
Sore hari, 17,43
Matahari sudah mulai terbenam. “Nee, Hiroaki.”
“Hmm.”
“Berdua seperti ini dan menikmati matahari terbenam di sore hari. Bukankah ini terlihat sedikit... Aduhh... A-ada apa?” Aku menjitak dahinya.
“Sudah waktunya kembali, ayo cepat.”
“Baik.”
Dalam perjalanan pulang
Perasaan ini sangat membuatku tidak nyaman, dibuntuti oleh seseorang. “Amane, bisa kau pulang duluan.”
“Eh, kenapa? Apa ada sesuatu yang ingin kau lakukan.”
“Iya, ada masalah kecil yang harus aku bereskan.”
“Kalau begitu, baiklah.”
“Oh ya, bawa juga ini. Shirame.” Shirame muncul ditangan kananku, dan aku memberikannya pedang Shirame.
“Eh, kenapa?”
“Tidak ada apa-apa.” Aku takut kejadian sebelumnya terulang kembali, dan ini bisa disebut sebagai tindakan pencegahan. “Jika ada sesuatu yang mencurigakan, buka saja pedang itu dan arahkan pedang itu ke sesuatu yang mencurigakan itu. Dan serang..”
“B-Baiklah. Tapi, aku kan bisa menggunkan...”
“Senjata milikmu khusus untuk pertarungan jarak jauh, senjatamu itu sangat tidak diuntungkan ditempat sempit seperti ini.”
“B-Baiklah.” Setidaknya dia bisa menggunakan Shirame, jika Ryuga mungkin mustahil baginya.
“Berhati-hatilah.”
“(tersenyum) Baik.” Amane pergi.
“Haa, baiklah. Waktunya berburu tikus tanah.”
Beberapa menit kemudian.
“Luz, kita kehilangan dia.”
“Apa yang kau lakukan? Kau pasti lalai...”
“Tenanglah Luz, kemampuan yang dia miliki sangat besar. Jadi wajar kalau dia menyadari kalau selama ini kita mengawasinya, yang aneh jika dia tidak sadar. Dan aku yakin, kau pasti masih belum lupa dengan kejadian di pelabuhan waktu itu. Kekuatan yang besar seperti itu. Dia adalah musuh yang sangat berbahaya.”
“Yo, apa yang kalian lakukan di atas gedung seperti ini?”
“K-Kau, semuanya bersiap.” Menyadari keberadaanku, mereka bersiaga.
“Aku tidak merasakan keberadaannya.”
“Sejak kapan kau berada disana?”
“Entahlah, sejak kapan.”
“Kau!!”
“Luz, tenangkan dirimu.”
“Apa kalian masih ingin bermain-main denganku? Mengawasiku sepanjang waktu, apa tidak ada hal lain yang bermanfaat selain memata-mataiku.”
“Kau terganggu?”
“Sangat, aku sangat-sangat terganggu. Sampai-sampai aku ingin menghancurkan sesuatu karena terlalu kesal.”
“Hee.”
__ADS_1
“Jadi, berhentilah mengangguku. Jika kalian masih ingin melawanku, datanglah dan hadapi aku. Dengan senang hati aku akan melawan kalian.” Setelah aku mengatakan hal itu, aku perlahan mulai meninggalkan tempat ini.
“Kau, siapa kau sebenarnya.”
“Hee, sudah lama sekali tidak ada yang berkata seperti itu padaku. Aku hanya orang biasa, yang meninginkan sebuah kedamaian. Jika ada yang mengganggu kedamaianku, aku tak menjamin dia akan selamat.”
“Key, apa yang harus kita lakukan?”
“Ah, ya. Ada 1 hal yang ingin aku katakan sebelum pergi.”
“Apa?”
“Bagunan ini sudah tua, bukankah sangat berbahaya bermain-main di tempat rapuh seperti ini.”
“Apa yang kau tau tentang tempat ini.”
“Tidak ada, ini aku hanya memberi tau.” Tak melewati jalan keluar yang seharusnya, aku memilih untuk melompat dari sini. “Ini hadiah untuk kalian. Ryuga.” Pedang Ryuga muncul ditangan kananku. “Ambil ini.” Aku melemparkan Ryuga kearah mereka.
Duarrrr
“Ups, meleset.” Aku sedikit meleset, tapi karena bagianku disini sudah selesai. “Sebaiknya kalian cepat pergi dari sini.”
“Apa yang kau katakan!?”
Bangunan itu mulai bergetar, dan perlahan mulai roboh.
Beberapa lama kemudian.
“Haa, terima kasih dewa Sha, kau sudah membantuku kali ini.” Sesaat sebelum aku menyentuh tanah, dewa Sha memindahkanku menggunakan teleport.
“Berhentilah mengangguku, aku memiliki urusan yang harus aku selesaikan. Aku tidak memiliki waktu untuk mengurusimu yang sedang bermain-main dengan para bocah itu.”
“Wah, maaf.” Dewa Sha langsung menutup telepatinya. “Wah, sepertinya dia sedang marah.”
Aku diteleport dekat dengan kediaman Shirayuki. “Haa, sepertinya untuk beberapa waktu, mereka tidak akan mendekatiku lagi.” Aku perlahan berjalan kembali ke kediaman Amane.
“Huh? Ada apa?” Aku melihat beberapa orang yang berpakaian rapi berada didepan rumah Amane, dan aku melihat Amane yang tengah kebingungan disana.
“Amane, ada apa?”
“Aku tidak tau, tapi sepertinya mereka mencarimu.”
“Apa anda, Akarui Hiroaki, pemuda yang tinggal di apartemen mewah yang hancur beberapa minggu yang lalu.”
“Huh, ya. Itu benar, ada apa?”
“Tuan pemilik ingin bertemu dengan anda.”
“Huh, tuan pemilik?”
“Sudah, ayo cepat, ikut dengan kami.”
“Hiroaki...” Amane memengan erat bajuku.
“Tenang saja, aku akan baik-baik saja.”
“Kalau begitu, ini.” Ia mengembalikan Shirame padaku.
“Untuk sementara waktu, simpa saja Shirame. Saat aku kembali nanti aku akan mengambilnya.”
“Shirame, maksudmu nama pedang ini.”
“Hey, ayo cepat.”
“Baik, aku pergi dulu.”
“Y-Ya.” Aku memberinya Shirame bukan tanpa alasan, Shirame bertugas sebagai pengganti selama aku tidak berada didekatnya. Bisa dibilang kalau Shirame adalah penghubung tak terlihat antara aku dan Amane untuk saat ini.
Beberapa lama kemudian
__ADS_1
Malam hari, 19,32
Aku sampai disebuah tempat yang tidak pernah aku datangi sebelumnya. “Tempat apa ini?”
“Jangan banyak tanya.”
“Haa, terserah.” Setidaknya aku akan mengetahuinya nanti.
Setelah cukup lama.
Aku dibawa kesebuah tempat. “Hee, aku tak menyangka kalau ada tempat seperti ini dikota ini.”
“Jangan banyak bicara, cepat jalan.”
Dan setelah cukup lama berjalan, kami berhenti didepan sebuah pintu. “Tuan pemilik ada didalam, cepatlah masuk.”
“Baiklah.” Aku masuk.
“Wah, luar biasa.” Saat aku memasuki ruangan ini, aku melihat sesuatu yang tidak mungkin aku lihat ditempat lain.
“Ahh, anda sudah datang.” Aku melihat seseorang sedang duduk sembari menyeduh teh. “Bagaimana kalau anda duduk dulu.”
Menerima tawarannya, aku duduk berhadapan dengannya. “Kursi ini sangat empuk.”
“Saya senang jika anda menyukainya.”
“Lalu, ada perlu apa kau denganku?”
Srupuuttt. Sfx : minum teh. >///<
“Bagaimana kalau anda nikmati tehnya terlebih dahulu. “
“Aku terima tawaranmu.” Ia menyeduhkan teh padaku, dan aku meminumnya.
“Bagaimana?”
“Enak.” Tidak ada rasanya.
“Oh ya, bagaimana dengan perlakuan para bawahanku pada anda?”
“Tidak buruk. Mereka sampai harus menungguku yang sedang sedikit bermain-main tadi.”
“Begitu.” Ia kembali menyeruput tehnya. “Baiklah. Akarui Hiroaki, apa itu benar nama anda?”
“Ya, itu benar.”
“Jika seperti itu, anda pasti tau alasan saya membawa anda kemari.”
“Tidak.”
“Huh?”
“Aku tidak tau alasanmu membawaku kemari, dan saat aku bertanya pada pelayan yang membawaku kemari. Mereka tidak memberikan jawaban apapun.”
“Begitu. Oh ya, aku dengar kau cukup akrab dengan putri dari keluarga Shirayuki.”
“Akrab, ya. Tidak juga.”
“(tertawa) Kau sangat lucu.”
“Apa yang kau tertawakan.”
“Kau serius tidak tau kenapa aku membawamu kemari?”
Cara bicaranya berubah. “Ya, aku tidak tau.”
“Haa, sudahlah. Lagipula kau dekat dengan keluarga Shirayuki.”
“Bisa jangan libatkan orang luar, jika memang ada masalah antara aku dan kau, katakan saja.”
__ADS_1
“Hahahaha, kau sangat menarik. Kalau begitu, aku akan langsung keintinya saja. Tolong bayar kerusakan yang sudah kau sebabkan pada apartemenku.”