
Beberapa lama setelah itu.
“Haa, akhirnya aku bebas.” Aku kira setelah itu aku tidak akan ditanyakan lagi, tapi ternyata tidak. Mereka melontarkan berbagai macam pertanyaan padaku, dan terpaksa aku harus menjawab semua pertanyaan mereka. “Ini melelahkan.”
“Terimakasih atas kerja kerasnya.” Shirayuki menghampiriku sembari membawa segelas jus. “Ini untukmu, kau pasti kesusahan.”
Aku menerima jus itu. “Ya, seperti itulah. Aku tak menyangka mereka akan menanyakan banyak hal seperti itu padaku.”
“Terimakasih, ya. Karena sudah mau membantuku.”
“Tidak masalah. Lagipula kau adalah muridku, wajar saja jika aku membantu seorang murid.”
“M-Murid..”
“Hmm? Ada yang salah?”
“T-tidak. Itu benar juga, aku adalah muridmu.” Karena aku melatihnya, sudah wajar kalau dia adalah muridku.
Beberapa jam berlalu.
Hampir Tengah Malam, 23.43
Seluruh tamu undangan sudah pergi ke kamar yang sudah disediakan. Aku melihat Shirayuki sedang duduk di kursi yang ada disini. “Shirayuki, kau masih belum tidur?”
“Aku belum mengantuk.”
“Begitu.”
“Bagaimana denganmu?”
“Tidak ada, aku hanya... Lupakan saja.” Aku tak mendapatkan alasan yang bagus.
“Kau juga tidak bisa tidur, ya.”
“Aku rasa, begitu.”
Keheningan terasa selama beberapa saat, dan keheningan itu pecah saat aku memulai pembicaraan. “Shirayuki.”
“Y-Ya.”
“Saat melawan monster itu, kenapa kau tidak langsung membunuhnya dan kenapa kau malah memilih untuk menahan untuk tidak menggunakan apa yang sudah aku ajarkan padamu. Padahal, dengan kemampuanmu saat ini, membunuh monster itu adalah hal yang mudah. Bahkan sangat mudah.”
“Tidak, bukan begitu... Hanya saja...”
Dari nada, sikap, dan juga caranya bertindak. Setidaknya aku sudah tau apa yang sebenarnya ingin dia katakan. “Begitu, ya.”
__ADS_1
“Ehh, ada apa?”
“Semua temanmu dikalahkan dengan mudah oleh monster itu, dan jika kau bisa mengalahkannya sendirian mereka juga pasti menginginkan agar mereka kuat sepertimu. Dan jika sampai itu terjadi, mereka akan tau kalau aku yang sudah melatihmu. Bagian terburuknya, mereka akan membencimu karena kau akan dianggap sebagai penghianat karena bekerja sama denganku. Begitukan.”
“Ya, seperti itulah.”
“Begitu, ya.” Jika seperti itu alasannya, wajar dia mengalah dan menyerahkan monster itu pada si Shinigami. “Iri, ya.” Tidak disangka para guardian juga memiliki sifat itu, padahal masing-masing dari mereka memiliki kemampuan yang unik. Jika saja mereka menyadarinya, 1 serangan saja mungkin bisa dengan mudah mengalahkan monster itu. Aku sangat yakin dengan hal itu, sangat-sangat yakin.
“Akarui-san, apa yang akan kau lakukan setelah ini?”
“Yang aku lakukan, sepertinya tidak ada. Aku akan melakukan hal seperti biasa, bersekolah dan juga berjalan-jalan saat sekolah sudah selesai.”
“Setelah itu? Apa kau punya tempat tinggal lain?”
“Tempat tinggal lain.”
“Apartemen tempat tinggalmu’kan sudah hancur, barang-barang yang kau miliki juga pasti masih berada direruntuhan bangunan itu. Jadi, apa saat ini kau memiliki tempat tinggal lain?”
“Tidak ada, lagipula aku bisa tidur dimanapun.” Kartu yang diberikan oleh dewa Sha masih aman, dan itu cukup menguntungkan untukku karena jika aku sampai kehilangan kartu ini aku tak tau harus bagaimana lagi.
“Kalau begitu, bagaimana kalau kau tinggal dirumahku untuk sementara waktu sampai kau menemukan tempat tinggal baru.”
“Shirayuki, apa yang sebenarnya terjadi?” Ini sangat aneh, tidak biasanya dia bersikap seperti ini. Pasti ada sesuatu yang sudah disembunyikan olehnya.
“T-Tidak ada apa-apa. Hanya saja aku ingin membantumu, ya hanya itu. Lagipula jika seperti itu, latihan bisa dilakukan dirumahku. Benarkan.”
“Eh? Kenapa?”
“Latihan yang akan aku berikan, akan berbeda dengan sebelumnya.” Ini sudah kurang dari 2 bulan, dan bisa jadi bencana yang disebutkan oleh dewa Sha bisa muncul kapan saja, dan untuk itu aku ingin secepatnya melatihnya dengan sungguh-sungguh. “Kau harus menyiapkan dirimu untuk latihan besok, dan juga seterusnya.”
“Akarui-san, kau mau kemana?”
“Permintaanmu sudah aku penuhi, jadi aku sudah tidak ada urusan lagi disini.”
“Tunggu sebentar.”
“Ada apa?”
“Mengenai tawaranku tadi, apa kau mau?”
“Akan aku pikirkan.” Aku perlahan pergi dari tempat ini.
Beberapa lama kemudian.
Tengah malam, 01,12
__ADS_1
Aku duduk di bangku stasiun. “Malam ini cukup dingin.” Suasana dimalam hari ini cukup berbeda dengan malam-malam sebelumnya. Begitu dingin. “Peralatan sekolah milikku sudah habis, sebaiknya aku beli yang baru.” Aku masih memiliki waktu kurang dari 2 bulan berada disini, dan meskipun begitu aku harus menyiapkan keperluanku. “Apa aku harus menyewa apartemen baru lagi, ya.” Setidaknya, aku tak tau dimana ada apartemen yang bagus seperti milikku sebelumnya. “Sudahlah, pikirkan hal itu nanti.”
Beberapa hari setelah itu.
Sore hari yang sangat tenang.
“Akarui-san, ini tehnya.” (Shirayuki)
“Ahh, terima kasih. Maaf sudah merepotkanmu.”
“Tidak masalah, lagipula aku yang menawarkan untuk tinggal dirumahku selama kau belum menemukan tempat tinggal baru.” Ya, dengan terpaksa aku menerima tawaran dari Shirayuki.
“Haa, hari ini sangat tenang.” Saat aku mencoba untuk mencari apartemen, entah kenapa seluruh apartemen yang ada dikota ini tiba-tiba saja penuh. Aku tak tau kalau apartemen tempat tinggalku sebelumnya memiliki banyak penghuni.
Beberapa menit kemudian.
Tempat ini begitu nyaman, rumah dengan arsitektur jepang yang khas. Suara air mancur yang aku dengar, membuat suasana cukup tenang dan tanpa serangan monster tentunya.
Aku perlahan mulai berdiri. “Akarui, kau mau kemana?”
“Saatnya pergi.”
“Ahh, benar juga. Tunggu sebentar.”
“Aku duluan, ingat jangan telambat sedetikpun.” Aku pergi meninggalkan Shirayuki yang tengah bersiap-siap.
Sore hari, 15.59
“Maaf lama.” Shirayuki datang ketempat latihan.
“Tentang latihan hari ini.”
“Ya.”
“Seperti yang aku katakan dilatihan sebelumnya. Hari ini, latihanmu akan sedikit berbeda. Apa kau sudah siap?”
“Ya, aku siap.”
“Bagus.”
“Lalu, apa latihan itu?”
“Shirame.” Pedang Shirame muncul di tangan kananku.
“Eh? Kenapa tiba-tiba.”
__ADS_1
“Shirayuki, mulai hari ini aku sendiri yang akan melatihmu.”
“Eh, Ehh!!” (52 hari lagi sebelum kembali)