Ai juga pernah berkelana?"
"Iya.. Tapi perjalananya tidak semudah itu, benarkan Ai.."
"H-hebat, dia tau semua tentangku."
"Hahahaha...."
"Itu sudah wajar, karena dia adalah dewa.."
"Dewa?"
__ADS_1
"Iya. Aku adalah dewa di dunia ini, tak ada yang tidak aku ketahui tentang dunia ini."
"Jadi, apa kau mau melanjutkan ceritamu, dewa Sha?"
"Jika kau tertarik, aku akan melanjutkannya. Tapi jika tidak, aku akan mengganti topik pembicaraan."
Sebenarnya aku tidak terlalu tertarik dengan cerita hidup Ai. Tapi, ada beberapa hal yang membuatku sedikit penasara terhadap Ai. "Dewa Sha, aku ingin bertanya sesuatu."
"Apa yang ingin kau tanyakan."
"Bagaimana Ai bisa memiliki semua sihir khusus itu.."
"I-itu... Anggap saja sebagai penghormatan."
"Penghormatan?" Aku tak tau pengormatan apa yang Dewa Sha maksud, tapi sepertinya ini adalah hal yang mendalam.
"D-Dewa.. Aku ingin bertanya." (Ai)
"Kau ingin bertanya apa?"
"Apa kekuatan membangkitkanku bisa digunakan."
"Tentu saja bisa."
"Kalau begitu, apa aku bisa menghidupkan kedua orang tuaku, dewa."
"Kalau untuk itu, sayang sekali kau tak bisa melakukannya."
"K-kenapa?"
"Jika kau ingin menggunakan sihir pembangkitan itu, orang yang ingin kau bangkitkan harus atau paling tidak baru mati selama beberapa jam. Dan dalam waktu itu, kau pun bisa menghidupkan kembali orang yang itu."
"Begitu, ya."
"T-tunggu dewa Sha, kau barusan bilang beberapa jam. Bagaimana dengan Rin dan Emilia.." Karena aku sudah pergi cukup lama aku sangat khawatir kalau usahaku ini akan sia-sia.
"Tenang saja, aku menaruh mereka ketempat yang khusus."
"Tapi, meskipun kau menaruh Rin dan Emilia di tempat yang khusus sekalipun.. P-pasti, pasti mereka berdua. Waktu mereka berdua tidak bisa dihentikan."
"Rin? Emilia?" (Ai)
"Bukannya kau sudah melihat mereka berdua di dalam penglihatan masa depanmu."
"Jadi mereka.."
"Iya.."
------------- Beberapa saat kemudian ------------
"Nah, kita sudah sampai."
Di bagian ujung gua ini terdapat sebuah pintu. "Ayo kita masuk sekarang." Dewa Sha membuka pintu itu.
Di bagian dalam pintu itu aku melihat seluruh tempat yang ada di dalam sana berwarna putih dan aku juga melihat Rin dan Emlia sedang ditidurkan di sebuah kasur yang berbeda. "Rin!! Emilia!!" Aku bergegas menghampiri mereka berdua.
"Rin!! Emilia!!"
"Tempat ini adalah tempat khususnya."
"Disini.." Aku tak melihat apapun yang khusus selain semua dinding di ruangan ini berwarna putih. "Apa yang membuat tempat ini khusus?"
"Disini, hukum tentang waktu tidak bekerja, karena di tempat ini waktu berhenti dan tidak terikat dengan hukum waktu apapun. Oleh karena itu, aku menaruh mereka berdua di tempat ini. Karena tempat ini adalah tempat yang terbaik untuk mereka berdua."
"Jadi begitu.." Aku jadi mengerti kenapa dewa Sha mengatakan kalau tempat ini adalah tempat terbaik untuk Rin dah juga Emilia.
"Kalau begitu. Ai, kau bisa mulai."
"T-tapi, dewa. Aku tak tau caranya." Karena ini adalah pertama kalinya Ai melakuknnya, wajar kalau ia merasa kebingungan.
"Hmm.. Begini saja." Dewa Sha membisikkan sesuatu pada Ai.
"Begitu, ya."
"Iya. Kalau begitu, aku dan bocah ini akan keluar dulu." Dewa Sha menarikku, dan membawaku keluar dari ruangan ini.
"D-dewa Sha, apa yang kau lakukan?"
"Aku hanya ingin memberinya privasi saja. Dia'kan wanita, jadi dia juga membutuhkan privasi. Lagipula sebentar lagi dia pasti akan selesai."
"Begitu, ya. Ya sudah.." Aku menuruti apa yang dikatakan oleh dewa Sha.
---------- Setelah beberapa menit menunggu -------------
Perlahan-lahan pintu ruangan itu terbukan dari dalam. Dan aku melihat Rin dan Emilia yang sudah kembali sadar. "R-Rin, Emilia..." Tanpa sadar aku meneteskan air mataku.
"Sepertinya dia sudah berhasil."
"Hi-chan!!"
"Hiroaki!!"
Mereka berdua langsung berlari dan memelukku. "Syukurlah kalian berdua..."
"Hi-chan.. Terima kasih, aku sudah mendengar semuanya dari Ai, dan aku tak tau kalau kau akan rela melakukan semua itu untuk kami. Terima kasih, Hi-chan."
Aku tak tau sejak kapan Ai menceritakan hal itu pada mereka berdua. Tapi, aku heran dalam waktu beberapa menit saja Ai sudah menceritakan semuanya pada mereka berdua. Aku tak tau bagaimana caranya, tapi yang pasti aku sangat berterima kasih padanya. "Dimana Ai?"
"Dia tadi dia terlihat kelelahan, dan setelah menceritakan hal itu ia tertidur."
"Begitu, ya." Sepertinya sihir pembangkitan membutuhkan energi yang sangat besar, dan itu membuat Ai langsung kelelahan setelah menggunakan sihir itu.
"Kalau begitu, kita tunggu saja. Sebentar lagi dia pasti akan kaluar." (dewa Sha)
Aku dan yang lainnya pun menunggu.
--------- Beberapa saat kemudian --------
Ai keluar dari ruangan itu. "Ai, apa kau baik-baik saja?"
"Iya, aku baik-baik saja. Di dalam sana aku berasa sudah tidur cukup lama."
"Huh?"
"Begitukah. Hahaha... Kalau begitu, karena kalian semua sudah selesai. 'Clik'" Sebuah pintu yang tak asing bagiku muncul di depan dewa Sha.
"Pintu dimensi? Untuk apa?"
"Nah.. Ini." Dewa Sha secara bersamaan mendorongku dan yang lainnya untuk menyentuh pintu dimensi itu, dan aku pun langsung berpindah tempat ke kerajaanku.
Dukk. Kepalaku terbentur karena aku tak memiliki ancang-ancang untuk mendarat. Dan yang lainnya menimpa diriku.
"Hi-chan, kau tidak apa-apa." Mereka semua langsung bangun.
"Ahh.. Aku baik-baik saja."
"Papa!! Mama!!" Inori melihat aku sedang bersama Rin dan Emilia, dan Inori langsung menghapiri dan memeluk Rin dan Emilia.
"Papa, terima kasih. Karena papa sudah menyelamatkan mama."
Dan setelah itu, hari-hariku berjalan seperti biasanya.
Bersambung
__ADS_1