Watashi No Hanayome

Watashi No Hanayome
47


__ADS_3

Berada disini, seakan semua yang aku alami itu hanyalah mimpi belaka. “Hoy, bangun.” Terdengar suara yang begitu kecil, tapi aku tak tau darimana asal suara itu.


“Mungkin hanya perasaanku.”


“Hoy, bangun.” Suara itu terdengar lagi.


“Siapa?”


“Buka matamu.”


“Buka mataku? Aku sudah membuka mataku.”


“Buka matamu.”


“Huh? Apa yang kau katakan?”


“Cepat buka matamu.”


“Aku sudah membuka mataku.” Ini membuatku semakin kesal.


Ia terus mengulagi kata-kata itu.


“Sudahlah.” Aku berniat untuk mengabaikannya, tapi...


“Ini hanyalah mimpi, kau harus segera bangun. Waktu yang kau buang sudah terlalu banyak.”


“Mimpi? Jika memang benar...” Aku mencoba sesuatu, aku memukul wajahku sendiri. “Adawww.” Rasa sakit terasa. “M-Mimpi, jika ini mimpi mana mungkin aku bisa merasakan rasa sakit.”


“Kalau begitu, panggil kedua pedangmu. Jika kau tidak bisa, segeralah bangun.”


“Kedua pedangku? Bagaimana kau bisa...” Seketika, hanya 1 orang yang bisa aku bayangkan. Akupun melakukan apa yang dikatakan olehnya. “Ryuga, Shirame.” Tak ada yang muncul, kedua pedangku tidak muncul.


“Kalau begitu, segeralah bangun. Buka matamu.”


“Bagaimana caranya?” Karena aku tak bisa memanggil Shirame dan Ryuga, meskipun aku bisa merasakan rasa sakit, tapi jika aku tak bisa memanggil kedua pedangku itu adalah hal yang sangat aneh.


“Kalau begitu, aku akan membantumu.”


Malam hari, jam 19.45


“Huh? Tempat apa ini?” Mataku terbuka, dan bukan tempat sunyi seperti sebelumnya yang aku lihat, tapi sebuah kurungan. Dan aku melihat seseorang yang terlihat sedang menjagaku, tangan dan kakiku terikat oleh tali.


“Boss, dia bangun.”


“Ha? Dia sudah bangun?”


“Iya.”


“Hahaha, akhirnya penantian kita terbayar.”


Jika dilihat, mereka terlihat seperti seorang penjahat. “Penantian, apa yang kau katakan?”


“Kau akan kami korbankan menjadi makanan monster.”

__ADS_1


“Makanan monster?”


“Kau sudah bangun dari ambang kematian, dengan begitu kau akan jadi santapan lezat untuk para monster itu.” Entah apa yang mereka katakan, aku sama sekali tidak paham. “Setelah 2 bulan, akhirnya kau sadar dari koma mu.”


“A-Apa. 2 bulan?!” Aku cukup terkejut mendengar hal itu.


“Boss, mereka sudah siap.”


“Kalau begitu, segera bawa dia.”


“Baik.”


Entah apa yang mereka lakukan, mereka menggotongku dan membawaku ke tempat yang berbeda.


------------


Sebuah lapangan.


Tempat ini, sebuah tempat yang tidak asing bagiku. “Hey, dimana ini?”


“Kau tidak lihat, ini adalah lapangan.”


“Bukan itu, apa ini jepang?”


“Haa?! Apa yang kau bicarakan, sudah itu sudah jelas.”


Mendengar hal itu, membuatku cukup senang. “Akhirnya aku bisa kembali datang kesini.”


Kringgggggg kringgggggg.


“Kalau begitu, biarkan dia disini. Ayo kita pergi.”


“Baik” Mereka pergi meninggalkanku sendirian disini.


Beberapa menit kemudian.


Sesuatu datang mendekatiku. “Itu... Bukankah itu...” Seekor monster, monster itu sangat mirip dengan yang aku temui di kerajaan Anvil dan monster itu seperti yang ada di dunia dewa Ari. “Monster buatan dewa Sha.”


Mereka semakin mendekat ke arahku. Aku yang terkurung didalam sini, hanya bisa diam dan melihat apa yang akan dilakukan para monster itu. “Bos, lihat dia. Tatapannya terlihat sangat putus asa.” Dari kejauhan, mereka masih mengawasiku.


“Haa, sudahlah.” Aku masih belum lupa tugasku datang kedunia ini, untuk melindungi seseorang. Tapi, aku tak tau siapa yang harus aku lindungi. “Sebaiknya aku minta informasi lebih lengkap lagi dari dewa Sha.”


Monster itu sudah sampai didepanku.


Grrrrrr. Sfx : geraman.


Jika dilihat dari dekat, monster ini cukup menyeramkan. Tapi, aku sudah pernah melihat hal yang lebih menyeramkan dari ini ‘pertempuran antar dewa’. “Haa, akhirnya terlepas juga.” Meskipun sedikit sulit, akhirnya aku bisa melepaskan ikatan ditanganku ini. “Baiklah, Shirame.” Shirame muncul di tangan kananku. “Nah, begini lebih baik.” Aku memotong tali yang menjerat kakiku. “Haa, baiklah. Sekarang, giliran kalian.”


Beberapa menit kemudian.


“Hmm, ternyata cuma seperti ini.” Mereka kalah dengan mudah, mungkin karena kekuatan yang aku miliki sudah jauh lebih besar dari sebelumnya. Dan saat aku melihat ke arah penjahat yang mencoba untuk menjadikanku tumbal, ternyata mereka sudah kabur. “Baiklah, sebaiknya aku minta rincian tentang tugas kali ini pada dewa Sha.”


Menara Tokyo.

__ADS_1


“Hmm, disini, ya.” Dari informasi yang aku dapatkan dari dewa Sha, akan ada sesuatu yang terjadi di dekat menara Tokyo ini. “Dunia ini memang mirip, tapi ini berbeda dengan dunia tempat tinggalku dulu.” Dunia ini terdapat monster, dan didunia tempatku lahir, tidak ada.


Setelah sekian lama.


Grrrr.


“Haa, muncul lagi, ya.” Entah berapa monster yang sudah aku bunuh aku tak tau, tapi yang pasti aku sudah dari tadi menunggu disini dan tidak ada sesuatu yang terjadi disini. “Tunggu sebentar lagi deh.”


Setelah beberapa lama menunggu


Aku mendengar suara terdengar didekat sini, tapi aku tak begitu yakin suara apa itu. “Periksa saja, mungkin saja aku mendapatkan sesuatu yang menarik.”


------------


“Hmm, disana, ya.” Suaranya berada diujung gang ini. “Hmm, sudahlah.” Aku memutuskan untuk melihatnya.


Setelah beberapa saat.


Aku melihat gerombolan monster yang tengah mengepung seorang gadis, dan gadis itu memengang senjata. “Pedang?” Karena aku tak ingin menganggu, jadi aku putuskan untuk melihatnya dari sini. Dan jika ada sesuatu yang buruk, baru aku akan bertindak. Setidaknya itulah yang aku ingin lakukan.


Beberapa menit kemudian


“Hee, dia lumayan juga.” Dia sudah menghabisi beberapa monster yang mendekat kearahnya, tapi monster-monster itu tetap berdatangan.


'Woy, apa yang kau lakukan?'


Suara ini. “Dewa Sha.”


'Apa yang kau lakukan, lindungi gadis itu.'


'Huh? Gadis itu, kenapa? Dia terlihat cukup tangguh.'


'Lihat lebih jeli.' Karena dewa Sha menyuruhku, akupun melakukannya.


'Dia, kehabisan tenaga.' Melawan cukup banyak monster sepertinya sedikit membuatnya kelelahan, dan jika seperti itu kemungkinan besar dia akan mati jika dibiarkan.


'Kalau begitu, cepat bantu dia. Dia adalah orang yang harus kau lindungi.'


'Ahh. Naiklah, aku akan meminta penjelasan lebih detailnya nanti.' Aku perlahan mendekati gadis yang tengah dikerumuni oleh monster itu.


"Ha ha ha. T-tenagaku sudah habis.”


“Hoy, apa kau baik-baik saja?”


“Apa yang kau lakukan disini, cepat pergi tempat ini sangat berbahaya.”


“Ehh? Bukannya itu juga berlaku untukmu, apa yang kau lakukan disini?” Ditengah pembicaraan, salah satu monster berlari dengan cepat menuju ke arahku.


“Awas!!”


Gubrakkk.


Monster itu menabrak sang gadis dan gadis itu terpental dan menabrak gedung. “Dia pingsan, ya.” Setidaknya itu labih baik, lagipula dia sudah kehabisan tenaga, jika dilanjutkan lagi mungkin akan cukup berbahaya bagi keadaan tubuhnya.

__ADS_1


“Haa. Baiklah, saatnya bersenang-senang. Aku harap kalian bisa menjadi bahan untuk merenggangkan otot-ototku yang sudah lama tidak bergerak ini.”


“Shirame.”


__ADS_2