
Beberapa minggu setelah kejadian itu.
Pagi hari yang cukup cerah.
"Sha, lihat aku bisa mengalahkannya."
"Wah, kau hebat." Menggunakan pedang yang aku buat dari logam yang sangat ringan tapi tajam, untuk pertama kalinya Ai berhasil membunuh seekor monster. Meskipun monster itu tergolong monster yang sangat lemah, tapi entah kenapa aku merasa sangat senang melihat hal itu.
"Sha, terima kasih sudah mengajariku banyak hal, seperti mengajarkanku bahasa didunia ini dan termasuk menggunkan pedang."
"Tidak masalah." Aku merasa senang kalau Ai sudah mulai terbiasa hidup disini.
"Sha, ayo kembali. Aku sudah lapar."
"Baiklah."
Kami kembali ke rumah gua.
----------
"Seperti biasa, masakanmu ini sangat lezat."
"Terima kasih. Oh ya, Sha. Ada sesuatu yang ingin aku tanyakan padamu?"
"Hm. Apa, tanyakan saja?"
"Sebenarnya aku sudah penasaran mulai dulu."
"Tentang apa?"
"Dimana kau mendapatkan bahan masakan ini? Mulai dari daging, sayuran, bahkan buah-buahan. Bukannya disini jauh dari tempat pemukiman yang lain."
Yang dikatakan olehnya memang benar, lagipula aku selalu menggunakan hakku sebagai seorang dewa untuk memenuhi kehidupan disini. Jadi, alasanku. "Aku pergi setiap malam, tepat saat kau tertidur."
"Pergi setiap malam. Bukannya itu sangat berbahaya."
"Mungkin ada benarnya, tapi jika aku tidak melakukan hal itu kau pasti akan pasti saat tau aku menghilang."
"I-Itu dulu..." Wajahnya memerah.
"Hahaha. Aku hanya bercanda."
"Mooo..." Ai menggembungkan pipimya, dan entah kenapa dia terlihat sangat manis saat berdikap seperti itu. "Sudah, jangan bahas hal itu lagi."
"Baik-baik."
"Sha, kapan kau akan pergi mencari bahan makanan lagi?"
"Hmm? Apa bahan masakan yang kita miliki sudah hampir habis?"
"Iya, tinggal sedikit lagi."
"Mungkin nanti aku akan pergi."
"Kalau begitu, aku boleh ikut."
"Kau ingin ikut?" Ini adalah masalah, aku bahkan tidak pernah pergi dari tempat selain dari area ini. "Apa ada barang yang kau inginkan, aku bisa mencarikannya untukmu."
"Tidak, hanya saja aku hanya ingin melihat hal lain selain hutan ini."
"Hm. Begitu, ya." Memang benar, selama beberapa bulan terakhir ini, Ai memang selalu berada disini dan hampir tidak pergi dari tempat ini sama sekali. "Baiklah. Setelah ini kita akan pergi. Kau harus bersiap-siap."
"Huh? Sekarang?"
"Iya, jika pergi dimalam hari akan berbahaya. Apa kau ingin pergi dimalam hari?"
"Tidak. Baiklah, setelah ini aku akan bersiap."
"Ya."
--- Setelah itu ---
Kerajaan Rhoem.
__ADS_1
"Wah. Jadi disini kau membeli semua bahan masakan itu."
"Iya." Saat ini aku sedang berada di kerjaan terdekat dengan tempat tinggalku dan Ai, yaitu kerajaan Rhoem. Dan ini adalah pertama kalinya aku mengunjungi kerajaan di duniaku.
"Sha, lihat itu. Wah, ini sangat indah." Sebuah bunga yang berwarna ungu.
"Nona, apa kau ingin membeli ini?" (penjual)
Saat penjual itu bertanya pada Ai, Ai melihat ke arahku. "Belilah apa yang kau mau."
"Tapi, apa kau punya..."
"Tenang saja, kau tak perlu memikirkan hal itu. Serahkan saja padaku, kau cukup beli saja apa yang kau inginkan."
"Terima kasih. Aku ingin ini."
"Ini. Semuanya 20 koin perak."
Ai melihat ke arahku setelah mengetahui harga barang yang ia inginkan. "Sha, harganya sangat mahal."
"20 koin perak, ya." Jika dilihat, bunga itu sepertinya bunga yang berasal dari sarang naga, tapi... "Baiklah, ambil saja jika kau mau."
"Tapi..."
"Sudah aku katakan, jika kau menginginkan sesuatu ambil saja aku yang akan mengurusnya."
"Kalau begitu, aku ambil ini."
Aku langsung menyerahkan koin perak yang baru saja aku buat dengan kekuatan dewaku. "Ini."
"Terima kasih tuan. Oh ya, saya baru pertama kali melihat kalian berdua. Apa kalian pendatang baru?"
"Huh?"
"Ah, iya seperti itulah. Ai ayo." Ini akan berbahaya jika orang tua itu terus bertanya pada kami. Oleh karena itu aku putuskan untuk pergi dari tempat itu.
"Sha, terima kasih sudah membelikanku ini."
"Tidak masalah, tapi... Apa kau yakin membeli bunga itu?"
"Begitu, ya. Apa ada sesuatu yang kau inginkan lagi?"
"Tidak, ini saja sudah cukup. Aku tidak ingin membuang-buang uang yang susah payah kau dapatkan. Sebaiknya uang itu untuk membeli keperluan sehari-hari kita saja."
"Benar juga." Meskipun aku bisa saja menciptakan banyak sekali koin untuk membeli apa yang diinginkan oleh Ai, tapi sepertinya Ai tidak menginginkan hal lain selain bunga yang di milikinya saat ini. "Oh ya Ai, apa kau tau sesuatu yang menarik tentang bunga itu."
"Apa itu?"
"Bunga itu tidak akan pernah layu, meskipun kau tidak pernah menyiramnya selama apapun bunga itu akan terus hidup."
"Wah, itu sangat luar biasa. Lalu, apa nama bunga ini?"
"Eh? Namanya? Namanya... Hm... Kalau tidak salah." Setelah aku ingat kembali, ternyata bunga ini masih belum memiliki nama. "Bunga ini masih belum ada yang menamainya."
"Heee. Bagaimana bisa? Padahal bunga ini sudah dijual, mana mungkin bunga ini tidak punya nama."
"Bukannya tadi pedagang yang menjual bunga ini tidak mengatakan nama bunga ini, itu berarti bunga ini masih belum memiliki nama."
"Begitu..."
"Oh ya, apa kau ingin menamai bunga itu?"
"Eh? Aku?"
"Iya..."
"Tapi aku tidak pandai dalam menamai sesuatu. Tapi..."
"Apa kau sudah menemukan nama yang bagus?"
"Eien saja bagaimama? Bukannya itu artinya keabadian, aku rasa itu sangat cocok dengan bunga ini."
"Eien.. Hmm... Eien, Keabadian. Itu nama yang bagus, tapi aku rasa orang didunia ini tidak akan menyebutnya bunga Eien."
__ADS_1
"Huh... Kenapa?"
"Mungkin, mereka akan menyebut bunga ini sebagai bunga Ein."
"Ein? Kenapa?"
"Bahasa dunia ini dan duniamu sebelumnya itu berbeda, kau pasti sudah menyadari hal itu'kan."
"Iya."
"Ada beberapa kata yang tidak bisa disebutkan oleh orang didunia ini menggunakan bahasa duniamu, oleh karena itu-..."
"Begitu. Itu tidak masalah, tapi aku akan menyebut bunga ini sebagai bungan Eien. Karena aku yang sudah menamainya."
"Terserah kau saja."
-----------
Setelah itu.
"Cukup banyak juga barang yang kita butuhkan."
"Tentu saja, kita membutuhkan semua alat dapur itu. Alat yang ada dirumah sudah hampir rusak, jika tidak diganti nanti aku masak menggunakan apa?"
"Haha... Benar juga." Kedua tanganku saat ini penuh dengan barang yang dibeli oleh Ai, sedangkan Ai membawa sayuran yang terlihat cukup ringan.
"Oh ya, Sha. Ada sesuatu yang yang aku katakan padamu."
"Hm. Apa?"
"Saat persediaan kita habis, apa boleh aku pergi berbelanja sendiri. Tenang saja, aku akan menjaga diri."
"Hmmm..." Meskipun di area ini sangat aman dari monster, tapi tidak ada kemungkinan para perampok akan menyerang seorang gadis yang berjalan sendirian tanpa pengawalan apapun. "Apa ada sesuatu yang lupa kau beli?"
"Tidak."
"Lalu? Kenapa?"
"Aku hanya ingin membantu sedikit pekerjaan rumah, dan aku juga ingin sedikit meringankan bebanmu."
"Hm... Tapi, kau tak perlu melakukan hal itu."
"Tapi, aku sangat ingin melakukannya. Aku tidak mau selalu merepotkanmu, aku juga ingin membantumu meskipun sedikit."
Sebenarnya aku tidak ingin membuatnya beraktifitas lebih dari ini, tapi.. "Baiklah, tapi ingat. Kau harus menjaga dirimu, jika ada seseorang yang mencurigakan segera lari. Jika kau berada dalam bahaya panggil saja aku."
"Iya, aku tau. Tapi, apa dengan memanggilmu kau akan datang saat aku dalam bahaya."
"Tentu saja."
"Kalau begitu, Sha." Ia menyebut namaku dengan suara yang cukup pelan. "Apa kau akan dengar jika aku memanggil namamu seperti itu."
"Kau ingin mengerjaiku."
"Tidak, aku hanya bercanda. Baiklah, jika aku dalam bahaya aku akan lari, dan jika aku tidak bisa lari aku akan memanggilmu. Dan jika kau tidak datang..."
"Aku pasti akan datang."
"Kalau begitu, terima kasih Sha. Aku menyukaimu."
"Huh?" Ini pertama kalinya ada seseorang yang berkata seperti itu padaku, dan sudah jelas itu membuatku sangat gugup, tapi aku berusaha untuk tetap tenang. "A-Apa yang kau katakan."
"Ahh. Lihat, wajahmu memerah, apa kau tersipu saat aku berkata seperti itu."
"Ma-mana mungkin."
"Ahh. Kau gugup."
"Sudahlah, berhenti menggodaku."
"Baiklah. Sha, aku menyukaimu. Ahh.. Wajahmu kembali memerah."
"Sudah aku bilang berhenti menggodaku."
__ADS_1
Dan selama perjalan pulang, Ai terus menggodaku dengan kata-kata itu.
Bersambung....