Watashi No Hanayome

Watashi No Hanayome
6


__ADS_3

Siang hari, jam - -.- -


Aku dan Garden sedang dalam perjalanan menuju ke tokoh perlengkapan untuk membelikanku sebuah senjata.


Beberapa menit berjalan akhirnya kami sampai di tempat yang menjual perlengkapan untuk seorang petualang. Dan Garden mulai membuka pintu toko itu.


Ting. Suara bel dibalik pintu berbunyi karena Garden membuka pintu toko itu.


"Selamat datang di tokoku. Ada yang bisa saya bantu?" seorang pria berumur sekitar 30 tahunan menyambut kami.


Di dalam toko itu tampak seperti halnya toko pada umumnya tak ada yang istimewa.


"Yo Felix." (Garden)


Aku melihat Garden menyapa orang itu dan sepertinya dia kenal dengan orang itu.


"Oh, ternyata kau Garden. Bagaimana dengan misimu kali ini?" (Felix)


"Cukup baik, aku sudah selesaikan semua misinya." (Garden)


"Seperti yang aku duga dari seorang petualang tingkat tinggi." (Felix)


Aku tak mengerti apa yang sedang mereka bicarakan jadi aku diam saja.


"Hahaha ... Seperti biasa, pujianmu terlalu berlebihan." (Garden)


"Hahaha. Jadi ada perlu apa kau datang ke sini? Dan siapa bocah yang bersamamu itu?" (Felix)


Dan lagi-lagi aku di panggil bocah, aku sudah lelah untuk memikirkan hal itu, lagi.


"Dia Hiroaki, bocah yang aku temui kemarin di area padang rumput. Aku membawanya kesini, dan katanya dia ingin jadi seorang petualang jadi aku bawa saja dia kemari." (Garden)


"Oh, begitu. Hey namamu Hiroaki, kan." (Felix)


"Iya." Aku cukup senang karena dia memanggil namaku dan mungkin orang pertama yang memanggil namaku saat aku berada di dunia ini.


(Rin tak termasuk.)


"Apa kau butuh senjata?" (Felix)


"Iya." (Hikari)


"Kalau begitu, mari ikut aku." Felix masuk ke dalam sebuah ruangan yang ada di dalam tokonya.


"Baik." Akupun ikut masuk. Dan saat sampai di dalam, aku begitu kagum karena di dalam ruangan itu ada tempat cukup luas dan ada banyak jenis senjata seperti pedang, tombak, perisai dan lain-lain.


"Silahkan pilih saja mana yang kau inginkan." (Felix)


"Baik." Aku sedikit tersenyum karena ini pertama kalinya aku akan memiliki sebuah senjata asli.


Aku mencari cukup lama dan aku menemukan sesuatu yang sangat menarik perhatianku.


"Om." Aku memanggilnya dengan sebutan om karena dia terlihat lebih tua dariku.


"Panggil Felix saja. Apa kau sudah menemukannya?" (Felix)


"Iya. Bisa kau ambilkan itu." Aku menunjuk sebuah pedang tipis dengan satu bilah yang begitu tajam dan panjangnya hampir satu meter (katana) yang terdapat di bagian pojok ruangan itu.


"Baiklah, kau tunggu saja di luar, aku akan segera kesana sambil membawa pedang ini." (Felix)


"Baik." Entah kenapa Felix menyuruhku untuk keluar, tapi tak apalah karena aku akan mendapatkan sebuah pedang yang asli. Dan hal itu tak menggangguku sama sekali. Akupun menuruti kata-katanya dan keluar dari ruangan itu.


Saat aku keluar dari ruangan itu aku melihat Garden tengah duduk santai di sebuah kursi yang ada di dalam toko.


"Yo bocah, apa kau suda selesai memilih senjatamu?" (Garden)


"Iya, sudah."


"Baiklah kalau bagitu. Sekarang kita tinggal menunggu saja." (Garden)


"Menunggu? Apa maksudmu?" (Hikari)


Kreeekk. Suara pintu terbuka.


Tiba-tiba aku melihat Felix telah keluar dari ruangan itu sambil membawa pedang yang aku tunjukan tadi.


"Hey Felix, kenapa begitu cepat? Biasanya kau kan butuh waktu yang cukup lama untuk membuat pedang itu memiliki kemampuan." (Garden)


"Aku juga tak tau. Tapi sepertinya, pedang ini adalah salah satu pedang buatan kakekku dulu, dan aku sendiri tak tau kenapa bisa secepat ini." (Felix)


Seperti biasa, aku tak paham pembicaraan mereka berdua dan aku diam saja.


"Baiklah kalau begitu, berapa biayanya?" Garden bertanya tentang biaya pedang itu, dan berniat membayarkanku.


"Sepertinya cukup murah. 15 koin tembaga saja." (Felix)


"Hey Felix, 15 koin tembaga itu lumayan, ayolah di kurangi, koinku tidak cukup untuk mendaftarkan bocah ini dan pasangannya nanti untuk jadi seorang petualang." (Garden)


"Hah?! Dia sudah memiliki pasangan?!" aku melihat Felix terkejut dan juga kebingungan setelah mendengar ucapan Garden.


"Iya, pasangannya sudah menunggunya di Guild bersama dengan Leona." (Garden)


"Aku tak percaya, kalau anak semuda dia sudah memiliki pasangan." (Felix)


"Ayolah Felix, apa kau tak melihat tanda yang ada di pipi kanannya itu." (Garden)


"Hah?" (Felix)


Tiba-tiba Felix mendekat ke arahku, aku sedikit ketakutan, karena bukanya seorang gadis malah seorang om yang mendekatkan wajahnya padaku.


"Bagaimana? Apa kau sudah liat?" (Garden) Berbicara pada Felix.


"Hmmmm... Tunggu sebentar, tunggu, tunggu, tannda bintang, ya. Hmmmmm baiklah, kalau begitu kau bisa ambil senjata ini secara percuma." (Felix)

__ADS_1


"Ehhhh?! Serius kau Felix? Bukannya penghasilanmu dari ini, jika ini gratis bagaima dengan usahamu?" (Garden) Terkejut.


"Tenanglah Garden, karena ini gratis bukan berarti usahaku akan bangkrut, justru aku ingin membantunya." (Felix)


"Membantu? Memangnya kenapa?" (Garden)


"Sudahlah lupakan, itu rahasia perusahaan." (Felix)


"Baiklah kalau begitu." (Garden)


"Hey Hiroaki, ini pedangmu." Felix memberikan pedang yang aku pilih tadi padaku.


"Terima kasih." Saat aku berniat mengambilnya, Felix menahannya.


"Tunggu dulu, kau harus menamai senjatamu ini dulu, baru kau boleh memengangnya." (Felix)


"Ehh? Memangnya harus?"


"Iya." (Felix)


"Tentu saja bocah, apa kau kira senjata yang aku punya ini tak memiliki nama. Nama pedangku ini adalah Saki." Ucap Garden padaku.


"Konon bila pedang memiliki sebuah nama, maka jiwa ksatria akan lahir pada pedang itu. Oleh karena itu kau harus menamainya" (Felix)


"Jadi, memang harus, ya. Hmmmmm, nama apa ya yang bagus?"


"Pikirkan baik-baik bocah, buat nama yang bagus." (Garden)


"Shirame, bagaimana kalau Shirame saja?" Ucapku pada mereka berdua


"Hmmmm. Sepertinya boleh juga. Baiklah, sekarang nama pedangmu ini adalah Shirame." (Felix)


Kemudian Felix menaruh pedangku di atas mejanya. "Silahkan ambil ini, aku ada urusan yang harus di selesaikan." kemudian Felix pergi memasuki ruangan itu, lagi.


Aku pun mengambilnya. Tapi, diluar dugaan, ternyata berat senjataku tak seperti tampilannya. "Kenapa ini berat sekali?" aku kebingungan dengan berat yang pedangku yang kira-kira hampir mencapai 10kg padahal ukuran dan bentuk pedangku sangat ramping.


Garden mendekat ke arahku dan mengambil pedangku. Dengan mudahnya ia mengangkat pedangku dengan satu tangannya.


"Ini? Ini kau bilang berat? Justru menurutku ini pedang yang paling ringan yang pernah aku pegang, lo." (Garden)


Aku kaget, pedang seberat itu dia bilang yang paling ringan. "Memangnya? Pedang apa saja yang pernah kau pegang?"


"Tidak ada sih, cuma Saki yang sering aku gunakan." (Garden)


Aku mulai heran, jika pedang setipis dan seramping ini sudah berat, bagaimana dengan pedang besar yang selalu di bawa Garden di punggungnya? Mungkin lebih berat dari pedangku, atau sangat berat.


"Hey ini ambil bocah." Garden memberikan pedangku langsung ke tanganku.


"Ehhhhh. Tu-tunggu dul-"


Gubbrakk. Aku jatuh.


Karena aku tak biasa mengangkat beban yang begitu berat, jadi aku tak kuat menahannya dan langsung terjatuh di timpa oleh pedangku sendiri.


Garden tertawa.


"Woy a-apa yang lucu, ce-cepat bantu aku."


"Sudah, aku tak akan membantumu. Mengangkat pedang sendiri saja tidak bisa. Bagaimana kalau kau mau bertarung nanti." (Garden)


"Baiklah kalau begitu, aku tak akan minta bantuanmu untuk saat ini, biarkan aku berusaha sendiri." Aku menjawabnya dengan penuh percaya diri.


Pedang ini lumayan berat, jadi aku harus menggunakan kedua tangan ku untuk mengangkatnya. Dan tak lama setelah itu, aku berhasil mengangkatnya meskipun dengan usaha yang lumayan keras.


Akupun berdiri sambil memengang pedangku menggunakan kedua tanganku.


"Usaha yang cukup bagus bocah. Sekarang ayo kita ke Guild, mereka pasti sudah mengunggu kita." (Garden)


"B-baik." Aku dan Garden keluar dari toko Felix menuju ke Guild yang berada agak jauh di dalam kota.


Di tengah perjalanan ke Guild.


Aku melihat orang-orang yang sedang memandangku, dan aku merasa tak nyaman dengan hal itu.


"Hey Garden, kenapa mereka melihatiku? Apa ada yang aneh denganku?" Tanyaku pada Garden.


"Kau masih belum sadar bocah?" (Garden)


"Apa maksudmu?"


"Mereka melihatmu karena kau itu membawa pedangmu seperti itu. Jelas menarik perhatian." (Garden)


Aku membawa 'Shirame' menggunakan kedua tanganku karena ini terlalu berat untuk aku bawa dengan satu tangan. "Memangnya kenapa dengan caraku membawanya? Apa ada yang salah?"


"Biasanya, seorang petualang itu membawa pedang mereka dengan dua cara, manaruh di punggung sepertiku atau memengangnya dengan satu tangan saja. Dan mereka melihatmu karena kau membawa pedangmu seperti itu." (Garden)


Aku membela diri. "Mau bagaimana lagi, ini kan berat. Lagipula aku tak sanggup untuk membawanya di punggung apalagi membawanya sengan satu tangan dan lagi pula, aku belum menjadi seorang pertualang."


Garden menghela nafas. "Ha~ terserah kau saja."


Setelah beberapa menit berjalan, akhirnya kami sampai di Guild, dan aku melihat Rin dan Leona sedang duduk di salah satu kursi yang berada di luar Guild.


"Leona, apa kau sudah mendapatkan bayaran dari misi kita kali ini?" (Garden)


"Sudah." (Leona)


"Baiklah bocah, sekarang saatnya mendaftarkanmu menjadi seorang petualang. Sebaiknya kita masuk. Ayo, kalian juga ikut." (Garden)


Garden masuk ke dalam Guild, aku Rin dan Leona mengikuti di belakang Garden.


Di dalam Guild, aku melihat beberapa ras yang berbeda seperti elf, demihuman, dan ras lainnya sedang berkumpul di dalam Guild ini, tapi aku tak melihat ras iblis.


Kami sampai di salah satu meja seperti meja resepsionis, dan ada seorang wanita yang cukup cantik dengan rambut biru pendek sedang berada di meja itu.

__ADS_1


"Halo selamat datang, ada yang bisa saya bantu?" (sang resepsionis)


"Alice, aku ingin mendaftarkan mereka berdua menjadi seorang petualang, apa kau bisa mengurusnya?" ucap Garden pada sang resepsionis yang ia panggil Alice.


"Baiklah kalau begitu. Ada beberapa hal yang ingin aku tanyakan pada kalian berdua." Alice melihat aku dan Rin.


"Baiklah."


"Kalau begitu, bisa kalian ikut aku?" (Alice)


"Baik." (Hikari)


Aku dan Rin mengikuti Alice ke dalam sebuah ruangan yang ada di dalam Guild itu dan tak lupa aku menitipkan pedangku pada Garden. Saat sampai di dalam aku melihat beberapa kursi dan juga satu meja yang cukup besar ada di dalam ruangan itu dan juga aku melihat beberapa buku ada di atas meja.


"Kalian silahkan duduk dulu." (Alice)


"Baik." aku dan Rin duduk berdampingan.


Aku melihat Alice membuka salah satu buku yang ada di atas meja. Kemudian Alice mulai mengajukan pertanyaan pada kami.


"Baiklah, kalian boleh memperkenalkan diri terlebih dahulu." (Alice)


"Baik, namaku Hiroaki." Ucapku dengan tegas.


"Dan kau?" Alice melihat ke arah Rin.


"N-namaku Rin." (Rin)


Kemudian dia menulis sesuatu di buku itu.


"Hmmm, Hiroaki dan Rin, baiklah sudah. Sekarang pertanyaan selanjutnya, kenapa kalian ingin jadi seorang petualang?" (Alice)


Aku menjawab. "Aku ingin bertambah kuat." aku menjawab secara asal karena aku tak tau apa jawaban yang tepat untuk pertanyaan ini.


"Dan kau Rin?" Alice melihat Rin, lagi.


"A-aku, ingin bisa terus bersama Hikari." (Rin)


"Eh? Ehhhhhhhh?!" aku terkejut mendengar Rin berkata seperti itu.


Wajah Rin memerah dan begitu pula denganku.


(Karena efek pasangan.)


Sedangkan Alice terlihat biasa saja.


"Hmmmm, seperti itu. Baiklah, sekarang pertanyaan terakhir." (Alice)


"Hey Alice, apa alasan seperti itu boleh?!" (Hikari)


"Tentu saja, aku cuma bertanya alasannya, dan selama ia menjawab, aku pasti akan menerima apapun alasan itu." (Alice)


Kemudian ia tersenyum.


"B-baiklah." (Hikari)


Alice memang benar, dia kan hanya meminta alasan, jadi alasan apapun itu dia akan menerimanya. Tapi, aku cukup terkejut dengan apa yang dikatakan Rin barusan.


"Sekarang jawab pertanyaan terakhir. Apa kalian pernah melakukannya?" (Alice)


"Melakukan? Melakukan apa? Apa yang harus dilakukan? Aku tak paham." ucapku yang sedikit kebingungan. Sedangkan Rin hanya diam setelah ia mendengar hal itu.


"Hmmm... Sepertinya belum. Baiklah, sekarang langkah terakhir..." Alice mengambil dua buah kertas dan juga sebuah lilin yang sudah di bakar. "...Boleh aku minta sedikit cap jari kalian untuk di tempel di kertas ini."


"Baiklah."


Sebelum itu, aku melihat sebuah tulisan yang tak aku pahami, dan tanpa mempedulikan hal itu akupun memberikan cap jari di salah satu kertas yang di ambil oleh Alice, begitu pula dengan Rin.


Setelah itu, Alice mengambil dan Membakar kertas itu dengan lilin yang ia ambil bersamaan dengan kertas itu. Aku yang penasaran memutuskan untuk menanyakannya.


"A-anu, Alice? Kenapa kertasnya di bakar?"


"Memang harus begitu, itu adalah sebuah ritual untu menjadikan kalian seorang petualang. Dan mulai sekarang kalian adalah petualang, dan kalian bisa mengambil sebuah quest yang ada di papan, dan juga kalian bisa mengambil quest yang ada di kerajaan yang lain. oh yah, untuk peringkat kalian berdua itu adalah pemula atau peringkat D. Kalian tidak bisa mengambil misi di atas rank kalian begitu pula sebaliknya. Dan kalian boleh pergi karena kalian sudah terdaftar sebagai petualang." (Alice)


"B-baiklah."


Setelah Alice berkata seperti itu, aku dan Rin berbalik meninggalkan ruangan ini.


"Ehhh!! Tunggu dulu, aku lupa sesuatu." (Alice)


Aku mendengar Alice memanggil kami. Dan kami berhenti.


Tiba-tiba aku melihat Alice mendekat ke arahku dan juga Rin sambil membawa dua buah kartu berwarna hitam.


"Ambil ini." (Alice)


Alice memberikan kartu itu kepada kami.


Aku yang penasaran dengan kartu itu langsung melancarkan sebuah pertanyaan pada Alice.


"Kartu apa ini?"


"Kartu ini adalah kartu tanda seorang petualang. Dengan menunjukkan kartu ini pada resepsionis, kau bisa mengambil sebuah quest dan juga dengan menyerahkan bukti berupa potongan atau apapun itu yang menandakan bahwa misimu sudah kau laksanakan, kau bisa mengambil bayaran atas quest yang sudah berhasil kau kerjakan." (Alice)


"Baiklah kalau begitu."


"Oh, satu hal lagi, peringkat kalian bisa naik dengan menyelesaikan beberapa misi tingkat tinggi yang ada di peringkat kalian saat ini, dan itu juga berlaku untuk peringkat yang lain." (Alice)


"Baiklah."


Setelah itu akupun berjalan keluar.


"Semoga 'Sakusha' melindungi kalian." Ucap Alice dengan suara yang pelan.

__ADS_1


Tentu saja aku mendengar apa yang dia katakan. "Sakusha?" Tapi aku tak tau apa yang yang dia maksud, jadi aku putuskan untuk menanyakannya pada Garden. Lagi pula dia bilang akan menjawab semua pertanyaan dariku.


Bersambung.


__ADS_2